Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
33



Jihan berdiri ragu di ambang pintu masuk ruang kantor Chris. Catrin sudah mengetuk berkali-kali namun tidak terdengar satupun sahutan. Jihan melihat sekretaris dan Arjun juga tidak ada di sana.


"Cat, kita pulang saja, ya sayang. Daddy sepertinya sedang keluar." bujuk Jihan.


"Mama telepon Daddy..." rengek Catrin.


Mau tidak mau, Jihan terpaksa menelepon ke nomor Chris. Sedikit gugup karena hubungan mereka yang kurang baik.


Chris sendiri saat ini sedang makan siang bersama ayah Jouji. Mereka membicarakan banyak hal termasuk permintaan Chris untuk menarik Jouji dari dunia hiburan dan menempatkannya di Jepang.


"Tidak masalah, aku akan mengaturnya untukmu. Aku hanya butuh sedikit waktu, dia cukup keras kepala saat ini." ujar ayah Jouji.


Chris baru saja akan menjawab ketika ponselnya bergetar. Begitu dia melihat layar, Chris segera meminta maaf dan berdiri sedikit menjauh.


"Ji?"


"Daddy! Daddy ada dimana? Kami di depan ruangan Daddy. Cat rindu Daddy!"


Mendengar suara anaknya, Chris menghela napas. Sedikit kecewa karena tadinya dia berharap Jihan yang akan berbicara dengannya.


"Tunggu disana, Daddy akan segera kembali. Kalian sudah makan siang?" tanya Chris.


"Hmm, Baiklah. Daddy akan pesankan dan tunggu di sana sebentar." sahut Chris lagi ketika Catrin menjawab belum atas pertanyaannya.


Sekembalinya dia ke meja dimana ayah Jouji menunggu, tampa basa basi Chris memohon izin untuk pergi terlebih dahulu. Ayah Jouji tampak tidak keberatan. Dia juga sudah selesai dan akan pergi juga.


"Percepat Arjun! Pesankan menu makan siang di restoran biasa, juga pesan beberapa es krim." perintah Chris ketika mereka baru saja meninggalkan area parkir restoran.


Sesampainya di gedung perusahaan. Chris berjalan dengan kecepatan tidak biasa. Arjun bahkan terkejut dengan wajah antusias atsannya itu.


Sesampainya Chris di lantai ruang kerjanya, dia segera membuka pintu pertama. Hatinya menghangat mendapati dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya sedang menonton vidio di ponsel Jihan.


"Cat!"


Kedua orang itu menoleh bersamaan. Catrin berlari menuju pelukan ayahnya dan Jihan sendiri bangkit sembari menyimpan ponselnya.


"Maaf membuatmu menunggu lama. Ada pertemuan diluar, jadi..."


"Aku mengerti." sahut Jihan cepat. "Catrin ingin bertemu jadi aku membawanya kemari. Maaf mengganggu waktumu." lanjut Jihan. Nada bicaranya sangat formal dan datar.


"Ya, tidak masalah."


Arjun yang melihat kecanggungan keduanya, memecah suasana dengan mengajak Catrin bicara.


"Anak manis, mau es krim? Daddy menyuruh paman memesan es krim. Mereka sudah tiba di depan, mau temani om mengambilnya?" ajak Arjun.


"Es krim? Mama boleh?" pamitnya pada Jihan.


"Tentu sayang," jawab Jihan dengan senyuman.


Seusai keduanya ditinggal berdua. Jihan menunduk, berusaha fokus memeriksa ponselnya untuk menghindari pembicaraan. Tentu saja Chris tahu gelagatnya. Chris hanya melangkah masuk ke dalam ruangannya dan mempersilahkan Jihan masuk.


Jihan menggigit bibir atasnya, ragu apakah harus menunggu Catrin dan Arjun atau tidak. "Masuk dan istirahat di dalam, aku tidak akan menggigitmu jadi tenang saja." seru Chris dari dalam.


Jihan berdecih, "Siapa juga yang takut." gumam Jihan. Namun kakinya melangkah masuk. Memperhatikan seisi ruangan yang terlihat berbeda.


Chris memang mengganti suasana ruangannya. Mulai dari wallpaper dinding dari warna gelap menjadi warna coklat lembut. Sofa biasa bewarna putih dulu juga diganti dengan sofa yang lebih besar dan lebar bewarna coklat tua. Ada beberapa bunga hias di sudut ruangan. Yang paling mengejutkan Jihan adalah, foto besar pernikahan mereka. dibawahnya, barulah foto anggota keluarga yang lebih kecil.


Chris menatap ekpresi Jihan ketika dia menatap foto itu. Bisa dia lihat, bahwa Jihan tertegun dan juga terkesan. Chris ingin sekali bertanya pendapat Jihan, namun dia ragu. Takut akan menelan kekecewaan saat Jihan malah menyuruhnya menyingkirkan foto itu.


