
Jihan sedang berada di kantor yayasan saat Jouji tiba-tiba muncul begitu saja di hadapannya. Tentu hal ini membuatnya terkejut. Dia menoleh pada staf lain dengan kebingungan.
"Pak Jouji ini donatur tetap kita seminggu yang lalu bu Jihan." jelas salah satu staf.
Jihan menghela nafas, menatap kesal Jouji yang terus tersenyum padanya. Ia akhirnya mempersilahkan Jouji duduk dan meminta yang lain melanjutkan pekerjaan. Karena yah, Jouji adalah bintang baru yang baru saja terkena skandal dengannya. Setelah pagi ini seluruh artikel gosip di flatform berita dihapus, tetap saja didunia medsos mereka dibicarakan dikolom komentar meskipun akun gosip hanya memasang foto Jouji dengan cuption masalah lain.
"Kamu tahu? suamimu cukup cepat mengirim serangan balik." kata Jouji memulai.
"Ada yang bisa saya bantu mengenai keikutsertaan anda sebagai donatur?" tanya Jihan.
Jouji tersenyum miring. Menatap Jihan yang lebih memilih menatap berkas dimejanya dan menandatangani beberapa. Mengabaikan apa yang ia katakan.
"Aku dengar kamu diserang wartawan, maaf untuk itu."
Jihan meletakkan penanya dan menatap Jouji datar.
"Ikut aku!"
Jihan tidak mungkin membicarakan masalah mereka dihadapan staf yayasan. Maka ia membawa Jouji pada ruang makan di sebelah dapur. Dimana hanya ada sedikit orang dan sudah ia minta untuk meninggalkan tempat.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Jihan setelah mereka sama-sama duduk. Dibatasi meja bulat yang cukup lebar.
"Aku penasaran," kata Jouji, sengaja menjeda "alasan Chris menikahimu, juga alasan ibunya menerimamu. Aku kenal cukup baik keluarga itu. Kamu hanya orang biasa yang tidak bisa berkontribusi untuk perusahaan mereka."
Jihan tidak tahu harus menjawab apa. Melihat Jihan yang diam saja, Jouji semakin melebarkan senyumnya.
"Biar kutebak!"
Jihan mengerutkan keningnya, kawatir sekaligus penasaran.
"Aku dengar anaknya sangat menyukaimu. Apa itu alasannya? karena anaknya?"
Melihat reaksi Jihan yang sedikit gugup dan langsung berdiri, Jouji menunjukkan senyum kemenangannya.
"Jadi aku benar?"
Jihan diam saja.
"Mau keluar dari rumah itu? aku bisa membantumu."
Jihan menunduk untuk menatap Jouji yang masih duduk, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia juga diliputi kemarahan. Tapi untuk keluar dari rumah itu, dia tidak berfikir ke arah sana.
"Nomorku masih sama, aku punya banyak cerita jika kamu mau dengar. Aku permisi dan aku menunggu kabar darimu."
Jouji bangkit dan berjalan keluar. Meninggalkan Jihan yang kembali duduk. Menarik nafas lelah. Dia melirik jam dan kembali menghela nafas. Ini waktunya ia menjemput Catrin.
Jihan berjalan keluar gedung yayasan. Berjalan ke depan dimana mobilnya terparkir. Langkahnya terhenti begitu saja saat melihat suaminya sedang berdiri berhadapan dengan Jouji di sudut parkiran. Arjun sedang melirik kanan kiri memastikan tidak ada seseorang yang merekam. Sementara manajer Jouji dan satu bodyguardnya tampak waspada.
Jihan terdiam disisi mobilnya. Hendak pergi tapi ragu karena Chris pastinya memiliki tujuan untuk datang. Maka, dengan segala keberanian ia berjalan menuju dua orang itu.
Menyadari kehadiran Jihan, Jouji tersenyum kepadanya sebelum kembali menatap Chris.
"Kamu bisa menanyai Jihan. Lagipula apa pengaruhnya bagimu aku kesini atau tidak. Kamu takut aku mengatakan kebenaran pada istrimu? sayangnya tidakpun aku katakan, aku yakin Jihan juga sudah membencimu. Bukankah Jihan sama saja dengan Michel bagimu? pernikahan kalian hanya alat dan bisnis bagimu, benar? jadi apa salahnya aku berteman dengannya? Aku hanya kasihan padanya, hanya jadi pengasuh anakmu. Itu terlalu kejam untuknya."
