Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
74



Chris benar-benar melakukannya. Berbicara pada kedua orang tua Jihan. Azam juga ada disana, melihat bergantian para orang dewasa disekelilingnya. Usai sarapan, mereka berkumpul di ruang tamu.


"Maaf mengumpulkan semuanya secara tiba-tiba. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Juga ingin menyampaikan permintaan maaf." mulainya.


Chris bersumpah pada dirinya, bahwa dia benar-benar tidak pernah segugup ini seumur hidupnya. Dia pernah menghadapi orang yang jauh lebih berbahaya, menghadapi orang yang memiliki pengaruh lebih besar, namun dia tidak pernah gugup sekalipun. Bahkan rasanya sangat berbeda ketika Chris pertama kali melamar Jihan dulu. Ketika saat itu dia hanya melakukan perintah ibunya tampa perasaan yang mendasarinya.


Kedua orang tua Jihan saling pandang, lalu menoleh pada Jihan yang menatap meja, sepertinya dia ikut gugup. Disini, orang tua Jihan sama sekali tidak tahu tentang keterlibatan ibu dan Chris sendiri dalam kasus rentenir yang membuat mereka kehilangan harta benda mereka. Yang mereka tahu bahwa masalah keduanya adalah kehadiran orang ketiga dari masa lalu Chris.


Tapi sejak Alex, orang yang dahulu membuat mereka bangkrut dengan menjebaknya pada bunga tinggi, terlibat dengan Chris dan diketahui bekerja pada Chris, dugaan mulai muncul dalam benak keduanya dalam beberapa hari belakangan. Terutama ayah Jihan yang memiliki kecurigaan berlebihan.


"Kami berterima kasih kamu menyelamatkan Jihan dan membantunya dalam kasus penculikan itu. Bahkan menyediakan rumah mewah ini. Tapi! Tolong jujur padaku. Apa kamu ada kaitannya dengan rentenir yang merampas semua harta kami?"


"Ayah... Jangan begitu." tegur ibu Jihan.


"Lho, kenapa? Lihat saja, kan! Orang bernama Alex yang dulu jadi rentenir, sekarang bekerja padanya. Jangan-jangan dia yang merencanakan semuanya! Menyuruh orangnya berpura-pura jadi rentenir untuk menjebak kita!"


"Ayah, dengarkan dulu penjelasan Chris." pinta ibu Jihan dengan nada dan tatapan memohon.


Chris bisa melihat kepribadian seperti apa yang dimiliki oleh ayah Jihan. Sehingga dia mengubah sikapnya dengan drastis. Rasa gugupnya menguap begitu saja, berganti dengan sikap bagaimana dia menghadapi rekan bisnis yang mencoba menghianatinya.


"Ayah mertua, anda berbicara seakan anda tidak bersalah sama sekali dalam masalah itu. Bukankah awal dari semua ini adalah Anda? Mama hanya memanfaatkan sifat tamak Anda saat itu. Lalu sisanya adalah perjanjian anda dengan rentenir yang kebetulan adalah teman lamaku. Terlepas dari saya terlibat atau tidak, anda tidak bisa menyalahkan semuanya pada saya. Jika Anda tidak tergoda oleh tawaran bisnis dari orang bayaran Mama, lalu dengan ceroboh melakukan pinjaman besar tampa tahu sistem kerja para rentenir, bukankah Anda sedikit keterlaluan? Kita sama-sama berdosa disini."


"Kamu! Berani sekali kamu malah menyalahkanku!" bentak ayah Jihan.


"Tolong hentikan," pinta Jihan ketika Chris mulai ingin melawannya. Jihan menatap ayahnya dengan wajah memohon, lalu beralih pada Chris dengan raut yang sama.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan pada Anda." ujar Chris dengan cepat. Dia merasa bodoh malah terpancing oleh tuduhan ayah Jihan.


"Maaf! Hah! Orang tuamu pasti tidak pernah mengajarkanmu sopan santun! Jadi kamu dengan mudah bersikap kurang ajar! Aku tahu kamu ingin menikahi anakku lagi kan? Jangan mimpi!"


Ayah Jihan bangkit berdiri. "Ayo pergi dari sini dan kembali kerumah pamanmu! Tidak seharusnya kita menerima kebaikan palsu anak ini!" katanya dengan keras pada Jihan.


Azam yang sejak tadi bingung kini menjadi takut. Namun dia menoleh pada ibu dan Chris secara bergantian. Raut wajah keduanya yang tidak baik membuat Azam ingin menegur kakeknya.


"Kakek, jangan marah-marah." katanya dengan wajah menahan tangis. Matanya sudah memerah.


"Oh tidak, Azam kemari. Ayo kita pergi." ajak kakeknya.


