Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
40



Chris membuka pintu rumah dengan kasar. Pelayan yang hendak membukakan pintu untuknya bahkan terdorong mundur. Wajahnya sangat mengerikan. Jihan yang mendengar kegaduhan dibawah keluar dari kamar Catrin dan menggendong anak itu keluar. Melihat Chris dari balkon lantai dua.


Pandangan mereka bertemu. Melihat Catrin yang masih terisak, amarah Chris semakin memuncak. Dia naik dengan cepat dan mengambil paksa Catrin dengan kasar. Meletakkan anak itu ke lantai yang langsung didekap oleh pengasuhnya.


Jihan menatap Chris dengan syok dan juga marah. "Jangan menyentuhnya, anak ini harus pergi dari rumah ini secepatnya." desis Chris.


"Ada apa denganmu? Kenapa dengan Catrin?"


"Bawa dia masuk!" perintah Chris pada pengasuh Catrin.


Chris menarik tangan Jihan untuk naik ke lantai tiga. Membawanya masuk kedalam kamar dan memeluknya dengan erat. Menumpahkan segala kegelisahannya.


Jihan sama sekali tidak bereaksi. Dia tidak balas memeluk suaminya. Dia hanya diam dengan wajah bingung dan marah.


"Dia bukan anakku. Catrin bukan anakku." bisik Chris ditengah pelukannya. Tangan besarnya mengusap kepala Jihan dan semakin menariknya lebih erat ketika Jihan hendak melepaskan diri.


"Apa maksudmu? Jelaskan padaku!"


Chris menatap dinding dengan frustasi. Jantungnya berdetak tak karuan dan dia dipenuhi kekawatiran. Chris terlanjur meletakkan hatinya dan dia mulai gila akan pikirannya sendiri.


"Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi." gumamnya, dia memang mengatakannya dengan nada biasa, namun sorot matanya sungguh menakutkan.


Perlahan, Chris menutup matanya, lalu membukanya lagi. Sorot mengerikan itu berubah sedikit lebih bersahabat, lebih hangat dari sebelumnya.


Mengajak Jihan duduk di sisi ranjang, Chris mulai menceritakan apa yang terjadi. Fakta yang baru saja terungkap tentang Catrin.


"Tadinya aku mencari Mama, tapi tampaknya dia pergi."


"Selarut ini? Mama pergi kemana?"


"Saat rumah menjadi kacau, dia akan pergi dan memutuskan segala sesuatu sendirian. Aku terlambat untuk menemuinya." Jihan mengerutkan kening, menangkap sesuatu yang janggal tapi tidak tahu apa.


"Kemana?" tanyanya.


Chris menoleh, "Tidak ada yang tahu. Bayu tidak akan memberitahuku. Kesetiaannya untuk ibuku."


Jihan ikut menoleh, ekspresinya jelas menunjukkan betapa dia tidak mengerti akan hubungan ibu dan anak di antara mereka. Chris tersenyum masam. Lalu berbaring di pangkuan Jihan. Menenggelamkan wajahnya keperut Jihan dan memeluknya erat.


"Masa laluku sangat suram bukan? Maafkan aku. Tapi apapun rencana ibuku. Sudah jelas dia akan membawa ****** itu masuk kerumah ini. Perlahan, dia akan membuatmu pergi dariku."


Deg!


Seperti tersambar petir, tubuh Jihan menegang. Dia pikir ibu mertuanya menerimanya selama ini setelah melihat perlakuannya. Meski tujuan awalnya sangat buruk, Jihan bisa merasakan pada akhirnya ibu mertuanya menerimanya sebagai keluarga, bukan hanya pengasuh.


'Apa bagi mereka pernikahan hanya bagian dari permainan tak bearti?' monolog Jihan.


Jihan tertawa hambar, terdengar seperti tawa ejekan untuk dirinya sendiri. Chris bangun, menggenggam kedua tangannya. Menatap kedua bola mata Jihan dengan penuh harap.


"Jangan mencoba lari, Apapun yang akan dilakukan Mama, aku tidak akan diam saja. Sudah cukup selama ini dia mengendalikan hidupku."


