
Flasback
Seorang anak perempuan dengan banyak buku ditangannya berjalan melewati lorong menuju ruang OSIS. Rambut kucir dua atau ikat kuda adalah ciri khas dandanannya. Setiap kali dia lewat, setidaknya dia akan membuat mata anak lain meliriknya. Entah karena iri, entah karena kagum, atau hanya karena terlalu sayang melewatkan wajah imut dan manis itu.
"Ji'an......!"
Langkah anak itu terhenti. Kaki kecilnya memutar arah ke samping. Dari arah halaman sekolah, seorang anak perempuan lain berlari menghampirinya dengan napas tersengal.
Mata bulat kecilnya menatap temannya itu dengan heran. Seolah bertanya apa yang terjadi.
"Anak pindahan itu di kerjai lagi!"
Mendengar hal itu, Jihan menghela napasnya dengan kasar. "Dimana?" tanyanya dengan tegas. Ketegasannya benar-benar berbanding terbalik dengan wajahnya.
"Disamping gedung sekolah. Dibalik pohon tua."
Jihan menyerahkan buku ditangannya dan menyuruh temannya menggantikannya. Sementara dia berlari dengan kencang menuju lokasi yang disebutkan. Ini ketiga kalinya Jihan mendengar anak pindahan itu dikerjai. Hanya karena dia dari panti asuhan dan tidak punya siapapun yang membelanya, anak-anak nakal sesuka hati memperlakukannya.
"Hei kalian! Berhenti!" teriak Jihan.
Anak-anak nakal itu menoleh. Satu diantara mereka, yang memiliki badan tinggi dan yang dijadikan ketua geng, berdecak sebal.
"Dasar lemah, selalu dibela anak perempuan!" ejeknya pada anak pindahan itu.
"Kalian benar-benar tidak jera ya! Aku sudah bilang jangan ganggu anak lain, kan! Ini peringatan terakhir. Kalau masih melanggar aku akan lapor pak Galih!" marah Jihan sambil berkacak pinggang. Mendongak dengan wajah galak kepada anak laki-laki tinggi itu.
Alih-alih marah, anak itu malah memegang puncak kepala Jihan dan menekan-nekannya pelan. Seperti seorang kakak yang gemas akan sikap adiknya.
"Iya iya cerewet! Aku hanya mau berteman dengannya. Jangan marah padaku, nanti aku traktir es krim pulang sekolah. Bagaimana?" katanya sambil tersenyum lebar, seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
Jihan menepis tangannya dengan kasar, lalu mengabaikannya. Dia lebih memilih menolong anak yang sudah kotor itu untuk berdiri.
"Ingat, ini peringatan terakhir!" bentak Jihan. Lalu membawa anak itu pergi. Meninggalkan gerombolan anak laki-laki nakal itu disana.
"Anak baru itu selalu mendapatkan perhatian Ji'an! Apa kita harus lebih keras lagi?" ujar anak tinggi itu.
Sementara itu, Jihan membawa anak baru itu ke kamar mandi anak laki-laki untuk membantunya membersihkan diri. Teman-teman lain yang melihatnya ikut membantu.
Jihan tidak begitu memperhatikan anak laki-laki itu pada awalnya, dia hanya membantu karena itu tugasnya sebagai ketua OSIS dan karena dia mengenal dengan baik si pembuat onar.
Namun, lambat laun, anak laki-laki dari panti itu memberanikan diri berbicara padanya. Tentunya secara diam-diam ketika Jihan sendirian. Karena dia akan dipukuli diluar sekolah kalau dia berani berbicara dengan Jihan. Semua sumber masalahnya ada pada anak nakal yang menyukai Jihan. Dia anak pemilik sekolah, karena itu kelakuannya sulit diatasi.
Anak bernama Rafi itu tertawa, bukan karena jihan yang melawak, tapi karena cara bicara Jihan yang memang terlalu lucu saat itu. Dia masih seperti anak SD yang polos. Wajahnya juga tidak berkembang dengan baik, lemak bayi diwajahnya menambah kesan bayi besar pada dirinya. Hal itulah yang membuat anak lain menyukainya.
Meski Jihan sudah pernah melaporkan pembulian karena anak itu tidak mengidahkan peringatannya, pembullian tetap terjadi. Bahkan lebih parah, Jihan hanya bisa membantu anak itu jika terjadi di sekolah. Diluar sekolah dia tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka tidak pernah ketahuan.
