Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
16



Jihan mau tidak mau akhirnya membalas pesan Jouji. Banyak hal yang Jouji beritahu padanya mengenai kejadian yang menimpa mantan istri Chris. Dimana Jouji memberitahunya bahwa hari-hari yang dilalui Jihan saat ini baru permulaan. Mantan istrinya yang tidak lain ibu kandung Catrin mengalami perlakuan selayaknya sampah didalam keluarganya. Sehingga dia semakin depresi dan berakhir menjadi benar-benar tidak waras.


Jihan termenung dibalkon kamarnya. Dua hari berlalu sejak perlakuan kasar terakhir Chris padanya. Pada malam hari di hari itu Chris harus keluar negeri lagi. Sehingga mereka memang tidak bertemu lagi sampai sekarang.


Jouji rajin mengiriminya pesan meskipun tidak selalu ditanggapi. Jihan hanya akan menanggapinya jika itu hal yang perlu ia jawab atau bahas. Seperti informasi yang Jouji coba buka setengah-setengah padanya.


Sebuah mobil masuk dari luar pagar. Jendela mobil terbuka dan bisa dilihat Chris yang menatap kearah Jihan yang tidak menyadarinya. Wanita itu sibuk dengan berbagai pikirannya bahkan tidak sadar kalau seseorang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Apa yang menarik disana?"


Jihan tersentak, dia berdiri dan langsung menoleh ke arah suara. Matanya mengerjap beberapa kali ketika mendapati Chris berdiri bersandar pada pintu balkon dengan lengan kemeja yang terlipat. Untuk sesaat Jihan kembali tertegun akan sosok dihadapannya. Sangat menarik perhatian dengan karisma yang ia miliki.


"Ke ... kenapa kamu masuk kedalam kamarku?" tanya Jihan setelah menguasai dirinya kembali.


"Ini kamarku juga kalau kamu lupa."


Jihan mengerjap lagi, cukup bingung dengan situasi saat ini. Apalagi dengan Chris yang menampilkan raut tak biasa.


"Butuh sesuatu?" tanya Jihan lagi.


Chris maju dan berjalan kearahnya. Jihan yang terkejut reflek mundur kebelakang. Seolah Chris adalah mahluk berbahaya.


Melihat hal itu Chris menyeringai, apalagi ketika Jihan sudah terpojok kesisi pagar pembatas. Dia merapatkan jarak dan berbisik pelan disisi telinga Jihan yang tertutup kerudungnya.


"Aku membutuhkanmu saat ini." bisiknya dengan hembusan napas berat.


Karena jarak yang amat dekat inilah, Jihan bisa mencium aroma napas dan tubuh Chris. Jantungnya seketika berdetak dengan kencang.


"Kamu mabuk? Menyingkirlah dan kembali kekamarmu sendiri." tegas Jihan.


Bukannya menuruti, Chris terkekeh dan menarik pinggang Jihan sehingga tubuh mereka menempel dengan sempurna. Jihan mencoba mendorong dada Chris dengan kedua tangannya namun tidak ada gunanya. Tenaga suaminya itu jauh lebih besar darinya.


"Kamu istriku bukan? Suamimu membutuhkanmu apa kamu boleh menolak?" tanyanya.


Jihan menjerit kecil kala Chris mengangkatnya selayaknya karung beras. Lalu membawanya masuk dan menjatuhkannya diatas kasur dengan kasar.


"Ka ... kamu mau apa! Jangan macam-macam!" gertak Jihan dengan tubuh setengah bergetar.


Chris merangkak diatasnya dengan sorot dan wajah yang lain dari biasanya. Dua kancing bajunya sudah terlepas dan dia menatap Jihan seperti singa yang berhasil menaklukkan mangsanya.


"Tadinya aku akan menyewa wanita diluar sana, tapi wajahmu tiba-tiba muncul di depan mataku dan membuatku membatalkannya. Jadi salahkan saja dirimu. Ah ... kamu istriku jadi ini sudah tugasmu?" katanya setengah terkekeh.


