Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
52



Pagi-pagi sekali Chris dibuat marah karena mendapat kabar kurang menyenangkan dari Arjun. Ketika dia akan menjemput Jihan, wanita itu sudah berangkat duluan. Bahkan Meri juga pergi bersama.


Ketika tiba di kantor, keduanya masuk ke lobi dan di sambut langsung oleh Chris dan Arjun yang juga baru sampai. Jihan yang melihat raut wajah Chris segera memohon izin pada Marcell untuk naik ke atas.


"Maaf menahanmu sebentar lagi," ujar Marcell. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan memberikan sebuah kotak panjang terbuat dari kayu kepada Jihan. "Ini hadiah untukmu." ujarnya dengan senyum ramahnya.


Chris sudah mengepalkan tinjunya, namun ekspresinya masih tenang meskipun sudah mengeluarkan aura tidak enak.


"Hadiah? Tapi untuk apa?" Jihan bingung, dia bahkan baru bertemu Marcell di kapal dan itupun mereka tidak saling bicara. Hanya tahu dirinya lawan Chris saat pelelangan.


"Hadiah perkenalan, karena aku sangat tertarik untuk mengenalmu." jawab Marcell. Dia melirik Chris sesaat. Sengaja melakukan hal itu untuk melihat reaksinya.


"Maaf... Aku tidak mau menerimanya." tolak Jihan, dia segera berbalik. Namun Marcell meraih tangannya dan memaksa Jihan menerimanya.


"Aku tidak menerima penolakan, jangan mengecewakan rekan bisnis atasanmu, Jihan." ujarnya, terdengar ramah namun jelas dibumbuhi ancaman.


Mereka memang sempat mengobrol dimobil dengan Meri juga sebelumnya.


"Sudah selesai? Naiklah ke atas dan lakukan pekerjaanmu." perintah Chris dingin. "Dan kamu... Apa tujuanmu kemari?" tanya Chris pada Marcell. Sementara Jihan buru-buru pergi karena tidak ingin terlibat masalah yang lebih besar.


"Hanya mengantarnya, sampai jumpa pada pertemuan kita siang ini. Itupun jika Presdir Barata tidak memutuskan akan segera menerima tawaranku dan membatalkan proposal anda." jawab Marcell, lalu segera pergi dari sana bersama sekretarisnya.


"Sial! Bagaimana mereka bisa pergi bersama?"


"Lebih tepatnya, apa rencananya. Apa anda punya perkiraan Tuan? Orang sepertinya tidak mungkin tertarik dengan Jihan. Maksud saya... sesuai informasi Alex, jika saat ini dia mencari korban baru... itu tidak mungkin wanita seperti Jihan. Dia biasanya menargetkan wanita muda yang polos."


"Beritahu Bayu untuk tidak membiarkan dia masuk kesini. Juga katakan pada orang yang mengawasi Jihan untuk selalu berada dalam jarak dekat ketika dia sendirian."


Keduanya naik ke atas untuk memulai pekerjaan mereka. Sesampainya di lantai paling atas. Jihan tidak berdiri menyambutnya. Dia hanya duduk dengan wajah syok luar biasa. Matanya menatap lurus sebuah benda di atas meja di depan komputernya.


Chris segera menghampirinya dan melihat apa yang dilihat oleh Jihan. Setelah tahu apa itu, dia menatap Jihan dengan wajah tidak senang.


"Masuk keruanganku sekarang." perintahnya.


Jihan terperanjat dan terkejut sekali lagi ketika bantingan pintu yang sangat keras. Dia buru-buru meminta pertolongan pada Arjun dengan wajah memohon.


"Ke-kenapa dia marah? Lupakan itu dulu. Aku harus mengembalikan ini dulu." ujar Jihan. Segera meraih ponselnya dan mencari kontak Meri.


Belum sempat ia menekan tanda panggilan, Arjun merebut ponselnya dan menatapnya serius. "Segera masuk sekarang." suruhnya.


"Huh? Ba-baiklah. Maaf!" panik Jihan. Terlihat dia tidak bisa berpikir jernih.


Jihan segera masuk, meninggalkan Arjun yang menatap kalung langka bernilai ratusan milyar di atas meja. "Anak itu pasti sudah gila. Kenapa dia harus mencari gara-gara dengan Tuan?" kesal Arjun.


Sementara itu, Jihan berdiri dengan kaku ketika Chris menatapnya dengan penuh amarah. Namun, alih-alih bersikap kasar seperti kebiasaannya dulu, dia malah menyuruh Jihan duduk dengan frustasi.


Mereka duduk berhadapan, dengan Jiha yang tidak berani menatap matanya. "Bagaimana kamu bisa pergi dengannya? Kamu kenal dari mana? Apa saat di kapal?" tanya Chris, suaranya dibuat setenang mungkin.


