Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
83



Jihan terbangun dalam kegelapan pekat yang membutakan. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, lalu mengusapnya beberapa kali ketika ia mengira matanya bermasalah. Dia menutup dan membuka matanya beberapa kali sebagai langkah selanjutnya, namun dia tidak bisa melihat apapun. Dia hanya bisa mendengarkan suara deru mobil. Juga tempat yang ia tiduri yang terasa dingin dan bergerak.


Jihan berusaha duduk. Dia sedang mengira-ngira dimana ia sekarang. perutnya terasa diaduk ketika dia berhasil duduk, meraba dinding yang terasa dingin. Bau samar dari logam tertangkap indra penciumannya. Ketika ia mulai paham pada situasinya, Jihan menebak dia ada di dalam sebuh mobil kontainer. Ketika melewati jalan yang terang, Jihan akhirnya bisa melihat cahaya dari celah pintu di ujung sana. Memberitahu secara tidak langsung bahwa matanya tidak bermasalah.


Kepalanya juga terasa sakit, menambah sensasi mual yang berusaha ia tahan. Jihan tidak ingin muntah ditempat seperti ini. Karena itu, dia mencengkram perutnya dan mencubitnya kuat agar rasa mual teralihkan dengan rasa sakit.


Selama satu jam, mobil terasa berhenti. Jihan hampir saja memuntahkan isi perutnya kalau dia tidak menahannya sekuat tenaga. Peluh membasahi keningnya. Dia menatap sosok tegap yang membuka pintu. Menatapnya dalam kegelapan yang mencekam. Sosok yang tadinya ia percaya, yang dia ikuti dengan alasan akan mengantarkannya pada sang suami. Kini menatapnya dengan sorot yang teramat dingin.


"Kita sudah sampai. Ayo turun, Nyonya."


Jihan beringsut ke tepi. Dia mulai meneteskan air mata karena ketakutan. Bayu terlihat menakutkan. Jihan tidak tahu apa salahnya.


"Ke-kenapa kamu melakukan ini? Apa salahku padamu?" tanya Jihan, rasa mual sedikit tidak kunjung mereda, dia masih berusaha menahannya.


"Turunlah, saya akan menjelaskannya pada Anda. Saya juga tidak akan menyakiti Anda."


Tentu saja Jihan tidak mempercayainya. Namun dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Bayu saat ini. Dengan tubuh bergetar, Jihan merangkak ke arah Bayu. Begitu tiba di depannya, Bayu langsung menariknya dengan kasar untuk turun.


Jihan akhirnya memuntahkan isi perutnya ketika ia diseret dengan paksa. Membuat Bayu menghentikan langkahnya dan membiarkan ia memuntahkan seluruh isi perutnya.


Ketika Jihan berdiri dengan lemas, dia kembali diseret hingga akhir terjatuh ketanah yang keras. Tubuhnya terasa lemas setelah muntah, Jihan juga merasakan bumi berputar ketika kepalanya berdenyut.


Bayu menatapnya dengan dingin. Rahangnya mengeras, namun ia tetap menunggu agar Jihan berdiri dengan kakinya sendiri. Setelah itu barulah ia menyeretnya kembali dengan mencengkram tangannya.


Jihan dimasukkan ke dalam kamar, menguncinya dari luar dan Bayu meninggalkannya begitu saja disana. Dia kembali pergi menggunakan mobil kontainer tadi.


Jihan melihat sekelilingnya. Kamar itu cukup rapi. Terasa kosong dan dingin. Seperti sudah sangat lama tidak ditempati. Jihan menatap pakaiannya yang kotor, penuh tanah dan percikan muntahannya sendiri. Dia membuka tirai jendela, tidak melihat jalan keluar ketika melihat jendelanya memiliki teralis besi yang kokoh. Kamar ini juga tampa balkon karena berada di lantai satu, hanya ada satu jalan keluar baginya. Namun pintu itu tentu saja terkunci.


.


