Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
31



Meri menatap jengah Jihan yang sejak pulang kerja hanya diam di ruang tamu. Apa yang ia lakukan hanyalah duduk di lantai dengan dagu menempel di meja. Tangan kanannya memutar gelas berisi air putih di meja.


"Kamu kenapa sih?" tanya Meri ketika akhirnya jengah juga melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Tadi siang orang tuaku menelepon, dia menyarankanku untuk pulang. Bagaimana menurutmu?"


Meri ikut duduk di lantai, berseberangan dengan Jihan.


"Ibumu pasti sedih melihat kamu seperti ini. Dia pasti ingin kamu bahagia. Sejak awal hanya kamu yang mencintai dalam pernikahan itu. Dia menikahimu karena anaknya, jika orang tuamu dan Azam tahu... Aku pikir dia akan lebih sedih lagi."


"Tapi Chris sangat baik pada Azam. Dia terlihat seperti manusia jika bersama Azam. Tapi tetap saja, kejadian pada mantan istrinya membuatku takut. Seperti yang dikatakan Jouji, aku juga merasakannya. Bahwa Chris tidak pernah menghargai kasih sayang sesama manusia. Dia tidak memiliki cinta dalam hatinya."


Meri tertegun, dia sendiri sebenarnya juga sangat bingung setelah pembicaraannya dengan Arjun, juga sikap dan ekspresi Chris saat di parkiran kali lalu.


"Bagaimana kalau ternyata Chris akhirnya menyukaimu?" tanya Meri dengan ragu-ragu.


Mendengar pertanyaan itu, Jihan mengernyit lalu mematap Meri dengan sorot menghakimi.


"Jangan bilang sekarang kamu berada pada pihak mereka!"


"Apaan, Sih! Tentu saja tidak. Aku bicara begitu karena melihat ekspresi Chris waktu itu!" sahut Meri dengan cepat.


"Aku akan segera istirahat." Kata Jihan seraya bangkit.


"Huh? Baiklah, aku akan ke supermarket sebentar, titip tidak?"


Jihan menggeleng pelan sambil pergi. Pembicaraan berakhir begitu saja. Meri menghembuskan napas sambil menggeleng pelan, ia mengambil jaketnya sebelum pergi.


Udara malam sedikit lebih dingin, Meri mempercepat langkahnya setelah keluar dari lift. Supermarket hanya beberapa meter dari gedung apartemennya. Jadi tidak perlu kendaraan menuju kesana.


Sedang asik memasukkan makanan ringan ke keranjang, Meri dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di sampingnya. Meri menoleh, dia mundur selangkah seraya mengernyit.


"Apa kamu pindah kesini? Aneh sekali bertemu denganmu disini."


"Bisakah aku minta tolong padamu?" tanya orang itu.


Meri melipat tangannya di dada, melirik sedikit pengunjung lain sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Dilihat dari manapun aku yakin kamu mengikutiku sejak awal, kan? Apa kamu juga tahu saat ini Jihan sedang bersamaku? Jadi... apa yang kamu inginkan?" tanya Meri dengan nada yang jelas menunjukkan permusuhan.


"Aku perlu bertemu dengannya. Sejauh ini... Aku selalu diliputi rasa menyesal. Jihan adalah yang terbaik untukku tapi aku melakukan kesalahan. Bantu aku untuk bertemu dan minta maaf padanya."


Meri tertawa kecil, mengejek pria di hadapannya. Ya, dia adalah mantan suami Jihan. Meri tidak tahu apa niatnya namun melihat wajah penuh penyesalan dihadapannya membuat ia ingin tertawa.


"Pertama, Jihan sudah menikah lagi. Percuma kamu minta maaf. Kedua, aku rasa Jihan sudah mengiklaskan semua. Dia bahkan tidak pernah membahasmu. Jadi pergi saja dari kehidupannya."


Meri berbalik, meraih trolinya dan hendak pergi dari sana. Namun satu kalimat Haris, mantan suami Jihan itu, menghentikan langkahnya.


"Suaminya saat ini adalah pria terburuk yang pernah ada. Dia membuat mantan istrinya gila. Apa kamu ingin Jihan berakhir seperti mantan istrinya?" Ketika Meri berbalik dengan wajah menahan amarah, Haris melanjutkan perkataannya. "Aku hanya ingin menyelamatkan Jihan dan menebus kesalahanku dimasa lalu. Aku ingin memulai kembali dan membahagiakanya. Jadi kumohon bantu aku, Mer!"