Karena Jihan merasa itu pertanyaan yang menjurus pada hal personal, dia tidak langsung menjawab. Hal itu tentu saja membuat Chris semakin kesal meski ia tidak menunjukkannya secara terang-terangan.


"Maaf, Presdir. Tapi bukankah itu urusan pribadi saya? Apa itu akan mengganggu hubungan kerja sama perusahaan?" Sangat terlihat kalau Jihan sedang menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki hubungan baik selain atasan dan bawahan.


"Dia berbahaya, aku hanya berusaha melindungi karyawanku."


"Terima kasih atas perhatian anda. Tapi saya akan menjaga diri saya sendiri."


Chris diam sejenak sebelum menghela napas. "Dia berasal dari dunia gelap yang bahkan tidak bisa kamu bayangkan. Dia tidak sama dengan duniamu. Hadiah itu... Sebaiknya kamu mengembalikannya."


"Saya juga tidak berniat mengambilnya. Saya tentu tahu diri jika itu tidak pantas untuk saya." Jihan berdiri dan menunduk singkat untuk memberi hormat sebelum mulai melangkah.


"Bukan itu maksudku," cegah Chris dengan melangkah cepat dan menahan tangan Jihan. Membuatnya menghadap padanya.


"Akulah mempermasalahkan tujuannya, bukan kamu."


Chris semakin frustasi ketika Jihan menepis tangannya dan mundur selangkah. Jihan mengangkat kepalanya untuk menatap Chris.


"Apa aku harus mempercayai perkataan pria yang membuatku dalam keadaan seperti ini? Apa aku harus percaya bahwa kamu menghawatirkanku?" sarkas Jihan. Dia mundur sekali lagi dan merubah raut wajahnya.


"Maafkan saya tidak bersikap sopan, Presdir. Tapi ini urusan pribadi saya. Saya akan menyelesaikannya sendiri. Terima kasih atas perhatian anda."


Kali ini Chris tidak menahannya, Chris mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan pada seseorang.


.


Ibu Chris datang siang itu ke perusahaan tepat ketika jam makan siang. Ketiganya akan pergi keluar ketika ibu Chris datang bersama cucu dan Adora.


Chris melirik sebuah tas cukup besar yang dibawa oleh salah satu pelayan dirumahnya. Bahkan mereka membawa pengasuh bayi. Chris menghela napas dan menatap ibunya dengan kesal.


"Apa kali ini, Mom?" tanyanya.


"Kita makan siang bersama. Karena kamu menolak pulang jadi ibu tua ini yang kesini." jawab ibunya dengan penuh sindiran.


"Kalian berdua boleh bergabung, akan sangat menyenangkan dengan banyak orang." lanjutnya, beralih pada Jihan dan Arjun.


"Kami akan makan diluar, terima kasih atas tawarannya. Kami permisi, Presdir dan Nyonya." jawab Arjun dengan penuh kesopanan.


Jihan hanya menunduk singkat sebelum menyusul Arjun. Setelah keduanya pergi, Chris dengan kesal menatap ibunya.


"Sangat tidak nyaman makan di dalam ruanganku dengan banyak orang." ujarnya datar.


"Jangan kawatir, aku sudah menyuruh Bayu menyiapkan sebuah ruangan untuk kita. Ayo pergi." jawab ibunya.


Chris tidak punya pilihan, dia hanya bisa mengikuti ibunya. Sejak pagi Jihan menghindarinya. Suasana diantara mereka semakin buruk karena pembicaraan pagi tadi. Hal itu semakin membuat Chris suasana hatinya semakin buruk. Dia berencana memperbaikinya siang ini namun ibunya datang dan menghancurkan rencana.


Kedatangan ibu Chris dan rombongan yang ia bawa tentu saja menjadi buah bibir. Banyak yang karyawan mengomentari momen itu. Terutama Adora yang datang bersama anaknya. Nama Jihan tentu saja tidak luput dari gosip. Bagaimana sebagian mereka menertawakan keadaan Jihan yang dinilai menyedihkan.


"Jangan dengarkan mereka, Chris hanya terpaksa ikut bersama ibu dan wanita ular itu. Aku akan memberi peringatan pada mereka nanti." kata Arjun ketika mereka tidak sengaja mendengar segerombolan karyawan yang bergosip di restoran yang sama ketika mereka baru masuk.


"Jangan lakukan apapun, mereka hanya akan semakin salah paham padaku." sahut Jihan. "Lagi pula aku tidak peduli," lanjutnya lagi sambil terus makan.


"Boleh aku bertanya, Jihan?"