Sementara itu, Chris yang pada awalnya tidak ingin melibatkan pihak kepolisian, mau tidak mau mengikuti saran Arjun. Mengandalkan kekuatan sendiri bisa saja mereka lakukan, namun resiko akan keselamatan Jihan lebih utama. Lebih banyak pihak yang mencari lebih baik baginya.


Ditengah kekalutan dan keadaan mental Chris yang menurun, Marcell sedang menonton pemberitaan media mengenai penculikan ini. Dia menarik senyum disudut bibirnya saat media mendapatkan informasi yang keliru. Dimana Jihan diduga diculik oleh komplotan para tersangka yang pernah menculiknya dulu.


"Siapa itu?" dia menoleh pada seseorang yag duduk di hadapannya. Seorang pria yang juga sangat mengenal Jihan dengan baik. "Bastian, kamu pasti mendengar sesutu selama disana bukan?" tambahnya.


"Rumor yang berkembang memang pihak mafia pendukung tersangka seperti dugaan polisi. Tapi bukankah tidak masuk akal walau pada kenyataannya tidak benar?" Bastian menatap Marcell yang masih menatap layar televisi. "Aku mencurigai kepala keamanan MC yang tiba-tiba dikabarkan mengambil cuti ditengah pekerjaannya yang belum selesai. Ini mencurigakan bukan?"


Marcell menoleh, menatapnya untuk meminta lebih banyak penjelasan.


"Namanya Bayu, aku dengar dia sudah bekerja belasan tahun. Dia juga juga dikabarkan sangat setia seperti anjing peliharaan pada presdir sebelumnya." Bastian menghela napas, dia mengambil gelas kopi miliknya dan meminumnya hingga setengah. Mereka sedang berada di rumah pribadi Marcell. "Hanya saja, spekulasi bahwa kamu juga masuk anggota sindikat gelap meningkat drastis kali ini. Tidak seperti sebelumnya, kali ini banyak yang membenarkan rumor itu karena kasus penculikan terdahulu. Walau kenyataannya benar." Bastian menyudahinya dengan tawa kecil.


Marcell menoleh sedikit pada pria yang merupakan tangan kanannya dalam organisasi. Pria yang pernah berurusan dengan Alex.


"Selidiki hal ini, dapatkan lokasi Jihan sebelum polisi atau pihak Chris menemukannya."


Bastian melemparkan pandangan mencemooh. "Marcell, aku masih ingat kamu pernah bilang kalau kamu sudah menyerah."


"Aku juga pernah mengatakan bahwa manusia itu makhluk paling egois bukan?" sahutnya.


Bastian tampak tak setuju. Namun dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya memikirkan posisinya diantara mereka. Bastian adalah mantan pacar Meri sekaligus teman lama Jihan. Meski dia juga akhirnya berteman dengan Marcell karena sebuah alasan, hubungan erat mereka berlanjut sampai sekarang tampa melihat latar belakang masing-masing.


.


Chris, Jordi, Arjun dan Alex sedang berkumpul di ruang tengah rumah Chris. Azam yang semula akan kembali ke pesantren langsung batal karena kasus ini. Dia terus-terusan menangis didalam pelukan Chris sampai kini tertidur.


Chris juga tidak kalah frustasi. Wajahnya tidak pernah tenang sejak ia tahu Jihan menghilang. Mereka sudah berputar-putar selama berjam-jam menyelusuri setiap jengkal kota. Memeriksa banyak tempat yang mereka curigai, bahkan memeriksa rumah ibu Bayu di desa. Namun hasilnya nihil, Jihan tidak ditemukan. Bayu juga tidak terlihat dimanapun.


Saat waktu menunjukkan pukul dua pagi, Chris hampir berada diluar kendali. Emosinya meluap-luap akan kemarahan dan kekecewaan. Arjun masih terlihat sesekali menahan ringisan saat dia menggerakkan tubuhnya. Begitu juga Alex yang memaksa keluar dari rumah sakit.


Arjun, yang Chris percaya menjaga Jihan lalai dan membiarkan Jihan dibawa begitu mudah. Chris benar-benar mengamuk saat Arjun bertemu Chris di parkiran bawah tanah usai kabar itu ia terima. Kalau saja Jordi tidak menghentikannya, mungkin Arjun sudah masuk rumah sakit.


