
Seminggu sejak kepergian Jihan, Chris menyelesaikan dengan baik setiap masalah perusahaan. Dua sepupunya berurusan dengan hukum. Hal itu terkait obat-obatan terlarang yang mereka konsumsi saat berjudi dan bermain wanita. Tentu saja dia tidak bekerja sendirian, seseorang yang ingin menemuinya, pemimpin dari kelompok mafia saat itu, memuluskan niatnya dengan imbalan yang tentu saja besar pula.
Hal yang tidak pernah Chris sangka adalah, ketua kelompok itu adalah teman sekolah menengahnya dahulu. Hal itulah yang langsung membuat mereka bekerja sama satu sama lain. Sang ibu yang tidak mengetahui hal itu, tetap menjalankan misinya dengan membawa dan mengenalkan anak kandung Chris melalui media. Meskipun pernikahan tidak pernah dibahas, semua orang sudah tahu bahwa Adora masuk kedalam rumah sebagai ibu dari anaknya dan Jihan keluar dari rumah dengan rumor tidak menerima kehadiran Adora. Sungguh drama keluarga yang epik.
Paman Chris, menahan kemarahannya ketika dia terpaksa menjual sahamnya pada Chris. Tidak ada pilihan lain baginya karena dia butuh uang untuk meloloskan anaknya. Tekanan dari mafia dan rentenir dimana dua anaknya meminjam uang membuat keuangannya kacau. Meski dia hanya perlu menjual beberapa saham untuk itu, tapi Chris membuatnya menjual nyaris seluruhnya. Chris dan temannya dari dunia gelap, memaksa siapapun yang ditemui pamannya untuk menolak membeli saham pamannya. Kekuasaan Chris membuat siapapun tidak ingin membuat masalah dengannya. Kebanyakan dari mereka hanya mencari aman dari pada menunjukkan jiwa sosial. Bisnis adalah bisnis, secuil rasa kasihan akan membuat siapapun hancur. Seperti itulah dunia berjalan bagi mereka yang menuhankan uang.
Arjun mengetuk pintu ruang kerja atasannya dua kali sebelum masuk. Meletakkan beberapa berkas di atas meja untuk ditanda tangani olehnya.
"Kamu menemukannya?" tanya Chris.
"Ya, Tuan. Nyonya terlihat disebuah mini market di daerah xxx. Orang kita mengikutinya dan menemukan rumah tempat ia tinggal saat ini."
Chris berbalik, sejak kepergian Jihan, Arjun dan seluruh orang yang mengenalnya, bisa melihat bahwa sorot mata dan sifat Chris jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Setelah semua masalah ini selesai, kini saatnya aku membuat orang-orang yang terlibat menerima balasannya." Chris jelas terluka, tapi dia membuat luka itu menjadi alasan untuk menghancurkan orang-orang. Arjun bahkan takut mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Chris kapan saja. Takut dia akan melakukan hal yang membuat dirinya sendiri hancur.
"Tuan, saya pikir anda hanya perlu membawa nyonya Jihan kembali dengan baik-baik. Dia hanya butuh bujukan."
"Bujukan? Hah! Wanita itu memilih ikut dengan orang lain dan mengurus anak bajingan itu, dia meninggalkanku begitu saja. Lalu aku hanya harus membujuknya?" Chris duduk di kursinya dan menatap udara kosong dengan sorot dendam disana. "Dia harus datang padaku dan bersujud pada suaminya," lanjutnya dengan nada rendah.
"Siapa yang ada dibelakangnya? Menyembunyikannya dariku?" tanya Chris.
"Rumah itu... Baru saja dibeli atas nama Haris, Tuan."
"Ah... Mantannya?" Chris menarik senyum sinis, "Jadi dia mulai menunjukkan taringnya kembali? Sungguh keberanian yang patut dihargai."
"Bagaimana dengan ibuku?"
"Ibu anda sudah mendapatkan surat cerai dari pengadilan sejak dua hari yang lalu. Dia sudah memberikannya pada saya tapi untuk Nyonya Jihan, Saya pikir Bayu dan orangnya belum menemukannya."
Jadi, Chris memang membentuk aliansinya sendiri di dalam perusahaan dan juga orang-orang kepercayaannya. Setengah dari orangnya adalah orang dibawah kepemimpinan Bayu yang membelot. Tidak sulit bagi Chris membujuk mereka karena Chria memegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan. Sementara ibu Chris hanya berperan kecil saat ini.
Masalah utamanya adalah Bayu, Chris tidak bisa memecatnya begitu saja. Dia dikontrak dan diberi wewenang langsung dari sang ayah. Kontrak berakhir setelah dua puluh tahun. Itu artinya masih ada 5 tahun tersisa.
Bayu mungkin mematuhi perintahnya, menghormatinya dan takut padanya. Tapi dibalik semua itu, Chris sangat tahu bahwa kesetiaan tertingginya ada pada ibunya. Orang yang berjasa menariknya dari kubangan lumpur kematian. Memberikannya hidup yang layak dan melatihnya menjadi anjing pemburu.
"Lalu anak itu?"
