Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
44



Jihan bertemu dengan Jouji yang mengunjungi Catrin di sore harinya. Tampaknya Jouji mulai memiliki keinginan untuk merawat anaknya. Meskipun Catrin masih enggan lama-lama dengannya, Jihanlah yang pada akhirnya mencairkan suasana di antara mereka.


Orang tua Nana, yang tadinya sangat membenci Chris dan sangat ingin balas dendam. Kini tampak tenang. Mereka bahkan meminta maaf pada Jihan secara pribadi. Benar-benar tidak menyangka putri mereka melakukan hal bodoh bersama sahabatnya saat itu. Tentu saja mereka malu, namun mereka pada akhirnya mengambil pelajaran. Apalagi ketika melihat Jihan yang tulus menyayangi dan membantu cucu mereka.


"Terima kasih, aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi... Aku sungguh terkejut mengetahui fakta ini. Ketika Jordi melemparkan hasil DNA pada wajahku, saat itulah aku kehilangan segala keinginan dan tujuanku. Dendam... Terasa menjadi hal jahat jika aku menwujudkannya. Karena nyatanya, kami melakukan kesalahan yang sama buruknya."


Jihan sudah tahu tentang perasaan Jouji pada Nana. Juga tujuan Jouji mendekatinya saat itu. Semuanya hanya untuk misi balas dendamnya untuk orang yang ia cintai.


"Tidak perlu berterima kasih, Catrin sudah aku anggap anak sendiri. Dia hanya korban dari orang dewasa yang egois."


"Aku merasa sangat malu padamu. Aku melakukan hal bodoh dan kekanakan."


Jihan tertawa tampa suara. "Ya, kalau dipikir-pikir kamu memang melakukan hal bodoh." sahutnya. Mereka tertawa bersama. Lalu larut dalam pikiran masing-masing sambil melihat Catrin yang bermain ayunan dengan anak lainnya.


Jouji menoleh ke arah kanan mereka. Dimana ada seorang remaja yang sedang bermain game di ponselnya. Memakai topi yang menutupi sebagian wajahnya. Jika Jihan melihatnya, sudah pasti dia akan mengenalinya. Jouji juga tahu anak itu orang suruhan Chris. Dia tersenyum dalam diam ketika menyadari fakta yang ia ketahui.


"Aku tidak pernah melihat dia posesif sebelum ini." gumamnya.


"Huh? Kamu bilang apa?" tanya Jihan.


"Tidak, hanya melihat anakku. Dia terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Ya, Catrin anak yang pintar. Meski begitu, dia masih perlu psikolog sekali seminggu."


Mereka bertiga berpisah disana. Catrin dibawa oleh Jouji sementara Jihan pulang kerumah yang ditinggalinya bersama Azam. Hanya saja Azam sudah kembali ke pesantren. Sehingga kini ia tinggal sendirian.


Sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Jihan memilih rumah itu karena harganya dan juga letaknya yang tidak terlalu jauh dari toko dan kafe.


Baru saja turun dari mobilnya, Jihan menerima panggilan telepon dari ibunya. Jihan mengangkatnya dan mendengar suara tangisan sang ibu. Dengan cepat dia kembali masuk ke dalam mobil dan pergi lagi. Kali ini tujuannya adalah rumah orang tuanya yang berada di bagian selatan kota. Cukup jauh dari tempatnya tinggal. Dia membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk tiba disana.


Sesampainya disana, Jihan sangat terkejut ketika mendapati ibu dan ayahnya duduk di depan teras rumah sedang memeluk tas berisi pakaian mereka. Rumah di kunci dengan gembok besar. Dan keduanya tampak sangat menyedihkan. Jihan hampir menangis kalau saja dia tidak menguatkan diri melihat keadaan mereka.


"Apa yang terjadi, Ayah... Ibu?" tanya Jihan. Berlutut di hadapan keduanya yang terduduk di lantai yang dingin.


"Rumah ini disita. Kami tidak punya apa-apa lagi selain hutang yang besar." jawab ayahnya.


Jihan sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang utama saat ini bukanlah penjelasan mereka. Jihan menarik keduanya untuk bangun.


"Pertama, ayo kita kerumah Jihan dulu."


"Ini anakmu?"


Jihan berbalik, mendapati seorang laki-laki dewasa dengan beberapa orang dibelakangnya. Terlihat mengerikan dengan tato disekeliling lehernya. Jihan yakin tatonya tak hanya ada disana. Dia memakai pakaian formal, tapi lebih terlihat sebagai gengster dari pada pekerja kantoran.


"Aku lihat ada mobil terparkir, itu artinya dia punya uang bukan?" lanjutnya.


"Siapa kalian?" tanya Jihan.


