Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
24



Hujan mengguyur kota sejak pagi. Usai mengantar Catrin kesekolah, Jihan melanjutkan perjalanannya pagi itu menuju tokonya.


Ponselnya berdering, itu telepon dari Jouji. Jihan menatap ponselnya sesaat tampa menjawab panggilan. Dia masih mengingat peringatan Chris tadi malam setelah dia mandi. Bahwa dia tidak boleh menerima panggilan dari pria manapun apalagi Jouji.


Sementara itu Jouji sedang berdiri di depan rumah sakit. Dia berdiri agak jauh dari pintu masuk dengan penyamaran. Berulang kali dia menghubungi Jihan namun panggilannya tidak dijawab. Jouji terlihat kesal dan juga kawatir.


"Menunggu seseorang?"


Jouji menoleh, melihat Chris berdiri beberapa langkah darinya membuat dia menyadari apa yang terjadi. Dia menyimpan ponselnya dan membuka kaca matanya.


"Jadi kamu penyebab Jihan tidak datang?"


"Aku benar-benar tidak memiliki waktu meladenimu sekarang, tapi aku punya satu hal yang perlu aku sampaikan." Chris maju dua langkah sehingga mereka berhadapan satu sama lain. "Berhenti mengganggu istriku, ini peringatan terakhir untukmu. Jangan salahkan aku jika ayahmu yang harus menerima konsekuensinya." Tajam dan mengancam.


Jouji tahu Chris tidak pernah main-main dengan ancamannya. Sayangnya hatinya sudah lama beku, dia tidak memperdulikan pandangan ayahnya lagi.


"Saat aku kecil sampai saat itu, ancaman itu mungkin akan membuatku takut. Sayangnya aku sudah berdiri di sisi lain. Aku sudah menceburkan diri terlalu dalam hingga aku tidak bisa keluar lagi. Kamu tahu apa penyebabnya?" Mimik wajah Jouji penuh dendam yang sudah menumpuk karena penderitaan. Telunjuknya terangkat dan menekan dada Chris. "Itu karena kamu sendiri. Jadi jangan pernah mengancamku dengan apapun karena itu tidak akan pernah berpengaruh padaku. Tunggu saja kehancuranmu seperti kamu menghancurkan Nana." desisnya.


Chris menatap punggung Jouji yang berjalan pergi hingga memghilang ketika dia masuk kedalam mobilnya. Arjun yang berdiri di sisi mobil sejak tadi menghampiri tuannya. Ikut menatap mobil yang melewati mereka kala Jouji pergi dari sana.


"Apa yang akan anda lakukan padanya Tuan? Sepertinya dia mulai gila seperti wanita yang dicintainya." tanya Arjun.


"Menikmati menjadi pemain sekaligus penonton. Ingat untuk memerintahkan Lion melaporkan apapun yang dilakukan oleh Jihan."


"Kenapa anda tidak mengatakan kebenarannya saja?" tanya Arjun lalu membuka pintu mobil.


"Untuk apa? Biarkan kebodohannya menghancurkan dirinya sendiri." jawab Chris sambil masuk ke dalam mobil.


Arjun tidak mengerti jalan pikiran tuannya. Dia akhirnya hanya diam. Seperti yang sudah-sudah, dia selalu menjadi penonton sekaligus jadi figuran dalam drama hidup atasannya itu.


.


"Apa yang mbak lamunkan?" tanya Rini saat melihat Jihan berdiri melamun di depan dinding kaca lantai dua tokonya.


Suasana di lantai dua memang akan sepi pada pagi hari. Karena didominasi oleh pakaian anak-anak. Hanya akan ramai pada sore dan malam hari.


"Chris!"


"Kenapa dengan suami mbak itu? Dia kasar lagi?" Rini mengernyit ketika mendapatkan gelengan sebagai jawaban.


"Dia sedikit berubah akhir-akhir ini. Dia tidak lagi menunjukkan kebencian seperti dulu. Tidak mengabaikanku seperti dulu, dia bahkan menyuruhku ini dan itu untuk melayaninya. Tapi ...."


"Tapi?"


Jihan menunduk menatap jalanan yang bisa dilihat dari tempat mereka.


"Aku tetap tidak bisa menggapainya. Dia seperti tidak tersentuh."


Rini mematap Jihan dengan prihatin. Dia tidak begitu mengerti mengenai hubungan suami istri karena tidak punya pengalman apapun.


