Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
75



Setelah kunjungan pada ibu Chris selesai, Jihan merasa amat bersalah untuk melakukan ijab kabul kembali tampa kehadirannya. Walaupun Jihan tahu ibu Chris pada akhirnya tidak menyukainya, melakukan hal besar ini saat dia tidak berdaya, merupakan hal yang membuat hatinya tidak tenang.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Ijab kabul telah selesai di laksanakan siang ini, mereka juga mengadakan acara makan bersama di rumah itu. Chris hanya mengundang beberapa kolega dan jeluarga besar mereka. Meskipun Chris tidak menyukai sebagian besar keluarganya, dia tidak mungkin mengabaikan kehadiran mereka saat banyak mata menyorotinya.


Jihan menoleh, mereka masih berada di dalam kamar. Sedang bersiap-siap untuk turun kebawah.


"Bukan apa-apa, hanya menghawatirkan Mama," jawabnya.


Chris yang sedang merapikan kemejanya menghampiri Jihan yang duduk di depan kaca. Memegang kedua pipinya dan memaksanya untuk mendongak.


"Dia tidak menyukaimu, apa yang perlu kamu pikirkan dari orang yang tidak menyukaimu?"


"Tapi dia ibumu, kamu tidak boleh mengabaikannya."


"Aku tidak mengabaikannya, Jihan. Hanya saja kalau menunggu sampai Mama sembuh, aku tidak bisa. Apa kamu mau membuatku tersiksa terus?"


Jihan melepaskan diri dan mengalihkan pandangannya. "Kapan aku menyiksamu?"


"Tentu saja, kamu tidak pernah. Aku yang menyiksa diriku sendiri karena rasa cemburu dan kerinduan. Ya, kalau dipikir-pikir aku konyol juga."


Mendengar nada bicara Chris yang agak ketus dan kalimat berisi sarkas seperti itu, Jihan berdiri dan reflek memegang lengan Chris dengan kedua tangannya.


"Maaf! Maafkan aku. Kita tidak boleh berdebat sekarang, kita harus bertemu banyak orang."


"Kamu yang mulai, apa aku batalkan saja acaranya, Alex bisa mengusir mereka semua."


Tentu saja itu hanya ancaman tak bearti karena rasa kesalnya, tapi karena ekspresinya yang kelewat serius membuat Jihan tidak menyangka itu hanya permainan kata dari pria yang kini kembali jadi suaminya itu. Lihat saja, wajahnya sangat panik dan menunjukkan penyesalan.


"Jangan begitu, mereka sudah datang. Ini hanya masalah kecil, aku yang salah bicara. Maaf ya! Hmm?"


"Masalah kecil?" ulang Chris.


Jihan terperangah, dia tidak menyangka akan salah bicara lagi. Dia bahkan seperti melihat sosok lain dihadapannya saat ini. Chris jarang mempermasalahkan hal remeh seperti ini, jadi Jihan merasa dia sedikit berubah.


"Chris, jangan berlebihan...."


Tapi Chris diam saja, dia hanya menatap Jihan dengan datar.


"Ak-aku... Minta maaf."


Perkataan dan reaksi yang menunjukkan Jihan mengalah. Chris tertawa dalam hati karena merasa menang. Jadi dia ingin sedikit menggoda Jihan.


"Berikan aku tanda maaf agar hatiku kembali merasa baik."


'Ya ampun, kenapa jadi begini. Padahal awalnya tadi tidak membahas tentang kami.' monolog Jihan.


Dia bingung mengapa pembahasan kecil tentang kekawatirannya malah membuat mereka bertengkar kecil.


"Kamu mau apa?"


"Aku tidak tahu, apa yang harus dilakukan seorang istri saat suaminya marah."


Telinga Jihan memerah, dia memang belum mengenakan jilbabnya, jadi Chris bisa melihat wajahnya yang memerah sampai ke telinga. Kontras sekali dengan kulit putihnya.


Jihan memeluknya, menepuk-nepuk punggung Chris seperti dia menenangkan Azam ketika menangis. Chris ingin tertawa, namun dia tidak ingin merusak momen ini.


"Aku juga butuh ini."