"Siapa?" ulang pria itu sambil menyeringai. "Orang tuamu memiliki hutang yang banyak tapi kamu tidak tahu? Bahkan setelah rumah ini kami sita, tidak menutupi setengah dari hutangnya."


"Ap-apa maksudmu? Berapa banyak hutang ayahku?"


Pria itu mengangkat tangannya, menunjukkan tujuh jarinya pada Jihan. "Tujuh ratus juta?" tanya Jihan dengan ragu. Karena harga rumah mereka berkisar lima ratus juta, itu artinya lebih dari setengah tebakannya.


"Tujuh puluh milliyar."


"Apa!"


Jihan berbalik, menatap ayahnya dengan wajah memucat. Bahkan jika dia menjual tokonya, dia tidak akan bisa melunasinya.


"Bunga akan bertambah sesuai waktu yang ditentukan." lanjut pria itu dengan senyum mengejek.


Jihan menelan salivanya dengan susah payah. Dia tidak tahu cerita awalnya. Namun dia harus menyelesaikan masalah dihadapannya terlebih dahulu. Membuat orang-orang ini melepaskan mereka dengan sebuah janji.


"Aku akan membayarnya. Ini kartu namaku, aku akan membayarnya bertahap. Tolong biarkan kami pergi." pinta Jihan.


"Baiklah, kami akan menunggu. Datanglah ke kantor kami untuk bicara dengan bos. Dia yang akan menetukan jadwal dan jumlah cicilan."


Jihan menerima sebuah kartu perusahaan peminjaman online. Meremat kartu itu sebelum memasukkannya kedalam tasnya. Dia menghela napas pelan. Berusaha berpikir jernih sebelum mengambil tas ibunya. Membawa mereka pulang kerumahnya dan membiarkan mereka istirahat terlebih dahulu.


.


Paginya, Jihan tidak menemui Catrin seperti biasa. Membuat anak itu terlihat murung ketika neneknya mengantar kesekolah. Ditengah masalah yang dihadapi Jihan, dia tidak memiliki perasaan yang baik untuk bertemu Catrin pagi itu.


Setelah mendengar cerita bagaimana orang tuanya bisa terjebak dengan rentenir. Jihan merasa marah dan kecewa. Bukan pada mereka, melainkan pada dirinya sendiri.


Jihan pergi ke bank pagi itu, memeriksa berapa jumlah uang yang tersimpan dan mengambil seluruh tabungan. Dia keluar dengan wajah frustasi, memeriksa kartu yang diberikan oleh pria tadi malam dan masuk ke dalam mobil.


Jihan sampai kesebuah bangunan ruko tiga lantai. Alamat dimana kantor perusahaan peminjaman itu berada. Dengan menenteng tas kecil berisi uang, Jihan masuk ke dalam.


Dia langsung disambut oleh pria kemarin yang datang kerumah orang tuanya. Orang itu membawanya naik ke lantai dua. Dia mengetuk sebuah ruangan dan seseorang membukanya.


Jihan disuruh masuk, lalu semua orang disana keluar kecuali seseorang yang dipanggil bos. Seorang pria seumuran mantan suaminya, memakai setelan jas formal namun kemejanya terlihat tidak rapi, tampa dasi dan kancing atas yang terbuka. Tidak jauh berbeda dengan penampilan pria lainnya disana, hanya saja aura yang dikeluarkan olehnya jelas menyurutkan keberanian. Kedua telinganya memiliki beberapa pearching. Tapi hanya sebelah yang memakai anting.


"Duduklah," suruhnya.


Jihan melihat sekitar, hanya ada sofa panjang disana tampa meja. Jihan memilih duduk dan meletakkan tas berisi uang di sampingnya.


"Nama asliku Yu An, tapi kamu bisa memanggilku Alex."


Jihan hanya mengangguk sekali, dia tidak berniat menyebitkan namanya dihadapan pria ini. Perasaannya tidak enak sama sekali. Dia sendirian dan semua yang ada di gedung ruko ini adalah laki-laki.


"Kamu tampak ketakutan, santai saja. Aku tidak akan membunuhmu kalau itu yang kamu kawatirkan. Selama uang mengalir dengan baik. Aku juga akan jadi teman yang baik."


Alex memiliki mata sipit yang tajam, dia keturunan Cina dengan ibu asli Indonesia. Namun parasnya sama sekali tidak memiliki ciri khas Indonesia.


Alex bangun dari duduknya, dia berjalan menuju jendela yang langsung memberikan pemandangan depan bangunan. Melihat seorang remaja yang sedang merokok di atas motornya. Ketika Alex berdiri disana, remaja itu mendongak dan mengangkat tangannya seolah sedang menyapa sekaligus memberikan peringatan.


