Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
68



Desakan wartawan yang terus mengejar ketika mereka keluar dari lobi utama rumah sakit membuat Jihan terpaksa berpegangan pada jas yang dikenakan oleh Chris. Di sebelahnya Arjun juga menghalagi wartawan. Lalu, satu wartawan lolos dari pengawal Chris dan berdiri di depan mereka. Mengacungkan alat perekam dengan wajah yang sudah bersimbah peluh.


"Bu Jihan, izinkan saya bertanya. Apakah hubungan anda dengan para pelaku penculikan murni hanya pertemanan dengan direktur PT. Agrobima? Apakah anda tahu mereka memiliki hubungan bisnis gelap?"


"Maaf, Tapi aku tidak tahu hal itu." jawab Jihan, dia terlihat panik. Genggaman pada ujung jas yang dikenakan Chris makin kuat. Bisnis gelap saja dia baru mendengarnya sekarang. Jihan benar-benar kebingungan.


"Lalu apakah anda tahu tentang bisnis gelap pelaku? Apa anda mengenal salah satu dari mereka?" teriak yang lain.


Jihan menggeleng dengan kuat.


"Pak Chris, apakah anda mengenal mereka? Anda diketahui datang ke TKP bersama polisi. Apa anda dihubungi pelaku atau anda mengenal pelaku?"


Chris menatap wartawan didepan mereka dengan tenang. Tidak terlihat panik atau terganggu. Seolah dia telah menantikan pertnyaan itu.


"Tidak, aku hanya mendapatkan laporan dari bawahanku kalau Jihan diculik. Aku menyelidikinya setelah melapor kepolisi. Aku hanya menyelamatkan Jihan. Aku tidak tahu apapun mengenai para penculik." Jihan menoleh, menatap Chris dengan ekspresi campur aduk.


"Anda diketahui keluar dari rumah utama keuarga anda, apakah karena kehadiran wanita dari masa lalu? Apakah perceraian kalian karena masalah itu?" Tiba-tiba seorang wartawan menyeruak dari belakang dan berdiri di sebelah Arjun.


"Itu ranah pribadi." jawab Chris, dia memasang ekspresi seolah terganggu. Nyatanya, sama sekali tidak terganggu. Justru sebaliknya, dia menunggu pertanyaan ini.


"Apakah anda akan kembali rujuk bu Jihan?" Kali ini pertanyaan diberikan pada Jihan.


"Itu... Itu... " Jihan tergagap, dia benar-benar terlihat ragu mengikuti anjuran Chris tadi.


"Aku memang berniat rujuk." sela Chris. Lalu dia memberikan lirikan khusus pada Arjun. Menyudahi semua ini karena merasa berbahaya jika Jihan salah bicara.


"Tolong memberi jalan, sudah cukup ya teman-teman." kata Arjun dengan nada ramah.


Pengawal kembali membuat brikade, mengabaikan pertanyaan lain yang muncul. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan Arjun segera membawa mereka pergi dari sana.


.


Chris membawa Jihan pada sebuah rumah mewah dikawasan yang benar-benar memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Wilayah yang memiliki batas yang kontras dengan wilayah di sekitarnya. Dibatasi oleh dinding beton tinggi sebagai batas wilayah. Kawasan ratusan hektar itu hanya berisi tiga unit rumah mewah. Dikelilingi oleh taman indah dan sungai buatan yang dibuat sealami mingkin. Beberapa pohon besar menaungi sekeliling taman rumah, benar-benar sebuah rumah dengan konsep hijau yang menyegarkan mata.


Ini adalah rumah yang pernah di rekomendasikan oleh Arjun. Dimana saat itu Chris terlihat sama sekali tidak tertarik. Namun begitu rencana muncul dikepalanya, dia langsung berubah pikiran.


"Ini benar-benar tempat yang nyaman. Anda akan sangat betah disini Tuan." komentar Arjun ketika mereka sudah berhenti tepat di depan rumah.


