Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
22



Bayu mendapatkan beberapa tangkapan layar dari cctv yang dikirimkan orang yang dibayarnya. Dia keluar dari ruang kerjanya dan pergi menuju bagian marketing. Dia mencari Feri dan melihat pria itu sedang fokus di depan layar komputernya, sedang mengetik sesuatu.


Bayu menepuk pundaknya pelan. Feri mendongak dan mengangkat sebelah alisnya. Bayu memberi kode agar dia mengikutinya. Tampa berkata apapun, Feri segera bangkit dan berjalan dibelakangnya.


"Kamu yang mengawasi nyonya Jihan saat di Jeju bukan?" tanya Bayu saat mereka berhenti pada sebuah lorong yang sepi. Feri memberikan anggukan singkat.


"Apa saja pembicaraan mereka?"


Feri menurunkan pandangannya, masuk kedalam ingatannya untuk mencari-cari apakah ada hal yang janggal.


"Seingatku Jouji ini sangat perhatian padanya. Seperti yang aku katakan sebeumnya pada Arjun, tuan sampai bertengkar dengan Jouji dan tidak sengaja melukai nyonya Jihan. Dari pbicaraan itu tidak ada yang mencurigakan. Mungkin yang terdengar berkesan hanya pengakuan aktor itu. Dia mengakui perasaannya pada Nyonya Jihan meskipun tidak ditanggapi."


"Pengakuan?" ulang Bayu.


"Ya, dia seperti sangat menyukai nyonya Jihan. Padahal dia tahu dia sedang mendekati istri orang tapi berani terang-terangan seperti itu ... Aku cukup heran padanya."


"Mengingat riwayat dan latar belakangnya, sangat aneh dia jatuh cinta dan membuat pengakuan secepat itu."


"Kamu mencurigai sesuatu?"


"Aku tidak punya bukti. Apa tuan tahu mengenai hal ini?"


Feri menggeleng sekali, "Aku tidak tahu, aku melaporkan pertemuan itu pada Arjun tapi tidak menjelaskan rinciannya. Mungkin belum?" jawabnya dengan bahu terangkat sedikit.


Bayu memgangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia segera pergi dan masuk ke dalam lift menuju lantai dimana ruang Chris berada.


Arjun berhenti pada langkahnya ketika sudut matanya menangkap kehadiran orang lain. Dia menoleh dan mendapati Bayu sudah berdiri menatapnya.


"Apa tuan sudah tahu bahwa Jouji membuat pengakuan saat di Jeju?"


"Pengakuan ap-maksudmu dia ... tidak! Tuan tidak tahu. Aku saja baru tahu!" jawab Arjun dengan wajah tidak percaya. "Wah, pria gila itu! Bagaimana bisa dia mengakui perasaannya pada wanita yang sudah menikah?" lanjutnya.


"Aku pikir dia tidak benar-benar menyukai istri tuan Chris. Dia masih sering mengunjungi mantan istri tuan, beberapa kali tertangkap oleh perawat jaga kalau dia menangis. Menurutmu apa yang coba ia lakukan?"


"Maksudmu ... dia mungkin__"


"Ya, aku pikir tuan harus tahu hal ini." potong Bayu.


Arjun mengangguk tapi segera menggeleng sesudahnya.


"Jangan sekarang, dia sedang dalam suasana hati yang baik. Aku pikir tuan kita itu sedang jatuh cinta." kata Arjun dengan senyum senang.


"Tuan? Jatuh cinta?" ulang Bayu.


Nadanya penuh sangkalan, seolah kata jatuh cinta yang disematkan pada nama Chris adalah hal langka dan tidak mungkin terjadi di dunia ini.


Arjun tidak sempat menanggapinya lagi karena telepon berdering. Dering itu adalah isyarat bahwa Chris menyuruhnya segera datang. Bayu menatap pintu yang tertutup dengan wajah bingung. Kata jatuh cinta terus terulang di kepalanya seperti kaset rusak.


