
Jihan terkejut di pagi hari saat sudah berada di depan tokonya. Dia bahkan tidak berani keluar dari mobilnya. Puluhan wartawan memenuhi area depan. Jihan segera memeriksa sosial media. Benar saja, gosip dirinya dan Jouji memenuhi timeline. Pendatang baru yang sedang naik daun dengan latar belakang yang kuat. Tentu saja akan menjadi makanan empuk para pemburu berita.
Dia segera menyalakan mesin mobil kembali dan hendak memutar untuk pergi. Sayangnya wartawan sudah menyadari kedatangannya dan berlari mengerubungi mobilnya. Mengetuk-ngetuk kaca mobil dan melemparkan berbagai pertanyaan.
Jihan tidak bisa kemana-mana. Tidak bisa bergerak karena wartawan itu mengelilinginya. Sedikit memaksa akan melukai mereka dan itu akan menjadi malapetaka baru baginya.
Jihan mencoba menghubungi mertuanya. Sayangnya diluar jangkauan.
Mama pastinya sudah di pesawat.
Ya, pagi tadi mertuanya sudah mengatakan akan pergi ke bandung dan kembali besok pagi. Maka dengan berat hati ia menghubungi Chris. Karena hanya dia satu-satunya yang bisa mengatasi masalah ini dengan segala kekusaanya.
Chris sedang mengadakan pertemuan dengan rekan bisnis mereka menyangkut perpanjangan kerja sama. Arjun melirik ponsel yang tergeletak di atas meja tepat di samping tangan atasannya. Dengan nada silent, bahkan tampa getar. Hanya layarnya yang terus menyala. Arjun meraih ponsel itu dengan tenang.
Arjun mundur beberapa langkah dan menjawab panggilan. Menurunkan suaranya sepelan mungkin bahkan nyaris berbisik.
"Ibu Jihan, ada apa?"
"Oh ... dia sibuk. Aku hanya ... aku terkepung oleh wartawan..."
Arjun mengernyit mendengar nada ragu-ragu dari suara Jihan.
"Anda dimana?"
Hening cukup lama. Arjun bahkan bisa mendengar suara-suara wartawan diluar mobil. Bisa ia pastikan Jihan sangat panik.
"Lupakan! jangan beri tahu dia aku menelepon."
Sambungan diputus. Arjun memeriksa media sosial dengan ponselnya sendiri dan langsung tahu apa yang terjadi. Karena itu ia mengirim pesan pada Bayu untuk melacak lokasinya.
Menghela nafas memandang atasannya yang masih berbicara dengan rekan bisnis mereka. Kembali ketempatnya dan meletakkan kembali ponsel Chris. Tentu saja Chris menyadarinya, hanya dia diam saja.
Sementara itu, Jihan diam menatap kosong wartawan-wartawan itu. Dia beristigfar sebanyak mungkin sebelum memilih menurunkan kaca mobil.
Berbagai pertanyaan langsung menyerangnya. Sebagian besar bukan bertanya tapi lebih kepada menuduh dan meminta klarifikasi.
"Aku__"
Belum sempat Jihan menjawab yang lain sudah berteriak melayangkan pertanyaan lagi. Jihan pusing dan mual. Dia tidak terbiasa dengan ini apalagi dengan banyaknya kilatan bliz kamera.
Jihan tidak tahan, maka ia segera menutup kembali kaca mobil dan menyalakan mesin mobil dengan panik.
"Kenapa mereka tidak mau pergi?" lirihnya.
Jihan menahan diri agar tidak menangis. Sungguh, suara-suara tuduhan untuknya dari semua wartawan membuatnya frustasi dan sakit hati. Bahkan mereka membawa-bawa orang tuanya. Tidak tahan lagi, akhirnya Jihan menangis. Dia menyembunyikan kepalanya di stir mobil.
"Benar-benar gigih."
