
Jihan sedang duduk di depan dua orang yang kini tampak akur. Dia menarik napas, pada akhirnya memilih mengalah. Sahabatnya baru saja mengalami penipuan cinta, dia tidak ingin membuatnya banyak pikiran.
"Kalian kelihatan akur," mulainya, dia mengaduk kuah bakso dihadapannya. Mereka sedang berada di kantin perusahaan.
"Profesionalisme saja, jangan salah paham, ibu Presdir." Meri tersenyum melihat delikan tajam Jihan padanya. "Bercanda... Kenapa kamu jadi tertular suamimu? Cepat marah." ujarnya.
"Dia sudah berubah, dia jadi sangat baik." jawab Jihan, wajahnya berseri-seri saat menagatakannya.
"Itu bagus, Jihan. Tapi aku punya firasat buruk untukmu."
"Apa maksudmu?"
Wajah Jihan jadi tidak enak, tatapannya jadi mencurigakan, seolah Bastian sudah melakukan sesuatu.
"Bukan seperti yang ada dikepalamu... " Bastian menghela napas, "Ini hanya feeling, oke! Kamu tahu kan, maksudku... Bagaimana menjelaskannya. Suami itu... "
"Kenapa denganku?"
Keterkejutan terlihat pada kedua wajah orang dihadapan Jihan, mereka mendongak dan mengikuti gerakan Chris yang duduk di samping Jihan.
"Jadi... Kalian sedang membicarakan apa hingga menyebut namaku?" Nadanya lebih lunak dari yang tadi, Chris menoleh pada Jihan.
"Kapan kamu sampai? Apa ada masalah?"
Chris tersenyum padanya, dia memegang puncak kepala Jihan dan mengelusnya penuh sayang.
"Sudah, aku dengar kamu makan siang disini, jadi aku menyusulmu."
"Kamu belum makan siang?"
"Belum."
Jihan segera bangun, dia ingin memesan makanan untuk suaminya. Namun tangan Chris menahannya.
"Sayang, aku tidak suka menjadi pusat perhatian saat sedang makan." katanya, dia terdengar sangat lembut, tapi sorot mata dan garis wajahnya menunjukkan penolakan tegas.
"Oh," Jihan melirik mangkuk baksonya yang hampir habis. "Baiklah," jawabnya.
Chris bangkit dan menarik tangan Jihan pergi dari sana. Jihan melambai kecil pada Meri. Tidak menyadari tatapan tajam Chris yang mengarah pada Bastian.
"Aku dalam masalah besar." gumam Bastian, menatap punggung Chris yang kini menghilang.
"Kamu teman Jihan juga, aku pikir dia hanya akan memberimu peringatan." kata Meri.
"Benarkah? Syukurlah."
Bastian tersenyum lebar, lalu melanjutkan makan siangnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekawatiran. Dia terlihat sangat santai.
.
Ibu Chris sudah bisa pulang dari rumah sakit. Dia dibawa ke dalam rumah baru Chris menggunakan kursi roda. Kakinya lumpuh, tangannya juga belum bisa digerakkan. Jihan dan Chris mendampinginya dengan baik setelah ia sudah sadar. Meski begitu, ibunya belum mengatakan sepatah katapun.
"Ini aneh, Mama tidak memiliki gangguan pada pita suara atau gangguan lain selain kelumpuhan kaki permanen. Jadi kenapa dia tidak bisa mengeluarkan suaranya?" tanya Chris kala itu.
"Kemungkinan besar karena serangan psikologi, pak Chris. Ibu Anda sepertinya tidak bisa menerima keadaannya. Dia hanya butuh dukungan dari keluarga. Jadi saya juga memohon anda untuk lebih sering menghiburnya." jawab sang dokter.
Mengingat perkataan dokter itu, Chris tergelak dengan sinis. Dia berjongkok dan menatap ibunya dengan dingin. Jihan sedang ke kamar mandi dan para pelayan sibuk membereskan barang-barang ibunya.
"Aku sungguh menyesal tidak menyadari perbuatan anak tirimu Mama. Bagaimana bisa kamu menempatkan musuh sedekat itu denganmu? Apa itu sebuah tindakan penebus dosa? Atau karena pembalasan yang belum selesai?" Chris berbicara dengan sangat pelan.
Ibunya bereaksi dengan menggerakkan jarinya. Matanya melebar dan kelopaknya bergerak-gerak. Menunjukkan bahwa dia sedang risau.
"Jangan kawatir, bagaimanapun aku adalah anak kandungmu. Aku akan menyelesaikan masalah dendam antara kalian."
Chris berdiri, lalu mengangkat ibunya untuk naik ke ranjang yang telah disiapkan. Bersamaan dengan Jihan yang telah kembali.
