Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
13



Chris memijit kepalanya pelan. Kepalanya pening setelah menerima amarah ibunya melalui telepon. Dia bahkan bisa memastikan ibunya akan tiba esok pagi.


Jihan masih terbaring ditempat tidur rumah sakit. Belum sadarkan diri. Tengkorak kepalanya retak dan ada perdarahan ringan.


"Tuan, ini pakaian nyonya."


Chris mengambil pakaian yang diberikan bawahannya. Menyuruh semua orang keluar. Sedikit ragu apakah dia harus meminta bantuan perawat wanita. Namun ia sadar bahwa itu akan menimbulkan kecurigaan.


"Aku benci ini!" gumamnya.


Menghilangkan rasa canggung, dia mulai membuka pakaian Jihan, sedikit terkejut ternyata Jihan masih memakai piayama lengan pendek didalamnya. Setidaknya Chris bisa lega karena tidak harus menyentuhnya lebih dari ini. Jihan sudah tidak memakai kerudung karena sudah penuh darah. Jika dia tahu dia mungkin akan sangat marah. Menjaga auratnya adalah kewajiban mutlak dan dalam kondisi apapun ia tidak akan melanggarnya. Tapi kini ia tidak sadarkan diri, tidak ada yang bisa dilakukan.


Selesai dengan semuanya, dia meletakkan pakaian kotor dalam plastik dan memberikannya pada sang asisten yang berjaga diluar.


"Harusnya aku membawa salah satu pelayan wanita kalau tahu begini." katanya lagi.


Memilih membaringkan diri di sofa panjang. Dia cukup lelah dan ingin tidur. Sayangnya, pikirannya melayang kemana-mana. Kelopak matanya kembali terbuka. Memiringkan tubuhnya menghadap ranjang rumah sakit. Menatap istrinya yang masih menutup matanya. Bertanya-tanya dalam hati atas tindakan nekat yang dilakukan istrinya.


'Apa dia jatuh cinta pada Jouji? sehingga tidak membiarkan aku menyiksanya? Wanita bodoh ini ... apa yang ada di dalam kepalanya?'


Chris tumbuh dengan didikan keras sejak kecil. Tidak ada kasih sayang dalam keluarganya. Sejak dari kakeknya, pernikahan dalam keluarga hanya bisnis. Tidak ada cinta. Bahkan diantara saudara sekalipun ada permusuhan dan persaingan. Meskipun ada, hanya pada si kecil Catrin yang hadir dari sebuah keteledorannya.


Selama ini pandangan hidupnya tidak lebih dari untung dan rugi. Tidak ada pertemanan, hanya ada saling memanfaatkan. Bahkan saat Sekolah dasar, dia sudah pandai memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Chris sangat manipulatif seperti sang kakek. Memiliki tempramental yang mengerikan seperti sang ayah. Tapi kecerdasannya diatas rata-rata melebihi kedua orang tua itu. Dan itu ia dapatkan dari ibunya, satu-satunya orang yang mampu mengendalikannya.


Entah keinginan dari mana, Chris tiba-tiba bangkit dan berjalan ke ranjang Jihan. Berdiri disisi ranjang. Menatap wajah pucat itu tampa ekspresi. Seperti ada magnet yang menariknya untuk lebih dekat.


Menundukkan tubuhnya, menyangga dengan sebelah tangan. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya. Terdorong dengan kuat untuk menyentuh. Maka, dengan gerakan ringan jari-jarinya sudah berada di pipi Jihan. Mengelusnya dengan sangat pelan.


Tersentak tiba-tiba, Chris seperti kembali kedalam kesadarannya. Menarik tangannya dan kembali berdiri tegak.


"Apa yang aku pikirkan?" gumamnya.


Sekali lagi bulirnya menatap tidak percaya pada istrinya. "Wanita ini berbahaya," bisiknya.


Chris keluar, dia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Memerintahkan Feri untuk berjaga di dalam jika nanti Jihan sadar. Berlama-lama berada didalam ruangan yang sama entah mengapa terus membuatnya berpikiran aneh, setidaknya itulah yang ia mengerti.


