Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
57



Sejak pulang dari rapat besar yang diadakan oleh Chris. Jihan terus melamun diruang tamu. Tidak mandi, bahkan tidak berpindah dari sana sejak sampai kerumah.


"Ada apa denganmu?"


Meri baru saja selesai memasak makan malam dan dia membawanya kemeja ruang tamu.


"Aku hanya kesal." jawab Jihan.


Ingatannya kembali pada awal kemarahan Chris tadi. Setelah pembicaraan di dalam kantornya, dia mengabaikan Jihan. Hanya berbicara sebagai pemimpin dan dengan cara yang sangat dingin.


Ketika rapat berlangsung, Jihan lebih terkejut lagi bagaimana cara Chris memimpin. Jihan bisa merasakan perbedaan kuat antara rapat biasa dikantor dan pertemuan ini. Jihan melihat sisi lain dari seorang Chris. Sisi yang tidak pernah ia lihat dan bayangkan sebelumnya. Bagaimana karisma dan aura pemimpin yang Chris tunjukkan benar-benar alami. Bahkan rekan bisnis yang memiliki status yang sama dengannya, terlihat mematuhinya. Hal itu membuat Jihan merasa kerdil. Bahwa pria yang pernah bersamanya, pria yang secara dunia terlihat sempurna dengan kekuasaan dan fisik yang mempesona, membuat dia goyah untuk sesaat.


'Apa yang aku pikirkan? Dunia memang terkadang menyilaukan seperti ini.'


Jihan menghembuskan napas setelah mengatakan hal itu di dalam pikirannya. Berusaha tidak peduli akan hiasan dunia pada sosok Chris.


Ponselnya bergetar, ada panggilan telepon untuknya. Jihan menghembuskan napas. Menyodorkan ponselnya pada Meri dan memintanya membuat alasan.


"Biasanya kamu tidak suka berbohong." kata Meri, menekan ikon hijau. "Halo?" jawabnya, matanya menatap Jihan yang juga menatapnya dengan sorot meminta pertongan. "Maaf, pak Marcell. Saya Meri, Jihan baru saja sampai kerumah dan dia sedang membersihkan diri."


"Baik, nanti saya sampaikan, Ya... Sama-sama."


Meri memastikan sambungan sudah terputus sebelum meletakkan ponsel Jihan danenatapnya dengan serius.


"Dia masih mengirim hadiah? Kalian jadi dekat ya?"


"Tidak sama sekali. Aku sudah berusaha menghindari pesan dan teleponnya. Tapi dia cukup gigih. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi dia adalah lawan bisnis tempat kita bekerja."


Meri berdehem sekali, "Ini hanya desas desus, aku juga tidak tahu. Tapi aku dengar dari temanku, temanku yang sekretaris Pak Marcell, teman yang aku kenal dari perusahaan itu, ingat? Temanku ini juga temannya."


"Apa yang coba kamu sampaikan? Kenapa berbelit-belit, sih!"


Meri tertawa pelan sambil menyuap nasinya. "Aku dengar kalau Marcell itu pemimpin gengster."


Jihan yang mendengar hal itu, terdiam beberapa saat. Lalu menunjukkan tanda penyangkalan setelahnya.


"Ini cuma rumor, tapi siapa yang tahu." kata Meri menambahkan.


"Sejak kapan kamu percaya rumor? Aku tidak percaya jika tidak melihatnya langsung. Atau ada bukti jelas. Kenapa mencurigai hal yang tidak kita ketahui. Itu sangat buruk, kamu tahu!"


Meri berdecak, lalu mengangguk-angguk karena tidak ingin berdebat tentang hal itu. Dia sedang malas berdebat.


"Aku mengatakannya agar kamu hati-hati. Dia sepertinya sangat tertarik padamu. Oh, ya! Aku sangat kesal dengan mantanmu itu! Dia terus saja menerorku akhir-akhir ini!"


"Siapa yang kamu maksud?" Sejenak Jihan takut kalau itu adalah Chris, meskipun dia yakin bukan Chris.


