Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
8



Chris duduk di kursi kebesarannya. Menatap nyalang pada semua direktur di perusahaannya. Bahkan mereka yang tidak melakukan kesalahan terkena imbasnya.


Aura hitam menyelimuti seluruh ruangan. Membuat siapapun menatap lurus meja di depan mereka. Tidak berani bahkan untuk menggerakkan jari mereka.


Arjun yang biasanya santai kini sedikit terusik. Kemarahan atasannya jelas sudah dimulai sebelum memasuki ruang rapat sore ini. Tepat ketika sebuah laporan dari Bayu. Memperlihatkan kedekatan sang istri dengan orang yang pernah bermasalah dengannya.


"Jika kalian berharap pengampunan, maka aku akan mencekik leher kalian saat ini juga. Jangan sampai kesalahan kecil ini membuat pesaing menjatuhkan perusahaan."


Jeda sesaat, nada suara Chris sangat menyeramkan. Bahkan beberapa di antara mereka sudah gemetar di tempatnya.


"Sampai besok pagi aku masih belum menerima kabar baik, aku pastikan akan menghancurkan kalian."


Brak!


Chris membanting kursinya kebelakang saat bangun. Arjun menghela nafas lega saat ia dengan cepat bergeser ke samping. Pasalnya sejak tadi ia berdiri di belakang Chris.


"Arjun, pastikan mereka melakukan yang aku perintahkan."


"Baik, pak!"


Setelahnya, Chris meninggalkan ruangan diikuti sekretarisnya. Arjun menarik nafas, menatap satu persatu mereka yang tampak bisa bernafas lega. Tersenyum sinis sebelum duduk di kursi yang tadi diduduki Chris.


"Kenapa kalian selalu membuatku repot?"


Pertanyaan Arjun terdengar biasa saat seseorang merasa kesal. Nyatanya tidak bagi semua orang yang duduk di sana. Arjun adalah bentuk iblis lain dari sosok Chris. Dia bahkan lebih licik dari siapapun saat menjatuhkan lawannya. Arjun selalu suka bermain kata-kata.


"Sa ... saya akan memperbaiki kesalahan. Mohon ampuni saya."


Arjun melirik pada pria separuh botak di sebelah kanannya. Tersenyum ramah namun penuh ancaman.


"Tentu anda harus melakukannya. Terima kasih untuk kehadiran kalian. Ingat, Pak Christoper menunggu kabar baik."


Meninggalkan ruangan dengan dongkol, Arjun segera menemui atasannya. Menarik nafas pelan sebelum mengetuk pintu dan masuk begitu saja.


Chris sedang berdiri menghadap dinding kaca yang menujukkan pemandangan di luar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


Arjun berjalan dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Memutar otak untuk meredakan kemarahan sang atasan dan mengembalikan suasana hati yang kacau. Meskipun ia tahu apa yang ia lakukan tidak akan membantu banyak.


"Aku ingin tahu seberapa banyak dia mengetahui tentang masa laluku. Juga ... lakukan sesuatu untuk memberi peringatan pada si brengsek yang berani mengusikku."


Si brengsek yang di maksud mengacu pada Jouji tentu saja.


"Tapi anda sedang menjalin kerja sama dengan Pak Takaoka."


Takaoka adalah pengusaha asal jepang yang merupakan ayah dari Jouji.


"Karena itu ... kamu bisa melakukannya dengan bersih. Hanya sedikit sengatan."


Arjun mengangguk sekali meski Chris tidak melihatnya.


"Mengingat kemungkinan munculnya gosip ..."


"Biarkan beberapa lolos. Dia harus diberikan sedikit hukuman."


Arjun tidak mengerti jalan pikiran atasannya saat ini. Dia jelas seperti melihat sosok lain saat Chris membicarakan istrinya. Sikapnya saat melihat beberapa foto istrinya dengan model baru itu cukup mengganggunya. Bukan seperti dahulu saat bersama istri pertamanya yang jelas tidak peduli. Kali ini ada kemarahan yang sangat besar. Arjun tidak ingin cepat berspekulasi, dia hanya harus menunggu dan mengamati.


.