Meri terlihat sangat geram namun berusaha menahannya. "Kamu mengatakan orang lain buruk, apa kamu tidak berkaca?"


"Karena itulah! Aku tahu aku salah dulu karena itu aku ingin menebusnya."


"Terlambat! Kamu adalah tempat ia pulang dulu. Tapi kamu dengan tega menghancurkan hatinya! Kamu pikir Jihan apa, Hah! Simpan penyesalanmu dan jauhi sahabatku!"


"Kamu tidak berhak menyuruhku menjauh, bagaimanapun juga aku adalah ayah dari anak kami. Sampaikan padanya aku akan menemuinya dan berbicara dengannya. Dia harus segera bercerai dari pria gila itu!"


Meri ingin sekali melempar apapun pada punggung Haris yang kini menjauhinya. Dia geram dan amat muak karena teringat bagaimana dahulu Jihan disakiti. Orang yang dahulu ia hormati sebagai senior di sekolah dan kampus mereka, kini hanya seorang bajingan dimatanya.


Sejak Jihan menikah lagi, ini bukan kali pertama Haris menemui Meri agar dipertemukan dengan Jihan. Dia berulang kali mencoba sendiri namun tidak memiliki kesempatan ketika Jihan selalu diawasi oleh seseorang. Dia bahkan tidak bisa mendekat.


.


Pagi ini menjadi tidak biasa bagi Chris. Pagi sekali, dia sudah menghadapi sifat manja anaknya. Tidak ingin masalah berlarut-larut, dia bertekad untuk mulai serius membujuk Jihan. Selain rumah yang terasa menjadi sesak dan menyebalkan, dia juga tiba-tiba merasa kesepian setiap kali tidur dikamarnya.


Sayangnya, saat ia baru saja sampai di depan gedung apartemen Meri, dia diperlihatkan dengan pemandangan yang membuat keningnya berkerut. Dia berangkat sendirian pagi ini karena Arjun harus menyiapkan sesuatu pagi ini.


Chris mematikan mesin mobilnya, berjalan keluar sehingga bisa mendengar apa yang sedang tiga orang di sana bicarakan.


"Aku tidak tahu kalau kamu benar-benar tidak memiliki rasa malu." marah Chris ketika Jihan diam saja.


"Aku hanya ingin berbicara dengan Jihan!"


Jihan terlihat tidak ingin melihatnya. Selama ini, saat Haris menjemput Azam, Jihan memang akan masuk kedalam kamarnya. Sejak ketok palu saat itu, Jihan tidak pernah ingin melihat Haris lagi.


"Ji... Maafkan aku, hmm! Kamu tidak harus menderita dengan pria itu. Ceraikan dia dan kembali padaku. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ji... kita bersama sejak SMA dan kita berjanji tidak akan terpisahkan, bukan?"


"Sialan! Kamulah yang mencam__"


"Mer! Sudah cukup. Kita harus berangkat. Kamu... tolong jangan datang lagi." potong Jihan, wajahnya menunduk dan tetap enggan menatap Haris.


"Ji... please! Kamu harus secepatnya cerai. Jangan sampai pria itu membuatmu sama dengan mantan istrinya. Aku akan menolongmu, jika belum bisa kembali... setidaknya kita bisa berteman, kan?" bujuk Haris.


"Sepertinya kamu sangat mengenalku."


Ketiganya menoleh kearah yang sama. Dimana Chris berdiri dengan santai tapi berwibawa. Menatap Haris dengan sorot dingin yang mengancam.


Chris tampak tak gentar. Dia berjalan dengan santai kehadapan Chris. Memasukkan kedua tangan kesaku dan melemparkan pandangan remeh.


"Christopher August Mc. Aku sangat tahu apa yang terjadi, tentu saja. Karena aku bekerja pada rumah sakit yang sering dikunjungi mantan istrimu. Lalu sekarang, yang menangani dia adalah temanku. Bagaimana mungkin aku tidak tahu penderitaan apa yang dialami olehnya?"


"Apa maksudmu? Dokter Nana adalah Fadil?" sambar Meri.


Chris melirik Jihan. Wajah istrinya itu terlihat sama terkejutnya dengan Meri. "Lalu... Dengan alasan itu kamu ingin mengambil istriku?" tanya Chris, matanya bergulir pada Haris lagi.