Chris mengepalkan tangannya tampak emosi. Dia bahkan kini menatap Jihan dengan tajam. Jihan tahu, dia akan terkena imbas dari mulut berbisa Jouji yang terus menyeretnya. Kali ini, dia tidak ingin diam saja.
"Sebaiknya kamu pergi dan simpan semua pemikiranmu untuk dirimu sendiri. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Terima kasih atas niat baikmu." tegasnya.
Baik Chris maupun Jouji terpaku sesaat dengan pemikiran masing-masing. Jouji melirik managernya yang sedari tadi melihat jam tangan dan tampak gusar. Mereka memang ada jadwal beberapa menit lagi.
"Sepertinya kamu belum paham, dia bukan manusia. Kamu hanya akan mendapat penderitaan jika terus berada di sekitarnya."
Jouji tampak berbeda saat mengatakan itu. Seperti kawatir juga tertekan. Jihan tidak tahu apakah dia yang salah menilai atau pria dihadapannya itu sedang menipunya. Mencoba mencari sorot yang biasa ia lihat dimata itu, namun ia hanya melihat sorot kekawatiran. Hal itu membuatnya jadi ragu sendiri.
Chris yang sedari tadi menahan diri sampai pada puncaknya. Dia bahkan tidak mengerti kenapa ia marah saat ini. Terlebih disaat kedua mata itu memancarkan arti yang berbeda. Dia jelas tidak menyukainya.
Maka dengan wajah dingin ia menyeret Jihan pergi. Masuk kedalam mobilnya. Jihan menoleh keluar jendela mobil. Menatap Jouji yang masih berdiri disana.
Melihat itu Chris menyentak tangannya sehingga pandangan mereka bertemu. Jihan mengerjap pelan, kembali dari pemikirannya. Menyadari aura Chris yang semakin gelap, Jihan berusaha menarik tangannya lepas. Sayangnya Chris yang sedang marah tidak bergeming. Arjun yang sudah duduk di kursi kemudi saja sampai kebingungan. Chris memang bersumbu pendek, tapi biasanya hanya pada urusan perusahaan. Dengan wanita dia hanya acuh tak acuh. Seolah cinta dan sebuah status bukan hal yang penting.
Arjun menyalakan mobil, berusaha mengabaikan pasangan dibelakang yang masih saling melempar tatapan. Bersiap memulai konfrontasi.
"Aku sudah memerintahkanmu__"
"Bukan aku! dia datang sendiri karena bagian dari donatur!" potong Jihan tidak terima. Rasa takutnya hilang berganti dengan amarah.
"Lalu bagimana caranya dia tahu tentang aku yang menganggapmu ... jika kamu tidak mengatakannya bagaimana dia tahu!" tuduh Chris lagi.
Entah mengapa seolah tidak ingin mengatakan kata 'pengasuh'. Bibirnya seolah enggan mengatakannya meskipun ia ingin.
"Pengasuh?" sebut Jihan dengan sinis. "Apa kamu tahu? terlalu membenci seseorang bisa membuat orang itu mengenalmu lebih dari yang lain karena dia mencari kelemahanmu. Jika aku jadi kamu, aku tidak akan terkejut, bagaimana Jouji bisa menebaknya dengan mudah." lanjut Jihan dengan dingin dan penuh penekanan.
Chris melepaskan tangannya. Memperbaiki posisi duduknya dengan wajah frustasi. Tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dulu dia sangat tenang menghadapi Jouji. Dia bahkan tidak peduli apa yang ia lakukan bersama istrinya. Tapi kali ini hanya sedikit saja, dia langsung terpancing emosi.
"Lupakan! kita harus menghadiri pesta yang diadakan mentri luar negeri. Akan banyak wartawan. Jadi bersikaplah sebaik mungkin." kata Chris.
"Tapi aku harus menjemput Catrin! dia mengancam tidak akan makan siang jika tidak datang!"
Chris melirik sekilas. Jelas tahu Jihan hanya sedang menghindar. Sejak kemarahannya malam itu, dia menyadari Jihan menghindari bertemu dengannya.