Jihan mengangkat kepalanya dan menatap Arjun dengan serius. Menandakan kalau dia mengizinkan dan sedang menunggu.


"Kamu tidak terganggu dengan wanita lain disekeliling Tuan Chris?"


"Kenapa aku harus terganggu? Itu bukan urusanku lagi."


"Perhatian? Jangan bercanda. Kamu pasti tahu tujuannya bukan? Aku menolak kembaki dan memilih bercerai. Aku mengambil keputusan yang benar saat itu. Dan saat ini dia hanya akan balas dendam padaku. Karena itu dia bekerja sama dengan rentenir, bukan? Jangan mencoba mempengaruhiku, aku tahu kamu memihak Presdir."


Arjun terdiam cukup lama. Cukup sulit tentu saja menghadapi sikap keras Jihan. Terlebih dia bukan wanita polos yang akan mudah di akali. Dari semua perkataan Jihan, hanya satu yang tidak tepat. Yaitu tentang balas dendam. Arjun sangat tahu bahwa Chris sangat mencintainya. Karena itu dia harus memutar otak untuk membuat Jihan percaya.


"Soal dendam... Aku pikir kamu salah Jihan. Aku berbicara bukan sebagai asistennya. Tapi sebagai teman yang mengenalnya luar dalam selama ini."


Jihan melanjutkan makannya, "Memangnya dia menganggapmu temannya? Aku lihat dia tidak pernah memandang orang lain dengan benar."


Mendengar hal itu, seperti ada batu besar yang menimpa kepalanya. Arjun jadi kesal sendiri. Dia menggunakan kata teman tapi dia sangat sadar dengan sifat buruk Chris.


"Baiklah... Baiklah... kami tidak berteman. Dia memang dingin dan jahat, tapi padamu... Aku bisa memastikan bahwa dia tulus. Hanya itu yang ingin aku sampaikan."


Jihan menghentikan kunyahannya sejenak. Dia menelan dengan cepat setelahnya lalu minum air putih.


"Kamu selesai?" tanya Arjun.


"Ya, aku akan kembali duluan."


"Tunggu sebentar, mereka pasti belum selesai. Tunggu saja disini. Lagi pula masih ada yang ingin aku sampaikan." cegah Arjun.


"Apa lagi?"


"Marcell, CEO dari perusahaan yang sedang bersaing dengan kita. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?"


"Presdir yang menyuruhmu?"


"Haaah! Tidak sama sekali. Ini karena aku peduli padamu sebagai teman dan rekan kerja." Arjun berdecak ketika Jihan menunjukkan ekspresi tidak percaya.


"Aku serius, Jihan. Dia berbahaya dan licik."


"Sekretarisnya mengenal Meri, aku tidak tahu bagaimana mereka menjadi dekat. Tapi pagi tadi Meri menerima tawaran CEO itu yang kebetulan lewat saat dia membeli sesuatu di minimarket."


"Kamu tidak curiga padanya?"


"Aku tidak punya alasan untuk itu." jawab Jihan dengan cepat. Seolah mengatakan bahwa Arjun sangat aneh mencurigai orang tampa alasan.


"Baikalah, tapi jangan bertemu lagi dengannya apalagi hanya sendirian."


"Kenapa aku harus menurutimu?"


Jihan bahkan tidak mengatakan rencananya dengan Meri yang menerima undangan makan malam mereka. Jihan menyetujuinya karena ingin mengembalikan hadiah Marcell. Berpikir bukan urusan Arjun dengan siapa dia akan bertemu. Apalagi mengingat Arjun orang yang paling setia pada Chris, mana mungkin Jihan terang-terangan.


.


Sepulang kerja, Jihan buru-buru pergi sebelum Arjun memaksa untuk mengantarnya. Dia meyakini kalau Arjun mengantarnya hanya untuk mengawasinya atas suruhan Chris. Dia tidak akan mengira apa yang dilakukan Chris saat ini hanya untuk membuatnya kembali. Bukan balas dendam. Meskipun pada awalnya itu masuk dalam rencana kecil Chris sebelum membawa Jihan kembali.


Jihan dan Meri berada di sebuah restoran yang sudah di pesan oleh Marcell. Di dalam riangan privat room dan makanan sudah tertata di atas meja. Ketika mereka masuk, Marcell sudah ada disana bersama sekretarisnya.


"Apa kami terlambat?" tanya Meri dan memeriksa jamnya yang masih jam tujuh lewat sepuluh menit.


"Tidak, kamilah yang terlalu cepat datang. Sialahkan duduk." ujar Marcell dengan ramah.


"Aku tidak tahu apa yang kalian suka, jadi aku memesan semua ini."


