Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
19



Jihan memandang pembukaan toko baru miliknya dengan wajah penuh harapan. Uang saku yang diberikan Chris cukup banyak setiap bulan. Bagi wanita yang tidak suka kemewahan seperti dirinya, itu jumlah yang sangat besar sehingga akhirnya dia membuka toko baru yang jauh lebih besar.


"Mbak, mereka adalah karyawan yang sudah diwawancarai, Mbak mau wawancara ulang?" tanya sepupunya yang selama ini bekerja untuknya.


Jihan tersenyum dan merangkul wanita yang dua tahun lebih muda darinya itu.


"Tidak perlu Rin, aku percaya sama kamu. Oh iya, karena nanti kamu pindah kesini, toko yang lama akan dipegang oleh teman aku Meri."


"Oke Mbak!"


Mereka tertawa bersama dan berjalan menghampiri belasan pegawai yang sudah berkumpul menunggu intruksi. Hari ini mereka akan mulai membuka toko yang berada di salah satu pusat kota itu. Terdiri dari 4 lantai dan sangat luas.


Jihan menginfestasikan seluruh tabungan dan uang saku dari suaminya untuk membeli gedung dan mengubahnya menjadi toko pakaian dengan berbagai merk dan kualitas. Toko itu juga menjual aksesoris rancangan anak bangsa dari berbagai daerah.


"Apa suami Mbak tahu tentang toko ini?" tanya Rini. Mereka sedang istirahat setelah semua selesai di dalam ruangan yang dijadikan kantor dan ruang pribadi Jihan.


"Dia ... mungkin. Aku hanya memberi tahu ibu mertuaku."


Dari seluruh keluarganya, hanya Rini yang mengetahui bagaimana keadaan pernikahannya. Hal itu karena kejadian di depan toko tempo hari yang menyebabkan Jihan cukup syok karena tidak terbiasa.


"Mbak yakin mau tetap dirumah itu?" tanya Rini.


Jihan menatap Rini sesaat sebelum menghembuskan napas. Raut wajahnya mulai berubah.


"Aku ... belum menemukan cara untuk masalah itu. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya mengabaikannya. Lagi pula, dia tidak akan semudah itu membiarkanku pergi. Mertuaku juga orang yang teguh, dia mungkin akan melakukan apapun untuk membuatku tetap berada dirumah itu. Selain itu ... aku kasihan pada Catrin. Dia tumbuh tampa kasih sayang ibunya ... itu akan menjadi pukulan yang berat baginya jika aku juga pergi."


Rini berkaca-kaca dan segera memeluk Jihan. Jihan tersenyum dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Kenapa malah kamu yang menangis," kekeh Jihan.


"Kakak kuat sekali, kakak memang wanita hebat dan akan selalu jadi panutan Rini!" katanya sambil menghapus air matanya.


Jihan tertawa dan mengusap kepala Rini dengan penuh kasih sayang. Mereka memang dekat sejak masih SMA. Melakukan kenakalan bersama selayaknya remaja labil saat itu. Mereka sangat kompak melebihi saudara kandung.


.


Chris mendapat laporan seperti biasa tentang apa yang dilakukan istrinya. Sejauh ini dia tidak mempermasalahkan apapun. Bahkan dia menambah uang saku Jihan setelah tahu dia membeli gedung untuk membuka bisnis barunya.


"Saatnya rapat Tuan," kata Arjun.


Chris bangkit dan segera memasang jasnya. Berjalan penuh wibawa keluar dari ruangan menuju lantai dua dimana ruang rapat berada. Arjun cukup tegang kali ini karena Chris tidak dalam suasana hati yang baik. Dia lebih dingin dan diam dari biasanya. Arjun sudah mendengar kejadian saat pertemuan keluarga dari Bayu. Karena itu, dia sangat mengantisipasi rapat ini.


Ketika masuk, seluruh pemegang saham yang sebagian besar dari keluarganya juga, sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Ketika Chris masuk, seluruhnya berdiri untuk sekedar memberikan sambutan hormat karena posisinya. Ketika Chris duduk, barulah semua kembali duduk.


Arjun memulai penjelasan bagaimana keadaan perusahaan dibawah grup MC berdasarkan data yang diberikan masing-masing direktur. Setelah semua selesai, dia baru memulai pembahasan masalah-masalah yang ada.


"Aku tidak akan bertanya lagi bagaimana dua direktur membuatku perusahaan rugi. Aku suda tahu dimana masalahnya. Meskipun mereka masih sepupuku dan pemegang lima persen saham perusahaan. Aku akan tetap mengganti mereka dengan yang lebih berkompeten."