"Aku sudah meminta mama menjemputnya," sahut Chris datar.
Jihan berdecak, ia menggigit bibir bagian dalam. Kebiasaannya saat sedang berfikir. Chris menoleh, melihat ekspresi Jihan yang tampak lucu karena sedang mencari cara lain untuk menghindar. Sangat berbeda dengan mantannya yang bahkan selalu mencari cara untuk menempelinya.
"Berhenti berfikir, kamu akan tetap menemaniku kesana." kata Chris dan menatap lurus lagi.
Jihan meliriknya sengit. Kesal Chris mengetahui ia akan mencari alasan lain.
Chris merotasikan matanya, membuat Arjun terkikik didepan. Buru-buru memperbaiki ekspresi saat menyadari tatapan membunuh atasannya lewat kaca spion.
"Berhenti di tempat yang aku sebutkan tadi," kata Chris pada Arjun.
Jihan tidak suka keramaian apalagi pesta. Dia juga menghindari sesuatu yang tidak berguna seperti itu. Pesta dianggap berlebihan dan menghamburkan uang saja.
Jihan mengernyit heran. Mereka berhenti disebuah butik. Chris turun dan membukakan pintu untuknya. Jihan berdecak kesal, dia harus terlihat manis bersama suaminya didepan banyak orang.
Memasuki area dalam butik mewah itu, mereka disambut oleh sang pemilik. Seorang wanita cantik yang tampak elegan dengan busana dan riasan yang natural. Memberikan hormat pada Chris dan Jihan. Membawanya kesebuah ruangan.
"Saya sudah memilihkan beberapa pakaian rancangan saya seperti permintaan anda. Anda bisa pilih terlebih dahulu."
Jihan dibawa kesebuah ruang ganti oleh karyawan lain. Ruangan penuh kaca. Tampak mewah dengan beberapa hiasan dinding dan ornamen yang dia tidak tahu jenis apa.
"Anda bisa duduk selagi tuan Chris memilihkan bajunya." ucap karyawan wanita itu.
Jihan menurutinya, meletakkan tas di meja dan duduk. Baru beberapa detik, pemilik butik masuk dengan dua stel pakaian.
"Anda bisa mencoba ini terlebih dahulu, Nyonya." katanya sopan.
"Panggil Jihan saja." sahut Jihan, ia risih dipanggil begitu.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Setelah Jihan mengambil pakaian dan memakainya. Ia membantu memasang kerudung dan menambahkan sedikit aksesoris.
"Tunggu, ini terlalu berlebihan dan aku tidak memakai aksesoris." kata Jihan.
Jihan memandang pantulan dirinya. Bajunya sungguh berlebihan, meskipun berbentuk gamis panjang, masalahnya beberapa butiran permata yang menyilaukan itu akan menarik perhatian. Bukan hanya kepribadian, melainkan aturan agama yang ia taati.
Jihan melirik satu pakaian lagi yang dipegang kariawan tadi. Mengambil dan memeriksanya. Mendesah kecewa karena lebih mewah dari yang ia pakai sekarang. Akhirnya ia mengabaikan dua orang disana dan berjalan keluar.
Menyeret bajunya yang sampai kelantai dan terasa berat. Berdiri dengan wajah mengerut dihadapan Chris. Arjun yang berdiri di belakang Chris menatapnya takjub. Bahkan tampa polesan make up Jihan tampak istimewa dengan gaun itu. Wajah cantik alaminya terasa tidak memerlukan polesan apapun.
"Aku tidak suka gaun ini. Terlalu berlebihan!"
Chris yang tadi duduk bangkit berdiri. Menatap dari atas kebawah memberi penilaian. Mengakui dalam hati gaun pilihannya sangat cocok untuk Jihan.
"Ini cukup bagus."
"Aku tidak mau!" sahut Jihan keras kepala.
Chris tidak menanggapinya, ia berjalan ke gantungan baju lain dan kembali memilih. Mengambil sebuah gaun putih yang lebih sederhana namun tampak elegan. Sayangnya dibagian pinggang mengetat dan Jihan menolaknya tampa ragu.
Dengan susah payah Jihan mendekatinya. Ikut memilih, sayangnya tidak ada satupun yang tidak tampak mewah.
