
Jordi menatap dari jauh Jouji yang sedang sibuk melakukan pemotretan. Berdiri dengan amarah tertahan. Dia tidak menampik bahwa pernah mencurigai mereka berdua. Kedekatan mereka tidak seperti dirinya dan Nana. Namun karena saat itu Jordi fokus pada pendidikannya, dia tidak begitu memperhatikan tingkah mereka.
Jouji tahu Jordi datang, dia melambaikan tangannya. Memberi gekstur untuk memintanya menunggu. Jordi cukup menarik perhatian, manager Jouji yang telah kembali, memberikannya tempat duduk.
Setelah pemotretan selesai, Jouji segera membawa Jordi keluar, menuju ruangan lain untuk bicara.
"Tampaknya kakakku melunak padamu." ujar Jordi.
"Yang benar saja, itu karena ayahku. Si brengsek itu melakukan negosiasi. Apa kamu tidak lihat dua pengawal itu? Dia mengawasiku seperti anjing."
Jordi terkekeh ringan. "Lebih baik begini, bukan? Sudah cukup mengganggu kak Chris. Kamu tidak akan pernah menang melawannya."
"Sialan!" maki Jouji. "Aku dengar dia punya saingan baru."
"Apa maksudmu?" tanya Jordi.
"Aku diam bukan bearti tidak tahu, mantan Jihan sepertinya cukup kuat untuk menghancurkan rumah tangga mereka."
"Dia? Jadi karena itu kamu sedikit tenang? Kamu sedang menjadi penonton."
"Seperti kamu tidak saja. Ular sepertimu, aku tidak tahu kapan kamu akan mematuk tuanmu."
Jordi tertawa, namun hanya sesaat. Dia merubah raut wajahnya menjadi lebih serius dan sedikit mengerikan. Seolah memiliki dua kepribdian yang berbeda.
"Kalau kamu mengawasi kakakku, artinya kamu tahu tentang kedatangan wanita masa lalunya bukan?"
"Dokter Nana? Tentu saja aku tahu."
"Kamu bertemu dengannya?"
"Tidak, ada apa dengan wanita itu?"
"Sekarang jawab pertanyaanku!" katanya, mengabaikan pertanyaan Jouji, " Apa kamu pernah tidur dengan Nana?"
Jouji terlihat menegang. Mereka berbicara sambil berdiri, sehingga gekstur Jouji mudah dibaca oleh Jordi. Jordi berjalan mendekat, melirik sehelai rambut yang menempel di serat bajunya. Dengan gerakan ringan, Jordi mengambilnya.
"Kamu benar-benar berbuat hal yang sangat bodoh." kata Jordi.
"Maaf, saat itu... Aku hanya tidak bisa menahan diri saat dia mendatangiku sambil menangis."
Jordi tertawa sinis. "Apa selanjutnya juga karena tidak bisa menahan diri? Bahkan saat itu Nana sudah menikah. Kamu melakukan hal menjijikkan dengan istri kakakku." Jordi berdecak setelahnya.
Jordi berbalik dan menatapnya nyalang. "Kakakmu tidak pernah menganggapnya, sialan! Jangan berkata seolah-olah si brengsek itu dihianati!"
Jordi menatapnya datar, untuk sesaat dia ingin sekali meninju wajah Jouji. Namun dia tahu tidak ada gunanya. Apa yang sudah dia dan Nana lakukan, membuat Jordi sedikit kecewa. Bukan karena penghianatan, Jordi tahu kakaknya tidak akan peduli. Tapi akan efek yang ditimbulkan dari perbuatan mereka. Siapa lagi kalau bukan Catrin. Walaupun Jordi mendapat perlakuan yang dingin dari Ibu angkatnya dan Chris sendiri, tapi dia menyayangi Catrin seperti keponakan kandungnya.
Sejak ada Catrin, Jordi merasa dia dicintai oleh seorang keluarga. Karena Catrin menyukainya selayaknya cinta murni anak kecil pada pamannya. Sejak dia diangkat oleh ayah Chris saat itu, dia tahu bahwa dia dibesarkan bukan sebagai anak, melainkan pendamping dan penyokong kakak angkatnya. Karena Chris merupakan anak tunggal. Dan Chris tidak memiliki teman yang bisa setia disisinya. Chris terlalu dingin sejak kecil. Tidak ada siapapun yang berhasil mendekatinya.