Tapi Azam menggeleng dan berlari kesebelah ibunya. Dia memeluk ibunya dengan erat. Jihan menarik napas pelan. Lalu mengelus punggung Azam dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa kalian malah bertengkar di depan Azam?" katanya pelan.


"Ayo, Azam. Kita jalan-jalan saja diluar. Ibu mau menunjukkan tempat yang pasti kamu sukai." Kata Jihan, lalu ia menoleh pada ibunya. "Ayo ajak nenek," lanjutnya, memberikan anggukan pelan pada sang ibu sebagai tanda permintaan.


"Kalian bisa bicara berdua dan menurunkan ego masing-masing. Dan Chris, tolong hargai ayahku." pinta Jihan.


Setelah semua orang pergi dan hanya tinggal Chris dan ayah Jihan, suasana menjadi hening untuk sesaat. Chris masih memikirkan perkataan terakhir ayah Jihan yang terasa menusuk hatinya.


Dia tersenyum, menyadari bahwa tuduhan itu benar adanya. Bahwa selama ini dia memang tidak pernah tahu apa itu sopan santun. Chris selalu melakukan apa yang diinginkannya, dia membalas semua rasa sakit dan rasa kecewa pada orang tuanya dengan pembangkangan selama ia tumbuh dewasa. Tidak pernah sekalipun orang tuanya mempermasalahkan tentang adab. Mereka berbicara satu sama lain seperti rekan bisnis yang hidup dalam satu atap. Tidak ada perhatian, tidak ada kasih sayang, yang ada hanya sebab akibat dan pemanfaatan sebagai orang tua dan anak. Seolah mereka lahir untuk melakukan sistem yang sudah berjalan sejak dulu dikeluarga itu. Tidak bisa menolak maupun mengeluh.


"Anda benar," mulai Chris, dia masih menatap lantai dengan sorot sendu yang dingin. Dia merasa sedih namun hatinya tidak memahami perasaan itu dengan baik. "Saya tumbuh dilingkungan yang tidak pernah Anda bayangkan, Saya tidak pernah diajarkan hal-hal seperti sopan santun, Saya tumbuh dengan cara yang buruk."


Ayah Chris tertegun, dia membayangkan bahwa Chris akan memohon maaf lagi padanya, namun ternyata dia malah membahas apa yang tadi ia katakan.


"Sejak kecil, Saya terbiasa dengan aturan yang ada di dalam keluarga. Kami tidak menunjukkan hal-hal seperti kasih sayang. Saya tidak pernah tahu perasaan seperti itu sebelum Saya mengenal Jihan. Anak Anda, begitu naif, pintar dan bisa mengimbangi sifat buruk saya. Dia wanita hebat yang membuat saya menjadi lebih baik." Chris menatap ayah Jihan dengan sorot penuh tekad dan ketegasan. "Karena itu, apapun akan saya lakukan demi dia. Jadi saya mohon, beri saya kesempatan, Ayah." lanjut Chris.


Chris bangkit, lalu berlutut di hadapan ayah Jihan. Reflek, ayah Jihan berdiri. Terkejut akan tindakan Chris yang dinilainya berlebihan.


"Kenapa kamu berlutut! Cepat bangun! Kamu itu pemimpin MC!" ujarnya dengan polos. Dia terkejut namun juga seperti tidak terima kalau Chris merendahkan dirinya.


Chris tertawa dalam hati, tentu saja dia adalah orang itu. Tapi disini dia hanya seorang pria yang sedang meminta izin pada ayah dari wanita yang dicintainya. Entah mengapa, Chris merasa keadaan ini sangat lucu sekarang. Dia jadi sadar bahwa ayah Jihan hanya pria yang pemikirannya sederhana namun sangat suka dengan uang. Sehingga dia mudah dibodohi jika menyangkut tentang uang.


"Tapi Anda adalah orang tua dari wanita yang saya inginkan. Anda lebih hebat dari kedudukan saya di perusahaan itu." kata Chris.


"Cepat bangun! Urus surat-suratnya dan panggil penghulu secepatnya! Aku memaafkanmu dan ibumu kali ini karena Jihan! Kalau terjadi lagi aku tidak akan membiarkanmu!"


"Ayo susul mereka, bukankah kalian juga harus bekerja?"


Ayah Jihan pergi lebih dulu. Meninggalkan Chris yang langsung mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang untuk mengurus segalanya. Ditengah masalah yang mengelilinginya, Chris lega bisa fokus menyelesaikannya satu persatu. Karena Jihan adalah prioritasnya, dia bisa sedikit lebih tenang sekarang.


Jihan segera berdiri dari duduknya ketika Chris dan ayahnya menyusul mereka. Chris tersenyum dan mengangguk kecil, tanda bahwa semuanya baik-baik saja.


"Wah! Disini juga ada ikannya? Apa kita bisa memancingnya?" tanya Azam, dia sedang berjongkok di pinggir sungai dan kebetulan seekor ikan berenang ke atas permukaan.