Alex tersenyum, lalu dia memunggungi jendela untuk memberikan atensi penuh pada Jihan. "Jadi, berapa yang bisa kamu bayar setiap hari padaku untuk melunasi hutang ayahmu?" tanyanya.


"Dalam tas ini lima ratus juta. Selebihnya aku akan membayar setiap bulan."


Alex terkekeh pelan, dia mengeluarkan rokok dari kantungnya lalu menyalakannya. "Aku tidak setuju dengan sekali sebulan. Kamu harus memberiku uang setiap hari." ujarnya.


"Itu tidak mungkin. Tidak bisakah seminggu sekali?" tawar Jihan.


"Sehari sekali aku tidak akan menambah bunga sampai lunas, seminggu sekali aku akan menaikkan bunga setiap dua minggu. Sebulan sekali aku akan menaikkan bunganya setiap sehari sekali. Bagaimana?"


"Kamu!" Jihan otomatis berdiri dengan amarah tertahan. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.


Alex tersenyum puas, dia menoleh ke arah jendela dan menyeringai. "Sepertinya bajingan itu benar-benar berubah menjadi anjing." gumam Alex. Namun masih bisa di dengar oleh Jihan. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Alex dan apa yang ia lihat diluar. Tapi bukan hal itu yang menjadi atensinya saat ini.


"Aku tidak suka transaksi bank, aku akan mendatangimu setiap hari untuk mengmbil uangnya." ujar Alex.


"Apa? Jangan beraninya datang ke_"


"Kamu tidak dalam keadaan bisa memilih, Nyonya kecil. Kesepakatan sudah selesai, sekarang keluarlah. Aku bahkan memberikanmu banyak keringanan." ujarnya.


.


Chris baru saja akan masuk ke dalam kafe ketika dia mendengar suara yang dikenalnya sedang berbicara dengan orang lain. Dia berjalan ke sisi kanan dan melihat Jihan sedang berbicara dengan Meri, sahabatnya. Tidak menyadari Chris yang tersembunyi di balik mobil yang terparkir. Arjun ikut menunggu tuannya dengan berdiri didekatnya.


"Kenapa tidak lapor polisi? Ini namanya pemerasan kan? Mana ada hutang tujuh miliyar jadi tujuh ratus!"


"Aku tidak bisa melakukannya, mereka membuat ayah menandatangani perjanjian dengan bunga berjalan. Ayahku dengan polos mempercayai temannya. Kami juga tidak punya bukti, ayah mengambil uang mereka dalam bentuk tunai. Ayah membayar juga dalam bentuk tunai."


Meri juga terlihat bingung. Bagaimanapun Meri bekerja bersama Jihan. Dia tidak ingin usaha mereka selama ini sia-sia. Bahkan jika menjual semua aset, jihan tidak bisa melunasinya dan terancam kehilangan mata pencaharian.


"Sejak kapan? Bagaimana bisa ayahmu percaya pada orang yang baru dikenalnya untuk melakukan bisnis yang bahkan bukan keahliannya?"


"Ini salahku, karena tidak memperhatikan mereka dan fokus pada masalahku sendiri. Aku... Aku sungguh lupa bahwa ayahku orang yang seperti itu."


Meri menghembuskan napasnya dengan gusar, "Ini bukan salahmu, jangan terus bersikap seperti ini ketika lagi-lagi ayahmu kena tipu." ujar Meri. "Istirahatlah, biar aku yang menggantikanmu di kafe. Anak-anak sekarang sudah bisa dipercaya ditoko jadi jangan banyak pikiran."


"Tidak, aku tidak bisa istirahat sekarang. Ayo kembali," ajak Jihan.


Chris bergeser ketika mereka lewat. Arjun melakukan hal yang sama. Setelah keduanya masuk ke dalam kafe, Arjun menghela napas.


"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?" tanyanya.


"Menonton." sahut Chris acuh.


Chris bisa melihat wajah sendu yang menatapnya tampa minat ketika mereka masuk. Chris melakukan hal yang sama seperti biasa. Duduk di tempat yang sama dan Arjun akan memesan untuk mereka.


Meri yang masih disana, melirik Chris dengan wajah bingung. Tapi tidak cukup berani untuk bertanya langsung. Dia bergeser kesudut dimana Raya yang sedang membuat kopi berada.


"Kamu tidak pergi?" tanya Raya melihat Meri yang masih betah disana. Sesama teman SMA, Raya sudah tahu bagaimana sifat Meri. Mereka pernah berada dalam tim yang sama untuk kegiatan sekolah.


"Hei, apa dia sering kesini?" tanya Meri. Tampaknya dia baru saja tahu hal itu.