Setelah pencarian yang tidak membuahkan hasil, Chris akhirnya kembali dan meminta Arjun menemuinya. Alex dan Jordi sengaja ikut datang karena tidak ingin Chris berada di luar kendali lagi. Mereka juga ingin mendengar kronologi bagaimana Bayu dengan mudah bisa mengelabuinya. Chris bahkan sampai menuduh Arjun bersekongkol dengan Bayu karena pertemanan mereka.


"Jelaskan padaku, sebelum aku benar-benar menarik kesimpulan kamu juga menghianatiku."


Arjun bangkit dari duduknya, lalu duduk di lantai, tepat di hadapan Chris. Kepalanya tertunduk dengan wajah yang menunjukkan penyesalan yang teramat dalam.


"Seperti yang anda tahu, hanya beberapa pengawal kelas A yang mengetahui tentang apa yang dilakukan Bayu. Dia masuk dengan mudah ke dalam perusahan karena masih tercatat sebagai karyawan. Ketika dia datang, Jihan sedang berada di dalam ruangan anda, Tuan. Lalu seorang resepsionis meneleponnya. Mengatakan bahwa seseorang mencarinya."


Arjun mengingatnya, ketika mereka turun ke lobi utama, ada keributan terjadi. Disaat dia sedang mengatasi keributan, Jihan masih berada di belakangnya. Setelah Jihan menghilang, Arjun sadar kericuhan hanya sebuah pengalihan.


"Sebuah keributan dibuat untuk mengalihkan kami. Tapi saya melakukan kelalaian, saya tidak mengawasi Jihan dengan baik. Saya tidak tahu kapan Bayu masuk. Dari rekaman cctv, mereka terlihat berbicara beberapa detik sebelum Jihan mengikuti Bayu menuju pintu keluar."


Chris kembali menghubungi nomor Jihan, namun tidak ada hasilnya. Nomornya sama sekali tidak aktif. Dia mencengkram rambutnya sendiri. Rasa pening membuat sebuah gejolak yang berusaha ia tahan kini berusaha keluar. Chris mengulurkan tangannya. Mengisaratkan sesuatu, Arjun segera bangkit dan berlari menuju ruang kerja Chris dirumah itu. Dia mengambilkan obat penenang yang beberapa waktu terakhir sudah tidak pernah ia konsumsi.


Tangan Chris bergetar, membuat semua orang panik. Arjun dan Jordi tahu, Chris sedang berusaha menahan diri. Dia berusaha menekan sifat agresifnya. Keinginan untuk menghancurkan segala sesuatu begitu menyakitkan. Chris tahu dia hanya harus melepaskannya agar jiwanya merasa tenang, namun ia mengingat wajah Jihan. Dia tidak ingin mengecewakan wanitanya.


Ponsel Chris berdering, itu adalah panggilan dari polisi. Seorang Jendral yang berada dibawah kuasanya, dialah yang langsung mengambil kasus ini. Sehingga Chris bisa mengatur informasi yang keluar untuk media.


"Halo?"


"Kami menemukan cctv yang menangkap mantan orangmu itu. Dia tertangkap sedang mengisi bensin di pom bensin jalan xxx. Kami menyelidiki daerah sekitar dan menemukan kontainer itu terperosok ke dalam sungai. Tapi... Tidak ada siapapun di dalamnya. Kami sedang menelusuri sungai dan beberapa penyelam diterjunkan untuk mencari...."


"Istriku masih hidup! Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal! Bajingan itu tidak akan semudah itu membunuhnya! Cari ditempat lain dan jangan membuang waktu kalian disana!" bentak Chris, memotong perkataan sang jendral dengan penuh emosi.


Dia segera bangkit, mengambil kunci mobil sebelum ponselnya kembali berbunyi. Sebuah foto dikirimkan padanya. Foto Jihan di dalam mobil kontiner, dia dalam posisi terbaring dan tidak sadarkan diri.