Bastian menggebrak meja dengan keras. Dua sepupunya juga langsung berdiri. Menatapnya dengan penuh amarah.


"Kenapa? Apakah paman akan membiarkan perusahaan rugi karena mempertahankan mereka menjadi direktur?" Chris menatap pamannya dengan penuh intimidasi.


Karismanya menguar membuat pamannya kembali duduk. Berbeda dengan sang ayah, dua anaknya langsung keluar dari ruangan.


Pamannya menatap Chris dengan tatapan memberikan peringatan. Seolah berkata dia akan membongkar rahasia Chris jika dia tetap pada keputusannya. Sayangnya Chris hanya memasang wajah datar dan tampak tidak peduli.


Beberapa pemegang saham lain juga tampak keberatan dengan keputusan Chris. Hal itu disebabkan karena Chris tidak membahas kasus korupsi yang mereka lakukan. Sehingga mereka menilai bahwa keputusan pemecatan dirasa berlebihan.


Setelah perdebatan yang cukup alot dengan Arjun yang menunjukkan data real kerugian dan analisa yang sebenarnya sudah menjurus pada kecurangan, seluruh pemegang saham dan direktur lain akhirnya diam. Ditambah aura kematian yang ditunjukkan Chris membut mereka yang tadinya membela seketika bungkam jika tidak ingin terkena imbasnya.


Setelah rapat selesai, seluruh orang keluar. Chris sudah tahu apa yang akan dibicarakan pamannya. Dia juga tentu sudah mempersiapkan jawabannya.


"Kamu menagabaikan peringatanku?"


"Paman, bagaimana bisa paman menjerumuskan keponakan sendiri pada masalah? Memanfatkan Jouji dan wanita gila itu. Siapa yang akan mempercayai ucapan wanita yang tidak waras?" jawab Chris.


Dia bangkit dan merapikan jasnya. Memandang pamannya dengan pandangan yang mencemooh.


"Simpan tenagamu untuk mencarikan anak-anak bodoh itu pekerjaan dari pada mencari kelemahanku untuk menjatuhkanku. Bagaimana bisa seseorang tidak belajar dari pengalaman? Lain kali jangan membuatku marah paman, aku bisa saja menendangmu dari perusahaan meskipun kamu pemilik saham terbesar kedua." kata Chris dengan nada rendah yang mengancam.


Arjun mengikuti Chris keluar. Dia sebisa mungkin mensejajarkan langkahnya.


"Tuan, tidakkah berbahaya mengancamnya seperti itu? Orang tua itu bisa nekat. Ingat apa yang dilakukannya pada mendiang tuan besar...."


Chris berhenti berjalan. Arjun tiba-tiba merasa malaikat kematian tiba-tiba menghampirinya. Dia menurunkan pandangannya dan berdiri dengan waspada.


"Hubungi Bayu dan minta dia menambah orang untuk mengawasi Anak dan istriku." katanya lalu melanjutkan lagi langkahnya.


"Oh ... baik Tuan." Arjun cukup bingung dan lega secara bersamaan.


Biasanya, jika Chris diingatkan tentang penyebab kematian ayahnya, dia akan menjadi lebih emosi. Namun kali ini dia tampak tenang dan malah lebih menghawatirkan anak dan istrinya. Yang lebih mengejutkan Arjun tentu saja karena dia mengikutsertakan Jihan dalam daftar orang yang harus dijaga ekstra.


"Tuan, anda tidak mengirimkan karangan bunga untuk pembukaan toko baru Nyonya Jihan?" tanya Arjun saat mereka sudah didalam kantor kembali.


Entah kenapa dia sangat penasaran akan sesuatu. Sehingga dia ingin tahu dan ingin melihat reaksi Chris.


"Haruskah? Dia tidak memberitahuku tentang bisnis pribadinya." Chris duduk dan mulai melakukan pekerjaannya.


"Jadi anda ingin dia melaporkan pada anda? tentu saja! Sebagai istri harusnya memang begitu. Istri saya juga selalu mengatakan apa yang ia lakukan, bertanya dan meminta izin saya. Apakah Nyonya tidak begitu, Tuan? Saya rasa dia harusnya tahu mengenai kewajibannya."


Chris berhenti bergerak, dia seperti memikirkan sesuatu.


"Memang apa tugas seorang istri dalam islam pada umumnya?" Arjun diam-diam tersenyum dan bersorak dalam hati.


"Secara umum dia hanya harus melayani suaminya. Menuruti semua perintah suaminya, mengurus anak dan tentu saja menunjukkan perhatian dan cinta pada suami. Jika dia melakukan sesuatu, dia harus meminta izin pada suaminya. Meskipun itu hanya sekedar pergi kepasar."