Setelah mengatakan itu, Chris mencium istrinya itu. Ciuman pertama mereka setelah menikah lagi. Ciuman yang bukan berisi nafsu, tapi lebih pada menyalurkan perasaan masing-masing yang selama ini mereka pendam. Apalagi Chris yang telah menahan banyak hal dalam dirinya. Kemarahan, kecemburuan, kerinduan bahkan dendam yang akhirnya ia hapus karena cintanya yang jauh lebih besar.


.


Acara dilakukan di taman belakang rumah, tepatnya di tepi kolam renang yang telah di hias secantik mungkin. Setelah menyapa tamu dan mengucapkan terima kasih, Chris bergabung dengan Mr. Tanaka yang sengaja datang jauh-jauh dari jepang. Dia datang bersama sang anak yang sudah menetap di Indonesia, Tsuzu. Wanita anggun yang sempat membuat Jihan cemburu.


"Senang bertemu lagi denganmu, Jihan." kata Tsuzu dengan senyum ramah.


"Oh, iya. Aku juga..."


"Jangan canggung, aku ingin jadi temanmu lho. Karena kesibukan aku belum sempat menemuimu. Saat aku ada waktu, seseorang menghalangiku. Sepertinya dia tidak ingin aku memberi pengaruh buruk padamu." ujarnya. Tersenyum ramah namun lirikan matanya pada Chris cukup sadis.


"Hmm? Siapa yang... "


"Jangan dengarkan dia, Jihan. Nikmati waktu kalian. Kami akan menyapa yang lain." potong Chris, menarik Jihan pergi dengan meraih pinggangnya.


"Ayah, Jihan itu hebat sekali. Semoga Chris tidak bermain api dibelakangnya seperti seseorang yang aku kenal." kata Tsuzu, dia tersenyum lebar tapi matanya sangat dingin.


Jihan bergabung dengan Meri ketika Chris sedang berbicara dengan rekan bisnisnya yang lain. Semua tampak baik-baik saja sebelum seseorang yang tidak di undang hadir disana.


"Jihan?"


Jihan menoleh, matanya melotot dengan ekspresi terkejut. Marcell berdiri di depannya bersama dua orang yang terlihat seperti bawahannya.


"Bagaimana bisa kamu tidak memberitahuku tentang hal ini? Padahal aku menunggumu."


Jihan tidak bisa meniawabnya, dia benar-benar lupa tentang Marcell karena disibukkan oleh urusannya sendiri. Apalagi dua hari ini dia seperti dijauhkan dari kasus yang melibatkan dirinya. Tentu saja, Chris mengaturnya dengan baik.


"Aku..."


Jihan melirik kiri dan kanan, berusaha menemukan keberadaan suaminya.


"Bukankah dia pria yang dikabarkan dekat denganmu, Jihan?"


"Itu hanya rumor. Kami hanya rekan bisnis."


"Benarkah? Aku dengar kalian juga teman sekolah? Apa aku salah pak Marcell?"


Marcell melirik wanita tua yang terlihat sangat angkuh disamping mereka itu. Sekali lihat, Marcell sudah tahu jenis wanita seperti apa dia.


"Dan siapa Anda?" tanyanya datar.


"Oh, kenalkan, aku bibi Chris."


Marcell mengabaikan tangan yang terjulur padanya itu, membuat bibi Chris menahan amarahnya dengan melebarkan senyumnya.


"Apa perusahaan kecil itu membuatmu sedikit sombong, nak?" ujarnya dengan nada penuh ancaman.


Marcell tidak menjawab, dia beralih pada Jihan yang bingung dengan situasi dihadapannya.


"Jihan, aku datang karena sulit sekali untuk menghubungimu. Aku akan mengucapkan selamat padamu. Tapi aku punya sesuatu yang harus aku sampaikan. Bisakah kita bicara secara pribadi?"


"Sayangnya aku tidak mengizinkannya."


Tiba-tiba Chris telah berada di samping Marcell, melewatinya dan berdiri di samping Jihan. Menarik pinggang Jihan untuk mendekat padanya. Menunjukkan suatu kepemilikan dan otoritas yang kuat.


"Terima kasih telah hadir walaupun aku tidak ingat kapan mengundangmu."


Marcell tersenyum tipis. Meski begitu, garis wajahnya menunjukkan kemarahan.


"Ini hanya pembicaraan ringan antar teman, jangan terlalu berlebihan. Aku hanya perlu meluruskan sesuatu."


