Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
55



Chris menatap layar laptop dengan serius. Hanya ada satu vidio berdurasi dua menit lima belas detik. Ketika Chris mengklik tombol mulai, dia langsung tahu tempat apa yang ada di dalam vidio.


Sebuah ruangan yang pernah beberapa kali ia masuki ketika mengunjungi Nana. Disana, duduk seorang wanita dengan penampilan luar biasa kacau. Menatap dokter berpakaian seragam rumah sakit dengan sorot ketakutan. Wanita yang saat ini tinggal dirumahnya.


Pintu diketuk sebanyak dua kali. Bayu muncul disana dan langsung menghampirinya. Dia memberi hormat dan berdiri tegak untuk menunggu perintah.


Chris memutar kembali vidio dan memutar arah layar laptop sehingga Bayu bisa melihatnya dengan jelas.


"Segera perintahkan salah satu orang dibagianmu untuk menyelidikinya. Dokter itu menyebut namaku. Itu artinya wanita itu mengenalku sebelum dia mengenal Nana."


"Baik, Tuan." ujar Bayu.


"Untuk sementara, jangan biarkan siapun tahu. Aku punya rencana, Bayu. Aku harap kamu juga ingin yang terbaik. Bahkan jika kamu setia untuk ibuku, ini akan menguntungkannya juga. Meletakkan wanita itu disisi ibuku adalah kesalahan."


"Saya mengerti, Tuan."


Bayu memohon undur diri. Chris mencabut flasdist itu dan segera menyimpannya. Untuk masalah ini, dia benar-benar hanya melibatkan Bayu, orang kepercayaan ibunya.


Jihan dan Arjun bertukar pandang ketika Bayu hanya melewati mereka begitu saja. "Hei, Brother! Ada apa dengan wajahmu." tanya Arjun dan menghentikan langkah Bayu.


Bayu menoleh, lalu menatapnya dengan wajah bertanya. "Apa kami ini tunggul bagimu?" sindir Arjun sambil menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu. Tapi, sejak kapan kamu menjadi gampang tersinggung?"


Arjun tersenyum lebar, "Sejak aku mengenalnya." tunjuknya pada Jihan.


"Kenapa aku?"


"Karena kamu sangat baik, aku jadi ketularan. Lama bersama orang jahat aku ikut jahat juga. Jadi aku sangat bersyukur kamu bekerja disini."


Bayu menatap Arjun dengan tatapan seriusnya. Bayu terlihat mengerti apa yang coba disampaikan Arjun lewat kalimat itu. Sementara Jihan menatapnya dengan wajah aneh ketika merasa jawaban Arjun sedikit tidak masuk akal.


"Sampai jumpa." ujarnya datar, lalu dia beralih pada Jihan. "Semoga hari anda menyenangkan, Nyonya." lanjutnya sebelum berbalik dengan cepat. Sampai-sampai Jihan tidak bisa memprotesnya akan panggilan yang digunakan Bayu padanya.


"Ternyata dia masih Bayu yang sama." kata Arjun penuh misteri. Jihan menatapnya dengan aneh. Tidak mengerti lebih tepatnya.


"Aku akan memberikan ini kepada, Presdir." ujar Jihan, meninggalkan Arjun yang hanya mengacungkan jempolnya.


"Jihan membuat pekerjaanku jadi lebih ringan. Alangkah baiknya kalau dia tetap disini." gumamnya.


.


Ketika jam pulang kerja, seperti sebelumnya, Arjun akan pulang tepat waktu dengan alasan yang sama. Namun kali ini bukan istrinya yang sakit, melainkan anaknya.


"Ayo pulang, Jihan."


"Saya akan..."


"Jihan, sebenarnya kepalaku sedikit berat. Bisakah kamu membawa mobil untukku?" potong Chris. Dia tidak berbohong, Chris memang merasakan sakit dikepalanya semakin lama semakin bertambah sejak tadi.


"Anda tidak membawa obat anda, kan? Anda juga melewatkan sarapan dan hanya makan siang sedikit." Jihan menghela napas. Menggerutu dalam hati bahwa dia tidak ingin terjebak berdua lagi dengan Chris, tapi nyatanya dia tidak bisa menolak permintaannya.


"Oh, bukankah itu Bayu."