Arjun melirik Chris yang duduk di sebelahnya. dua puluh menit dari saat Jihan menelepon tadi, Chris segera undur diri dan pergi menuju Jihan berada saat Arjun memberi tahunya. Sayangnya, sudah 5 menit berlalu dia hanya duduk diam saja. Bahkan Bayu yang sudah bersiap dengan beberapa pengawal lain tidak bisa melakukan apa-apa tampa perintahnya.
"Pak, tidakkah sebaiknya..."
Arjun tidak melanjutkan perkataannya. Matanya membola saat Chris turun dan memecah kerumunan wartawan. Mengetuk kaca mobil beberapa kali, namun Jihan tidak bereaksi apapun.
Bayu yang sudah sampai disampingnya membuka paksa pintu mobil dengan keahliannya. Ketika pintu terbuka Chris masuk dan duduk begitu saja di kursi penumpang.
Jihan yang terkejut saat mengangkat kepalanya. Matanya membola saat melihat wajah dingin suaminya. Jihan yang masih berurai air mata segera bangkit menuju kursi belakang. Antara sadar dan tidak, dia memeluk Chris dengan tubuh bergetar. Isakannya bahkan semakin kuat. Dia ketakutan dan mencari perlindungan.
'Apa aku terlalu keterlaluan membiarkannya terjebak begitu lama?' pikir Chris.
Chris tidak bergeming. Dia sebenarnya cukup terkejut. Itu adalah kontak fisik kedua setelah ia dengan keras mengintimidasi kali lalu.
Wartawan sudah di usir oleh Bayu dan yang lain. Arjun yang ikut membantu kini setia berdiri di sisi mobil bersama yang lain. Cukup penasaran apa yang terjadi di dalam.
Setelah cukup tenang, dengan perlahan Jihan menarik diri. Sadar bahwa dia terlalu percaya diri. Chris bahkan hanya diam tampa membalas pelukannya. Tidak ada kata penenang juga. Menyadari para wartawan sudah pergi, Jihan menunduk.
"Te...terimakasih. Kamu bisa pergi. Maaf merepotkanmu." kata Jihan.
Jihan meraih tasnya di depan dan membuka pintu mobil. Ia memutuskan untuk masuk ke tokonya. Masuk kedalam ruangannya dan menenangkan diri disana. Sebelum itu terjadi, pergerakannya terhenti saat mendengar kalimat dari suaminya.
"Itulah yang akan kamu dapatkan ketika membantahku."
Jihan terpaku sesaat, hatinya kembali terasa nyeri. Ini bahkan bukan salahnya dan dia terus harus menerima hukuman?
"Aku tidak melakukan yang kamu tuduhkan. Aku bukan wanita yang akan melakukan hal-hal murah dan bodoh seperti itu. Jika kamu mengenal Jouji di masa lalu. Harusnya kamu tahu orang seperti apa dia."
Suara Jihan bahkan masih serak dan lirih. Nadanya bahkan terdengar menyedihkan. Tubuhnya masih bergetar. Bahkan Chris bisa melihat jari-jarinya yang tremor parah.
Dengan seluruh sisa tenaga yang ada, Jihan kembali membuka pintu mobil. Melangkah keluar, menundukkan pandangannya. Secepat mungkin masuk ke dalam. Di depan pintu sudah menunggu sepupunya. Sejak tadi sepupunya juga berusaha mengusir wartawan. Hanya saja para wartawan tidak mendengarkannya.
Chris menatap dalam diam punggung kecil istrinya yang menghilang dibalik pintu. Meskipun wajahnya datar, dia bisa merasakan gelenyar aneh di perutnya saat mendengar penjelasan Jihan. Juga sedikit kelegaan dihatinya. Namun, lagi-lagi ia memilih mengabaikan. Tidak ingin berfikir terlalu jauh.
.
Chris sudah kembali duduk didalam ruangan kantornya. Diam sejak dari mereka dalam perjalanan kembali. Hanya melanjutkan pekerjaannya.