Jihan yang semula menatap udara kosong, beralih membalas tatapan suaminya. "Aku sungguh tak mengerti kalian. Apa keluarga ini hanya memandang orang lain sebagai bisnis? Bahkan kamu ingin Catrin pergi. Dia tidak salah apapun tapi kalian membuangnya begitu saja."


Jihan turun dari ranjang dan meraih tas dan ponselnya. "Mau kemana? Jangan harap kamu bisa pergi dariku!" ucap Chris dengan nada dingin.


Jihan menatapnya nyalang. Perubahan Chris yang seperti roller coster membuatnya frustasi. "Setelah mendengar semuanya, apa kamu pikir aku masih punya keinginan untuk tinggal disini? Aku pasti gila jika melakukan hal itu!"


Jihan membuka pintu kamarnya. Dia akan melangkah keluar ketika langkahnya terhenti begitu saja. Ibu mertuanya sudah berdiri di depan pintu. Entah sejak kapan, apakah dia mendengar semua pertengkaran mereka, Jihan tidak peduli. Dia hanya tidak ingin berada dirumah ini lagi.


Chris yang melihat ibunya, segera berdiri tepat disamping Jihan. Takut jika ibunya akan melakukan hal diluar batas. Chris sangat tahu sifat ibunya.


"Mama disini?" tanya Chris datar, dia cukup takjub ibunya tidak menghindarinya ketika akan membuat keputusan yang tak disukainya.


"Kenapa aku harus bersembunyi. Aku tidak akan membuatmu marah." sahut ibunya dengan tenang.


Terdengar tangisan Catrin dan suara orang lain dari lantai dua. Jihan segera berlari turun. Chris hendak turun, namun dicegah ibunya. Dia menatap Chris dengan tajam.


"Jangan melakukan kesalahan apapun, Chris. Sejak awal pernikahanmu hanya untuk tujuan kecil. Tapi karena anak yang aku kira cucuku telah pergi, tidak ada alasan baginya tetap disisimu bukan? Kamu akan kembali bebas."


"Jangan pernah berpikir aku akan menceraikan Jihan. Tidak peduli Mama membawa ****** itu dan anaknya masuk, aku tidak akan pernah melepaskan istriku."


Chris pergi setelah menyentak lengannya yang di pegang oleh sang ibu. Menuruni tangga menyusul Jihan. Ibunya hanya tersenyum masam. Dia ikut turun dan menyaksikan drama yang terjadi di lantai dua. Dimana ibu Jouji yang ternyata dibawa oleh ibu Chris, sedang membujuk Catrin untuk ikut dengannya.


"Jangan memaksanya, dia masih anak-anak! Dia sama sekali tidak mengerti!" bentak Jihan yang telah muak dengan siapapun di hadapannya.


Jouji yang telah diberitahu oleh Jordi, juga tiba disana setelah kekacauan yang ada. Jihan mengambil Catrin yang langsung memeluknya, lalu membawa anak itu turun.


"JIHAN!"


Langkah Jihan terhenti seketika. Tiba-tiba saja kakinya gemetar ngeri karena teriakan Chris yang menggelegar. Jordi segera bertindak cepat, mengambil Catrin yang tiba-tiba pingsan setelah teriakan Chris membuat ngeri semua orang.


Nafas Chris memburu. Dia hendak meraih tangan Jihan untuk menariknya kembali, namun Jouji menghalangi mereka.


"Kamu membuatnya ketakutan, brengsek!" desis Jouji. Semua orang tampak menegang kecuali ibu Chris. Wanit tua itu hanya berdiri tenang di ujung tangga menyaksikan semuanya.


"Menyingkir sebelum aku mematahkan setiap kaki dan tanganmu."


Dejujurnya, Jouji sedikit gentar. Chris memiliki tubuh yang lebih tinggi dan besar darinya. Jouji juga sangat tahu Chris memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Namun rencana tetap rencana, dia harus melakukannya.