"Siapa lagi? Ayah dari anakmu."


"Oh..." Jihan menghela napas. Entah kenapa dia menjadi lega. "Kamu hanya perlu memarahinya."


"Itu tidak mempan untuknya! Dia malah akan curhat panjang lebar. Telingaku sampai panas mendengarnya. Tapi, apa benar Chris yang membuat dia kehilangan jabatan dirumah sakit? Kamu dengar sesuatu tentang hal ini?"


Jihan menggeleng, "Orang itu sudah jahat dari sananya, tidak heran dia melakukan hal itu."


"Kamu tidak masalah mendengar hal itu?"


"Apa maksudmu? Masalah apa?" tanya Jihan bingung.


"Apa yang dilakukan Chris pada Haris. Apa kamu tahu? Bukan hanya jabatan, Chris juga membuat Haris kehilangan sahamnya dirumah sakit itu. Dia memilih keluar dari sana pada akhirnya."


Jihan juga sepertinya bingung akan dirinya sendiri. Dia tidak merasa kasihan pada Haris. Bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah perasaan tidak peduli ini karena kebencian Jihan dimasa lalu? Atau menyadari fakta bagaimana cara Haris mendapatkannya. Jihan tidak peduli, dia tidak ingin memikirkannya. Karena itu dia menjawab dengan gelengan pelan.


"Kamu tadi bilang sedang kesal, sama siapa?"


Jihan menghembuskan napas dan berbaring di sofa. "Kamu tahu? Aku membangun dinding antara kami. Tapi sikapnya terus saja membuatku goyah. Ketika aku membuatnya semakin jelas, dia menjadi sangat marah. Perubahan sikapnya cepat sekali. Berbeda dengan dulu yang menyembunyikan banyak hal. Dia terkesan menunjukkan siapa dia sebenarnya sekarang."


Meri yang memahami keinginan Chris dari sikapnya dibelakang Jihan, tentu saja mengerti.


"Mungkin dia masih menyukaimu." Jihan mengingat pengakuan Chris ketika dia dalam pengaruh obat dan demam.


"Itu tidak mungkin, lagipula aku membencinya sekarang." sahut Jihan.


"Kamu hanya marah, Jihan. Kamu tidak benar-benar bisa membencinya."


Jihan bangun, menatap Meri dengan wajah tidak terima. Watak kerasnya kembali lagi. Membuat meri mengomel dalam hati. Meriengatakan hal itu bukan karena mendukung Chris tentu saja tidak. Meri hanya menyadari apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu.


"Aku tidak menyukainya sebesar itu. Pria seperti itu, dia bahkan tidak minta maaf meskipun aku tahu dia melakukan hal buruk pada orang tuaku dan aku."


Meri menghela napas. "Kamu yang bilang jangan curiga tampa bukti. Memangnya ada bukti Chris yang membuat ayahmu berhutang?"


"Rentenir itu temannya, bekerja untuknya."


"Yah, meski begitu bukan bearti Chris terlibat dengan keadaanmu. Maksudku, bagaimana kalau itu hanya kebetulan?"


"Kenapa kamu terus membelanya?"


Meri seperti kehabisan kata-kata. Meri memang yakin bukan Chris yang menyebabkan ayah Jihan terlibat hutang. Tapi tidak menampik keterlibatannya setelah dia tahu masalah Jihan. Dia ingat bagaimana Arjun menemuinya beberapa kali. Jika Chris berniat jahat, dia tidak mungkin membantu Jihan mendapatkan pekerjaan. Bahkan melakukan hal besar seperti mengakuisisi perusahaan yang hampir bangkrut. Inilah yang ada di dalam pemikiran sederhananya.


"Aku tidak membela, itu hanya insting."


Setelah mengatakan itu, Meri pergi ke dapur untuk mencuci piring. Jihan sendiri pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kepalanya dipenuhi oleh wajah marah Chris padanya. Tatapan tajam itu membuat hatinya seperti ditusuk-tusuk. Setelah perlakuan baik Chris dan hubungan mereka yang menjadi lebih baik, Jihan merasa kecewa karena Chris kembali bersikap dingin. Meskipun otaknya lebih menyetujui keadaan ini, tapi hatinya merasa gelisah dan sakit.