"Kamu mengubah banyak ruangan ini."


Chris cukup terkejut, sungguh ia tidak menyangka Jihan akan mengomentarinya.


"Ya, itu tiga hari yang lalu. Aku pikir itu bagus untuk memotifasiku." jawabnya.


"Kamu yang memilih semua warna dalam ruangan ini?"


"Ya," sahut Chris lagi. Mereka masih dalam posisi yang sama seperti tadi.


"Aku pikir kamu suka warna gelap, seperti kamarmu."


"Hmm! Aku suka warna merah gelap atau coklat gelap."


"Lalu kenapa?"


Jihan menoleh hingga pandangan mata mereka bertemu. Chris sangat tahu maksud pertanyaan itu. Jihan ingin memastikan sesuatu. Karena itu dengan sangat yakin, dia memilih mengakuinya.


"Karena kamu menyukai warna itu. Itulah alasan aku memilihnya."


Suasana menjadi lebih canggung dari sebelumnya. Suasana diantara mereka terselamatkan saat Catrin masuk dengan semangat membawa bungkusan berisi beberapa es krim. Arjun menyusul dibelaiangnya dengan tiga tentengan di tangan.


"Makan siang untuk Bu Jihan dan Nona kecil." ujar Arjun. Dia langsung menata makanan diatas meja. Satu untuk Jihan dan satu untuk Catrin.


"Kalian tidak makan?" tanya Jihan spontan.


"Kami sudah makan Bu Jihan. Nah, isilah perut anda karena ini sudah hampir terlambat untuk makan siang." jawab Arjun. Dia tersenyum ramah lalu kembali ke meja kerjanya di sudut lain.


"Daddy mau es krim?" tawar Catrin saat dia masih asik memakan es krim ditangannya alih-alih makan siang.


"Cat, makan makananmu dulu baru es krim. Ji, masukkan es krimnya ke dalam kulkas dulu. Kamu juga tidak boleh memakannya sebelum makan siang." tegas Chris ketika melihat Jihan juga mulai menjilati es krim.


Jihan mengerutkan wajahnya sama seperti Catrin yang terlihat tidak senang. Namun keduanya menurut. Jihan dengan wajah kesal menaruh semua es krim di dalam freezer kulkas milik Chris.


"Daddy tidak asik." gerutu Catrin.


Jihan tersenyum kecil mendengar gerutuan anak itu. Mereka mulai makan sementara Chris menatap keduanya dalam diam. Sungguh dia tidak akan pernah rela jika kehilangan Jihan. Hatinya menghangat ketika melihat senyuman Jihan meskipun senyum itu bukan untuknya.


Setelah pekerjaan Chris selesai. Mereka pergi jalan-jalan sebentar menuju pusat perbelanjaan. Hal itu karena Catrin yang menginginkan sepatu baru dan sebuah gaun untuk menghadiri acara sekolah beberapa hari lagi.


Jihan bahkan kualahan mengikuti anak itu yang berlari kesana kemari. Chris hanya akan duduk di suatu tempat memperhatikan keduanya memilih ini dan itu.


"Ibu!"


Jihan yang sangat mengenali suara itu, menoleh cepat kearah pintu masuk. Azam berlari kearahnya diikuti Haris yang tersenyum lebar.


Jihan memeluk Azam dengan bingung. Pasalnya dia sangat tahu ini belum waktunya Azam pulang. Pihak pesantren tidak bisa dengan mudah mengeluarkan izin keluar tampa alasan yang dibolehkan.


Jihan melirik Chris yang sudah berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah mereka. Azam yang melihat Chris melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah ayah sambungnya itu. Azam ikut memeluk Chris yang juga memeluknya. Lalu Azam juga memberikan usapan dipuncak kepala Catrin yang langsung heboh.


"Ayah menjemput Azam karena tante Tuti akan menikah Bu. Azam izin keluar hanya dua hari."


"Maaf Ji, tapi Tuti ingin Azam dan kamu hadir di acara pernikahannya. Aku akan mengirim undangan untukmu." bela Haris.


"Dia bisa pergi dengan izinku." tegas Chris yang sudah berdiri di samping Jihan.


Azam yang melihat permusuhan antara ayah kandung dan ayah sambungnya cepat-cepat mengambil keputusan.


"Ayah Chris, Ibu. Azam akan membeli beberapa pakaian dengan ayah. Kalian bisa lanjut belanja juga. Azam juga akan menginap dirumah ayah ya bu. Ayo Yah!" Azam berusaha membawa Haris dari sana.


"Iya...iya jagoan! Ji, aku akan menunggumu." ujar Haris sebelum berbalik. Dia mengatakan hal itu seolah-olah Chris tidak ada disana.