Ketika mereka keluar dari lift, Bayu memang baru masuk dari pintu lobi utama dan langsung menghampiri mereka. Wajahnya cukup pucat dan dia terlihat sangat panik. Peluh membasahi seluruh tubuhnya.


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." katanya cepat, melirik Jihan sekilas dengan ragu.


"Katakan saja." perintah Chris.


"Nyonya masuk rumah sakit. Tidak sadarkan diri."


Chris tidak bereaksi untuk beberapa detik. Hanya menatap Bayu dengan wajah penuh kemarahan. Bahkan kuku-kukunya memutih karena kuatnya ia mengepalkan tangan.


Bugh!


Satu pukulan melayang pada wajah Bayu. Jihan segera menahannya ketika Chris hendak melanjutkan pukulannya. Mencengkram lengannya dengan kuat menggunkan kedua tangannya.


"Se-sebaiknya anda kerumah sakit, Presdir!"


Chris menghembuskan napas. Masih menatap Bayu yang langsung berlutut dihadapannya. Seluruh karyawan telah pulang kecuali bagian keamanan yang hanya berdiri jauh dari mereka.


"Aku sudah memberimu tanda peringatan melalui vidio itu! Bagaimana bisa kamu tidak melakukan kewaspadaan!"


"Maafkan saya, Tuan. Tapi Nyonya mengalami serangan jantung. Dia sama sekali tidak menyentuhnya, kami sudah menyelidiki cctv dan seluruh pelayan."


"Serangan jantung? Ibuku tidak memiliki riwayat penyakit itu."


"Saya akan melakukan penyelidikan ulang."


"Bangun!" perintah Chris. Dia bukan hanya marah, namun juga kecewa dan kawatir. Tangannya kini bergetar dan Jihan bisa merasakannya. "Biarkan dia, bersikaplah biasa padanya."


"Baik, Tuan. Saya akan mengantar anda kerumah sakit."


Chris menoleh pada Jihan, lalu melepaskan tangan Jihan dari lengannya. "Pulanglah, bawa mobilku, jangan pergi kemanapun dan beritahu aku ketika kamu sampai dirumah."


Setelah mengatakan hal itu, Chris pergi meninggalkan Jihan disana. Kepalanya nyaris akan pecah namun dia tidak memperdulikannya. Dia harus langsung kerumah sakit dan melihat sendiri keadaan ibunya.


Setibanya dirumah sakit, Chris segera dihampiri oleh beberapa dokter dan langsung menjelaskan keadaan ibunya. Adora juga ada disana dan terlihat baru saja menangis. Ingin sekali Chris mencekiknya saat ini, namun dia harus menahan diri.


"Begitu, terima kasih." ujar Chris ketika dokter-dokter itu selesai menjelaskan keadaan ibunya.


Ibunya ditempatkan diruangan ICU kelas khusus dan dijaga ketat oleh dua pengawal. Satu pelayan, yaitu kepala pelayan rumah ditempatkan juga disana. Untuk masalah kebersihan, perawat tidak diizinkan menyentuhnya. Semua tindakan pengawasan dilakukan oleh dokter pilihan. Pemeriksaan penunjang khusus oleh petugas medis diawasi dengan ketat.


"Maaf dokter Adora, tuan menyuruh anda untuk pergi juga. Tidak ada yang diizinkan menjenguk Nyonya tampa izin Tuan Chris. " ujar Bayu dengan wajah datarnya.


"Aku ini ibu dari cucunya!" protes Adora.


"Ini perintah Tuan Chris." sahut Bayu.


"Dimana dia? Aku akan bicara sendiri!"


"Tuan Chris sedang berbicara dengan direktur rumah sakit. Silahkan jika anda ingin menunggu. Tapi tidak disini." jawab Bayu.


Dua pengawal tadi mencoba membawanya pergi dengan menarik kedua lengannya. Namun Adora memberontak.


"Aku bisa jalan sendiri, kalian pikir aku apa!" ujarnya dengan penuh kemarahan.


Sementara itu, Chris yang baru saja bertemu direktur rumah sakit untuk memintanya melakukan beberapa hal. Dia duduk disalah satu kursi tunggu di dekat lobi utama. Memegang kepalanya yang sakit.


"Makan ini dan segera minum obat anda, Presdir."


Chris mendongak, seolah menemukan air yang sejuk ketika dia sedang ditengah gurun yang panas, Chris tersenyum pada Jihan yang berdiri dihadapannya dengan sebuah bungkusan berisi makanan dan satu bungkus kecil berisi obat.