"Bersabarlah mbak, semua pasti ada jalan keluarnya. Mbak selalu bilang kalau Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kita bukan?"


Jihan menoleh dan tersenyum. "Adikku sudah dewasa." Ekspresinya menjadi menggelikan karena berpura-pura terharu.


Rini bergidik dan memukul lengan Jihan sambil menunjukkan ekspresi gelinya. Mereka akhirnya tertawa bersama lalu saling menarik tangan satu sama lain untuk pergi dari sana. Jihan dengan usil mendorong Rini dan adik sepupunya itu akan membalasnya tidak kalah keras.


.


Jihan tersenyum cerah menyambut Catrin yang berlari kepadanya. Seperti biasa Catrin akan bercerita banyak hal mengenai sekolah dan teman-temannya. Dia sangat bersemangat dan menggemaskan. Jihan mencium pipinya berkali-kali sambil tertawa gemas.


"Anak mama hebat sekali. Lain kali kita harus bawakan temanmu jajan untuk adik-adiknya." ujar Jihan.


"Setuju ...!" teriak Catrin.


"Ma, ayo main ke tempat daddy!" ajak Catrin.


"Kita akan mengganggu daddy kalau kesana sayang, daddy pasti sedang sibuk." tolak Jihan.


Padahal alasan utamanya adalah Jihan trauma membawa Catrin kesana tampa izin. Itu karena kejadian sebelumnya. Jihan melirik Catrin yang mulai cemberut. Mengulurkan tangannya lalu menyuruh Catrin meminta izin dulu pada ayahnya.


Semangat anak itu kembali ketika suara ayahnya terdengar saat panggilan diterima. Jihan sengaja mengaktifkan mode loadspeker agar dia juga tahu jawaban Chris.


"Daddy! Apa daddy sibuk?" tanya Catrin.


'Daddy sedang rapat, kenapa Cat?" jawab ayahnya dengan nada datar.


"Cat mau main kesana dengan mama! Rindu daddy!"


'Datang saja dan hati-hati dijalan.'


Sambungan diputus begitu saja. Catrin menatap Jihan dengan bingung. Lalu memberikan ponsel Jihan lagi.


"Daddy sibuk sayang, jadi dia buru-buru mematikan sambungan. Mau beli es krim sebelum ke tempat daddy?"


"Mau ...!" seru Catrin dengan semangat.


.


Jihan dan Catrin sampai di depan ruangan Chris dengan masing-masing membawa tentengan. Sesampainya di depan pintu Jihan mendengar suara keras dari dalam ruangan Chris. Suara itu milik suaminya dan terdengar sangat murka pada seseorang.


Jihan meletakkan semua barang di sisi dinding dan menarik tangan Catrin menjauh dari pintu. Dia mendudukkan Catrin di atas sofa tunggu di sana.


"Daddy masih ada tamu, jadi kita harus tunggu disini."


"Tapi Daddy kenapa? Kenapa berteriak mama?"


"Mama tidak tahu, Cat tenang disini saja ya. Jangan kemana-ma__"


Jihan menoleh dengan cepat begitu pintu terbuka lebar dengan suara gedebuk tubuh seseorang yang terlempar keluar. Jihan segera menghalangi pandangan Catrin dengan tubuhnya, namun anak itu malah bangun dan berlari mendekati mereka.


Catrin berdiri tidak jauh dari pria yang jatuh itu. Dia menatap pria itu dengan wajah polosnya sebelum beralih pada Chris yang kini berdiri di ambang pintu. Menatap pria yang kini dipaksa dua orang untuk berdiri kembali.


Chris yang sudah melihat Jihan dan anaknya disana, segera memerintahkan Bayu membawa pria itu pergi. Dengan santai dia menggendong Catrin seolah tidak ada apapun yang barusan terjadi.


"Daddy kenapa orang tadi jatuh?" tanya Catrin.


"Dia tersandung karena matanya mulai rabun." jawab Chris.


Terdengar asal namun Arjun yang masih berdiri di luar tahu maksud kalimat itu. Dia bergidik ngeri melihat cara Chris menjawab pertanyaan polos anaknya.


"Anda tidak ingin masuk nyonya Jihan?" tanya Arjun. "Apa ini, makanan?" lanjutnya ketika menemukan dua kantung besar dilantai dan segera mengambilnya.


"Silahkan masuk, nyonya." kata Arjun lagi.