"Aku harap kamu tidak akan menyesali perbuatanmu setelah tahu akibat yang kamu timbulkan."
Usai berkata begitu, Jordi pergi meninggalkan Jouji yang tampak masih memendam kemarahan. Jouji menutup matanya, menghembuskan napas dan kembali menetralkan ekspresinya. Dia masih ada kegiatan dan dia tidak bisa menunjukkan wajah tidak bersahabatnya bukan?
.
Dalam perjalanan, Jordi berhenti di depan sebuah rumah sakit besar. Tampa turun dari taksi, dia mengulurkan tangannya yang terkepal. Memberikan sehelai rambut pada Bayu yang telah menunggunya.
Setelah itu, Jordi kembali pergi. Dia ingin pulang kerumah dan menemui keponakannya yang saat ini pastilah sudah mendapatkan perlakuan berbeda, dia sangat mengenal ibu angkatnya itu.
Sesampainya dirumah, Catrin yang sedang bermain bersama pengasuhnya, langsung berlari dan memeluk Jordi yang baru saja datang.
"Paman ganteng kapan datang? Paman kenapa lama sekali diluar negeri?" celotehnya sambil bergelayut manja. Meski masih terlihat ceria, namun Jordi bisa melihat ada perubahan padanya, terutama ketika melihat ekspresi pengasuhnya yang tak biasa.
"Ouuuhh, anak cantik ini rindu paman hmmm? Paman akan bermain denganmu lagi. Ayo!"
Jordi menggendongnya ala koala dan melanjutkan bermain puzzel di tengah ruang tamu. Seperti biasa, dia akan sangat terhibur oleh celotehan Catrin yang menceritakan sekolahnya. Senyum tulus selalu terbit dari bibirnya untuk Catrin.
"Kamu baru sampai?"
Ibu Chris menatap dingin interaksi keduanya. Kata 'baru' juga bearti sebuah ungkapan kemarahan. Jordi tahu ibunya pasti mengetahui apa yang telah ia lakukan ketika sampai di Indonesia.
"Maaf Ma, kak Chris tadi_"
Dia bahkan tidak menatap Catrin dan menepis tangan anak itu ketika dia memohon pada neneknya untuk tetap disana. Catrin bahkan sampai menangis dan ketakutan melihat neneknya yang semakin berubah. Akhirnya sang pengasuh, menggendongnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Ikut aku!"
Jordi mengikuti ibunya. Masuk kedalam ruang kerja yang biasa dipakai oleh Chris. Dia duduk di sofa dan Jordi segera mengikutinya. Saling berhadapan dengan suasana yang cukup serius.
"Kamu pasti sudah dengar dari Chris tentang Catrin bukan?" Jordi mengangguk sebagai jawaban. "Aku tidak percaya bisa membesarkan anak wanita gila itu. Anak yang bukan darah daging Chris!"
Jordi bisa melihat kemarahan yang terpancar dimata ibunya. Jordi benar-benar tidak tahu akan ada kekacauan ini. Dia sungguh tidak menyangka Catrin bukan anak kakaknya.
"Apa kamu juga tahu bahwa Chris tidak pernah menyentuh Nana saat itu?"
"Saya hanya tahu mereka pernah tidur karena kecelakaan. Tapi... Saya benar-benar tidak tahu hubungan terlarang Nana." jawab Jouji.
"Aku bahkan melibatkan orang lain karena anak itu." Jordi tahu ini mengenai Jihan. Namun dia tetap menanyakannya.
"Apa ini tentang kakak ipar?"
"Ya, Bahkan Chris sudah terlalu jauh. Mereka sudah saling menyukai."
Jordi mengernyit, "Lalu apa masalahnya, Ma?"