Chris kembali hanya dalam beberapa menit setelah mendapatkan kopi. Pikirannya tidak tenang. Hatinya tidak senang dengan pikiran-pikiran aneh yang muncul terus-terusan. Bahwa dia entah bagaimana tidak menyukai idenya sendiri meninggalkan istrinya seruangan dengan pria lain. Tapi berkali-kali menolak fakta bahwa itu karena cemburu. Dia jelas tidak jatuh cinta. Bahkan lebih kearah membenci istrinya.


"Keluarlah."


Feri yang tadi duduk disisi ranjang dengan bangku tersentak. Ia sedari tadi memang menahan kantuk. Segera bangkit dan memohon izin untuk pulang sebentar kehotel.


"Apa dia harus duduk disana?" gumamnya dengan nada jengkel. Menatap bangku dimana Feri tadi duduk.


.


Tepat pukul 8 pagi waktu setempat, Jihan membuka matanya. Merasakan sakit luar biasa yang menghentak-hentak dikepalanya.


Mencoba menemukan kesadarannya, dia menggerakkan sedikit kepalanya kekanan. Chris tidur dengan posisi duduk. Kedua tangannya bersilang dan tubuhnya bersandar ke sofa.


Jihan bersukur dokter masuk bersama perawat. Mereka segera memberikan suntikan pereda nyeri saat melihat Jihan kesakitan. Masalahnya adalah Jihan tidak menguasai bahasa Inggris maupun Korea. Sehingga tidak mengerti apa yang sedang dikatakan dokter padanya.


"Tidak masalah, lakukan yang terbaik."


Itu adalah Chris, dia berbicara dalam bahasa Korea. Sang dokter menjelaskan lebih rinci sebelum akhirnya keluar.


"Apa ... apa yang dikatakan dokter itu?" tanya Jihan.


"Apa kepalamu masih sakit?" Jihan tertegun, sempat merasa aneh namun mengenyahkan pikirannya. Tidak ingin berharap lebih.


"Hanya sedikit,"


"Bersiaplah, kamu akan diperiksa ulang."


Jihan diam saja. Dia menatap sekeliling kamar rawat inapnya. Mengangkat tangannya guna merapikan rambut yang keluar dari kerudungnya.


"Terima kasih tetap memutup auratku." kata Jihan pelan.


Chris diam saja, hanya melirik sebentar. Pintu kamar terbuka dan ibu Chris masuk. Menghampiri Jihan dan memeriksa keadaannya.


"Ayo pindah rumah sakit, kamu memerlukan rumah sakit terbaik."


"Tidak perlu ma, saya baik-baik saja." sergah Jihan. Tidak suka akan pemikiran mertuanya.


"Tapi rumah sakit ini tidak begitu bagus. Aku kawatir kalau__"


"Dimana Catrin?" potong Jihan. Dia sengaja karena tidak ingin pembahasan dilanjutkan.


Ibu Chris diam sesaat, menghela nafas "Dia dirumah bersama pengasuh. Aku tidak ingin ia ikut dan malah merepotkanmu." katanya.


Dokter kembali masuk dengan seorang perawat yang membawa kursi roda. Membawa Jihan keluar untuk melakukan scan ulang. Ibu mertuanyalah yang mendampingi sementara Chris kembali ke hotel untuk membersihkan dirinya.


"Bagaimana?" tanya ibu Chris pada dokter setelah pemeriksaan selesai.


"Saya pastikan tidak ada masalah lagi, nyonya Jihan sudah bisa pulang besok pagi jika sakit kepalanya tidak kembali. Dia hanya butuh istirahat dirumah dan hindari perjalanan jauh sampai seminggu kedepan." jelas dokter dalam bahasa inggris karena ibu Chris sejak awal menggunakan bahasa itu.