.


Chris tidak bisa tidur lagi. Setelah rapat besar mereka, dia mengunjungi ibunya yang masih koma. Bertemu dengan wanita yang baru-baru ini ia ketahui menyimpan obsesi yang besar padanya. Chris seperti menghadapi Nana kedua dengan jenis berbeda.


Adora tidak terlalu agresif, dia bermain pelan tapi pasti. Saat ini, dia bersikap seolah sangat menderita karena ibu Chris belum sadarkan diri. Setiap hari mengunjungi rumah sakit meskipun tidak bisa masuk ke dalam ruang rawatan karena dijaga ketat. Selain karena itu ruangan intensif, para penjaga yang ditugaskan Chris menghalanginya.


Chris juga mendapatkan laporan dari Bayu ketika dalam perjalanan pulang. Bahwa Marcell berjanji tidak akan membunuh Alex. Tapi Marcell mengajukan syarat yang membuatnya geram.


'Anak ini mencoba masuk dalam lingkaran yang aku buat. Maka aku akan memutarnya dengan kencang untukmu.'


.


Paginya, Arjun mendapati atasannya itu dalam keadaan tidak baik. Chris terlihat lebih pucat dan juga mengeluh sakit kepala. Rasa kasihan tentu saja dirasakan oleh Arjun, Chris menghadapi banyak masalah besar sekaligus. Membuatnya bekerja lebih keras.


"Apa kita perlu kerumah sakit, Tuan. Bagaimanapun anda perlu diperiksa."


"Aku hanya kurang tidur, aku tidak bisa tidur semalaman."


"Anda biasanya menggunakan obat tidur jika seperti itu."


"Aku kehabisan obat tidur." jawab Chris, dia masih berbaring di atas kasur. "Minta mereka mengantarkan kopi dan sarapan untukku." perintah Chris kemudian.


"Anda perlu tidur, Tuan. Anda bisa pingsan jika memaksakan diri."


"Lakukan saja, sialan! Jangan mendikteku! Apa ini pertama kalinya bagimu melihatku seperti ini?" geram Chris. Suasana hatinya sudah tidak baik ditambah tidak tidur, mendengar ceramah dipagi hari hanya membuatnya naik darah.


"Maafkan saya, saya akan menyiapkan pesanan anda dan membawanya segera."


"Tunggu!" Arjun kembali berbalik menghadap Chris yang sedang memijit kepalanya. "Dengan siapa Jihan berangkat pagi ini? Kenapa kamu tidak menjemputnya?"


"Itu... dia pergi dengan mobil kantor, saya memberikan dia salah satunya tadi malam. Apa itu masalah Tuan?"


"Saya akan kembali secepatnya, obat sakit kepala anda ada diatas meja."


Chris tidak mengidahkan obat itu. Dia hanya menutup matanya dan menahan rasa sakitnya.


.


Mereka sampai dikantor dua jam dari jadwal masuk karyawan. Setelah makan dan istirahat sebentar setelah minum obat, Chris mandi dan bersiap pergi. Tampa tidur, hanya membaringkan dirinya sejenak. Hal itu tentu saja membuat Arjun kawatir.


Jihan langsung berdiri menyambut kedatangan mereka, sebagai tanda hormat tentu saja. Namun Chris tidak meliriknya sama sekali. Tidak seperti biasanya memberinya tatapan ramah atau anggukan singkat, Chris benar-benar mengabaikannya.


"Pesankan aku kopi. Perintahkan Jordi menghadap padaku." Perintah Chris.