.


Chris mengulurkan tangan meminta berkas yang Arjun pegang. Dengan cepat Arjun memberikannya dan menatap Chris dengan was-was.


"Ini cukup, ayo pergi!"


Arjun mengikuti langkah Chris dan mengambil kembali berkas yang di letakkan Chris di atas meja. Berjalan cepat karena Chris tampak terburu-buru.


"Tuan, kita masih punya waktu 1 jam lagi sebelum pertemuan."


"Aku memajukan waktunya!" sahut Chris.


Arjun melotot horor akan jawaban Chris. Itu artinya ada perubahan jadwal. Arjun segera memeriksa tabletnya dan akan mengganti daftar jadwal Chris.


"Kenapa anda memajukan jadwal anda Tuan?" tanya Arjun penasaran.


"Aku ingin cepat pulang."


"Besok bumi masih terbit dari timur kan Tuan?"


"Tutup mulutmu!" kesal Chris karena Arjun yang berani mengejeknya.


"Apa anda punya rencana dirumah? Kencan mungkin?" pancing Arjun lagi.


Chris meliriknya dengan lirikan super tajam. Arjun segera diam dan membuat gekstur mengunci mulutnya.


Sementara itu Jihan sedang berkumpul dengan ibu-ibu sosialita menggantikan mertuanya yang sedang tidak enak badan. Jihan tidak mengenakan barang dengan merk brand terkenal manapun. Dia lebih suka memakai hasil karya anak bangsa. Karena itu, banyak dari mereka yang memandangnya dengan sebelah mata.


Kesialan datang dari wanita yang pernah merayu suaminya. Jihan tidak tahu jenis hubungan apa yang mereka miliki di masa lalu. Tapi kehadiran wanita itu di sana membuatnya benar-benar merasa jauh lebih buruk.


"Ini pertama kalinya istri presdir MC ke arisan kita. Aku merasa sangat terhormat dia mau hadir. Tapi aku dengar ... yang ikut arisan hanya ibu Diana, kenapa anda tidak bergabung ibu Jihan?" tanya salah satu wanita disana. Tampaknya dia adalah wanita yang cukup berpengaruh pada perkumpulan ini.


"Mingkin karena tidak terbiasa bu Karina ... dia asalnya bukan dari sosial seperti ini."


Jihan melirik wanita itu. Dia tersenyum selayaknya ular betina. Jihan melihat reaksi semua wanita disana. Dari yang masih muda sampai yang sudah seumuran mertuanya. Semuanya menatap Jihan dengan berbagai pandangan.


"Maafkan aku karena tidak pernah ikut bergabung. Aku adalah orang yang sedikit canggung. Bolehkah aku tahu siapa anda? Kita pernah bertemu sebelumnya tapi tidak sempat berkenalan." kata Jihan.


Seketika senyum wanita itu sirna, berganti dengan wajah kaku.


"Kalian pernah bertemu? Dimana?" tanya seorang wanita yang terlihat lebih muda, dia duduk tepat di hadapan Jihan.


Wanita itu seperti tupai yang melompat dan berhasil hinggap tepat pada dahan yang ia inginkan. Tersenyum samar penuh minat saat melihat wajah kaku wanita yang tadi menyerang Jihan.


"Di gedung perusahaan suamiku. Aku pikir dia rekan bisnis, Apa aku salah?"


"Dia Bianka, anak dari aktris yang juga memiliki beberapa usaha kuliner." Wanita itu melirik Bianka dengan remeh dan mengulum senyum palsu pada semua orang. "Siapapun tahu rahasia ini bukan?" tanyanya.


"Rahasia apa?" tanya Jihan dengan cepat.


"Ehm! Jangan membicaraan perbuatan yang tak bermoral. Ayolah anak-anak, kita mulai saja." potong wanita yang paling tua diantara mereka.