Ibunya meliriknya dengan tajam. "Masalahnya? Bahwa ada wanita lain yang telah melahirkan anak Chris. Bahkan sudah dibuktikan dengan DNA. Apa kamu pikir anak itu akan aku biarkan diluar sana?" Jordi mulai bisa melihat apa yang diinginkan ibunya. Hal-hal kejam yang biasa ia lakukan. Jordi mengira, bahwa sikap baiknya selama ini karena ibunya benar-benar berharap akan hubungan baik Chris dan Jihan, tapi nyatanya dia salah. Ternyata bukan karena kasih sayang nya pada anaknya, melainkan karena anak kecil yang semula ia anggap cucunya. Jordi tertawa dalam hati menyadari kenaifannya sendiri.
"Buat skandal untuk pernikahan mereka."
Jordi membelalakkan kedua bola matanya. "Ma! Kalaupun mereka harus berpisah. Setidaknya jangan mengorbankan kak Jihan. Dia sama sekali tidak bersalah. Lagipula, Mama tidak bisa membawa Adora masuk kerumah ini. Dia adalah wanita licik."
"Aku menyukai Jihan. Jujur saja, dia memang wanita yang baik. Tapi cucuku lebih penting. Adora tidak akan mendapatkan apapun. Dia hanya harus membesarkan cucuku karena dia ibunya."
"Aku akan mengurus ini, Ma. Tolong jangan melangkah terlalu jauh untuk kak Jihan. Aku akan membuatnya mengajukan gugatan cerai."
Ibunya terlihat berpikir keras. Jelas ada perdebatan sengit di dalam kepalanya. Namun pada akhirnya dia mengangguk. Memberikan sorot kepercayaan pada Jordi.
.
Jihan pulang dan menemukan kekacauan di dalam rumah. Catrin menangis dan tidak ada siapapun selain pengasuh yang menenangkannya. Jihan bahkan sangat bingung dengan keadaan rumah. Dia mencoba menghubungi Jordi, satu-satunya orang yang ia ingin ajak bicara dirumah itu setelah semua yang terjadi. Namun Jordi tidak mengangkatnya.
Sementara itu, Chris menatap hasil tes DNA yang baru saja keluar diatas meja kerjanya. Hasil test yang menunjukkan bahwa Catrin, anak yang ia besarkan selama ini dengan segala kasih sayang dan kemewahan, ternyata bukan anak kandungnya.
"Apa yang akan kakak lakukan?"
Jordi memang berada disana, bersama Bayu dan juga Arjun.
"Tidak ada yang akan aku lakukan. Kalaupun anak itu harus masuk kedalam hidupku. Aku hanya harus membesarkannya. Tapi tidak untuk ****** itu."
Pernyataan dingin itu biasanya akan menyulut rasa takut dalam diri Jordi. Namun kali ini dia memberanikan dirinya untuk menanyakan satu hal.
"Bagaimana jika Mama yang membawanya masuk?"
Jordi meneguk salivanya dengan susah payah ketika bulir kelam yang dingin itu mentapnya tajam.
"Apa yang dikatakan Mama padamu?"
Semua orang menatap Jordi, menunggu jawabannya. "Perceraian dan membawa Adora dan anaknya masuk kedalam rumah."
"Hahahahahaha!"
Tawa keras namun sarat akan kemarahan keluar dari bibir Chris. Dia langsung bangun dari duduknya. Menatap Jordi dengan wajah mengerikan. Menciptakan hawa mencekam dan mencekik yang membuat semua orang sulit bernapas.
"Arjun." panggilnya dengan nada rendah.
"Ya, Tuan."
"Siapkan mobil, aku harus pulang menemui ibuku." katanya. Datar namun mengancam. Seolah ia akan pergi untuk membunuh seseorang. "Dan Jordi, jangan biarkan tanganmu kotor untuk melakukan perintah Nyonya besarmu. Karena kalau kamu membantunya, aku akan memotong tangan dan kakimu."
Bunyi pintu yang tertutup membuat Jordi akhirnya bisa bernapas lega. Dia menunduk menatap ponselnya. Menyalakan layar, melihat nama Jihan tertera di panggilan tak terjawab.
"Apa aku salah membawa Adora pada mereka? Maafkan aku Kak Jihan, aku menyukaimu, tapi aku tidak ingin melihat kak Chris memiliki cinta. Cinta tidak cocok untuk seorang iblis." gumamnya.