Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
87



Rumah itu terasa amat sepi. Sejak dia bangun di tempat yang tak ia kenali. Jihan sudah menghitung hari dengan perasaan cemas dan pasrah. Berada disana selama delapan hari. Terus mendengarkan cerita yang sama yang dikatakan oleh ibu penjaga rumah. Menimbulkan efek luar biasa pada mentalnya, bahkan hanya untuk melangkah keluar rumah.


Rumah itu tidak memiliki televisi. Jihan juga kehilangan ponselnya ketika dibawa oleh Bayu. Dia hanya menghapal nomor orang tuanya, namun dia tidak pernah bisa melakukan panggilan. Ibu itu mengatakan padanya kalau dia tidak pernah menggunakan ponsel disana. Sangat aneh bagi seseorang tidak menggunakan ponsel dizaman sekarang. Yang lebih aneh lagi adalah perilaku ibu itu sendiri. Jihan merasakan ada banyak hal yang ia sembunyikan.


"Mau kemana?" tanya ibu itu ketika Jihan berjalan menuju pintu belakang.


"Ingin melihat pemandangan dari pintu... Saya akan berhati-hati agar tidak terlihat."


Bukannya mengizinkan, ibu itu malah menutup pintu dapur yang tadi lupa ia kunci. Berbalik dengan wajah kaku dan menatap Jihan datar.


"Tolong jangan buat saya terlibat masalah, Saya sudah berbaik hati menampung Anda disini."


Setelah mengatakan hal itu, dia meninggalkan Jihan menuju ruang depan. Melanjutkan pekerjaannya untuk menata ruangan. Seolah akan ada tamu yang datang. Dia tampak serius. Jauh lebih kaku dari sebelumnya.


"Bolehkan saya bantu?"


"Tidak usah, istirahat saja." Ibu itu menyahut dengan tegas.


"Ah... Baik. Tapi... Apakah akan ada tamu?"


"Ya, Tuan akan datang menginap disini karena ada pekerjaan." Suaranya terdengar cemas.


"Pemilik rumah? Ba-Bagaimana dengan saya? Apakah saya harus bersembunyi?" Jihan kawatir, karena ibu itu mengaku bahwa dia belum meminta izin tuannya.


"Tidak perlu, masuk saja dan rapikan penampilan Anda. Saya akan minta izin saat beliaus tiba."


Jihan mengangguk dengan patuh. Dia masuk ke dalam kamarnya. Memakai baju tertutup. Dia tidak memiliki jilbab atau baju kurung seperti yang biasa ia pakai. Jihan memakai pakaian milik ibu itu. Masalahnya, ibu itu tidak memakai jilbab dan hanya memakai baju rumah biasa.


Jihan keluar lagi, dia menghampiri ibu itu yang sedang merapikan kamar tidur utama dirumah itu.


"Ada apa?" tanyanya ketika melihat Jihan.


"Apa anda memiliki kerudung atau sejenisnya untuk menutupi kepala?"


"Saya beragama budha. Saya tidak memakai penutup kepala. Kalau Anda mau, Anda bisa menggunakan selendang."


Jihan menganguk dan tersenyum dengan sopan. "Terima kasih." ucapnya.


Jihan mengikuti ibu itu masuk ke dalam kamarnya. Menerima dua buah selendang yang terbuat deri bahan yang cukup tebal dan halus.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Jihan.


Ibu itu hanya mengangguk sekali dengan wajah kakunya. Lalu kembali keluar. Sejak pertama kali bangun, ibu itu sudah memanggilnya dengan panggilan teramat formal. Jihan sangat curiga padanya, tapi dia lebih memilih bungkam.


.


Malam harinya, orang yang dikatakan ibu itu benar-benar datang. Jihan bisa mendengar suara langkah kaki yang berat dari balik pintu. Jihan meneguk ludahnya dengan berat, sejujurnya dia takut. Bagaimana kalau pemilik rumah akan mengusirnya atau marah padanya.


Dia mengambil selendang yang tergeletak diatas kasur. Memasangnya di atas kepalanya dengan cara ia lilitkan agar lehernya ikut tertutup. Bajunya cukup longgar, meski begitu Jihan bisa melihat lekuk bagian belakangnya karena jilbabnya yang pendek.


Dengan ragu, dia membuka pintu kamarnya. Lantai rumah itu terbuat dari kayu dan jauh diatas tanah. Selayaknya rumah panggung namun tidak terlalu tinggi. Rumah itu juga tidak terlalu besar, hanya mirip villa sederhana ditepi pantai. langkahnya terdengar pelan saat ia melangkah.


Ibu itu sedang menunduk menghadap dua orang pria yang posisinya membelakangi Jihan. Terlihat sedang menjelaskan sesuatu tentang jumlah kapal dan perahu. Jihan tidak mengerti jenis bisnis apa yang sedang mereka bicarakan. Jihan sadar mereka menggunakan banyak kata yang bermakna berbeda dari aslinya. Seperti sebuah kode rahasia yang hanya mereka saja yang bisa memahaminya.