Arjun segera keluar, meminta Jihan untuk kopi dan dia menelepon sekretaris Jordi. Arjun siap-siap memberikan laporan yang sudah disusun oleh Jihan ketika dia menangkap layar ponsel Jihan yang menyala. Menunjukkan bahwa ada panggilan masuk. Karena tidak diangkat, pesan chat masuk setelahnya. Arjun duduk dengan wajah cemas setelah tidak sengaja chat itu muncul di layar atas. Pesan dari Marcell yang menandakan akan ada pertemuan antara keduanya nanti malam.


"Kak Chris di dalam?"


Arjun mengangkat kepalanya, Jordi berdiri disana dengan tatapan heran padanya. "Ada apa dengan wajahmu?"


"Tuan sudah menunggu anda."


Jordi tidak mempermasalahkan wajah Arjun lagi. Dia terlihat mencurigai sesuatu namun memilih tidak peduli.


Jihan kembali setelah beberapa menit. Mengetuk pintu dan masuk ketika Chris memyuruhnya. Meletakkan kopi di atas meja dengan canggung.


"Kak Jihan? Selamat pagi." sapa Jordi dengan ramah.


"Selamat pagi Direktur." sahut Jihan, lalu undur diri dari sana.


Tentu saja ekspresi datar kakak angkatnya tidak lupuy dari perhatiannya. Setelah Jihan keluar, dia menopang dagunya di meja dan menatap kakaknya dengan senyum penuh arti.


"Kalian bertengkar?" tanyanya.


"Tanaka ingin Jouji menjadi brand ambasador produk ini. Dia ingin nama anaknya dipulihkan. Kamu atur hal itu dengan baik."


Jordi tersenyum, "Tentu saja, aku sudah dengar dari Jouji. Ayahnya tiba-tiba memberinya dukungan setelah selama ini mengabaikannya."


Chris meminum kopinya dan menatap Jordi dengan serius.


"Kamu ikut rapat tadi malam, aku yakin kamu mendapat informasinya. Jadi kerjakan dengan benar. Tanaka adalah rekan kita yang paling loyal. Meski bukan yang utama, tapi dia cukup kuat untuk mempengaruhi pihak lain."


"Aku paham, Kak. Kalau begitu aku akan kembali jika tidak ada hal lain." jawab Jordi, lalu bangkit berdiri ketika Chris diam saja.


"Jordi," Chris bersandar dan sedikit mendongak untuk menatap Jordi dengan sorot penuh ancaman. "Aku akan memaafkanmu kali ini. Aku harap, ini terakhir kalinya kamu melakukan hal bodoh."


Senyum diwajah Jordi menghilang. Wajahnya menjadi tegang dan ada kerutan halus di keningnya. Tanda dia belum mengetahui tentang apa yang dikatakan kakaknya.


"Kembali bekerja." perintah Chris dengan mutlak.


Tampa kata, Jordi berdiri dan memberi hormat sekali lagi sebelum keluar dari ruangan Chris. Wajah tegang sekaligus bingung masih terlihat ketika dia sudah keluar. Tepat ketika Bayu baru saja tiba. Mereka bertatapan sesaat sebelum Bayu mengetuk pintu dan masuk ke dalam.


"Tuan." sapa Bayu.


"Bagaimana keadaan ibuku?"


"Masih sama, belum ada kemajuan. Hari ini akan dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Hasilnya akan dijelaskan langsung oleh dokter yang menangani Nyonya besar."


"Aku mengerti." jawab Chris, lalu dia memanggil Arjun melalui telepon untuk bergabung dengan pembicaraan mereka.


"Jelaskan dengan singkat padanya apa yang terjadi." perintah Chris.


Bayu dengan patuh menceritakan apa yang sedang mereka hadapi. Mulai dari masalah Adora sampai masalah Alex. Arjun yang telah mengetahui kendala yang diberikan Marcell tadi malam langsung mengerti.


"Jadi dia mengajukan syarat agar kita melepaskan pulau itu? Apa yang akan mereka lakukan disana?"


"Pulau itu memiliki posisi yang strategis untuk tempat melancarkan bisnis mereka." jawab Bayu.


"Tapi kita sedang mengebangkan pulau itu untuk pariwisata. Proyek ini hampir selesai." sahut Arjun.