Dengan kasar dia melepas Kerudung Jihan dan melepas baju luarnya. Menyisakan piyama satin pendek. Jihan sudah berkaca-kaca dengan tubuh yang gemetar, meskipun mereka sah sebagai suami istri, namun hatinya hancur menyadari kenyataan bahwa Chris menyentuhnya seperti ****** diluar sana. Chris tidak menganggapnya dan terlebih dia dalam keadaan mabuk.


"Berhenti kumohon." lirih Jihan.


Chris berhenti, dia menatap mata Jihan dengan matanya yang sudah sayu. Perlahan dia memenenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Jihan. Jihan mengatur napasnya, Chris sama sekali tidak bergerak lagi. Jihan yang merasa bingung akhirnya sadar begitu mendengar dengkuran halus suaminya. Dengan perasaan lega Jihan bersusah payah mendorong Chris dari atas tubuhnya.


Ketika berhasil, Jihan menarik selimut dan akan turun. Namun tangan Chris dengan cepat menariknya dan memeluknya dengan erat.


"Tetap disini dan peluk aku." bisiknya setengah sadar.


Jihan tahu Chris hanya mabuk. Dia tahu Chris melakukannya bukan karena keinginannya sendiri. Namun dia tetap berdebar karena suara lembut itu. Dia berbalik dan menatap wajah tidur suaminya dalam diam.


"Ini ... pertama kalinya kita tidur diatas kasur yang sama. Apakah besok kamu akan menendangku kebawah setelah sadar? Atau akan memakiku?" lirihnya dengan senyum miris.


Jihan mencoba menarik tangan Chris, namun pria itu terus tersentak dan malah memperkuat pelukannya. Jihan menghela napas, dia melirik pintu balkon yang masih terbuka lebar. Memilih abai dan ikut memejamkan mata karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia hanya berdoa keesokan paginya dirinyalah yang bagun terlebih dahulu.


.


Suara azan membangunkan keduanya. Baik Jihan maupun Chris sama-sama sedang mengumpulkan kesadaran masing-masing. Chris yang menyadari ada seseorang dalam pelukannya menunduk. Mempertemukan pandangan mereka karena Jihan yang juga mendongak.


Secepat kilat Chris mendorong kasar tubuh Jihan hingga nyaris jatuh. Sementara dia bangkit dan duduk dengan kepala yang langsung berdenyut. Dia meneliti sekitarnya dan menyadari bahwa dia berada di dalam kamar lamanya.


"Sial! Apa yang kamu lakukan padaku?" tuduhnya sembari bergerak untuk turun.


Jihan menutup matanya sesaat, berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah terluka dan sakit hatinya. Dia mengatur emosinya secepat ia bisa dan kembali membuat benteng kokoh untuk membalas perlakuan sang suami.


"Kamulah yang tiba-tiba masuk seenaknya. Jangan berlagak sebagai korban!" jawab Jihan dengan ketus.


Chris menoleh dengan wajah tidak percaya akan respon Jihan yang seperti itu. Jihan bahkan tidak menatapnya dan melenggang masuk kedalam kamar mandi dengan bantingan pintu yang cukup keras.


"Sial apa yang aku lakukan?" gumamnya.


Chris memperhatikan keadaan kasur yang cukup rapi. Dia kembali mengingat-ingat kejadian tadi malam. Namun tidak ada satupun memori yang mampir selain dia ingat memasuki kamar ini. Karena kamar ini adalah kamar lamanya, tentu saja dialam bawah sadarnya dia hanya mengingat kamarnya ini.


Pintu kamar mandi terbuka. Jihan keluar dengan santai setelah gosok gigi dan berwudhu. Tampa menoleh pada Chris yang masih linglung dipinggiran kasur, dia mengambil telekung dan sholat subuh.