Ibu Chris menarik nafas. Jika tidak diizinkan melakukan perjalanan, artinya ada sesuatu yang dikawatirkan dokter ini. Tentu saja ia tidak akan memilih resiko. Setelah mengucapkan terima kasih dia membawa Jihan dengan kursi roda ditemani seorang dokter jaga yang bertanggung jawab untuk Jihan sejak awal.


"Kapan saya bisa pulang, ma?"


Kini hanya tinggal mereka berdua di dalam ruang rawat inap. Ibu Chris mengambil pisau dan mengupas buah untuknya.


"Aku akan menyewa salah satu villa disini untukmu. Kamu tidak diizinkan melakukan perjalanan apalagi dengan pesawat dalam waktu seminggu. Setelah seminggu kita akan cek ulang. Saat itu jika tidak ada masalah, kamu bisa kembali."


Jihan tidak berkomentar apa-apa lagi. Dia akan ditinggal di negara yang tidak dikenalnya. Tidak bisa bahasa inggris, itu terdengar menyedihkan untuknya. Jihan berjanji pada dirinya untuk belajar bahasa inggris saat kembali nanti.


"Makanlah buah ini, kebanyakan makanan rumah sakit bercampur bumbu yang tidak halal. Jadi ibu sudah menyuruh orang mencari makanan halal untuk kita."


"Terima kasih, ma."


"Jangan sungkan, kamu menantuku."


Jihan hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Kata menantu membuat hatinya terasa tercubit. Dia masih ingat perkataan Chris yang hanya menganggapnya pengasuh anaknya.


Tentu saja ibu Chris bisa menebak apa yang dipikirkan menantunya. Hanya saja dia memilih untuk diam. Tidak ada gunanya kalimat penghiburan dan dia juga tidak berbakat dalam hal itu. Seluruh bakat dalam keluarganya adalah intimidasi dan muslihat.


.


Jihan duduk di tepi kolam renang belakang rumah. Dimana ada beberapa bunga lili ditanam disana. Bunganya sedang mekar, ada beberapa kupu-kupu yang membuatnya merasa sedikit terhibur.


"Pelayan sudah menyiapkan sarapan anda nyonya."


Hanya Feri yang tinggal bersamanya sejak Chris dan ibunya kembali kemarin untuk mengurus perusahaan. Ini hari ketiga ia ada disana. Semua pelayan adalah warga lokal. Hanya Feri yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Karena itu Feri selalu berada di sekitarnya.


Jouji sudah selesai Syuting dan berulang kali mengiriminya pesan. Beberapa kali juga meneleponnya namun Jihan tidak pernah mengangkat atau membalas pesannya. Dia hanya membacanya. Jouji bilang ia ingin mengunjungi. Hal itu tentu saja tidak akan baik pada akhirnya.


Jouji tidak pernah mau mengerti. Jihan sungguh kerepotan karena dirinya. Mendapatkan masalah karena dirinya. Untuk saat ini saja, mertuanya menyuruh seseorang memantau dan menghalangi Jouji jika ingin menemui Jihan. Hal itu setelah perdebatan sengit dirinya dengan sang suami yang terus-terusan menyudutkannya.


Jihan masih memakai kursi roda karena cidera kepalanya masih menimbulkan rasa sakit saat ia menggunakan kakinya.


"Bisa bawakan kesini saja? Aku suka melihat pemandangan disini." pinta Jihan.


"Tentu, nyonya."


Feri duduk di kursi meja lain tidak jauh dari Jihan. Tersenyum sendiri melihat layar ponselnya. Entah apa yang terjadi tapi Jihan yang tidak sengaja melihatnya menjadi penasaran.


Feri mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar.


"Istri saya mengirim vidio anak kami. Dia baru saja belajar bicara."


Jihan tidak menyangka Feri sudah menikah dan memiliki anak. Karena dia terlihat seperti bujangan dengan wajah dan penampilannya.


"Aku minta maaf kamu jadi lama berpisah dengan mereka."


"Ya ampun nyonya, itu bukan salah anda. Ini bahkan belum ada apa-apanya saat saya menggantikan pak Arjun menemani tuan Chris ke Jepang selama sebulan."


