Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
77



Setelah memastikan Jihan sampai kerumah dengan selamat, Chris pergi lagi dengan alasan ada sesuatu yang harus ia selesaikan bersama Arjun. Meski Jihan bertanya, namun dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, seperti pembicaraan yang penuh teka-teki Chris sebelumnya, Jihan tidak bisa menangkap arahnya. Katika ia ingin tahu lebih banyak, Chris akan bisa membuat perhatiannya teralih.


Chris memang pergi mengurus sesuatu, mengurus seseorang yang mencoba masuk kedalam masalahnya. Memberi sedikit peringatan dini untuk tak mengusik urusannya.


Chris berdiri di tepi sebuah dermaga bersama beberapa orang-orangnya. Selain bertemu seseorang, dia juga punya urusan untuk mengawasi barang yang datang untuk pameran seni minggu depan. Sebuah barang langka bernilai fantastis. Chris memang tidak harus mengawasinya secara langsung, namun karena ia harus memeriksanya ketika barang itu tiba, dia ingin ada disana untuk meniadakan alibi jika barangnya palsu.


Setelah selesai dengan pemeriksaan, Chris memeriksa jam tangannya. Sepuluh menit sebelum waktu yang ia sebutkan. Namun tampaknya Chris tidak perlu menunggu. Seorang polisi dengan pangkat bintang satu baru saja tiba disana.


"Apa bisnis anda berjalan lancar, pak Chris?" tanyanya dengan ramah.


"Sangat baik, terima kasih atas perhatian Anda."


"Nah, bisakah kita langsung pada permasalahan?"


"Silahkan," sahut Chris tenang.


"Apa penjelasan Anda tentang kejadian yang saya sebutkan terakhir kali? Sampai sekarang, saya belum bisa menemui karyawan anda itu. Apa dia masih hidup?"


Chris tersenyum kecil. Dia sedang mencoba membaca karakter orang dihadapannya. Seseorang yang tidak mudah di gertak, salah satu polisi jujur. Ini mungkin akan sedikit menyulitkannya.


"Saya tidak tahu kenapa anda tidak bisa menemuinya. Tapi dia memang sedang mengambil cuti. Anda bisa memeriksa surat pengajuan cutinya." kilah Chris dengan lancar.


"Begitu? Saya akan memeriksanya nanti. Lalu, kenapa mereka saling menyerang. Karyawan anda sudah pasti tidak jujur, saya bisa merasakan itu. Apa yang coba kalian sembunyikan?"


Chris terkekeh pelan. Baru kali ini Chris bertemu polisi lurus menjurus ke polos seperti ini. Dia jadi teringat Jihan dirumah dan merindukannya.


"Bagaimana Anda bisa mendapatkan jabatan itu? Masalah karyawanku, bagaimana aku bisa tahu. Apakah mereka saling serang karena masalah pribadi atau hanya pertengkaran biasa, harusnya Anda lebih berhati-hati untuk tidak langsung mengganggu saya. Ini sungguh tidak nyaman bagi saya." Chris mengatakannya dengan nada penuh intimidasi walau bibirnya tersenyum kecil.


"Kami berhak meminta keterangan siapapun, dan maaf untuk ketidak nyamanan Anda." jawab polisi itu. Sepertinya dia tidak punya rasa takut sedikitpun.


"Kalau tidak ada pertanyaan lain, bisakah saya pergi sekarang? Keluarga saya sedang menunggu dirumah." Chris masih berusaha seformal mungkin.


"Tentu saja, saya akan menemui anda lain kali jika saya menemukan petunjuk lain. Terutama pada Anda, pak Arjun." polisi itu lalu beralih pada Arjun yang berdiri di sisi mobil, beberapa langkah dari mereka.


Arjun tersenyum lebar, lalu membungkuk tipis sebagai jawaban. Terkesan arogan dan menantang, tentu saja membuat polisi itu kesal. Namun dia hanya membalas dengan senyum ramah yang palsu sebelum pergi.