"Tapi aku tidak peduli dia kemana saja dan apa yang ia lakukan. Menunjukkan cinta? Kami hanya terus bertengkar setiap bertemu."


"Itu karena Tuan terlalu menekannya dan terus berbicara kasar padanya. Cobalah untuk lebih lembut dan lebih perhatian."


Chris mendongak dan menatap Arjun dengan tajam.


"Kamu tahu kenapa aku menikahinya, bodoh! Berhenti mempengaruhiku dan mulailah bekerja kalau tidak ingin kutendang dari ruangan ini!" kesal Chris setelah tersadar dari manipulasi Arjun.


"Maaf Tuan ... saya hanya suka melihat Tuan mulai berubah dan menjadi lebih manusiawi."


Chris terdiam mendengar penuturan asistennya itu. Arjun yang tahu Chris memikirkan kata-katanya, tertawa dalam hati dan berpura-pura tidak memperhatikan.


'Aku lebih manusiawi? Memangnya selama ini aku apa? Iblis?'


Mengingat kata terakhir itu, dia teringat perdebatannya dengan Jihan di dalam mobil kemarin.


'Wanita itu juga mengatakan aku berhati iblis.'


Tiba-tiba saja dia tersenyum sendiri mengingat wajah kesal Jihan. Arjun yang melihatnya pura-pura batuk. Chris tersentak dan mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba saja memikirkan istri yang selama ini ia anggap hanya pemgasuh anaknya.


Dengan cepat dia kembali fokus pada pekerjaannya. Namun baru beberapa menit, kosentrasinya pecah karena wajah Jihan yang kembali muncul di dalam kepalanya.


"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Arjun.


"Apa jadwalku setelah bertemu dengan direktur Waralaba?"


"Makan siang bersama direktur Indojaya, dia mengundang anda dua hari yang lalu."


Chris ingat wanita ini. Jika bukan karena ayahnya, tentu saja Chris tidak akan menerima undangannya.


"Batalkan. Katakan padanya aku tidak bisa makan siang bersamanya."


"Anda harus punya alasan Tuan, anda tahu dia wanita yang gigih."


"Kalau begitu kita akan ketoko Jihan untuk menyambutnya, dia akan jadi alasan yang tepat bukan? Aku harus membuat penilaian publik sebelum pamanku menyebar rekaman wanita gila itu."


Arjun menatap datar atasannya itu. "Tentu saja!" jawabnya dengan senyum setengah hati.


'Dasar sundere! Bilang saja ingin bertemu nyonya Jihan. Ck! Siapa yang dia ingin bodohi?'


Arjun mencibir dalam hati akan akal-akalan tuannya itu.


.


Jihan melirik Chris yang dengan santai masuk kedalam tokonya sehingga menarik banyak perhatian. Karena baru buka dan masih banyak promo, banyak pelanggan lamanya yang berdatangan.


Chris mengitari pakaian pria dan memilih beberapa yang dia suka. Dia juga mengirim karangan bunga yang sangat besar dan di letakkan di depan toko Jihan dengan tulisan yang sedikit berlebihan. Jihan sendiri sangat yakin bukan Chris sendiri yang memikirkan kalimat manis itu.


Jihan mengikuti kemanapun langkah Chris, dia bahkan bingung dengan kedatangan suaminya yang sangat tiba-tiba ini.


"Bawa itu ke kasir," suruh Chris pada Arjun dan memberikan black card miliknya pada asistennya itu.


"Sudah makan siang?" tanya Chris.


"Belum."


"Kalau begitu ayo makan siang bersama. Di depan ada restoran yang enak."


Chris menggandeng tangan Jihan dan memberiman senyum penuh cinta. Jika bukan ditengah pengunjung yang sangat ramai, Jihan tahu Chris tidak akan bersikap seperti itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apa alasan Chris datang?


"Kenapa kamu tiba-tiba datang? Apa alasan kali ini?"


Chris tidak langsung menjawab, dia melirik Arjun yang duduk jauh dari meja mereka, namun tetap waspada pada perintah Chris yang tiba-tiba. Chris memberinya kode untuk mendatangi mereka.


"Kenapa Tuan?"


"Pesankan es krim di kedai sebelah."


"As krim?" ulang Arjun dengan kernyitan di dahinya. Tapi dia tetap melangkah keluar meskipun dengan wajahnya yang kebingungan.