"Ini terlalu banyak, terima kasih pak Marcell." ucap Meri lagi. Dia melirik Jihan yang hanya diam memperhatikan ponselnya yang sejak tadi bergetar.


"Ji... Kamu tidak akan mengangkatnya?" bisik Meri. Pasalnya, sejak mereka masuk ke restoran, ponsel Jihan terus bergetar.


"Apa itu Presdir Chris? Dia sepertinya masih sangat memperhatikanmu. Apa aku mengganggu hubunganmu?" tanya Marcell terang-terangan.


Meri saja sampai terdiam karena terkejut, apalagi Jihan yang langsung tidak tahu apa yang harus ia katakan.


"Anda tahu Presdir Chris?" tanya Meri.


"Siapa yang tidak tahu dia?" sahut sekretarisnya.


"Bukan, maksudku... hubungan masa lalu Presdir dan Jihan..." Melihat senyum Marcell dan tatapannya pada Jihan, tampaknya Meri sudah memiliki jawabannya sendiri. Dia tidak terlihat terkejut lagi.


"Aku hanya mencari tahu tentang wanita yang membuatku tertarik. Apa aku membuatmu tidak nyaman, Jihan?"


"Bisakah kita mulai makan saja? Setelah ini saya punya sesuatu yang disampaikan pada anda." ujar Jihan.


Marcell tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja." jawabnya.


Akhirnya mereka makan dengan canggung. Bahkan Meri yang pada awalnya bersikap santai menjadi lebih diam ketika dia akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi di hadapannya. Dia menjadi merasa bersalah pada Jihan.


Setelah makan sambil mengobrol ringan, Meri dan sekretaris Marcell menunggu diluar. Meninggalkan Jihan dan Marcell yang memiliki pembicaraan pribadi.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Marcell.


Jihan menyodorkan hadia yang diberikan Marcell pagi tadi. Membuat Marcell menatapnya dengan penuh tanda tanya meski tentu saja dia tahu apa maksud Jihan sebenarnya.


"Maaf, saya tidak bisa menerima hadiah sebesar itu. Tolong terima kembali."


Marcell mengambil kotak persegi panjang itu dan menatap Jihan dengan kecewa. "Maafkan aku, apa aku membuatmu tersinggung atau salah paham? Aku tidak tahu cara mendekati wanita dengan benar. Aku pikir memberi hadiah adalah langkah yang tepat untuk menunjukkan perasaanku."


"Saya pikir andalah yang salah paham dengan perasaan anda sendiri, Pak Marcell. Anda bahkan tidak mengenal saya dengan baik. Bagaimana anda bisa dengan mudah mengatakan hal seperti itu?"


"Sejujurnya, aku adalah orang yang suka berterus terang. Jika aku suka maka aku akan langsung mengatakannya. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman. Tapi... Maukah kamu memberiku kesempatan? Aku ingin melihat apakah perasaan ini seperti yang kamu katakan, atau seperti yang aku katakan."


"Apa maksud anda?"


"Pertama-tama... Mari jangan terlalu formal. Panggil aku dengan namaku. Karena sesungguhnya aku lebih muda darimu."


Jihan menatap Marcell sambil berpikir dan menilai. Dia pikir setelah mengembalikan hadiah akan membuat Marcell mengerti. Tampaknya Jihan menyadari ada maksud lain dari pria dihadapannya itu. Jihan hanya bisa menduga-duga, tapi yang pasti, dia tidak sepolos itu untuk tidak bisa melihat bahwa tidak ada ketertarikan sama sekali dari sorot mata Marcell seperti yang dikatakannya. Kalaupun ada, itu hanya ketertarikan akan susuatu yang ingin diambil darinya, bukan ketertarikan secara romantis.


Sementara itu, Chris yang baru saja selesai mandi menerima laporan tentang Jihan yang baru saja keluar dari restoran. Dia sungguh ingin berlari dan menarik tangan Jihan dari sana ketika dia mendengar pertemuan mereka pertama kali, tapi dia tahu hal itu hanya akan menciptakan kekacauan lebih besar antara mereka. Sehingga akhirnya dia hanya ingin memastikan keadaan Jihan dengan meneleponnya. Sayangnya Jahan malah mengabaikannya.


"Terus awasi, selama temannya masih bersamanya, kamu tidak perlu mengambil tindakan." perintah Chris.


Dia melempar tubuhnya ke atas kasur dan menutup matanya dengan lengannya. Memikirkan bagaimana dia bisa berakhir menjadi seorang yang payah seperti ini hanya untuk mengejar mantan istrinya. Dia bahkan menyesali keputusannya membiarkan Jihan memilih saat itu.


"Harusnya saat itu aku menggenggammu dengan erat." bisiknya pada diri sendiri.