Chris menarik senyum khas dirinya saat akan menyerang seseorang dengan kata-katanya. Sorot matanya sama sekali tidak berubah. Tetap dingin dan mengancam.


"Kamu tahu, melangkah dalam keadaan buta bisa membuatmu tersandung dan jatuh. Aku ingatkan padamu, bahwa aku bukanlah sosok pemaaf."


Chris melangkah pergi menuju Jihan. Dia menggenggam tangan Jihan dan menariknya pergi. Meski Jihan tengah marah padanya, namun istrinya itu tidak melawan. Dia hanya terus menunduk dalam. Ketika Haris akan meraih tangan Jihan yang lain, Meri menghentikannya dengan menepis tangannya.


Setelah Chris dan Jihan masuk kedalam mobil, Meri melayangkan tatapan penuh peringatan pada Haris.


"Jangan menganggu Jihan lagi! Apapun itu, kamu tidak berhak ikut campur antara mereka!" marah Meri, dia juga berjalan cepat menuju parkiran dimana mobil Jihan berada.


Sementara itu, di dalam mobil. Chris ikut diam ketika Jihan hanya diam saja. Chris marah namun dia tidak bisa melampiaskannya. Mereka juga dalam hubungan yang tidak baik. Ada banyak pertanyaan dikepalanya melihat ekpresi dan sikap Jihan di hadapan pria yang belum dikenalnya itu. Ada gejolak kecemburuan juga namun berusaha ia redam agar tidak memperburuk keadaan mereka.


"Berhenti." pinta Jihan ketika mereka baru setengah jalan.


"Aku akan mengantarkanmu ke tokomu." balas Chris.


"Aku bilang berhenti, Chris!" ulang Jihan sedikit lebih keras.


Mau tidak mau Chris menepikan mobilnya. Namun dia tidak membuka kunci pintu. Membuat Jihan menatapnya dengan kesal.


"Siapa dia? Mantan suamimu?" tebak Chris dengan sukses.


"Buka pintunya," pinta Jihan tampa memperdulikan pertanyaan Chris.


"Aku masih suamimu. Aku bertanya apa dia_"


"Ya! Dia mantanku, puas! Sekarang buka pintunya kar_"


"Kenapa?" potong Chris balik, Jihan menatapnya dengan kerutan di keningnya. "Kenapa kamu terlihat sangat terganggu olehnya? Kamu masih menyukainya?" sambung Chris.


"Bukan urusanmu."


"Bukan urusanku? Biar aku ingatkan lagi bahwa kamu masih istriku!"


"Kita akan bercerai."


Chris tertegun, dia menatap Jihan dengan sorot berbeda. Hal itu tentu saja mengganggu Jihan. Dia bahkan harus mengalihkan pandandannya karena tiba-tiba menjadi canggung sendiri.


"Jihan!" panggil Chris, nadanya tegas sekali sehingga Jihan langsung menoleh. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu." ucap Chris dengan mantap. Tatapannya bahkan terasa menusuk sampai ke hati. Bunyi Clik membuat Jihan tersadar dari keheningan yang tercipta. Dia melirik jari Chris yang baru saja menekan tombol kunci sebelum berbalik dan cepat-cepat membuka pintu mobil.


Setelah Jihan menutup pintunya, Chris menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya. Meninggalkan Jihan yang berdiri menatap kepergiannya. Lalu, selang beberapa saat Chris menghubungi seseorang.


"Pastikan dia sampai dengan selamat. Tetap awasi dia dimanapun." perintahnya sebelum mematikan sambungan. Dia baru saja menghubungi orang yang ditugaskan untuk mengikuti Jihan kemanapun istrinya itu pergi.


Perasaan Chris menajadi gelisah. Dia benci menyadari fakta bahwa istrinya terganggu oleh pria lain. Perasaan ini benar-benar berbeda dari apa yang ia rasakan pada kedekatan Jihan dan Jouji. Bukan kemarahan, tapi ketakutan dan kekawatiranlah yang mendominasi perasaannya.


Chris sampai di kantornya dan langsung menuju ruang rapat. Pagi ini dia harus membuat strategi baru untuk pemasaran produk mereka. Setelah isu dan gosip yang terjadi, tidak akan mudah meskipun Jihan sudah membantunya. Chris harus memutar otak agar konsumen kembali percaya dan berhenti memboikot produk-produk perusahaan mereka.