"Cegah mereka!" perintah Chris pada dua orang yang baru masuk. Mereka adalah para pengawal yang bertugas diluar rumah.


Jordi dan Jihan terhalang di depan pintu yang terbuka lebar. Dihadapan mereka dua pria tinggi besar menghalangi. Chris melangkah maju, mendorong Jouji kasar dan hendak meraih Jihan. Namun dua pengawal yang tadinya menghalagi Jihan kini berbalik menghalanginya.


Chris menggeram marah, dia berbalik dan menatap ibunya dengan penuh amarah. Jelas itu adalah perbuatan ibunya.


"Kalian semua bisa pergi. Aku harap hubungan kekeluargaan bisa tetap baik. Jordi, lakukan tugasmu." ujar ibunya dingin.


Chris diliputi amarah. Tubuhnya bergetar marah dan akhirnya mengamuk. Melawan dua pengawal itu. Semuanya, ibu Jouji, Jordi yang membawa Catrin dan Jouji segera melangkah pergi.


Tapi Jihan terpaku pada tempatnya. Menyaksikan kemarahan Chris yang berusaha dihentikan. Jihan terlihat kawatir, ingin kembali namun sebuah tangan menariknya pergi. Jouji kembali dengan cepat untuk membawanya pergi.


Sementara Chris yang telah berhasil melumpuhkan kedua pengawal itu, berdiri dengan tangan terkepal dan napas beratnya. Dia belum kehabisan tenaga namun cukup lelah setelah melumpuhkan semua pengawalnya sendiri. Dia hendak menyusul namun langkahnya terhenti sekali lagi.


Tampaknya sang ibu tak main-main. Diluar lebih banyak orang yang menghalanginya. Bayu, ada di barisan paling depan di antara mereka. Menunduk penuh hormat pada atasannya. Ada rasa sesal dalam sorot matanya namun tak menyurutkan langkahnya untuk menghentikan Tuannya.


.


Jihan menangis tersedu-sedu di dalam mobil yang dikendarai oleh Jordi. Jouji dan ibunya berpisah dengan mereka di jalan. Jihan menangis sampai dia lelah dan tertidur.


Jordi menepi dan menghubungi seseorang. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit. Sebuah mobil tiba dan dua orang turun dari sana. Mereka adalah Meri dan Haris.


"Ji... Jihan." panggil Meri.


Jihan membuka matanya yang terasa berat. Dia memeluk Meri segera ketika melihat sahabatnya itu. Kembali menangis disana.


"Tidak apa-apa. Kamu akan baik-baik saja." hibur Meri dengan mengulang perkataan yang sama.


Mereka pergi dengan mobil Haris malam itu juga. Haris membawa mereka keluar kota. Jihan tidak mengatakan apapun disepanjang jalan. Dia juga tidak bertanya bagaimana Meri dan Haris bisa menjemputnya bersama. Apakah Jordi terlibat rencana ibu mertuanya atau tidak, Jihan tidak ingin tahu lagi. Dia hanya ingin tidur dan menenangkan dirinya.


Sementara itu, Chris berhadapan dengan ibunya. Menatap wanita yang melahirkannya itu dengan dingin dan nyaris kosong.


"Aku bukan anak TK yang bisa ibu kendalikan terus menerus. Aku menghormatimu, tapi untuk kali ini, tampaknya Mama menginginkan kita menjadi musuh."


Ibunya tersenyum, menikmati teh hangat di taman belakang dengan santai setelah apa yang terjadi. Bahkan tangan Chris masih penuh luka setelah menghajar banyak anak buahnya sendiri yang berusaha menghalanginya.


"Tentu saja aku tahu, Nak. Buktinya kamu tidak menyerangku lagi ketika marah. Aku tidak perlu mengungsi untuk menghindari amukanmu seperti dulu." jawabnya. "Jihan memberi pengaruh yang baik untukmu, bukan?" lanjutnya.


Chris yang enggan duduk dan masih berdiri, semakin mengeraskan kepalan tangannya. Melirik Bayu yang berdiri di belakang ibunya. Wajah Bayu memiliki beberapa memar akibat pukulan Chris yang tak berhasil dihindarinya.