"Sebulan?"


"Ya, cabang perusahaan disana mengalami masalah. Saya belum ada apa-apanya dibandingkan pak Arjun. Dia bahkan pernah 6 bulan berada di Bangkok dengan tuan Chris. Karena ia asisten dan sekretaris utama tuan Chris, dialah yang paling banyak tidak pulang."


Jihan sudah menghabiskan sarapannya. Cukup terhibur bicara dengan Feri, melupakan bahwa dia sangat membenci orang yang ikut disebut dalam percakapan.


"Aku tidak menyangka pekerjaan seperti kalian sungguh berat. Apa semua asisten dan sekretaris seperti itu?"


Feri menggeleng, "Tidak semua, nyonya. Hanya beberapa yang mendapatkan kepercayaan CEO." jawabnya.


Jihan akhirnya meminta Feri membawanya jalan-jalan disekitar pantai. Menikmati udara sejuk pantai yang memang tidak jauh dari villa tempat mereka menginap.


Bosan, Jihan berdiri dan mencoba mencari kerang di pantai. Tapi sayangnya ombak cukup tinggi dan tidak bersahabat. Akhirnya dia kembali menjauh dan hanya duduk-duduk saja.


"Apa kepala anda sakit? anda jangan memaksakan diri nyonya."


"Tidak, aku baik. Terima kasih,"


"Aku sungguh menjalani hari yang buruk untuk bertemu denganmu."


Keduanya menoleh dengan cepat. Mendapati Jouji yang berjalan mendekat. Feri mengedarkan pandangannya, mencari pengawal yang ditugaskan untuk mencegah gangguan seperti ini. Sayangnya tidak ada satupun yang datang.


"Apa yang kamu lakukan pada pengawal-pengawal itu?" tanya Jihan.


Jouji tersenyum lebar. Memilih duduk di samping Jihan namun Feri segera menghalangi.


"Tolong jangan mencari masalah baru, tuan. Nyonya jihan masih sakit dan ini ruang terbuka."


Jouji yang biasanya tidak peduli kini sedikit menurut. Menjaga jarak aman.


"Bagaimana kabarmu? Aku sangat kawatir tapi kamu tidak membalas pesan-pesanku."


"Tidak ada kewajiban bagiku untuk melakukannya." jawab Jihan dingin.


Sudah cukup masalah yang ditimbulkan pria di sampingnya itu, dia tidak akan memulai masalah baru lagi.


Tampaknya Jouji cukup tahu diri kali ini. Dia tersenyum masam dan mengangguk membenarkan.


"Maafkan aku. Jika aku tidak mencoba memancing kemarahannya. Kamu tidak akan terluka. Aku hanya muak dan marah. Dia membuatmu sakit tapi tidak merasa bersalah."


Untuk hal ini Feri menyetujuinya. Sebenarnya dia juga sangat kasihan pada Jihan. Dia mengenal baik tuannya selama ini. Meskipun dia juga menyadari, ada perubahan dari sikap tuannya setelah Jihan masuk rumah sakit.


"Lalu apa hubungannya denganmu? kamu hanya orang asing yang tiba-tiba ikut campur. Apapun dendam yang ada diantara kalian. Tidak ada hubungannya denganku."


Jouji menatap Jihan. Dalam hati tidak terima dikatakan orang asing meskipun nyatanya itu benar.


"Aku menyukaimu. Pada akhirnya aku jatuh cinta padamu."


Kedua bola mata Jihan membesar. Dia menoleh mempertemukan netra mereka. Mengernyit dalam kebingungan. Mencari kebenaran dari sorot Jouji yang tampak sendu.


Memutus kontak mata, Jihan menghela napas. Mencoba memahami keadaan meskipun pada akhirnya ia tetap tidak mengerti. Apa yang coba dilakukan pria ini?


pertanyaan seperti itu bersarang dikepalanya.


"Jangan melibatkanku lagi. Bagaimanapun kamu membenci Chris, dia adalah suamiku. Bagaimanapun aku ingin lepas, itu adalah urusanku. Feri ... bawa aku kembali."