.


Chris menatap seorang manusia yang akhir-akhir ini suka sekali membuat masalah dengannya. Pria yang akhirnya membuka sendiri jati dirinya pada media. Bahwa dia adalah teman masa kecil Jihan.


Marcell hanya ingin bicara pada Jihan sebagai syarat menyerahkan rumah mertuanya dan aset Jihan yang ia ambil dari Alex. Chris memberinya satu kesempatan dengan sarat dia ada di antara mereka, tidak ada orang-orang dari geng mafia yang ikut, murni hanya mereka bertiga. Setelah Marcell menyetujuinya, mereka akhirnya berada disini. Di dalam privat room sebuah restoran. ?


"Katakan yang perlu kamu katakan, waktumu hanya sepuluh menit."


"Siapa yang tahu, Presdir." jawab Marcell.


Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, lalu menyodorkannya ke depan Jihan. "Aku tidak tahu, bahwa surat itu masih tersegel. Aku sedikit kecewa kamu tidak membacanya." ujarnya.


Jihan mengambil surat itu, melihat nama Rafi tertera di sudut amplop yang memiliki warna biru muda. Masih rapi seperti saat Jihan menyimpannya, Jihan memang meletakkannya di dalam kotak penyimpanan dengan rapi beserta beberapa surat lain.


"Maaf aku memeriksa semua barangmu untuk mencari tahu apakah kamu masih menyimpannya atau membuangnya. Aku pikir, dengan semua petunjuk, kamu akan mengerti jika kamu mengingat isi suratnya. Jadi aku penasaran, tapi ternyata kamu tidak membukanya. Itu benar-benar membuatku kecewa." lanjut Marcell.


"Apa pentingnya itu sekarang?" sela Chris, dia sudah mulai gerah. Bagaimana bisa ada orang yang terus terjebak dalam perasaan masa lalu seperti ini? Chris benar-benar merasa Marcell sangat bodoh.


Jihan menoleh, menggenggam tangan Chris dibawah meja agar tidak memulai perkelahian.


"Aku minta maaf untuk saat itu dan saat sekarang. Tapi saat itu, ayah melarangku dekat dengan siapapun. Jadi aku hanya menyimpan semua surat yang aku dapat. Lalu, kenapa kamu pergi saat itu? Kemana? Kami mengira kamu pindah, tapi aku baru ingat setelah ada guru yang menanyaiku sebelum ujian. Rasanya... dia bilang kamu keluar bukan pindah. Apa aku salah ingat?"


"Lalu... Kamu kemana?"


"Kamu pasti bingung kenapa aku bisa mendirikan perusahaan tampa modal pendidikan bukan?"


Jihan menggeleng dengan cepat. "Bukan itu!" katanya.


"Aku tahu kamu pintar, seingatku kamu cukup sering mengerjakan latihan di papan tulis."


"Cukup!" potong Chris, "Jika tidak ada yang penting, akhiri pembicaraan bodoh ini."


Marcell menoleh padanya. "Aku masih memiliki waktu empat menit." katanya, lalu dia beralih pada Jihan lagi.


"Yang mau aku sampaikan adalah, bahwa aku minta maaf membuatmu bingung akhir-akhir ini. Aku seharusnya jujur dari awal. Aku suka bermain, seperti seseorang yang kamu kenal saat ini." Marcell melirik Chris sekilas, membuat Jihan mengerutkan keningnya. "Kamu bisa berlari padaku jika sudah tidak tahan dengannya. Kita teman bukan?" lanjutnya. Dia berdiri dan mengancingkan jasnya yang tadi ia lepas.


"Sampai jumpa, Jihan. Presdir, perjanjian kita tentang pulau itu masih berlaku bukan? Aku tidak bisa mengembangkan sayapku sendiri saat ini, jadi mohon kerja samanya agar kita tetap pada jalur masing-masing."