Arjun mengerjap beberapa kali, ini pertama kalinya ia mendengar atasannya menyebut pasangannya dengan istriku. Bahkan di pernikahan pertama Chris tidak pernah menyebut nama istrinya. Dia hanya menyebutnya dengan sebutan parasit atau benalu. Bahkan dengan sebutan kasar sering ia gunakan. Tentu saja hal ini membuat Arjun tersenyum girang. Pasalnya berbeda dengan yang pertama. Arjun menyukai Jihan dan menyetujui pernikahan mereka sejak awal.
Selepas Arjun keluar, Chris memijit keningnya. Menatap berkas diatas meja. Minatnya bahkan hilang begitu saja untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Ada apa denganku?" gumamnya.
Akhirnya dia memilih mengistirahatkan diri sejenak. Masuk kedalam ruang pribadinya dan berbaring di atas kasur. Menatap langit-langit.
Ponselnya berdering, ibunya menelfon.
"Apa yang terjadi dengan media sosial dan semua artikel gosip itu? apa kamu sengaja membiarkan itu keluar?"
Chris memijit keningnya sebentar. Dia tahu kali ini dia memang mengambil keputusan yang salah. Ini akan berdampak pada perusahaan mereka.
"I'm sorry mom, sedang diatasi." jawabnya
"Pastikan tidak ada masalah dengan kerja sama perusahaan. Setidaknya buat sesuatu untuk membantah gosip yang terlanjur keluar. Meskipun artikel di take down, itu tidak akan hilang dengan mudah."
"Baik, Mom!"
Chris meletakkan asal ponsepnya dan menutup mata. Dia lelah dengan perusahaan. Lelah menghadapi semua musuhnya. Dia merasa kehadiran Jihan hanya menambah masalah baru dalam hidupnya.
.
Jihan sampai dirumah dan di sambut dengan mertua serta seorang wanita paruh baya disebelahnya. Merekan duduk di ruang tamu. Jihan ingat, dia adalah ibu Jouji, seorang selebriti.
Bersamaan dengan keduanya berdiri, pintu depan terbuka. Chris masuk dan berhenti tepat beberapa langkah di samping Jihan. Dengan wajah lelah, menatap kedua wanita paruh baya di ruang tamu tampa minat.
Menatap Jihan sesaat yang sama sepertinya. Tampak lelah dan berantakan. Dia hanya mengangguk sebagai sapaan sebelum hendak melanjutkan langkahnya.
"Bolehkan aku bicara dengan kalian berdua?"
Chris menatapnya datar, melirik ibunya yang tampak santai, lebih terkesan tidak peduli. Chris tahu ibunya hanya melakukan ramah tamah biasa dengan temannya itu. Mereka dimasa remaja dulu berteman, tapi tidak untuk saat ini. Ibunya bahkan tampak tidak menyukainya.
"Maaf untuk ini, tapi saya sangat lelah. Saya yakin istri saya juga sangat lelah."
Dingin dan datar. Jihan bahkan bingung harus merespon apa. Ketika Chris melangkah mendekatinya dan meraih pinggulnya. Jihan menegang, dia tidak siap harus bersandiwara lagi setelah perlakuan Chris yang selalu menyakitinya.
"Ah ... maafkan aku. Aku kesini untuk Jouji yang membuat masalah. Dia belum dewasa dan baru meniti karir ... aku harap kalian memaafkannya. Aku akan membuat klarifikasi atas ucapannya, jadi ... bisakah kamu menarik artikel yang keluar sore ini?"
Chris menarik senyum remeh. Tidak ada sopan santun atau basa basi. Dia cukup mengenal ibu dan anak ini. Anaknya membuat masalah dan ibunya yang akan menyelesaikan. Dahulu dia tidak begitu peduli, tapi saat ini entah kenapa ia sangat terusik.