.


Di tempat lain, Jouji sedang berlutut di hadapan sang ayah. Sebelah pipinya memerah karena bekas tamparan. Ibu Jouji, terdiam dan meneteskan air mata dalam diam. Tidak kuasa membela anaknya sendiri.


Jouji terlihat tidak gentar, dia membalas tatapan ayahnya dengan sorot menantang. Seolah ketakutan selama ini hilang dari dirinya. Jouji menarik sudut bibirnya, ia bangkit dari posisinya dan menoleh pada sang ibu.


"Kalian sama saja, tidak peduli apa yang aku lakukan, dimata kalian aku hanyalah balita pembuat masalah." Jouji beralih pada ayahnya lagi. "Tekadku sudah jelas, aku akan terus menjatuhkan rekan bisnismu itu. Dendamku padanya tidak akan pernah hilang!"


Ayahnya yang mendengar hal itu semakin murka, vas bunga yang berada di atas meja melayang dan mengenai dahinya. Jouji menyeka darah yang mengalir. Lalu ia tersenyum mengejek. Tampa berkata apapun lagi, dia meninggalkan tempat itu.


Tidak peduli teriakan ayahnya yang mengancam, atau tangisan ibunya yang memintanya tetap di rumah, Jouji pergi dengan keadaannya yang masih berdarah-darah.


Jouji melajukan mobilnya dengan kencang. Sorot mata terluka itu terlihat sangat menyedihkan. Dia membenci keluarganya sama seperti ia membenci Chris. Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya ketika hatinya terluka hanya satu. Dimana wanita yang ia cintai dirawat.


Sesampainya dirumah sakit, seperti biasa Jouji mengmbil jalan belakang. Dia menutupi wajahnya dengan masket dan topi. Tidak peduli darah dikening dan pipinya sudah kering, dia berjalan dengan cepat melewati lorong sepi rumah sakit.


Ketika sampai di ruang rawatan Nana, Jouji mengernyit kala melihat seorang pria bersama dokter yang menangani Nana. Jouji segera masuk dan menghampiri mereka.


"Kenapa anda membiarkan orang luar masuk, dokter Fadil? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa tidak ada yang boleh masuk kecuali aku dan orang tuanya!" marah Jouji.


"Maafkan saya, tapi dia bukan orang lain pak Jouji. Dia adalah dokter bedah yang pernah menangani Nana dahulu."


"Dulu dan sekarang berbeda. Silahkan kalian keluar!" suruh Jouji dengan nada tidak bersahabat.


Keduanya keluar tampa mengatakan apapun, bahkan tampa mengucapkan kata maaf. Jouji duduk di bangku biasa dia duduk. Menatap Nana yang terus tersenyum menatap sebuah gambar ditangannya. Gambar itu ia dapatkan dari majalah yang kebetulan ia lewati saat kembali ke rumah sakit bersama orang tuanya. Gambar dimana ada sosok Chris bersama dua menteri saling berjabat tangan.


"Kapan kamu akan kembali? Apa aku harus ikut denganmu tinggal disini agar kita tetap bersama?" lirih Jouji.


.


"Aku dengar kamu dekat dengan Jihan." Seseorang menghentikan langkah Jouji yang baru sampai ke parkiran rumah sakit. "Gosip kalian cukup hangat dimana-mana sampai namamu menjadi lebih buruk dari hari ke hari."


Jouji sepenuhnya berhadapan dengan Haris, orang yang menghentikan langkahnya. Keduanya saling lempar pandangan satu sama lain. Saling menilai dan mengintimidasi.


"Kamu kenal Jihan?" tanya Jouji.


"Kami bahkan pernah hidup bersama." jawab Haris. Tentu saja jawaban itu sudah cukup membuat Jouji mengerti siapa laki-laki di hadapannya ini.


"Apa maumu menemuiku?"


"Tidak banyak," jawab Haris, dia maju selangkah lalu menarik kerah baju Jouji sehingga darah yang mengering di sisi lehernya terlihat jelas. "Berhenti menjadikan Jihan alat untuk balas dendam." Haris menarik tangannya. "Aku tidak main-main dengan perkataanku. Aku akan melakukan hal yang lebih buruk pada wanita itu jika kamu melanjutkan rencanamu pada Jihan!"


Haris menepuk pundaknya sekali, lalu pergi dengan langkah panjang menuju mobilnya sendiri.