Chris pulang dalam keadaan masih memupuk amarah. Bahkan ia mengabaikan anaknya dan melewati ibunya begitu saja. Jihan yang baru keluar dari kamarnya untuk turun makan malam terhenti di depan pintu saat melihat sosok Chris di ujung tangga.


Chris menatapnya tajam. Jihan bisa melihat jelas sorot kemarahan dan keangkuhan menjadi satu. Jika orang lain akan menghindari tatapan itu, berbeda dengan Jihan yang membalasnya. Melemparkan tatapan datar, tidak terpengaruh sama sekali.


Tidak mengenal rasa takut, kamu bahkan berani menantangku. Sangat menarik.


Chris berjalan cepat menuju istrinya. Mendorongnya masuk dan mengunci pintu. Mengunci pergerakan Jihan dengan kedua lengannya.


Jiham tentu saja terkejut. Dia belum pernah berada sedekat ini dengannya. Bukan hal yang baik bahkan saat melihat sorot penuh intimidasi itu.


Jihan meneguk salivanya dengan berat. Dengan berani mengangkat wajahnya dan menatap mata suaminya.


Jihan menurunkan pandangannya. Berusaha memahami keadaan, hal apa yang membuat Chris terlihat sangat marah. Namun cengkraman tangan besar Chris di rahangnya membuat ia kembali mendongak. Jantungnya bahkan sudah berdegup kencang.


"Katakan apa yang kalian rencanakan!"


Jihan menarik tangan Chris namun tidak berhasil. Chris malah menekannya semakin keras. Membuatnya meringis karena rasa sakit dan kebas.


Dengan susah payah ia melepaskan cengkraman itu, air matanya sudah jatuh meskipun tampa suara.


"Aku suamimu, maka aku memerintahkanmu untuk menjauhinya. Jangan merepotkanku dengan skandal murahan!"


Usai berkata seperti itu Chris meninggalkannya. Tahu Jihan tidak akan mengatakan apapun. Ia akhirnya hanya melemparkan perintah yang ia tahu akan di patuhi oleh istrinya. Jihan mentaati perintah agama dengan baik, hal itu tentu poin yang membuat Chris bisa lebih mudah mengendalikannya.


Jihan merosot kelantai. Terduduk dengan air mata menetes deras. Ini pertama kalinya Chris menyakiti fisiknya. Bukan karena sakit di rahangnya yang membuat Jihan menangis. Tapi tuduhan yang tidak ia lakukan.


Sementara itu Chris melepaskan dasinya dengan kasar. Membuka bajunya dan melemparnya dengan keras kendinding. Ia sangat marah. Rasa kesalnya bertambah saat mendapatkan sorot pantang menyerah dari Jihan. Seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun. Ia ingin wajah angkuh istrinya memohon maaf padanya. Egonya yang tinggi tidak terima saat Jihan hanya diam seolah membenarkan tuduhannya.


"Sial! kenapa wanita itu membuatku kacau!" gumamnya frustasi.


Ia berjalan kedalam kamar mandi. Menghidupkan shower dan membasahi tubuh setengah telanjangnya. Menutup mata dan berusaha mendinginkan kepalanya. Ia harus tenang, belum pernah ia berada diluar kendali seperti ini.


Ibu Chris menghela nafas. Baik anak maupun menantunya belum ada yang turun. Dia yakin ada yang terjadi di atas sana. Ibu Chris dengan segala kekuasaannya tentu saja tahu apa yang terjadi. Selain pada Chris, Bayu tentu saja juga melapor padanya. Bahkan, ada hal-hal yang tidak ia laporkan pada Chris jika hal itu tidak di izinkan oleh sang Nyonya besar. Chris mungkin pemegang kendali utama perusahaan. Tapi loyalitas Bayu yang sejak awal mengabdi di keluarga itu masih kepada ibu Chris, sejak sang tuan besarnya meninggal.


"Kenapa Papa dan Mama belum turun?" tanya si kecil.


"Panggil anak dan menantuku,"


Perintah sang nenek kepada kepala pelayan yang setia berdiri di belakngnya.