"Pa-panggil ibu Jihan saja, agak aneh kamu memanggilku begitu." pinta Jihan saat melewatinya.


Arjun tersenyum, "Tentu bu Jihan." sahutnya sambil ikut masuk.


"Daddy ayo ikut makan. Cat dan mama beli makanan yang banyak." ajak Catrin dan meraih tangan ayahnya.


"No Cat, makanlah disana dan biarkan daddy bekerja." tegas Chris.


Jihan segera bertindak, dia berjalan mendekati Catrin dan membujuknya. Ketika itulah Jihan tidak sengaja mendengar suara perut Chris yang kelaparan. Dia melirik Chris yang fokus pada laptopnya tampa peduli perutnya yang lapar.


Catrin makan dengan lahap ayam yang mereka beli. Jihan menghela nafas lalu membuka satu kotak pizza. Dia melirik Arjun yang bekerja di samping Chris pada meja yang sama.


"Kalian benar-benar tidak akan makan? Apa kalian sudah makan siang?" tanya Jihan dengan nada ragu dan suara yang dipelankan.


Arjunlah yang segera merespon. Chris sendiri masih fokus pada laptopnya.


"Bolehkah satu gigitan?" tanya Arjun, dia berdiri dan mulai makan satu ruas pizza dengan gigitan besar.


"Tuan, ini enak. Cobalah!" kata Arjun.


Dia tahu Chris sebenarnya lapar namun mereka dikejar waktu karena ada satu masalah besar yang terjadi.


"Lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Chris dengan dingin.


"Daddy tidak lelah?" tanya Catrin sambil makan. "Daddy mau Cat suapi?" tanyanya lagi.


Chris tidak menjawab, dia hanya mengabaikan anaknya itu. Catrin cemberut dan memasang wajah sedih. Jihan menghela nafasnya, tidak tahu harus bagaimana. Catrin merindukan ayahnya namun Chris tetap sibuk kapanpun itu. Jihan merasa kasihan padanya untuk kesekian kalinya. Karena itu dia segera memikirkan cara agar Chris mau makan bersama anaknya.


"Chris! Makanlah dulu." Jihan memberanikan diri untuk membujuknya.


Secara ajaib Chris berhenti, dia menoleh dan menatap Jihan dengan serius sehingga Jihan menduga dia marah.


"A-aku akan diam." kata Jihan cepat-cepat.


Dia segera fokus pada makanannya sendiri. Tidak berani melihat ke arah Chris lagi. Namun satu hal yang tidak disadarinya. Chris berjalan membawa laptopnya dan duduk disebelah Jihan. Membuat wanita itu tegang karena terkejut.


"Suapi aku." perintah Chris dengan tenang.


Jihan menelan salivanya dengan susah payah. Lalu mengambil satu sobekan pizza seukuran sekali gigit dan perlahan mengarahkannya pada mulut Chris yang terbuka.


Terdengar tawa Catrin sehingga Jihan menoleh padanya dengan wajah memerah. "Daddy jadi bayi mama!" serunya girang.


Arjun hampir saja kelepasan kalau saja tidak buru-buru menutup mulutnya. Bisa tamat riwayatnya jika Chris tahu dia menertawakannya.


"Kenapa memangnya? Kamu iri mama menyuapi daddy?" tanya Chris asal pada anaknya. Jihan bersyukur mata Chris masih fokus pada laptop. Kalau tidak akan memalukan melihat dia yang gugup dan memerah.


"Tidak! Cat sudah besar mana boleh iri!" seru anaknya.


Tampa sadar Chris tersenyum, Jihan yang hendak menyuapinya terpaku ditempatnya, itu adalah senyum pertama Chris yang dilihatnya sejak mereka menikah. Jihan sudah lupa kapan terakhir Chris tersenyum seperti itu, sebelum mereka menikah Chris hanya beberapa kali menunjukkannya. Itupun nyatanya hanyalah senyum palsu.


"Apa yang kamu lihat? Cepat suapi aku."


"Huh? Oh! Maaf!"


Arjun yang melihat interaksi mereka tersenyum dengan tulus. Dia begitu menyukai kepribadian atasannya itu yang mulai sedikit berubah. Arjun yang selalu mendampingin Chris dimanapun dan kapanpun kecuali dirumah, sangat tahu bagaiman Chris dimasa lalu. Gila kerja dan kerja. Dia terlalu kaku, angkuh dan dingin. Chris bahkan jarang menunjukkan ekspresi jika dia marah atau kesal. Karena itulah sosoknya selalu membuat orang takut padanya. Berbeda sejak dia menikahi Jihan, Meskipun masih sedikit, Arjun sadar tuannya mulai berubah.