Feri yang sedari tadi memegang pegangan kurai roda memutar arah mereka. Mendorong kursi roda kembali menuju villa. Meninggalkan Jouji yang terdiam disana.


"Bagaimanapun aku akan membantumu." gumam Jouji. Bisa ia rasakan jantungnya yang sedari tadi berdebar.


"Aku tidak menyangka akan mengakuinya secepat itu." bisiknya pelan. Menghela nafas panjang.


"Sudah puas? Aku bahkan melakukan tindakan penipuan gara-gara dirimu. Sekarang ayo ke bandara, kita harus kembali ke Jakarta!"


Itu adalah managernya. Sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka. Mengawasi artis dari managemen tempatnya bekerja. Dialah yang membantu Jouji menyingkirkan para pengawal dengan memberi mereka obat tidur.


"Ya ya ya ya! Kenapa semua orang marah padaku!" rutuknya.


Dia melangkahkan kaki panjangnya pergi dari sana.


Sementara itu, Jihan termenung dikamarnya. Feri meninggalkannya mencari apa yang terjadi dengan pengawalnya. Bahkan mereka tidak bisa dihubungi.


Ponselnya berbunyi, itu adalah Chris. Hatinya langsung was-was. Apa dia akan marah lagi?


"Halo?"


"Assalamualaikum bu ... ibu sakit? apa ibu sudah sembuh? Azam akan tidur dirumah ayah Chris beberapa hari ini."


Jihan terdiam sesaat, dia baru ingat ini adalah tanggal dimana anaknya libur. Tapi bagaimana bisa Chris sendiri yang menjemputnya?


"Kenapa kamu bisa bersama ayah Chris?"


'Chris belum tahu Jouji menemuiku, sepertinya pengawalnya belum melapor' pikir Jihan.


"Karena ayah Chris yang menjemput." jawab Azam. Jihan semakin bingung.


"Dimana ayahmu? Kenapa tidak ayahmu yang jemput?"


"Ayah keluar kota. Jadi Azam telepon ibu, cuma karena ibu tidak bisa dihubungi. Jadi menelepon ayah Chris."


"Oh...begitu. Ibu baik-baik saja. Hanya butuh pemulihan. Nanti kalau sudah sembuh Ibu akan segera pulang. Azam baik-baik main dengan adikmu, ya."


"Ya bu, tentu saja."


"Halo."


Oh tidak! itu Chris dan entah mengapa mendengar suaranya saja membuat jantungnya berdebar.


"Ya."


"Kita akan bicara setelah aku sampai dirumah. Sampai nanti dan jaga kesehatanmu."


Sambungan diputus. Mendengar nada bicara dan apa yang Chris katakan, dapat dipastikan Chris ingin sikap dinginnya tidak diketahui oleh Azam. Bahwa dia masih ingin menyembunyikan kebenaran dari keluarganya. Karena itu dia seolah-olah memberi perhatian dan menolak bicara saat ini karena sedang menyetir.


Masalahnya, Azam anak yang cerdas dan sangat peka. Azam tidak akan bisa dibohongi. Dia ingin lihat bagaimana Chris akan menghadapi Azam yang pandai bicara itu.


"Kenapa ... ini membuatku malah takut. Bagaimana kalau dia nanti mengancam Azam."


Jihan segera bangkit, ingin mengemasi barangnya dan pulang. Namun tiba-tiba saja kepalanya sakit lagi. Tampaknya guncangan ekstrim belum bisa ia atasi.


Dengan ringisan pelan Jihan kembali ke atas kasur. Dia tidak punya pilihan. Terakhir sebelum pulang dokter menjelaskan pada Feri akan ada kemungkinan perdarahan ulang jika ia nekat melakukan perjalanan. Guncangan dan tekanan dipesawat akan memperburuk keadaannya. Maka tidak ada pilihan lain, Jihan hanya berdoa Chris mau bersikap baik pada anaknya.