"Lumayan," sahut Chris. Dia menoleh ke samping, dimana Jihan hanya diam dan menunduk sejak tadi. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Kamu tidak ingin kesini? Apa aku harus mengantarmu kerumah pamanmu?"


Jihan mengangkat kepalanya dengan cepat, "Aku memikirkan Meri. Dimana dia sekarang? Apa yang terjadi padanya?"


"Kamu akan tahu ketika kamu membuka pintu disana." jawab Chris.


Jihan terkejut, dia menatap Chris seolah meminta kepastian akan dugaannya. Ketika Chris mengangguk, dia segera turun dan berlari. Dia hendak memutar gagang pintu, namun pintu itu telah dibuka dari dalam. Seorang pelayan yang Jihan kenali berdiri dengan senyum lebar padanya.


"Selamat datang kembali Nyonya. Senang melihat anda baik-baik saja." katanya. Lalu mempersilahkan Jihan masuk.


"Kamu..."


Tapi Jihan tidak punya waktu untuk bertanya tentang kehadiran kepala pelayan Chris disana. Itu rumah Chris tentu saja dia bisa ada disana.


Dia memutar kepalanya mencari Meri, namun dia tidak melihat siapapun kecuali kepala pelayan dan seorang pelayan baru yang tidak Jihan kenal.


"Teman anda ada dikamar tamu. Saya akan mengantar anda." ujar ibu tua kepala pelayan.


Chris masuk bersama Arjun. Mengangguk ketika Jihan menoleh padanya. Maka Jihan mengikuti kepala pelayan menuju kamar dimana Meri berada.


Ketika pintu terbuka, Jihan melihat Meri duduk di atas ranjang. Jihan berlari kearahnya. Melihat tangan Meri yang memiliki bekas lebam karena ikatan. Lalu pipi sebelah kirinya juga mengalami lebam. Dia menangis ketika melihat Jihan. Mereka segera berpelukan dan menagis bersama.


"Maaf Ji, Maafkan aku. Gara-gara aku kamu... Kamu diculik. Gara-gara kebodohanku." ujar Meri setengah meraung.


Jihan melepas pelukan mereka dan menatap Meri. Keadaan Meri tidak cukup baik. Ada banyak lebam disana sini setelah Jihan memperhatikannya dengan teliti.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa dijadikan umpan untuk menyuruhku datang?"


"Maaf, Maafkan aku."


Meri hanya terus minta maaf. Jihan kebingungan, dia menarik diri. Melihat reaksi dan respon Meri yang dia kenal memiliki mental yang kuat. Jihan tahu ada sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Ini ada hubungannya dengan sekretaris pak Marcell, temanmu itu, kan?"


"Jihan, ayo bicara diluar." sela Chris yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Istirahatlah, apapun yang terjadi ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku akan kembali." kata Jihan.


Dia keluar meninggalkan Meri yang menunduk dalam sambil menangis. Merasa iba pada sahabatnya itu, namun Jihan butuh penjelasan pada apa yang sebenarnya terjadi.


Jihan mengikuti Chris menuju sebuah ruang terbuka di pojok lorong. Rumah itu terdiri dari tiga lantai. Kamar tamu berada di lantai dua. Rumah dengan konsep tradisional modern bangsawan eropa itu juga dilengkapi dengan taman kecil di lantai dua dan tiga.


Mereka duduk di bangku taman, Arjun menunjukkan beberapa foto kebersamaan teman Meri itu dengan ketiga pelaku.


"Mereka saling kenal, aku tahu itu. Aku melihatnya langsung." kata Jihan.


"Benar, tapi bukan hanya mereka berempat." sahut Chris.


Arjun kembali menunjukkan dua foto. Pertemuan Marcell dan ketiga orang itu di dua kesempatan.


"Aku tidak mengerti."