"Kamu kekamarku?"


"Hmm, saya meminta pihak hotel mengambilkan obat yang anda tinggalkan."


Chris semakin melebarkan senyumnya, dia sangat senang Jihan menghawatirkannya seperti ini. Walaupun mungkin Jihan melakukannya karena pekerjaannya, tapi Chris akan tetap senang karena itu dia. Orang yang dicintainya.


Mereka tidak menemukan tempat yang nyaman untuk makan dan Chris tidak ingin makan di depan umum. Karena itu mereka akhirnya kembali ke parkiran dan istirahat disana. Mobil Chris cukup mewah untuk dia bisa berbaring dengan nyaman.


"Anda harus makan dulu baru minum obat!" tegur Jihan ketika Chris ingin minum obat dulu.


"Tapi kepalaku sakit, perutku mual. Aku tidak ingin makan." jawabnya nyaris seperti anak kecil yang sedang memohon.


"Kalau begitu ayo ke UGD. Anda juga harus dirawat."


"Aku akan makan." kata Chris dengan cepat. Dia sungguh malas harus diperiksa di tempat ramai seperti itu.


Jihan menyodorkan kotak makan yang dibawanya, namun Chris hanya menatapnya dengan enggan.


"Bisakah kamu menyuapiku?"


"Anda masih punya tangan."


"Tanganku sangat lemah sekarang. Kepalaku juga sangat sakit, jadi aku..."


Jihan menarik kembali tangannya dan membuka kotak makan berisi bubur yang ia pesan dari hotel. Dengan wajah datar menyodorkan suapan demi suapan pada Chris sampai bubur itu benar-benar habis.


"Bagaimana keadaan Mama?"


Chris membuka matanya. Setelah makan dan minum obat, Chris istirahat dengan nyaman dikursi penumpang. Dia juga menutup matanya, mencoba tidur sejenak. Ketika Jihan bertanya dengan kalimat seperti itu, Chris tertegun. Jantungnya juga berdetak dengan kencang. Perasaanny bergemuruh dengan kesenangan.


"Mama koma, keadaannya cukup buruk. Kamu ingin melihatnya?"


Jihan menunduk sebelum membuang pandangannya keluar jendela.


"Aku akan menjenguknya besok pagi bersama Arjun, dia pasti ingin menjenguknya juga."


Chris tahu mengapa Jihan menjawab demikian, karena itu dia hanya mengangguk singkat sebelum menutup matanya lagi. Dia sangat senang Jihan mau memutus batas antara mereka. Meski ia dihadapkan dengan banyak masalah, kehadiran Jihan disisinya membuat kepalanya cukup jernih. Setidaknya dia tidak menjadi gila dan melakukan hal brutal ketika ia tertekan seperti dulu.


Chris tersenyum tipis, menikmati gemuruh perasaan yang hanya bisa ia tahan. Bahkan ketika wanita yang ia cintai duduk disampingnya, Chris merasa tidak berdaya saat ini untuk meraihnya. Kekerasan dan pemaksaan hanya akan menjauhkan mereka, namun ternyata kelembutan juga tidak banyak membantu. Chris jelas frustasi, tapi tentu saja dia tidak akan menyerah.


"Terima kasih, Jihan."


"Aku melakukannya karena pekerjaan, tolong jangan salah paham. Meskipun aku membencimu, setidaknya aku tidak ingin kehilangan kemanusiaan."


Chris memyeringai, nyaris tidak terlihat jika kita tidak melihatnya dengan saksama. Perkataan Jihan membuatnya ingin tertawa, bahkan dia tidak marah atau kecewa. Dengan matanya yang tajam, dia menoleh dan menatap sisi wajah Jihan dengan sorot matanya yang tajam. Seolah dia bisa menembus dan melihat apa yang ada di dalam hati Jihan untuknya.


"Ketika kamu keluar dari pikiranmu, beritahu aku. Aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka." ujarnya.


Jihan tercekat, jantungnya berdegup dengan kencang. Dia tidak sanggup lagi, ingin kabur dari keadaan yang semakin canggung. Jihan membuka pintu mobil Chris, menoleh sedikit sekedar untuk sopan santun.