Semua mata tertuju padanya, "Tentu saja kamu bisa. Kamu ingin memancingnya?" tanya Chris.


Azam berdiri dan mengangguk dengan penuh semangat. "Mintalah pada pelayan, aku menyimpan banyak alat pancing di gudang bawah tanah."


"Saya akan ambilkan untuk anda, Tuan muda." ujar kepala pelayan yang memang mengikuti mereka kesana.


"Anda punya pertemuan setengah jam lagi, Presdir?" kata Jihan tiba-tiba, masih menatap ponselnya. Membaca pesan dari Arjun.


"Kamu istirahat saja dirumah. Nikmati waktumu dengan Azam."


"Tidak, kita juga harus menemui Mama Anda."


Chris tidak bisa menahan senyumnya ketika kata 'kita' keluar dari mulut Jihan.


"Ke-kenapa?" tanyanya. Seketika Jihan gugup melihat senyum Chris.


"Ya, kita memang harus menemuinya." jawab Chris.


Lalu dia melangkah terlebih dahulu setelah berpamitan dengan keluarga Jihan. Jihan sendiri baru menyadari kata-katanya. Dengan perasaan malu, ia buru-buru pamit pada orang tuanya dan Azam sebelum menyusul Chris.


"Ibu harus berhenti bekerja setelah menikah." kata Azam dengan wajah merajuk. Dia ingin menghabiskan waktu dengan ibunya.


"Anak baik, besok bicarakan dengan ibumu. Dia pasti mengerti dan bisa meminta libur untuk bisa jalan-jalan denganmu. Hari ini mereka memang punya urusan yang harus diselesaikan." bujuk sang nenek.


"Tenang saja, kakek akan minta calon ayah barumu itu untuk mengizinkan ibumu libur." tambah sang kakek.


Azam hanya tertawa. Merasa lucu akan perkataan sang kakek. Lalu ketika alat pancingnya telah dibawa. Azam mulai memancing bersama kakeknya.


.


Menjelang sore, Chris dan Jihan pergi kerumah sakit. Mereka berencana untuk menjenguk ibu Chris. Meski hubungannya dengan sang ibu tidak baik, Chris tetap harus menemuinya untuk memberitahukan pernikahannya kembali. Itu juga karena keinginan Jihan, bukan keinginannya. Benar-benar anak tidak berbakti. Tapi mau bagaimana lagi, dia dibesarkan dengan cara yang buruk, arti berbakti bagi Chris adalah menjadi penerus ayahnya , hanya itu.


Baru saja pintu ruang rawat ibunya dibuka, seorang polisi yang bertugas sebagai penyidik menghampirinya. Entah dari mana asal kegigihan itu sehingga sang polisi itu berani menyusul Chris kesana.


Chris menoleh pada pengawalnya, dia sungguh tidak ingin diganggu saat itu. Namun baru saja pengawal Chris menghalangi, polisi itu langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Chris berhenti melangkah.


"Kami mendapat laporan pagi ini beserta bukti rekaman vidio. Pemilik unit apartemen dikawasan xxx atas nama Bayu mulyandi dibawa oleh beberapa orang setelah menyerangnya."


"Bayu? Ada apa dengannya?" celetuk Jihan yang malah membuat polisi itu menyeringai.


"Bayu bekerja pada Anda, begitu juga yang membawanya pergi bukan? Karena ada laporan orang hilang dan bukti vidio, bolehkah saya meminta waktu Anda, pak Christoper?"


Chris menoleh, menatap polisi itu dengan tajam. Mengingat Jihan masih bersamanya, dia harus menahan dirinya bukan? Dia tidak bisa membiarkan Jihan melihat sisi buruknya lagi.


"Saya akan menemui anda nanti, anda bisa mengatur jadwalnya dengan asisten saya. Sekarang saya harus menjenguk ibu saya." Ujar Chris, berusaha seramah mungkin.


"Begitu? Baiklah, senang anda bersikap kooperatif. Sampai jumpa besok, pak Chris."


"Sebenarnya apa yang polisi itu bicarakan?" tanya Jihan, dia masih memandang punghung sang polisi yang sudah menjauh.


"Jangan kawatir, bukan masalah besar. Ayo kita masuk." ajak Chris.


Meskipun Jihan diam saja, tentu saja Chris tahu dia tidak mempercayai sepenuhnya perkataannya. Jika berhubungan dengan polisi, mana mungkin itu masalah kecil bukan? Tapi Chris sungguh ingin memasang wajah berbeda di hadapan Jihan. Karena prinsip dan kepatuhan Jihan akan kebenaran, akan sulit baginya untuk satu suara dengannya. Sementara dia tidak bisa berkata tidak untuk saat ini. Mereka setidaknya harus terikat dulu untuk membuat Jihan tidak mudah pergi darinya.