"Ini tidak sesuai denganku."
"Pricilia, aku pilih yang saat ini dipakainya. Poles sedikit saja wajahnya." kata Chris.
Jihan tentu terkejut. Tidak terima dan memandangnya galak hendak memprotes. Sayangnya Chris hanya acuh dan sibuk dengan ponselnya.
Dengan terpaksa ia mengikuti pemilik butik kembali kedalam. Rela wajahnya dibersihkan dan dipoles sesuka hati mereka.
Setelah semua selesai, Jihan melihat pantulan dirinya yang tampak berbeda. Sangat berbeda dari biasanya yang hanya memakai pelembab wajah tampa bedak atau apapun lagi. Kini wajahnya tampak berbeda.
"Anda sangat cantik dan imut, seperti remaja dan sangat bersinar." puji Pricilia.
Jihan menghela nafas. Merengut tidak suka lalu menatap Pricilia yang tersenyum padanya.
"Pujian hanya milik Sang Pencipta, Allah. Terima kasih atas bantuanmu meskipun aku tidak menyukai pakaian ini." kata Jihan ramah.
Pricillia tertawa pelan.
"Anda adalah orang pertama yang tidak suka kemewahan yang datang kemari. Semoga tidak mengecewakan anda."
Jihan tahu mereka tidak mengerti, jadi dia tidak akan memperpanjang pebahasan ini. Dia bahkan ragu apakah seagama dengan Pricilia.
Chris bangkit tampa melihat saat menyadari Jihan sudah keluar. Saat ia memandangnya, barulah Chris terpaku ditempat. Meskipun ia akui Jihan cantik dan pernah sekali melihat penampilan dan make up natural saat hari pernikahan, tapi kali ini Jihan benar-benar tampak berbeda baginya.
"Anda terlihat sangat menawan bu Jihan!" puji Arjun tampa ragu.
Chris diam saja, sebenarnya ada penolakan atas pujian Arjun untuk istrinya. Namun lagi-lagi dia mengabaikan perasaan itu.
"Ayo pergi, terima kasih Pricil!"
.
Mereka sampai di sebuah hotel mewah. Sudah banyak wartawan diluar hotel. Mereka hanya akan ada disana tentu saja. Tidak diizinkan memasuki area hotel.
Jihan menatap kerumunan wartawan dengan panik. Menyadari ekspresi kepanikan Jihan, Chris keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Jangan terlihat panik. Bayu sudah bersiap menghalangi mereka agar tidak mendekat. Tersenyumlah sebaik mungkin." kata Chris.
Arjun cukup terkejut dengan perubahan nada bicaranya. Meskipun ragu Chris melakukamnya karena mereka berada di situasi berbeda sekarang.
Chris meraih tangan Jihan. Menuntunnya keluar dan berdiri di sampingnya. Wajahnya tetap datar meski puluhan kamera mengarah pada mereka.
Jihan mencoba menarik sudut bibirnya. Menciptakan senyum kecil yang payah. Arjun berjalan di depannya sementara Bayu dan dua pengawal lain berdiri di samping dan belakang. Mereka tidak banyak menciptakan ruang untuk wartawan mengambil foto apalagi melakukan wawancara.
Chris berhenti sejenak, sengaja menciptakan ruang sedikit. Menghadap pada Jihan dan menatapnya lembut. Mengusap kepalanya seperti seorang suami yang baik dimana sedang menenengkan istrinya yang sedang gugup.
Jihan awalnya terkejut dan tertegun. Saat kilatan bliz yang banyak menyilaukan matanya, ia langsung sadar Chris sedang membuat reputasi untuk mereka. Sedikit miris, namun ia akhirnya melebarkan senyumnya dengan terpaksa.
Sesampainya dipintu aula acara, saat pintu dibuka dan mereka masuk. Disanalah Jihan menyadari tempat itu bukanlah tempat yang aman baginya setelah puluham wartawan tadi. Dimana semua pasang mata menilai penampilnnya. Menatap kagum pada suaminya namun pandangan mereka jelas berbeda untuknya. Terutama para wanita disana.
Saat ini, entah mengapa Jihan merasa sendirian di dunia yang tidak dikenalnya.