"Sederhananya, kamu hanyalah korban yang dijadikan alat dalam pertikaian antar kelompok mereka. Marcell, juga salah satu bagian dari mereka."


"Apa?"


Jihan tentu saja terkejut, dia menatap kembali foto-foto itu. Dia sedang merangkai kejadian demi kejadian.


"Lalu, kenapa mereka tahu tentang paket? Mereka menipuku dengan mengaku sebagai pengirim."


"Itu, kamu bisa tanyakan sendiri pada Marcell." jawab Chris meski dia tahu jwabannya. Dia hanya tidak suka mengetahui fakta bahwa ternyata Marcell memiliki masa lalu dengan Jihan.


"Bicara tentang dia, nama lahirnya bukanlah Marcell. Itu adalah nama baru yang ia pakai ketika masuk ke dalam kelompok itu."


"Apa?" lagi-lagi Jihan terkejut.


"Kasus ini akan menjadi sangat panjang. Kamu akan menjadi salah satu saksi dari sebuah tindak kejahatan. Polisi juga akan menyelidiki latar belakangmu dan hubunganmu dengan mereka."


"Tapi aku sungguh tidak mengenal mereka. Aku tida tahu apapun!" sahut Jihan.


Chris bisa melihat ketakutan dimata Jihan. Tentu saja Chris tahu Jihan tidak ada hubungannya, dia hanya sedang berupaya mencari keuntungan dari kasus ini.


"Tentu saja, tapi mereka mungkin tidak akan percaya begitu saja. Apalagi ayahmu membuat kesaksian akan kedekatan kalian."


"La-lalu Meri? Dia tidak ada hubungannya, kan?"


"Kenapa kamu malah mengkawatirkan orang lain?"


"Tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padanya?"


"Dia, hampir saja diperkosa dirumah yang sama dimana kamu disekap."


Jihan reflek berdiri, air matanya jatuh begitu saja. Dia hendak kembali ke kamar Meri, namun perkataan Chris membuat dia kembali duduk.


"Dia masih trauma. Biarkan dia sendiri dulu. Melihatmu bukan hal yang mudah baginya. Dia merasa bersalah padamu. Pacarnya, adalah orang dibalik penghianatan ini. Temanmu hanya menjadi batu loncatan bagi sekretaris Marcell untuk membalas dendam pada bos yang dibencinya."


Jihan terdiam, dia tidak menyangka hubungan Meri dan sekretaris Marcell sudah ketahap selanjutnya. Dia tidak tahu kalau Meri jatuh cinta padanya. Dia sibuk dengan masalahnya sendiri. Jihan merasa sangat egois. Dia menangis, benar-benar menangis tampa peduli, bahwa sekali lagi, Chris melihat sisi lemahnya.


Chris memberi kode pada Arjun untuk meninggalkan mereka. Arjun dengan sopan pamit dari sana. Meninggalkan Chris yang duduk diam sambil menyodorkan tisu padanya.


Hidung merah dan mata bengkak Jihan membuat dia ingin tertawa. Namun bukan pada tempatnya Chris berbuat gila seperti itu. Dia hanya merasa sangat bahagia, ketika Jihan bergantung padanya seperti saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau orang jahat itu menyeretku? Atau menyeret Meri karena hubungan Meri dengan pria jahat itu!" Jihan masih terisak.


Sungguh, ini adalah pemandangan yang Chris tunggu-tunggu. Pertanyaan itu, juga pertanyaan yang dinantinya.


"Menikah denganku kembali secepatnya. Maka aku akan melindungimu."


Jihan terdiam, pikirannyanya sedang kacau dan dia berada pada tahap sangat labil. Dia kebingungan dan juga kawatir. Dia belum pernah menghadapi kasus seperti ini apalagi terlibat kejahatan besar orang lain. Lalu, keputusan apa yang akan Jihan ambil?


.......


to be continue_


😁


Mohon dukungannya untuk karya aku yang lain ya gays.... 🤗