"Mama ingin makan sesuatu?" Jihan tertegun ketika melihat air mata jatuh dari kedua kelopak mata mertuanya itu. "Ma..." lirihnya.
Dia segera duduk di mertuanya dan mengusap tangannya dengan lembut. "Jangan kawatirkan apapun, Mama akan sembuh seiring berjalannya waktu. Dokter bilang ada kemungkinan sembuh kalau Mama rutin terapi. Kami akan selalu disisi Mama, Jadi jangan kawatirkan apapun."
"Sudahlah... Kenapa kamu jadi ikut menangis seperti bayi?" Chris mengusap kepala Jihan.
Mereka sudah kembali ke kamar mereka. Jihan juga terlihat tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa dia tiba-tiba jadi cengeng. Sesampainya dikamar dia malah semakin sesegukan. Membuat Chris ikut kebingungan.
"Ma-maaf! Aku juga tidak tahu kenapa jadi begini." kata Jihan.
Pintu kamar diketuk dengan brutal, Azam masuk setelah mendengar kata masuk dari Chris. Wajahnya terlihat sangat panik.
"Azam dengar Ibu menangis, Ibu kenapa?"
Mendengar nada kawatir anaknya, Jihan berhenti menangis. Chris mengusap sisa air matanya, lalu menyuruh Azam mendekat dengan tangannya. Dari nada bicara Azam, ada kemarahan samar yang terdengar disana. Chris paham mengapa dia bersikap seperti itu.
"Ibumu hanya sedih karena nenek sakit. Jangan kawatir, kamu sudah selesai latihan?"
"Sudah ayah," sahutnya sopan.
"Mandilah dan siap-siap makan siang. Ayah akan kembali ke kantor, temani ibu dan nenemu dirumah."
Azam mengangguk, mengusap pelan punggung ibunya sebelum pergi. Membuat Jihan merasa bersalah pada anaknya. Kekawatiran Azam yang berlebihan bukan tampa alasan, dia masih menyimpan luka hatinya sendiri.
"Wah... Sepertinya aku harus ganti baju." kata Chris dengan nada bercanda.
Jihan baru sadar bahwa kemeja Chris basah semua di bagian dadanya. Wajahnya langsung terlihat malu.
"Maafkan aku, aku akan ambilkan baju ganti." Jihan segera bangkit, tapi tarikan tangan Chris yang keras menghentikannya.
Kini dia terlentang di atas kasur dengan Chris yang menatapnya dengan sangat dalam. Kedua tangan suaminya mengungkungnya, seolah tidak akan pernah membiarkan dia pergi.
"Kamu tahu? Matamu... Hidungmu dan ini," Chris mencium bibir Jihan lembut, "Sangat menggemaskan saat kamu menangis." lanjutnya.
"Ki-kita harus segera turun makan siang, kamu harus ganti baju dulu kan?"
"Kenapa kamu gugup padaku setelah sekian kalinya, hmm?" Chris kencium pipinya sekilas.
"Tidak... Kamu benar-benar harus pergi kan?"
Chris memeluk Jihan setelah menjatuhkan dirinya. Mengusak wajahnya pada leher Jihan yang masih mengenakan jilbab.
"Tapi aku menginginkanmu sekarang." manjanya, Chris benar-benar seperti anak kecil yang menginginkan permen. "Mau ya, Hmm?" bujuknya.
Jihan tertawa, dia segera bangun. Membuat pelukan Chris terlepas. Wajah Chris tampak kecewa sesaat, namun ketika Jihan membuka jipbabnya, senyum lebar langsung muncul diwajahnya.
.
Azam mengerutkan keningnya, dia sudah cukup lama menunggu di meja makan, tapi orang tuanya belum turun juga.
"Kenapa ibu dan ayah belum turun? Apa ibu masih menangis?" gumamnya.
Seorang pelayan muda melewatinya dengan nampan berisi bubur. Lalu nampan itu ia letakkan di atas meja yang sudah berisi makanan lain.
"Itu untuk nenek?" tanyanya.
"Iya, Tuan Azam. Tapu karena Nyonya besar masih tidur, kami masih menyiapkannya. Lagi pula ini masih sangat panas."
"Azam juga ingin membantu nenek agar ceria lagi. Tapi... Apa nenek akan menyukai Azam?"
"Tentu saja... Datanglah setiap nenek sedang santai dan ajak dia berbicara." jawab pelayan muda.
"Azam sudah menunggu?" tanya Chris. Dia baru saja turun tampa Jihan.
Azam mengerutkan keningnya. "Dimana Ibu?"
"Masih mandi, ayah takut kamu bosan jadi turun duluan."
Azam yang masih polos hanya mengangguk. Namun tidak bagi semua pelayan disana. Mereka tersenyum kecil satu sama lain. Apalagi melihat wajah segar dan ceria sang Tuan besar. Mana mungkin mereka bisa berpikiran polos.