Jihan dan Catrin pulang duluan karena Arjun akan pergi ke daerah tertentu untuk melakukan peninjauan proyek. Mereka memang turun bersama namun akan berpisah di parkiran. Catrin dengan riang menggandeng tangan Jihan dan Chris bersamaan. Terlihat raut bahagia dari wajah manis anak itu.


"Daddy, kenapa disana sangat ramai?"


Ketiganya menoleh pada pintu masuk lobi. Arjun memanggil salah satu security yang sudah berkumpul disama menghadang orang-orang yang tampaknya ingin menerobos masuk.


"Apa yang terjadi?"


"Maaf pak, mereka tiba-tiba saja datang entah dari mana. Mereka bilang ingin bertemu pak Chris."


"Usir mereka." perintah Chris.


Arjun mengangguk pada security itu dan menyuruhnya segera melakukan pengusiran dari pada hanya menahan mereka. Jihan yang tidak bisa menerima hal itu, tiba-tiba berlari menuju kerumunan.


Tentu saja semua orang terkejut. Catrin ingin mengikuti mamanya namun Chris menahannya.


"Ada masalah apa?" tanya Jihan. Dia berdiri dibalik pagar tangan yang diciptakan security.


"Kami minta tanah kami kembali. Kami tidak pernah mau menjualnya! Itu ladang penghasilan kami. Kalian orang serakah kembalikan hak kami!" teriak salah satu bapak-bapak dengan keras. Lalu yang lain ikut menyahut dan melontarkan perkataan yang sama.


Mereka tidak terlalu banyak, hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga dengan anggota keluarga lain. Jumlahnya tidak sampai 30 orang.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Jihan pada dirinya sendiri.


"Kamu siapa? Suruh pak Chris kesini kami ingin bicara!" teriak bapak tadi.


Jihan berbalik dan menatap Chris yang tetap diam pada tempatnya. Jihan kesal, dia berlari kembali dan berdiri di depan Chris. Menatapnya dengan wajah memohon.


"Temui mereka, mereka ingin bicara denganmu."


Chris tidak menanggapi, dia hanya menatap Jihan lalu beralih pada Arjun. "Hubungi Bayu, dimana dia?" tanyanya.


"Dia sedang menangani orang-orang yang membuat masalah di pabrik, Tuan. Beberapa anggota dibawahnya sedang kemari. Ah! itu mereka." Sekitar 10 orang lebih tiba dan memberi hormat dari jauh pada Chris sebelum menghampiri kerumunan. Memaksa mereka mundur dengan sedikit kasar dan penuh ancaman.


"Ayo pergi!"


Chris menarik tangan Jihan dan Catrin secara bersamaan. Jihan ingin memprotes namun sorot mata Chris yang dingin membuatnya bungkam.


Setelah memastikan mereka masuk, Chris menunduk dan berbicara dengan Jihan yang duduk di tepi lewat jendela yang terbuka.


"Hubungi aku ketika kalian telah sampai dirumah." katanya pada Jihan.


"Bagaimana dengan orang-orang itu? Kamu tidak boleh membiarkan begitu saja tuntutan mereka." kata Jihan dengan tegas. Bahkan Jihan berani menatap Chris dari jarak sedekat itu.


"Lion, pastikan keselamatan mereka." perintah Chris tampa menoleh, matanya masih menatap kedalam bola mata Jihan dengan tenang.


Tampa menjawab, Chris meluruskan tubuhnya kemudian berjalan menuju pintu mobil yang sudah disiapkan Arjun. Jihan menghembuskan napas melihat kepergian Chris. Dia kawatir pada orang-orang yang diusir dengan kasar seperti itu. Apalagi sebagian mereka sudah tampak tua dan rapuh.


Lion melirik wajah sendu Jihan dari kaca spion. Tampa basa basi, dia menyalakan mesin mobil dan membawa mereka pergi dari sana. Catrin yang kebingungan juga hanya diam. Anak itu akan mengerti situasi dengan cepat meskipun masih kecil. Dia hanya akan diam ketika orang dewasa menunjukkan wajah yang tidak bersahabat.