'Dia tidak mandi besar? Itu artinya kami tidak melakukannya. Baguslah, setidaknya aku tidak memaksanya.'


Chris tersentak secara tiba-tiba akan pemikirannya sendiri.


'Tunggu! Memang kenapa kalau aku memaksanya, dia siapa harus aku perlakukan dengan baik! '


Chris segera keluar setelah bergelut dengan pikiranya dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Di meja makan, Catrin memecah keheningan dengan tingkah riangnya. Semua orang menanggapinya kecuali ayahnya. Pria kaku itu hanya akan mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban.


"Ma, Jihan akan ketoko pagi ini lalu memeriksa laporan yayasan."


"Tapi kamu masih pemulihan Ji," larang mertuanya.


"Sudah lebih baik. Saya kira tidak akan ada masalah."


"Tapi ...."


"Ma, aku pergi duluan." potong Chris dengan dingin. Dia mengelus kepala anaknya sebelum pergi.


Jihan menatap punggung lebar itu dengan tatapan terluka. Seperti dugaannya, namun harapan kecil dihatinya tidak bisa ia tampik begitu saja.


'Aku terlalu banyak menghayal.'


Jordi yang melihat raut sendu itu menghela napas. Menatap Jihan dengan segala penilaian yang ada di kepalanya.


'Kakak ipar yang ini terlihat lebih kuat dan dewasa. Tidak seperti Nana yang aktif dan agresif. Kita lihat sejauh apa dia bertahan.'


.


Jihan tidak bisa menolak perintah ibu mertuanya. Jordi benar-benar disuruh untuk menempelinya kemanapun dihari itu untuk membantunya.


Setelah dari toko, Jihan masuk kedalam sebuah pusat perbelanjaan karena harus membeli beberapa keperluan untuk yayasan. Dia sedang memilih selimut saat tidak sengaja melihat gadis yang familiar.


Jihan menghampirinya, menepuk pundaknya untuk menyapa. "Caren? Oh benar itu kamu." katanya.


Caren, wanita yang menolongnya untuk tidak meminum minuman beralkohol dipesta saat itu. Kini mengernyit dan menatapnya dengan sorot yang sama seperti saat pertama kali bertemu.


"Oh ... istri raja iblis disini." sindirnya. Lalu dia menatap Jordi yang berdiri di belakang Jihan. Menarik sudut bibirnya untuk mencemooh. "Dan apa yang dilakukan oleh rubah licik dibelakangmu?" lanjutnya dengan sarkas.


"Rubah ... apa?" ulang Jihan dengan wajah tidak mengerti, menoleh pada Jordi sesaat sebelum kembali pada Caren lagi.


"Apa kabar Caren? Kamu jauh lebih sehat dari terakhir kita bertemu." sapa Jordi dengan senyum ramah.


"Seperti yang diharapkan darimu. Apa iblis itu memaafkanmu sehingga dia membiarkanmu kembali? Aku pikir dia akan membunuhmu saat itu."


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun sehingga harus dihukum. Kamu tahu kesalahan diawali darinya. Kenapa kamu selalu menyalahkanku Caren?" jawab Jordi.


Caren mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dengan sorot mata yang ingin membunuh Jordi saat itu juga. Dengan langkah lebar dia meninggalkan tempat itu tampa peduli Jihan yang memanggilnya beberapa kali.


"Aku tidak tahu kalau kalian saling mengenal. Pantas saja dia mengatakan hal itu padaku saat itu. Dia juga bagian dari cerita mantan istri Chris?"


"Ya, kami berteman dulu. Apa yang dia katakan padamu kak Jihan?"


"Dia bilang ... bahwa aku calon penghuni rumah sakit jiwa selanjutnya."


Jordi tertegun ditempatnya. Dia tersenyum masam namun tidak mengatakan apapun. Jihan juga tidak ingin tahu lebih banyak. Dia bukan orang yang suka mengurusi masalah orang lain. Jadi dia kembali pada tujuannya semula ada ditempat itu.