Setelah berkata demikian, Marcell pergi. Meninggalkan luka hatinya di tempat itu setelah sekian lama terjebak di dalamnya. Tujuannya kandas, dia terhempas ke dinding jurang yang keras setelah lama melawan arus. Marcell hanya bisa mengikuti dan mematuhi aturan seseorang yang mengulurkan tangannya. Membuat dia terjebak pada kapal yang ternyata menyesatkannya terlalu jauh.


Pada awal kepulangannya ke Indonesia, Marcell berharap menemukan Jihan dalam keadaan masih sendiri, tapi ternyata saat itu ia telah menikah dengan seorang dokter. Lalu Marcell memulai bisnis kotornya. Dia tidak lagi memikirkan cinta masa kecilnya. Bahkan dia bermain dengan banyak wanita untuk melupakannya.


Terlalu sibuk dengan dunia gelapnya dan harus menutupi dirinya dari dunia orang normal, Marcell tidak sempat memikirkan tentang hatinya lagi. Sampai dia tidak sengaja mendengar nama Jihan disebutkan oleh seeorang yang sedang mabuk.


Flasback_


Marcell sedang duduk menikmati segelas minuman. Dia sedang berada disebuah Club malam milik organisasi mereka. Dimana Club itu dipenuhi oleh para penjudi dan pecandu. Semua transaksi kotor dilakukan dengan lancar disana.


Marcell sendiri sedang menunggu rekan bisnis narkobanya ketika seorang tamu vvip duduk tidak jauh dari tempatnya dalam keadaan mabuk. Dia terus meracau tentang nama Chris dan Jihan. Memaki kedua nama itu dan mengatakan akan membunuh Jihan untuk menghancurkan Chris.


Tentu saja Marcell terganggu, nama itu sangat spesial dihatinya. "Siapa dia?" tanyanya pada anak buahnya.


"Dia dari keluarga kaya, sepupu dari presiden MC grup saat ini."


"Pecandu lama?"


"Dia pesanan, Ketua."


"Pesanan?"


"Ya, seseorang memesan agar membuatnya menjadi pecandu judi agar telilit hutang, soal narkoba, dia sudah lama memakainya untuk bersenang-senang di kalangan mereka. Dia konsumen yang cukup loyal."


Marcell menatap sepupu Chris saat itu dengan tatapan tajamnya. Hatinya bergejolak ingin melepaskan tembakan pada kepalanya ketika nama Jihan keluar dari sana dengan cara yang tidak pantas.


"Siapa Jihan yang dia sebutkan? Istri Chris saat ini?"


Anak buahnya menunjukkan sebuah artikel yang memasang foto Jihan dan Chris yang menghadiri acara yang di adakan salah satu mentri. Melihat Jihan yang diucapkan pria dihadapannya dan Jihan yang disamping Chris adalah orang yang sama, urat-urat ditangannya mengeras karena mencengkram ponsel terlalu erat.


"Selidiki kehidupan Chris dan istrinya!" perintahnya. "Dan bawa dia keruangan khusus, aku ingin sekali menghajar orang sekarang setelah ini." tambahnya dengan raut mengerikan.


Flasback end_


Marcell mulai mencari tahu tentang Jihan lagi setelah itu. Nama Chris cukup dikenal di kalangan mereka karena hubungannya dengan para petinggi kepolisian dan para pejabat penting di kementrian. Orang yang membuat mereka cukup sulit menguasai wilayah hukum sejauh ini. Cinta yang selama ini berusaha ia hapus menyeruak seperti mata air yang menggenangi daratan hatinya.


Kini, Marcell mengingat semua usahanya, rahangnya mengeras. Mata itu menatap kosong ke arah jalanan. Sekretaris barunya tidak berani mengusiknya saat ini. Marcell menjadi lebih menakutkan akhir-akhir ini setelah Jihan jauh lagi darinya. Karena itu, Marcell sangat marah pada ketiga orang dari pihak mereka yang kini menjadi tersangka. Meski begitu, posisinya belum bisa menyentuh mereka karena Ebel membuatnya tidak terlibat sedikitpun.