Seluruh mata kini mengarah pada mereka. Chris tidak ingin menghancurkan acara bahagianya. Sehingga ia menahan diri. Marcell juga menyadari hal itu, namun dia tidak perduli seolah bukan apa-apa baginya. Yah, tentu saja. Dia memang bertujuan untuk sedikit membuat keributan disana.


"Tolong kirimkan pesan saat kamu ada waktu. Aku harus pergi karena ada urusan. Selamat untukmu, Jihan." ujar Marcell.


"Sungguh tontonan yang menghibur." sindir bibi Chris ikut pergi.


.


Begitu acara selesai dan tamu sudah pulang semua. Chris meninggalkan seluruh keluarga Jihan, keluarga kecil Arjun, Meri dan Alex di ruang keluarga.


"Jihan, kamu tidak mau membujuk suamimu? Sepertinya dia masih marah setelah kedatangan pak Marcell tadi." bisik Meri, namun cukup jelas di dengar Alex yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Dia bahkan langsung mengomel padaku karena kecolongan. Mana aku tahu, kami sibuk dengan pestanya." ujarnya dengan santai.


"Sebaiknya kamu susul dia, kami juga akan segera pulang," kata Arjun ikut bergabung.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya ibu Jihan.


"Tidak ada Bu, Ibu dan Ayah segeralah istirahat. Azam juga." jawab Jihan, lalu dia memohon izin untuk segera pergi naik ke kamarnya.


Sesampainya dikamar, Jihan mendapati Chris sedang menelepon seseorang. Menyadari Jihan masuk ke kamar mereka, Chris mematikan sambungan telepon begitu saja.


"Apa aku mengganggumu?"


"Tidak, kemarilah." jawabnya.


Chris sedang berdiri di balkon yang menghadap ke taman belakang. Memeluk Jihan dengan erat seolah mereka baru saja bertemu setelah berpisah sangat lama.


"Ada apa denganmu?"


"Kamu masih bertanya? Istriku dingin sekali." Jihan mengernyit.


'Apa dia dalam mode aneh lagi? Mode kekanakan seperti tadi?'


"Aku benar-benar tidak tahu. Apa karena Marcell tadi?"


Chris melepaskan pelukannya, menatap Jihan dengan serius. "Kamu tidak menyukainya kan?"


"Kamu sudah pernah bertanya hal ini."


"Jawab saja,"


"Tidak, tidak pernah."


"Saat sekolah, kamu pernah tertarik padanya?"


"Aku saja lupa apa dia benar-benar teman sekolahku, aku tidak ingat."


"Bagus! Jangan pernah menemuinya."


Chris memeluknya lagi, lalu mereka bersama-sama masuk kedalam kamar kembali, udara diluar cukup dingin dan Chris tidak menyukainya.


"Tapi, Chris, kalau ternyata pengirim paket itu dia. Menurutmu apa tujuannya?" tanya Jihan, dia sedang melepas pakaian luarnya. Menyisakan baju kaus pendek dan celana berbahan kain selutut.


"Kamu sungguh ingin membahas itu sekarang?" tanya Chris dengan wajah tidak percaya.


Menyadari kesalahannya, Jihan tersenyum malu. "Maaf, aku akan membahas tentang kita saja." kekehnya.


Chris sebenarnya masih marah, namun tidak ingin memperpanjang masalah. Ini malam mereka dan dia tidak ingin merusaknya dengan kecemburuan yang menggerogoti hatinya. Dia merentangkan tangannya dan Jihan memelukanya dengan erat.


Menurunkan ego lebih baik dari pada mempertahankan pendapat pribadi. Chris belajar dari masa lalunya sendiri. Bahwa dia tidak harus menunjukkan sikap buruknya pada Jihan.


Dia hanya harus menjadi orang yang berbeda dan baik dihadapan keluarganya kelak. Meskipun ia sadar, bahwa dia seperti manusia bermuka dua. Chris tidak peduli. Karena baginya, mendapatkan Jihan jauh lebih penting dari pada bersikap sebagai dirinya sendiri. Karena dia adalah pria kejam yang penuh kelicikan, manipulatif dan arogan, segala sifat buruk mungkin ada padanya. Namun dalam hati kecilnya, Chris hanya ingin bahagia. Mungkinkah akan ia dapatkan dengan caranya saat ini?