"Anda sudah keluar?" Ibu itu melihat Jihan yang berdiri kaku disana. "Tuan, dia wanita yang saya tolong seminggu yang lalu. Saya minta maaf baru mengatakannya sekarang. Saya takut mengganggu Anda sehingga saya tidak..."


"Jihan?"


Perkataan ibu itu terpotong ketika pria itu berbalik. Kedua bola matanya melebar karena terkejut. Begitu juga Jihan yang tidak kalah terkejut. Sejenak, dia mundur kebelakang karena pikiran yang tiba-tiba menghampirinya. Jihan langsung memasang sikap waspada. Menatap Marcell, pria yang kini mentapnya dengan wajah tidak percaya.


"Ba-Bagaimana... Bagaimana kamu bisa menjadi pemilik rumah ini? Ka-kamu yang sudah merencanakan hal ini?"


"Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak... Tunggu! Bagimana kamu bisa ada disini? Semua orang mengira kamu sudah mati, Jihan!"


"Apa?"


Jihan mundur lagi dua langkah ketika Marcell mendekat. Dia masih belum bisa mempercayainya meski Marcell juga terlihat terkejut melihatnya ada disana.


Marcell yang melihat reaksi Jihan yang mencurigainya, mencoba menenangkannya.


"Jihan, ayo duduk dengan tenang. Sepertinya kita harus meluruskan sesuatu."


Dengan bujukan yang lembut dan meyakinkan, akhirnya Jihan duduk dengan tenang. Dia ditinggalkan berdua dengan Marcell di ruang tamu, pria yang bersama Marcell dan ibu penjaga rumah keluar dari sana entah kemana.


"Aku sungguh tidak percaya kalau kamu ada disini. Demi Tuhan Jihan! Aku sangat bersyukur kamu selamat! Kamu tidak tahu betapa marah dan sedihnya aku ketika mendengar kabar penculikanmu? Seluruh negeri bahkan kini mengucapkan duka cita pada keluargamu. Orang bernama Bayu itu... Dia mengatakan telah membunuhmu." cerita Marcell dengan menggebu-gebu dan dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku ingin sekali memelukmu karena rasa syukur, tapi aku sangat menghargaimu. Aku sungguh bersyukur kamu hidup. Ya Tuhan... Aku sungguh sangat senang Jihan!"


Marcell menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sejenak, lalu mengusap wajahnya sebelum kembali menatap Jihan dengan senyum kelegaan diwajahnya.


Jihan terlihat lebih tenang. Kewaspadaannya luruh begitu saja. Dia tertunduk menatap kedua tangannya yang bertaut diatas pangkuannya. Tidak tahu kalau berita mengenai dirinya sudah berkembang begitu pesat dalam delapan hari dia ada disana.


"Anakku... Orang tuaku, apa mereka baik-baik saja?"


"Orang tuamu tentu saja sedih. Mereka terlihat sangat kecewa pada suamimu. Anakmu, setahuku dia sekarang berada di tangan ayah kandungnya."


Jihan mengangkat kepalanya. Keningnya mengerut karena mendengar jawaban Marcell.


"Apa yang terjadi? Apa maksudmu?"


Marcell terlihat ragu, Jihan tahu ada sesuatu yang buruk yang tidak ingin ia katakan. "Katakan saja, kumohon!" paksanya dengan tidak sabar.


"Suamimu, menerima begitu saja ucapan Bayu. Meski dia berusaha mencari mayatmu, tapi dia mengumumkan pada media bahwa kamu telah meninggal. Bayu sedang disidang saat ini. Dengan sangat cepat kasusnya diselesaikan. Aku tidak ingin berpikiran buruk, tapi... Jihan. Aku mencurigai suamimu sendiri. Bagaimana bisa tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba orang paling setia dalam keluarganya berhianat dan menculikmu?" Marcell menatap Jihan dengan serius. "Bahkan mengumumkan kematianmu dengan cepat sebelum jasadmu ditemukan. "


Jihan masih diam. Air matanya menetes dengan cepat. Meski separuh hatinya tidak menerimanya begitu saja penjelasan Marcell, namun ketidak tahuan akan akar masalah yang membuat ia ada disana membuat hatinya bimbang. Antara mempercayai Chris atau mempercayai perkataan Marcell.


"Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi orang tuaku. Aku ingin_"


"Tidak, Jihan! Jangan sekarang."


"Kenapa tidak? Aku harus memberitahu mereka kalau aku masih hidup!"


Marcell menggeleng pelan.


"Bagaimana kalau suamimu yang melakukan hal ini padamu? Jika dia tahu kamu masih hidup. Dia bisa membahayakan orang tua dan anakmu."


"Apa maksudmu? Chris tidak mungkin..."