"Kemana semua selimut ini akan dibawa?" tanya Jordi ketika mereka keluar dari pintu lobi menuju parkiran mobil.


"Mengemasnya dengan barang lainnya dan mengirimnya ke propinsi yang mengalami banjir bandang kemarin malam."


Jordi mengangguk dan meletakkan semua kantong-kantong itu di bagasi mobil. Lalu berlari ke bangku sopir dan mulai menyalakan mesin mobil.


"Kakak akan ikut kesana? Kepusat pengungsian?"


"Ya, aku harus mengawasi bahwa bantuan disalurkan dengan benar."


"Wah ... itu artinya aku juga akan ikut. Mama tidak akan membiarkan kakak pergi sendirian."


Jihan tidak menjawab. Didalam hati, dia akan bersyukur jika dia hanya akan pergi dengan tim dari yayasan. Namun seperti yang dikatakan adik iparnya ini, mertuanya tidak akan membiarkannya.


.


Siang hari ketika seluruh barang sudah selesai diangkut menggunakan bus menuju bandara. Jihan dan Jordi juga berangkat kebandara. Sesampainya di bangku tunggu, mereka dikejutkan dengan teriakan beberapa wanita dan bunyi bliz kamera. Keduanya menoleh kebelakang dan disana, Jouji berdiri dengan senyum lebarnya.


Jihan menatap ketua regu dari tim yang mengurus penggalangan donasi dari yayasannya. Seorang pria paruh baya, dia segera melapor pada Jihan yang menatapnya meminta penjelasan.


"Maafkan saya bu, tiba-tiba manajemen pak Jouji menghubungi beberapa menit lalu dan meminta pak Jouji ikut dengan kita. Saya pikir ini untuk citra atau sesuatu saya tidak paham. Karena dia bagian dari donatur tetap, saya tidak bisa menolaknya."


"Kenapa tidak memberitahu saya?"


"Itu ... maaf tadi ibu dalam perjalanan."


Jihan menghembuskan napas. Jouji masih sibuk dengan para penggemarnya yang tiba-tiba mengerubunginya.


Di tempat lain, tepatnya di dalam kantor Chris. Arjun lagi-lagi memijit kepalanya setelah mendapatkan laporan dari salah satu mata-mata bayaran Chris.


"Tuan," mulainya, Chris sibuk dengan tumpukan laporan di meja seperti biasa. Tidak menjawab namun Arjun tahu dia mendengarkan. "Nyonya Jihan pergi ke kota A siang ini bersama tim dari yayasan." lanjutnya.


"Apa itu penting untuk dilaporkan padaku?"


"Yah, tidak tapi karena Jouji ikut saya pikir itu...."


Arjun tidak melanjutkan perkataannya karena Chris yang segera bangkit dari tempat duduknya. Arjun menarik senyum kecil namun segera menormalkan ekspresinya ketika Chris menatapnya dengan sorot mata menyala-nyala.


"Apa yang coba dilakukan bajingan itu?"


"Saya rasa pencitraan untuk menunjang namanya di industri hiburan. Jangan kawatir Tuan, Jordi ikut bersama mereka. Jouji tidak akan bertindak berlebihan."


"Mereka berteman kalau kamu lupa." ketus Chris. "Suruh orang kita untuk terus memantau mereka. Jangan sampai membuat masalah lagi!"


Dia kembali duduk dengan tenang dan melanjutkan pekerjaannya. Arjun memperhatikan atasannya itu dengan saksama. Tersenyum simpul kemudian melihat ketenangan tuannya yang terganggu.


'Anda bisa saja berakting tenang didepan saya Tuan, tapi mata saya tidak bisa dibohongi."


Arjun tertawa tampa suara. Entah mengapa dia menyukai banyaknya ekspresi diwajah tuannya setelah mengenal Jihan. Arjun hanya berharap Chris bisa mengesampingkan logika dan prinsip hidupnya dan mulai memahami keinginan hatinya.