"Dulu mungkin dia memiliki alasan untuk membuat masalah karena dia teman dan cinta pertama anakmu. Lalu apa alasannya saat ini? melihat istriku sebagai cintanya juga? atau murni balas dendam? apapun itu katakan padanya jangan terlalu percaya diri. Aku mungkin bekerja sama dengan ayahnya, tapi bukankah dia anak yang tidak terlalu diinginkan?"
Usai berkata demikian Chris menarik Jihan pergi, menaiki tangga dengan masih merangkulnya.
"Maafkan anakku, aku akan membujuknya." ucap ibu Chris.
Ibu Jouji tersenyum masam. Wajahnya seperti tertampar dan penuh kemarahan yang ditahan.
"Tak apa, anakmu cukup keras. Jouji memang bersalah. Hanya tolong hal ini jangan jadi masalah antar perusahaan. Aku permisi."
Sementara itu, sesampainya di atas, Jihan melepaskan rangkuhan suaminya yang ia rasa semakin erat. Tampa kata ia berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Chris tidak mempermasalahkan, dia lelah dan ingin segera beristirahat.
Jihan meletakkan tasnya dan mengernyit melihat gundukan di atas kasur. Dia menyingkap selimut dan mendapati anak sambungnya sudah terlelap memeluk boneka kesayangannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Cat ..." gumamnya.
Clara membetulkan rambut Catrin sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mereka pulang memang sudah lewat jam makan malam. Catrin termasuk anak yang cepat tidur. Biasanya Jihan menemaninya karena selalu pulang sebelum magrib. Tapi kali ini Jihan memilih pulang larut menghindari makan malam dan bertemu Chris. Tidak disangka suaminya itu juga melakukan hal yang sama.
Jihan lelah, ia mengabaikan perutnya yang lapar dan memilih membaringkan diri. Ia juga ingin menghindari Chris karena jika turun sekarang, bisa saja ia bertemu dengannya di bawah.
Tengah malam Jihan terbangun. Perutnya sedikit perih. Cukup menyesal mengikuti egonya ketimbang kesehatannya. Padahal saat siang ia juga makan sedikit karena kejadian yang menimpanya cukup membuat ***** makannya hilang.
Dengan terpaksa ia melangkah turun. Tampa banyak menimbulkan suara, ia menuruni tangga menuju dapur yang gelap. Memilih tidak menyalakan lampu karena ia hanya ingin mengambil makanan dan membawanya ke kamar.
"Apa yang kamu lakukan tengah malam seperti maling?"
Jihan terperanjat dan nyaris menjatuhkan piringnya jika saja Chris tidak menangkapnya cepat. Posisi yang sangat canggung dimana mereka berada sangat dekat nyaris menempel dengan tangan memegang piring di sisi kanan Jihan.
Jihan mendongak, mempertemukan mata mereka. Chris terdiam cukup lama, tubuhnya seolah mati dan tidak bisa bergerak. Bola mata kelam milik istrinya seolah menahannya untuk segera menjauh.
Jihan yang terlebih dahulu berhasil menguasai diri. Dia menurunkan pandangannya.
"Kenapa kamu seperti hantu, tiba-tiba muncul." protes Jihan kesal.
Ia menarik piringnya dan berjalan menjauh. Jika lampu dinyalakan, Chris mungkin bisa melihat pipinya yang memerah.
"Aku sudah ada sejak tadi, kamulah yang baru datang." timpalnya.
Jihan diam saja, dia masih memendam kemarahan yang besar. Setelah menuang air cukup banyak ke dalam teko, ia beranjak dari sana.
Chris menghela nafasnya, tadi ia turun sekedar minum karena air di kulkas kamarnya habis. Dia juga belum bisa tidur entah karena apa. Pikirannya hanya terasa penuh oleh masalah dia dan Jihan. Menebak-nebak sendiri apa yang selanjutnya akan dilakukan istrinya itu. Didalam kepalanya, ia masih mempercayai Jihan yang bekerja sama dengan Jouji.