Bayu tidak menatapnya, dia tetap menunduk penuh hormat. Tentu saja Chris masih geram padanya. Meskipun tahu Bayu hanya mengikuti perintah ibunya. Namun keinginan untuk melumpuhkannya begitu besar. Karena Chria tahu, Bayu adalah tangan kanan ibunya yang paling setia. Jika Bayu tidak ada, akan lebih mudah bagi Chris melawan ibunya sendiri. Orang-orang diperusahaan cenderung berpihak padanya sekarang.


"Apa keinginan Mama!"


Mengabaikan kemarahannya sendiri, Chris berusaha tenang saat ini.


"Konfrensi pers, tentu saja. Beritahu media bahwa Jouji ayah kandung Catrin. Bukankah ini akan menguntungkan kita? Sekali pukul dua lalat akan jatuh. Kamu tidak perlu bersusah payah memulihkan namamu, semua orang akan berpihak padamu."


"Ayahnya masih rekan bisnis kita."


"Kamu tahu dengan baik itu bukan masalah, Nak. Jouji bukanlah penerus utamanya. Dia hanyalah anak dari simpanan yang kini harus diakuinya."


"Aku akan melakuknnya, jika Jihan dibawa kembali padaku!"


Ibunya tersenyum, "Jadi anakku benar-benar jatuh cinta? Aku cukup senang." sahutnya. Chris diam saja, dia tahu ibunya belum selesai.


"Jihan... tidak cocok untukmu. Dia terlalu baik dan bisa menghalangimu. Walaupun aku menyukainya, tapi dia akan jadi penghalangmu suatu saat nanti."


"MOM!" bentak Chris dengan suara menggelegar.


Pelayan yang bersiaga di balik pintu menunggu permintaan terlonjak dengan kengerian diwajah mereka.


"Untuk saat ini, selesaikan masalah si tua brengsek itu dulu. Urusan anakmu dan ****** itu ada ditanganku. Fokus pada perusahaan dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."


"Jangan main-main lagi! Aku tidak pernah mempercayaimu!" desis Chris.


Ibunya bangkit, menatap Chris datar. "Maka kali ini percayalah." ujarnya.


"Ah, masalah dua sepupumu. Dia baru saja membuat masalah. Bayu, katakan padanya." ujar ibunya sebelum melangkah masuk. Meninggalkan anaknya dengan Bayu dan beberapa pengawal lain.


"Mafia yang pernah Arjun ceritakan..."


"Jangan membuang waktuku!" potong Chris, dia tidak ingin bertele-tele.


"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya sepupu anda menyebut nama anda. Saya masih mencari tahu. Tapi pemimpin mereka menghubungi Arjun dan meminta bertemu besok pagi."


Chris memijit kepalanya. "Bagaimana dengan sahamnya?"


"Masih belum dijual pada siapapun, Tuan."


Chris menghela napas, dia memilih masuk kedalam dan naik ke kamarnya. Sesampainya disana, Chris berusaha menghubungi Jihan. Namun nomornya tidak aktif. Chris berusaha mengirimnya pesan, namun belum terkirim.


Chris mendesah mengetahui Jihan mematikan ponselnya. Dia menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur dan menutup matanya. Pikirannya berkecamuk dan dia merindukan istrinya. Hatinya terasa lelah untuk pertama kalinya. Nyeri di dadanya tidak hilang, malah semakin bertambah ketika menyadari Jihan tidak memilihnya. Rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Dia jatuh cinta, namun cintanya meninggalkannya dengan mudah. Hal itu membuat kemarahan menumpuk dihatinya. Kalau tadi Jihan bertahan, Chris yakin dia akan lebih kuat melawan ibunya.


Chris membuka matanya, merah dan berair. Dia tidak menangis. Kemarahanlah yang membuat air mata mengenang disana. Menatap langit-langit kamar, Chris bertekat menghancurkan siapapun yang menghalangi tujuannya. Termasuk berniat memberi hukuman bagi sang istri yang memilih pergi darinya.