Kepala pelayan memberi perintah pada pelayan lain dengan anggukan. Yang mendapat perintah terlihat gugup. Seluruh rumah sudah tahu bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi antara penghuni rumah sejak kepulngan Chris. Namun ia tidak punya pilihan jika tidak ingin di pecat.


Sesampainya di depan kamar Jihan, ia mengetuk dua kali dan berbicara dengan sopan dari luar.


Jihan masih terduduk disebalik pintu. Sudah tidak menangis, hanya terpaku pada lantai. Ketika mendengar suara pelayan yang memanggil, ia bereaksi sedikit. Menghela nafas dan mulai bangkit.


Ketika pelayan itu berdiri di depan kamar Chris, Jihan membuka pintu setelah mengatur ekspresinya seperti biasa. Sisa jejak air mata tentu sudah ia hapus, meskipun mata sembabnya tidak menutupi apa yang terjadi.


Jihan bisa melihat pelayan itu takut, ia bahkan berjengit dan memberi gekstur sopan saat Jihan melewatinya. Maka dengan segenap keberanian, dia mengetuk kamar itu dua kali. Suaranya bergetar saat berbicara. Sayangnya, setelah beberapa saat pintu tidak juga di buka. Ia akan mengetuk sekali lagi tapi langsung berjengit kaget dan reflek mundur ke belakang. Chris dengan wajah amat menakutkan keluar tampa menghiraukannya. Pelayan itu menarik nafas lega, seakan sudah terlepas dari apa yang mencekiknya.


Di meja makan suasana kelewat tenang. Catrin yang biasa heboh ikut bungkam. Pasalnya saat ia menyapa mamanya, Jihan hanya diam saja. Melihat ekspresi papanya yang lebih menyeramkan, Catrin segera menutup mulutnya rapat-rapat.


"Cat sudah selesai?" tanya sang nenek.


Catrin mengangguk, melirik papa dan mamanya bergantian sebelum turun dari kursinya.


"Cat akan segera ke kamar, Cat ada tugas menggambar dari ibu guru."


Neneknya mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya. Mengelus kepala cucunya sebentar sebelum Catrin berjalan keluar dari area ruang makan.


Suasana yang tadi mencekam semakin mengerikan saat Jihan meletakkan sendoknya.


"Saya selesai," katanya lalu bangkit.


"Tetap di tempatmu."


Tegas dan berwibawa. Jihan bahkan baru kali ini melihat wajah itu sejak ia mengenal ibu mertuanya. Jihan kembali duduk dan langsung mendapat tatapan penuh intimidasi kekuasaan dari sang mertua.


"Mama melarangmu memanggil kami dengn tuan dan nyonya. Kamu menantu di rumah ini dan berhenti bersikap seperti itu. Mama minta maaf membawamu dengan cara yang salah. Tapi apapun itu ... Mama harap kebesaran hatimu untuk menerima Catrin dengan baik. Meakipun kamu memang melakukannya dengan baik selama ini tentu saja. Jangan membencinya karena kebencianmu pada kami. Mama berharap kamu tidak membenci Mama."


Hening beberapa saat. Jihan diam saja sementara Chris tampak acuh, dia hanya fokus pada makanannya.


"Bagaimanapun juga kalian sudah menikah. Mama menyukaimu dan berharap kamu betah dirumah ini. Juga mama berharap akan kehadiran cucu-cucu yang lucu dari kalian."


Jihan melirik sinis Chris yang terbatuk-batuk di tempatnya. Chris meminum air sampai habis dan nyaris membanting gelas karena kesal. Ibunya tampak santai. Tidak terpengaruh saat anaknya melayangkan tatapan protes.


"Mama juga sudah merencanakan bulan madu kalian. Tiga hari lagi, jadi kosongkan jadwalmu untuk 3 hari kedepan. Mama sudah atur tempatnya. Nah! Selamat malam kalian berdua."


Ibu Chris bangkit dari duduknya, meninggalkan suami istri yang tampak tidak bisa berkata-kata. Jihan yang masih sakit hati ikut bangkit dan ikut pergi, mengabaikan tatapan tajam suaminya. Jihan tahu Chris sedang marah padanya untuk suatu hal, namun memilih tidak peduli karena merasa tidak bersalah.