"Kemungkinan pamanku akan sedikit membuat guncangan. Bersiaplah, jika ada wartawan yang mengejarmu, cukup tersenyum dan abaikan seluruh pertanyaan. Selain itu, beritahu aku kemanapun kamu akan pergi."


Jihan menelan nasinya dan minum dengan cepat. Dia mengingat kejadian kemarin dan dengan cepat memahami apa yang mungkin terjadi.


"Kamu tidak melakukan permintaan pamanmu itu?"


"Kenapa aku harus menurutinya?"


"Tapi kemarin kamu...."


"Kapan aku mengatakan akan menurutinya, aku hanya bermain kata-kata untuk membuat wartawan itu pergi."


"Apa Jouji akan setega itu?" gumam Jihan, tampa sadar mengucapkannya karena peran pria itu kemarin.


"Kamu kawatir padanya? Setia sekali." Chris memang mengatakannya dengan nada yang santai, namun sorot matanya menunjukkan kemarahan.


"Jangan mulai! Aku hanya heran kenapa dia bisa bekerja sama dengan pamanmu." sanggah Jihan, dia juga kesal karena Chris lagi-lagi menuduhnya.


"Heran kenapa? Dia memang orang seperti itu sejak dulu. Kamu saja yang tertipu."


Jihan menunjukkan wajah tidak percaya. Chris sudah akan menyudutkannya lagi kalau Arjun tidak menyela mereka.


"Es krim dengan segala varian rasa Tuan."


Jihan dan Chris menatap satu kantong besar es krim itu dengan wajah horor.


"Kamu gila! Apa aku menyuruhmu membeli sebanyak ini?"


"Anda tidak menyebutkan rasa dan jenis apa Tuan, saya tidak tahu kesukaan anda karena ini pertama kalinya anda meminta es krim." jawab Arjun tampa rasa bersalah.


Mengabaikan Arjun yang masih berdiri, Chris beralih pada Jihan yang masih menatap semua es krim itu.


"Ambil yang kamu suka!" suruhnya.


"Huh? Ini untukku?"


"Ambil dan makan itu," suruhnya lagi dengan tidak sabar.


'Sebenarnya apa yang direncanakannya?' tanya Arjun dalam hati. Menatap keduanya bergantian.


"Kamu punya media sosial kan?" tanya Chris pada Arjun.


"Tentu saja, Tuan. Tapi saya tidak cukup sering menggunakannya."


"Bukan masalah, kembali ke tempatmu dan ambil rekaman yang bagus. Share itu dan biarkan momen manis itu mengalahkan bom kecil yang akan dilemparkan pamanku. Buat seolah kamu mengambilnya diam-diam."


Jihan yang mulai memakan es krimnya menghentikan jilatannya. Dia menatap Chris dengan pandangan kesal. Tadinya dia sudah berpikir kalau Chris mulai berubah, nyatanya lagi-lagi Jihan dikecewakan pemikirannya sendiri.


"Ngomong-ngomong tentang bom, Bayu baru saja mengirim banyak judul artikel dan beberapa akun gosip yang mulai meledak. Saya akan mulai merekam, bersiaplah Tuan."


Arjun kembali ke mejanya sendiri sambil fokus pada ponselnya. Jihan juga memeriksa ponselnya dan terkejut dengan pernyataan Jouji yang ternyata sudah melakukan wawancara. Dia menjadi saksi dari rekaman yang beredar. Membenarkan pernyataan mantan istri Chris yang keberadaannya mulai tersebar.


"Letakkan ponselmu dan bersikap manislah padaku." perintah Chris dengan nada rendah penuh peringatan.


"Rekaman itu ... biarkan aku mendengarnya dulu."


"Letakkan sekarang."


Jihan mengigit bibirnya, dengan perasaan gelisah dan gugup dia meletakkan ponselnya dan melanjutkan makan es krimnya. Chris juga mengambil satu es krim dan memakannya. Dengan cepat dia mengubah ekspresinya dan mulai berpura-pura manis dan menatap Jihan dengan penuh cinta.


Meskipun Chris hanya berpura-pura, tetap saja menimbulkan efek yang luar biasa dihati Jihan. Apa lagi saat Chris dengan lembut mengusap bibir dan dagunya karena ada eskrim yang jatuh saat dia menjilatnya. Wajah Jihan memerah seketika.


Chris sendiri tampa sadar hanyut akan rencananya sendiri. Tampa sadar dia memberikan afeksi dan sentuhan berlebihan seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Arjun yang mulai merekam mereka bahkan tersenyum gemas saat Chris yang tersadar dan terlihat canggung sendiri.


"Mata anda tidak bisa berbohong Tuan." gumamnya setelah mengambil beberapa gambar sebagai penutup.