Jihan melirik Chris yang sedang menahan amarahnya. Chris melemaskan ototnya lalu berbalik ketempat dimana ia tadi duduk. Catrin yang bingung menarik tangan Jihan untuk kembali berbelanja. Mau tidak mau, Jihan mengabaikan Chris yang langsung bersikap dingin.


Setelah belanja, Chris mengantar keduanya pulang. Sepanjang perjalanan kepalanya dipenuhi ketakutan dan kekawatiran. Jika Istrinya menghadiri pernikahan adik Haris, itu artinya mereka akan berkumpul seperti dulu. Chris takut kalau Jihan akan dibujuk untuk rujuk kembali dan meninggalkannya. Apalagi hubungan mereka tidak baik sekarang, Chris secara tidak langsung memberinya ruang supaya Jihan mau kembali kerumahnya saat itu.


"Daddy tidak tidur dirumah lagi?" tanya Catrin saat Chris tidak ikut turun.


"Daddy ada pekerjaan sayang. Kalau ada waktu Daddy akan pulang." bohongnya.


Catrin melempar satu kantung yang ia bawa dan berlari masuk ke dalam rumah. Jihan menghela nafas, dia melihat kearah Chris yang berbicara pada Arjun agar kembali menjalankan mobil.


"Tunggu!" cegah Jihan, dia maju dan berada lebih dekat pada jendela mobil.


Chris menatapnya dengan harap-harap cemas. "Apa lagi?" tanyanya sedikit ketus. Jihan tampak ragu, karena itu Chris menyimpulkan sesuai pemikirannya. "Aku tidak akan memberimu izin, tapi aku memberimu pilihan untuk menurutiku atau tidak."


Jihan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.


Melihat ekpresi Jihan, Chris baru sadar kalau dia salah menyimpulkan. "Kamu tidak ingin membahas undangan dokter itu?" tanya Chris.


"Psst!"


Chris menatap tajam Arjun yang hampir menyemburkan tawa di kursi kemudi. Jihan sendiri berdehem untuk menahan ekspresinya.


"Aku hanya ingin mengatakan kalau kamu bisa tidur dirumahmu sendiri. Kita tidak bisa membuat alasan terus pada Catrin." ujar Jihan. Setelah mengatakan hal itu, dia masuk ke dalam rumah menyusul Catrin yang pastinya sedang menangis dikamarnya.


Chris mengangguk singkat pada ibunya yang tersenyum tipis ketika Chris masuk kedalam kamar sang putri. Catrin masih menangis di dalam pelukan Jihan.


"Cat, berhenti menangis." Chris mengatakannya dengan tegas.


Catrin menarik diri dan menatap ayahnya. "Daddy tidak jadi pergi?" tanyanya dengan nada sangat manja.


"Daddy tidak jadi pergi." jawab Chris.


Tampa aba-aba, anak itu melepaskan Jihan lalu menghambur dalam pelukan Chris. "Yey! Malam ini tidur dengan Daddy dan mama!" girangnya.


Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya terkejut. Rencannya, Jihan akan tidur dikamar Catrin agar Chris bisa tidur dikamarnya sendiri.


"Sayang, kamu sudah besar jadi..." Melihat Catrin yang akan menangis lagi, Jihan tidak punya pilihan. "Oke, jangan menangis lagi. Ayo mandi, hmm." lanjut Jihan pasrah.


"Tampaknya anak itu bisa membuat Jihan dekat lagi denganmu. Manfaatkan itu, Chris." ujar ibunya ketika tinggal mereka berdua disana.


"Benarkah?" sahut Chris, dia mengangkat kedua bahunya sembari keluar menuju kamarnya sendiri.


"Dasar anak ini," gumam ibunya. Berdecak sebal.


.


Jihan masuk ke kamar mereka setelah selesai mengurus Catrin dan membiarkan anak itu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia baru saja akan mengambil handuk ketika Chris keluar dari walk in closet. Chris sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai seperti biasa. Kaus oblong polos dan celana kain longgar.


Jihan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk menghindari suaminya itu. Chris berpikir keras bagaimana cara memperbaiki hubungannya. Menumbuhkan kepercayaan Jihan tentu tidak mudah, sejak awal Chris sudah menunjukkan betapa kejamnya dia sebagai seorang pria.


"Aku tidak tahu bahwa cinta bisa membuatku menjadi orang lain." bisiknya pada diri sendiri.


Chris memainkan ponselnya sambil menunggu Jihan. Mereka harus bicara sebelum turun untuk makan malam.


Ketika Jihan selesai mandi, azan berkumandang. Chris tidak tahu harus bagaimana. Jihan hanya diam saja. Setelah selesai memakai pakaian di ruang ganti, tampa berkata sepatah katapun, Jihan melakukan solat magrib.