"Tentu saja aku tidak ingin rugi hanya karena bajingan itu. Karena itu, aku memanggilmu. Terkadang isi kepalamu lebih licik dariku."


Arjun tersenyum canggung, dia terlihat kesal tapi menahan dirinya untuk tidak berkata kasar. Situasinya tidak baik untuk Arjun bersikap santai pada tuannya saat ini.


"Tuan, mengapa kita tidak menyerang mereka diam-diam saja malam ini?"


"Itu ide konyol, orang kita tidak sebanyak mereka."


"Jumlah bukan masalah, kita hanya harus membawa satu orang pergi bukan?"


Chris dan Bayu menatap Arjun dengan serius. Menunggu apa ide yang sedang ia pikirkan.


"Apa anda tahu? Malam ini... Jihan memiliki janji dengannya. Mereka akan bertemu malam ini."


Tak!


Pena yang sedang ia mainkan patah ditangannya. Chris tampa sadar langsung mencengkramnya dengan kuat. Kerutan penuh amarah menghiasi wajahnya. Mebuat Bayu dan Arjun gugup ditempat mereka.


"Janji katamu?" ulang Chris dengan nada rendah.


"Tuan, tenanglah. Jadi maksud saya... "


"Aku mengerti maksudmu, Sialan! Jangan coba-coba untuk menempatkannya dalam bahaya!" bentak Chris, dia dengan reflek melempar pena yang patah kewajah Arjun. Kemudian bangkit dan menarik kerah Arjun hingga dia jatuh keatas meja.


"Berani sekali kamu merencanakan hal bodoh seperti itu!" Chris mencengkram kerah kemeja Arjun dan membuatnya sulit bernapas.


"Tuan, tolong tenanglah. Saya yakin maksud Arjun tidak seperti yang anda bayangkan." bujuk Bayu.


Chris melepaskan tangannya, lalu menghembuskan napas. Dia memijit kepalang dan berbalik menghadap dinding kaca. "Janji? Janji seperti apa diantara mereka?" tanyannya.


Dua orang disana tentu saja tahu, alasan kemarahan Chris yang paling besar bukan karena ide itu, melainkan fakta Jihan memiliki janji dengan pria lain. Apapun alasannya, Chris tidak akan bisa menerimanya.


"Saya tidak tahu, saya hanya tidak sengaja membaca pesan yang baru saja masuk ketika dia sedang membuatkan anda kopi." jawab Arjun.


"Jadi maksudmu? Aku hanya perlu membuat kekacauan dalam pertemuan mereka dan Bayu akan mengambil bajingan itu? Semudah itu? Apa kamu bodoh!" Chris berbalik, menatap tajam Arjun yang menundukkan pandangannya.


"Kita hanya perlu membuat pertemuan mereka didekat sana. Anda mengerti maksud saya bukan? Lagi pula, jika Marcell berniat jahat, saya yakin anda juga akan menyebabkan kekacauan kecil. Ini hanya masalah tempat dan kesempatan, Tuan."


Chris duduk di kursinya kembali. Sedang menimbang ide ini. Tidak masalah membuat pertikaian kecil dengan Marcell. Dia punya kekuatan dan kekuasaan. Bahkan membuat Marcell terlempar ke penjara. Masalah utamanya adalah lingkaran dibelakang Marcell.


"Kita harus memastikan dia bukan orang yang akan menyebabkan gangguan besar. Kalau tidak, kita akan menghadapi hal yang lebih besar."


"Saya mengerti, saya akan memastikan posisinya." ucap Bayu, lalu segera memohon izin dari sana.


"Arjun, kirimkan padaku semua chat mereka. Aku mau dari awal."


"Baik, Tuan."


"Lakukan pekerjaanmu dengan baik, dia tidak boleh mencurigai rencana ini. Pastikan keamanannya ketika kekacauan terjadi."


"Saya mengerti."


Manusia bisa berencana apapun, tapi Tuhan adalah penentu segalanya bukan?