"Tidak ada yang tidak mungkin jika dia bosan padamu. Orang-orang kejam seperti dia, mampu melakukan hal itu. Kamu lupa dengan apa yang ia lakukan pada mantan istrinya? Dia membuatnya gila. Lalu anak kandungnya, dia tidak mengakuinya. Aku dengar hubungannya dengan orang tuanya juga tidak baik bukan? Apa kamu hanya mempercayai ucapannya tampa menyelidikinya selama ini?"


Jihan menggeleng pelan, sungguh dia sangat bingung dan juga takut. Pikiran-pikiran buruk kini merasukinya, apalagi kasus suami yang membunuh istrinya karena ingin berpisah sering ia dengar dari media. Memang tidak ada yang tudak mungkin dizaman sekarang.


"Chris bukanlah pria baik, dia kejam dan manipulatif Jihan. Kamu pasti tahu karena kalian pernah berpisah sebelum kembali rujuk."


"Berhenti, tolong berhenti." lirih Jihan.


Marcell menatap Jihan yang kini menunduk dengan menutup kedua telinganya. Air mata mengalir dengan deras dari kedua matanya. Jihan menangis tampa suara. Terlihat sorot puas diwajah Marcell kala melihat reaksi Jihan. Binar matanya mengatakan segalanya.


"Tapi... Dari mana kamu tahu semua informasi itu? Itu hanya rumor selama ini. Mengenai kisah mantan istrinya." Jihan mengangkat kepalanya, tampaknya pikirannya mulai kembali jernih.


"Kamu pikir aku tidak punya orang-orang juga diluar sana? Aku tidak tahu kamu meremehkanku seperti itu, Jihan. Apa karena aku hanya anak yang dibuang?"


Jihan menggeleng dengan cepat. "Kenapa kamu bicara begitu? Bukan itu yang aku maksud!"


Ekspresi Marcell menjadi sendu. "Maafkan aku, karena lelah tampaknya aku jadi sensitif. Kamu tahu, tidak mudah bagiku sampai pada posisi ini. Karena aku bukan silver spoon seperti suamimu. Aku butuh kerja keras. Maaf, Maafkan aku. Aku malah membahas hal-hal tidak berguna seperti ini. Aku hanya kawatir padamu karena pemberitaan dan fakta-fakta yang aku ketahui."


Jihan menunduk dalam. Dia tidak mempercayai Marcell sepenuhnya. Terlebih tidak ada sesuatu yang biasa membantunya membuktikan kebenaran. Jadi langkah satu-satunya yang ia pikirkan saat ini hanyalah membenarkan dengan lisannya saja. Dia harus kembali agar semuanya bisa ia pastikan sendiri. Tapi untuk itu, dia merasa harus menerima semua ucapan Marcell yang kini menjadi satu-satunya orang yang ia waspadai.


.


Chris duduk di atas kasur di dalam kamarnya. Alex berdiri di tepi pintu masuk, bersandar dengan tangan terlipat di dada.


"Kondisimu semakin memburuk. Kamu yakin tidak perlu dirawat, Chris?"


Kondisi yang dimaksud Alex adalah kondisi mentalnya. Dokternya bahkan sampai menambah dosis obatnya.


"Kepalaku sangat sakit." keluhnya. "Apa petunjuk tentang mobil itu belum ditemukan?"


"Belum, dia jelas menuju ke selatan. Ada dua opsi. Bandara atau keluar kota karena kami sudah menyisir semua cctv di jalan-jalan dan toko-toko tepi jalan. Tidak ada yang menangkap pergerakan mobil itu. Di bandara juga tidak ada, tidak ada juga penerbangan keluar negeri atas nama Jihan."


Chris memijit kepalanya. Dia memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran kasur. Chris merasa otaknya kosong dan tidak mau bekerja sama sekali.


"Bagaimana dengan anak dan mertuaku?"


"Mereka dirumah yang sama dan dalam keadaan aman. Para penjaga ditambah pagi ini."


Chris mengangguk lemah. Dia baru saja meminum obat tidur setelah tidak bisa tidur berhari-hari karena mimpi buruk. Kini matanya terasa sangat berat. Dia akhirnya kehilangan kesadarannya dan jatuh dalam alam tidur.


Alex masih berdiri disana. Memandang tubuh Chris yang kini tampak mulai gelisah. Dia melangkah mendekati ranjang itu, menarik selimut dan memperbaiki bantalnya. Suatu kelembutan yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup.


"Lihatlah betapa menyedihkannya kamu sekarang. Aku bahkan merasa kasihan melihat hidupmu. Aku pikir, dengan semua kekayaan dan kekuasaan sejak lahir yang kamu miliki, kamu hidup dengan baik. Aku menarik kembali rasa iriku ketika kita masih di sekolah. Kamu ternyata lebih menyedihkan dari hidupku, Chris." gumamnya.


Alex meninggalkan Chris yang masih gelisah. Peluh memenuhi keningnya, kedua tangannya mencengkram alas kasur dengan kuat. Menandakan bahwa dia sedang melawan apapun yang sedang ia hadapi di dalam mimpinya.