Chris yang sama sekali tidak tahu cara solat jika sendiri mengingat-ingat apa yang ia lakukan saat bersama Azam solat di masjid. Lalu karena penasaran, dia membuka internet dan mencari tatacara dan bacaan solat.


Chris mengerutkan dahinya, dia membaca huruf latin dari bacaan solat dengan raut kebingungan. Dia bahkan tidak sadar ketika Jihan mendekatinya karena bingung dengan ekspresi wajah Chris yang tidak biasa.


"Oh, kamu sudah selesai?" tuturnya ketika sadar Jihan sudah berdiri di sisi kasur, dimana dia duduk dengan kaki diluruskan.


"Kamu tidak solat?" tanya Jihan datar. "Tidak tahu caranya?" tanya Jihan lagi ketika dia melirik ponsel Chris yang layarnya masih menyala.


"Aku tidak pernah diajari. Sejak SD sampai sekolah menengah pertama aku di sekolah international. SMA sampai lulus kuliah di Amerika. Aku tidak memiliki satupun teman yang melakukan solat." jawab Chris dengan wajah pasrah. Ekspresinya terlihat malu, sehingga Jihan melunak begitu saja.


"Catrin bahkan lebih baik darimu." komentar Jihan dengan nada penuh ejekan. Dia berbalik hendak melipat sajadahnya. Namun tangannya digenggam erat oleh Chris.


"Ajari aku," pintanya.


"Chris," ujar Jihan dengan wajah tidak nyaman. "Kita akan bercerai, aku tidak nyaman mengajarimu. Lebih baik kamu panggil guru ngaji." lanjutnya.


Jihan hendak menarik tangannya. Namun ketika menyadari ekspresi sendu diwajah Chris, dia menjadi terpaku ditempatnya.


"Tidak bisakah kamu mempercayaiku sekali lagi? Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku tidak seburuk apa yang dikatakan Jouji padamu."


"Ini bukan hanya tentang masa lalumu, tapi alasanmu menikahiku. Aku pikir tidak ada gunanya ini dilanjutkan. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya menjadikan aku alat. Pertama kali sebagai pengasuh, sekarang ditambah untuk membersihkan namamu. Chris, aku manusia. Bukan robot tampa hati."


Jihan menarik tangannya, dia melipat sejadahnya dan telekungnya dengan cepat. Dia hendak memasang kerudung ketika Chris menarik tangannya hingga Jihan berbalik dan menabrak dadanya. Chris memeluknya dengan sangat erat seolah Jihan akan lari begitu ia melepaskannya.


"Maaf, membuatmu banyak memiliki rasa sakit." ujar Chris. Jihan terpaku pada posisinya, jantung keduanya saling bersautan dengan detak yang tidak normal. "Aku..." Suara Chris menjadi bisikan halus. "Aku tidak ingin melepaskanmu. Aku selalu marah saat melihat kamu dekat dengan pria lain. Aku sadar akan sesuatu yang selama ini tidak aku pahami, Ji. Bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama."


Jihan terdiam, dia merasa pendengarannya terganggu namun dia sangat sadar bahwa pendengarannya baik-baik saja. Perlahan tangan besar Chris meraih kedua wajahnya. Membuat Jihan mendongak untuk menatapnya.


"Biasakah kamu bertahan lebih lama lagi? Beri aku kesempatan." pinta Chris.


Chris bisa melihat kebingungan dan keraguan dimata Jihan. Karena itu ia mengelus kedua wajahnya dengan ibu jarinya. Perlahan, Chris menurunkan dirinya dan mendekatkan wajah mereka.


Jihan merasakan ketulusan dari ciuman Chris saat ini. Sangat berbeda dari sebelumnya. Seolah Chris mencurahkan segala perasaan yang disertai permohonan. Membuat Jihan tampa sadar meneteskan air matanya. Mereka akhirnya berpelukan. Chris membawanya keatas kasur dan melanjutkan ciuman mereka. Ciuman yang lebih intens.


Seorang pemain sejati seperti Chris, luluh lantak akan perasaan baru yang ia rasakan terhadap istrinya. Chris merasakan darah memompa begitu kencang dalam setiap nadinya. Membuat ia lebih bersemangat dalam gairah untuk terus menyentuh lebih dan lebih. Perasaan dan sensasi yang tidak pernah ia rasakan, membuat perasaan membuncah dalam kebahagiaan. Chris sangat menyukainya, sangat menikmatinya.


Sementara itu di meja makan, Catrin terus merengek karena sang nenek melarangnya untuk menyusul kedua orang tuanya. Menyuruh Catrin makan terlebih dahulu dengan alasan bahwa Daddy dan mamanya sedang beristirahat sambil berbicara untuk berbaikan. Sang nenek sangat pandai merangkai kata sehingga akhirnya Catrin mau makan dan tidak merengek lagi.