"Bukankah kalian dekat?" sindir Raya. Yang dimaksud disini adalah Meri dan Jihan. Karena sepertinya Jihan tidak menceritakan apapun tentang Chris.


"Ck! Jawab saja."


"Ya, setiap hari sejak beberapa minggu ini."


"What!"


Tidak hanya Raya, Jihan dan beberapa pengunjung yang dekat dengan mereka menoleh mendengar suara keras Meri.


"Ah... Maaf! Kita bicarakan lain kali. Aku akan kesebelah." ujarnya. Beranjak dari sana dengan cepat sebelum lebih malu lagi.


"Kamu punya masalah?" tanya Raya ketika melihat Jihan yang kembali larut dalam pikirannya.


"Tidak... Kamu makanlah selagi belum ada pesanan."


"Kamu sendiri?"


"Nanti, aku belum lapar juga."


Arjun membayar setelah mereka selesai dengan cepat, Jihan bisa melihat tatapan tajam Chris padanya. Dia baru teringat bahwa dia lupa membawa pakaian Chris yang sudah selesai dicuci.


"Biasakah kamu menyampaikan pada atasanmu bahwa pakaiannya aku kembalikan besok? Aku lupa membawanya." pinta Jihan ketika mengembalikan kartu Arjun.


"Tentu, terima kasih makanannya. Tapi... Apa anda baik-baik saja? Anda sedikit pucat Bu Jihan?"


"Aku baik, mungkin hanya lelah."


Arjun tersenyum, memahami bagaimana sifat Jihan, sudah pasti dia tidak akan mendapatkan apapun. Dia tetap memilih bertanya karena sangat tahu bahwa tuannya kawatir disana.


.


Malamnya, Chris di datangi sang ibu di kamar hotelnya. Dia baru saja mandi ketika mendapat laporan dari Arjun. Namun sebelum sempat membacanya, pintu kamarnya diketuk.


"Apa yang membawa Mama kesini?" tanya Chris, lalu duduk dengan santai sambil melanjutkan membaca laporan Arjun.


"Anakmu membutuhkanmu. Kamu tidak ingin memberikannya kasih sayang?"


Chris tersenyum sinis, meletakkan ponselnya lalu menatap ibunya dengan datar. "Sejak kapan Mama mengenal kata itu? Mendengar hal itu keluar dari dirimu sungguh luar biasa Mama."


"Ck, Aku tidak peduli kamu mau tinggal dimana. Tapi publik sudah mencium keberadaanmu disini dan media mulai menulis kepergianmu dari rumah."


"Lalu? Biarkan mereka menulis fakta yang ada. Ini bukan aib juga."


Kerutan muncul diperempatan kening ibunya. Terlihat mulai kesal namun tidak ingin memulai perang lagi dengan sang anak.


"Aku dengar kamu mengunjungi Jihan setiap hari, apa tujuanmu? Kembali padanya?"


"Aku hanya makan disana. Masakannya cukup enak."


"Aku tidak memintamu menikahi Adora, dia bukan hal yang aku sukai juga. Tapi Jihan akan menghalangimu, dia bahkan memberikan pengaruh yang banyak padamu."


"Kenapa? Apakah Mama takut aku kehilangan kekejamanku atau iri karena aku mendapatkan cinta yang tidak Mama dapatkan dari Papa?"


Kali ini ibunya tampak mulai tersulut. Dia jelas terlihat marah. "Jangan mulai melawanku, Nak. Bagaimanapun besarnya pengaruhmu sekarang, Aku tetap bisa menghancurkan orang disekelilingmu."


"Nah, jadi rentenir itu pekerjaan Mama?"


Ibunya mengernyit bingung. "Apa maksudmu? Rentenir mana yang kamu maksud?" tanya ibunya.


Chris tahu ibunya tahu apa yang ia maksudkan. Tapi ibunya bersikap seolah tidak tahu apapun.


"Lusa adalah pertemuan keluarga. Tapi karena apa yang terjadi, aku pikir akan jadi perang keluarga. Tidak perlu mengadakannya lagi, aku akan memberitahu mereka semua." Ibunya berdiri, hendak pergi dari sana. "Datanglah sesekali kerumah walau tidak ingin tinggal. Setidaknya lihat anakmu. Tunjukkan tanggung jawabmu. Sebelum Aku benar-benar marah, Aku sarankan untuk berhenti berusaha mengambil hati mantan istrimu. Sangat lucu menontonmu melakukan hal itu." lanjut ibunya dengan nada mengejek di akhir perkataannya.


Chris menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa. Tertawa lebar seolah dia sedang menuju dalam kemenangan.


"Lucu huh? Aku akan menunjukkan padamu apa itu hal yang lucu, Mama." desisnya tajam.