Hingga suatu hari, anak ini tidak sanggup lagi menghadapi pembullian terhadapnya. Dia memutuskan tidak datang lagi ke sekolah. Dia bahkan lari dari panti. Meninggalkan surat pada loker Jihan. Surat pernyataan sekaligus surat perpisahan. Sejak saat itu, Jihan tidak pernah lagi bertemu dengannya. Jihan bahkan tidak pernah membuka surat itu, karena ada beberapa surat lain juga disana. Sejak awal, Jihan memang tidak pernah membaca surat dari anak laki-laki. Ayahnya tidak mengizinkan dia dekat dengan anak laki-laki ketika SMP, Alasannya karena Jihan belum dewasa. Karena itu dia hanya menyimpan surat-surat yang didapatnya.
Flasback end
Marcell sudah terbaring dengan tubuh terlentang di atas lantai. Begitu juga temannya yang melindunginya ketika dia dipukul pakai tingkat kayu.
"Nah, ini adalah pelajaran terakhir untukmu, Melihat wanita itu tersiksa." kata salah satu pria itu, dia menoleh pada Jihan, lalu tersenyum lebar. "Pukul wanita itu. Lihat bagaimana anak kurang ajar ini menangis dan berlutut, aku ingin melihatnya memohon." lanjutnya.
Belum sempat tongkat kayu di tangan salah satu anak buahnya terayun, tongkat itu jatuh ke lantai dengan bunyi kelontang keras. Tangan yang memegangnya tadi meneteskan darah segar karena disana, tertancap pisau lipat.
Mereka semua menoleh ke arah pintu. Dimana Chris berdiri dengan wajah dinginnya. Dia menyeringai tipis ketika bergeser dari pintu, membiarkan belasan polisi masuk dan menangkap mereka.
Bunyi letusan pistol sebagai tanda peringatan terdengar beberapa kali. Seluruh rumah di geledah dan ketiga pria itu, termasuk sekretaris Marcell ditangkap.
Chris berjongkok dan menatap wajah ketakutan Jihan. Wanita itu terduduk di lantai dengan wajah syok dan air mata yang terus turun. Hiruk pikuk membuatnya semakin takut. Chris mengulurkan tangannya, meski dia ragu Jihan mau menyentuhnya. Namun dia tetap ingin mengulurkan tangannya.
Jihan menatap tangan besar itu dengan ragu. Dia masih menangis. Dia bangun sendiri, lalu menatap Chris yang juga ikut berdiri.
"Te-terima ka-kasih telah da-datang. Aku sangat ta-takut...." Belum selesai dia bicara, tubuh Jihan jatuh tidak sadarkan diri.
Chris segera menangkapnya dan menggendongnya bridal. Alex dan sejumlah anak buahnya mengawal mereka untuk keluar dari sana. Polisi masih menggeledah isi rumah dan mengumpulkan semua pelaku di tengah rumah dengan tangan terborgol.
Langkahnya terhenti ketika dia melewati seorag jendral polisi yang langsung terjun dalam misi ini. "Skenarionya jangan sampai melenceng. Ini akan jadi momen untukmu mendapatkan promosi. Bukankah anda ingin naik jabatan, Jendral?"
"Jangan mengguruiku Christoper, aku bukan anjingmu." jawab sang jendral dengan santai.
Chris tersenyum tipis, dia menatap Jihan yang ada di dalam gendongannya. "Pastikan jangan terlalu banyak mengeksposnya sebagai korban. Utamakan kasus bisnis gelap mereka dan uangkap polisi yang terlibat dengan mereka. Ini akan jadi kasus besar yang mengharumkan namamu."
"Kami perlu meminta keterangannya sebagai korban. Mau tidak mau dia akan terekspos sedikit. Kami akan menjaganya jauh-jauh dari media. Tenang saja, dasar posesif. Cepatlah nikahi dia kembali sebelum kamu jadi gila." sahutnya dengan enteng.
"Ck, urus urusanmu sendiri pak tua!" balas Chris. Lalu berlalu dari sana.
Jendral itu hanya terkekeh. Terlihat sangat memahami Chris seperti memahami anaknya sendiri.