"Saya akan kembali karena anda terlihat sudah lebih baik, Presdir." ujarnya, lalu turun dari mobil Chris. Meninggalkan Chris yang kembali meluruskan kepalanya. Menatap malam yang terasa semakin dingin dikulitnya.


"Aku harus bersabar sedikit lagi untukmu." bisiknya pada diri sendiri.


.


Alex bertemu dengan Marcell pada akhirnya. Malam dimana ibu Chris masuk rumah sakit. Marcell tidak sengaja bertemu dengannya ketika mereka sama-sama memasuki sebuah bar. Marcell sedang bersama bawahannya, pacar dari wanita yang dibunuh oleh Alex.


"Apa dia orang yang kamu sebutkan?" tanya Marcell. Mereka bertemu di lorong menuju ruangan VIP.


"Ya, Ketua."


Keduanya sama-sama memiliki tinggi yang sama. Marcell hanya sedikit lebih kurus dari Alex. Wajahnya juga lebih lembut dan ramah dibanding Alex yang terlihat garang dan kejam.


"Aku dengar kamu yang menyebabkan Jihan bangkrut dengan bunga tinggi."


Alex mengangkat sebelah alisnya, lalu terkekeh pelan ketika nama mantan istri teman sekolahnya disebutkan oleh seorang gengster seperti Marcell.


"Kenapa nama wanita alim itu keluar dari mulutmu? Kamu mengenalnya? Ah... Aku dengar kamu sedang membangun bisnis legal dan terhalang oleh grup raksasa MC."


"Hmm, apa yang kamu bicarakan? Hubunganku dengan Jihan tidak ada kaitannya dengan bisnis. Aku hanya tertarik padanya. Karena itu, aku punya cukup alasan untuk menghancurkan bisnismu."


Alex tertawa dengan santai.


"Jangan libatkan aku dengan masalahmu Ketua... Cukup wanita itu yang menjadi targetmu untuk mengganggu Presdir MC. Aku tidak tertarik berurusan denganmu."


Marcell tersenyum, "Benarkah? Lalu kembalikan seluruh aset yang kamu sita darinya."


"Kenapa? Kamu akan membayar untuk itu?"


"Kenapa aku harus membayarnya?" jawab Marcell yang membuat Alex mengeraskan rahangnya. "Aku harus pergi, aku akan meninggalkan temanku untuk bersenang-senang denganmu." lanjut Marcell.


Setelah kepergiannya, Alex berhadapan dengan seorang pria yang lebih pendek darinya. Memiliki tato di leher dan menatapnya dengan aura penuh kebencian.


"Membunuh pacarku artinya kamu siap berhadapan denganku. Bahkan tampa campur tangan ketua, aku akan mengirimmu ketempat yang sama."


Alex dan beberapa orang anggotanya merasakan suasana yang mulai sepi. Mereka sadar pengunjung biasa tempat itu sudah diusir keluar.


"Aku membunuh wanita yang membuat kesalahan padaku. Lagi pula, apa yang kamu harapkan dari ****** sepertinya? Dia datang padamu setelah terlibat dengan pinjaman. Dia bahkan tidak sungkan membuka kakinya untukku. Wanita seperti itu yang kamu sukai? Kamu tampaknya butuh pencerahan."


Mendengar hal itu, pria itu langsung melayangkan tendangannya ke perut Alex. Alex yang tidak sempat menghindar mundur beberapa langkah kebelakang. Nyaris jatuh kalau saja bawahannya tidak menahannya.


Kedua kelompok itu terlibat perkekahian. Para pengunjung yang masih tersisa segera keluar. Beberapa anggota kelompok dari keduanya datang dari luar. Bergabung dengan perkelahian di dalam.


Alex terdesak ketika kepalanya ditodong oleh senjata api. Dia bahkan tidak sempat mengambil senjatanya sendiri ketika anak buah pria tadi melucuti pakaian luarnya dan mengambil senjatanya.


"Bawa dia, aku ingin menyiksanya sampai mati." ujarnya.


Mereka semua pergi, kecuali anak buah Alex yang terluka. Mereka masih terkapar dilantai dengan tubuh penuh luka. Kalah jumlah dan kalah dalam hal kemampuan bela diri, Alex tidak pernah tahu kalau anggota Marcell tidak hanya dilengkapi senjata, mereka juga memiliki kemampuan bela diri yang baik. Setidaknya mereka memiliki kemampun berkelahi diatas rata-rata.