Jihan cukup mengerti sebenarnya. Namun dia hanya berpura-pura tidak tahu. Lihatlah bagaimana semua mata memandangnya seperti sampah. Seolah status yang ia miliki tak berpengruh sama sekali.


Jihan pamit ke kamar mandi karena merasa sangat gerah. Hati dan pikirannya tiba-tiba menjadi panas. Dia ingin mencuci wajahnya dan menyegarkan pikirannya dari wajah-wajah menyebalkan di sekelilingnya.


Kamar mandi hotel itu cukup jauh. Dia harus berjalan beberapa meter dari pintu masuk aula yang mereka sewa. Jihan tidak sadar, bahwa ada dua pasang mata yang menangkap keberadaannya dari sebuah restoran disana.


Dua orang itu adalah Chris dan Arjun yang sedang bertemu rekan bisnis mereka untuk sekalian makan siang bersama. Chris menoleh pada Arjun sepersekian detik, meminta jawaban atas keberadaan istriny disana. Arjun segera menghubungi orang yang selalu mengikuti Jihan kemanapun. Setelah mendapatkam jawaban, dia membisikknnya pada Chris.


Chris tampak tidak menyukai kabar yang ia dengar. Arjun juga sangat tahu apa yang dikawatirkan atasannya itu. Masalahnya mereka sedang berada dintengah rapat dan tidak bisa pergi begitu saja.


Jihan menyadari ada yang masuk. Dia memasang wajah tidak peduli saat wanita yang tadi memberitahu identitas Bianka itu berdiri di sampingnya. Ikut mencuci tangan dan merapikan penampilannya.


"Kamu tahu kenapa Bianka masih berani datang ke kantor suamimu walaupun dia tahu partner kencannya sudah menikah?"


Jihan tidak menjawab, mendengarnya saja sudah membuat ia muak.


"Itu karena Chris sangat terkenal dikalangan wanita. Dia dikenal dengan pria bebas. Pernikahan tidak bearti baginya. Dia masih bisa berkencan dengan siapapun. Apalagi dia hanya menikahi wanita dengan latar belakang rendah, tentu saja banyak wanita yang akan terus menggodanya."


Usai berkata demikian, wanita itu pergi begitu saja. Meninggalkan Jihan dengan segala kekacauan. Kakinya terasa berat untuk kembali kedalam ruangan itu. Ini bukan dunianya, Jihan sama sekali tidak menyukai lingkungan seperti ini. Dia merasa tercebur dalam kubangan kotor. Belum lagi menyadari fakta bahwa suaminya adalah seorang yang tidak peduli pada dosa besar seperti itu.


"Tenang Jihan, abaikan dan pulang." bisiknya untuk menghibur diri sendiri.


Matanya memerah menahan tangis. Beruntung kamar mandi itu sepi. Dia berusaha menahan gejolak dan rasa sakit didalam hatinya. Memukul dadanya beberapa kali ketika bayang-bayang pernikahan masa lalunya kembali.


Jihan membasuh wajahnya sekali lagi. Mengeringkannya dengan tisu. Memoles bedak seadanya dan menarik nafas untuk menenangkan diri. Dia meyakinkan diri bahwa bisa saja wanita itu berbohong padanya. Dia tidak boleh memakan informasi itu mentah-mentah. Jihan menyabarkan dirinya dan menguatkan hatinya untuk kembali kedalam ruagan itu.


Dia bisa saja pulang dan memberi alasan pada mertuanya. Namun rasa penasaran akan suaminya dimasa lalu begitu mengganggu. Jihan tahu harusnya ia tidak perlu melakukan ini, namun hatinya tidak bisa menahannya. Dia ingin mendengar penilaian lain dari wanita yang ada disana. Satu saja, hanya satu hal yang membuatnya memiliki kepercayaan diri untuk tetap bertahan pada perasaannya.


'Aku ingin berjuang, aku ingin mempercayai bahwa dia sudah mulai berubah.'