"Itu... dia bersama Nyonya, Tuan!"
Arjun harap-harap cemas melihat reaksi Chris yang diam sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja.
"Jadi... Dua bajingan mengunjunginya secara bergantian, begitu? Satu dengan alasan menemui anak kandung, satu lagi dengan alasan simpati?" sinisnya.
"Saya pikir tidak, Tuan. Jouji diawasi ketat oleh orang tuanya. Catrin hanya sementara disana karena anak itu mengalami syok dan gangguan emosi. Saya pikir Nyonya hanya membantu mereka. Hanya Haris yang rutin mengunjungi Nyonya."
"Rutin? Dia lupa kalau dia masih istriku!"
"Temannya Meri ada disana, Tuan. Keterangan tetangga mereka selalu bicara di depan rumah."
Chris menutup matanya, kemarahannya yang tadi diubun-ubun sedikit turun mendengar keberaadaan Meri disana. Itu artinya Jihan tetap menjaga jarak. Sejenak Chris lupa bahwa Jihan sangat mentaati perintah agamanya. Tapi tetap saja Chris tidak tenang ketika mengetahui Haris mulai mendekati Jihan lagi. Itu membuat kecemburuan yang berusaha ia tahan seperti akan mulai meledak.
"Anda... Akan benar-benar bercerai?" tanya Arjun.
"Jangan mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu, Arjun." sahut Chris dingin.
"Maaf, Tuan. Saya pikir saat ini keputusan berpisah adalah yang terbaik. Anda hanya harus menghalangi siapapun yang mencoba mendekati Nyonya lagi."
"Kamu tidak mengerti yang aku katakan sebelumnya?"
"Maksud anda?"
"Jihan harus datang sendiri padaku."
Arjun menghela nafas. Dia takut tapi dia sedikit kesal. Bagaimana atasannya itu sangat egois dan bodoh soal cinta. Tidak peka dan sangat prematur.
"Tuan, anda mengenal Nyonya dengan sangat baik, bukan? Anda pikir apa yang akan membuatnya berlari pada anda sementara ada banyak tempat yang bersedia menerimanya?"
Ctak!
Pena yang sedang dimainkan oleh Chris patah menjadi dua. Arjun dengan susah payah menelan salivanya. Dia berdehem kecil lalu tersenyum dengan keringat di dahinya.
"Maksud saya... dia sangat keras, anda tahu? Karena itu... " Arjun berhenti ketika Chris mendongak dan menatapnya dengan tajam. "Baik Tuan, saya akan memikirkan caranya." ujar Arjun dengan gugup.
Dia cepat-cepat undur diri sebelum mendapat amukan dari Chris.
Sementara itu, Jihan mulai berani kembali bekerja. Haris membantunya dengan mengirim seseorang untuk mengawasinya ketika pergi kemanapun. Haris menyewa seorang pengawal sekaligus supir untuk Jihan.
"Kamu akan terus bergantung pada Haris?" tanya Meri ketika mereka sudah sampai di toko milik Jihan.
"Apa maksudmu?"
Meri menyedu kopi di dalam ruangan Jihan dan memberikan segelas pada sahabatnya itu.
"Membiarkannya disekitarmu, membiarkannya melakukan hal yang hanya dilakukan seorang suami. Kamu belum benar-benar bercerai dari Chris, omong-omong."
Jihan terdiam sejenak. Dia tahu Meri benar. Jihan hanya bingung dan dia tidak ingin pulang kerumahnya. Dia tidak siap melihat wajah sedih kedua orang tuanya.
"Aku... Aku kembali gagal. Sejak awal... Pernikahan ini harusnya tidak terjadi. Orang tuaku pasti lebih kecewa, mereka yang bersikeras saat itu. Aku tahu mereka sangat merasa bersalah. Aku tidak ingin pulang."
"Kamu bisa tinggal denganku atau cari tempatmu sendiri. Kenapa rumah yang disiapkannya? Kamu ingin kembali padanya?"
Jihan mematap Meri yang terlihat kesal. Dia tersenyum dan menggeleng. Membuat kekesalan Meri sedikit berkurang. Jihan tahu bahwa Meri hanya menghawatirkannya. Meri adalah saksi dimana dia lebih hancur dari sekarang setelah Haris mempunyai wanita lain.
"Tegarlah, kamu bisa bangkit dari bajingan Haris lalu kenapa Chris tidak bisa? Kalian bahkan belum setahun. Kamu juga baru jatuh cinta padanya dan bukan perasaan yang terlalu dalam juga."
"Menurutmu begitu?"
"Tentu saja, tapi... Jujur saja, Chris jauh lebih menakutkan. Aku bahkan takut hanya dengan menatap matanya. Aku harap dia akan melepaskanmu begitu saja. Oh... Entahlah! Dari ceritamu sepertinya dia tidak akan diam saja. Kamu harus hati-hati. Dia memiliki uang dan kekuasaan. Pria seperti itu sangat berbahaya."
"Ya, dia memang berbahaya."
Jihan sudah tahu itu sejak lama. Tapi dia tetap memilih tinggal saat itu karena sikap Chris yang mulai berubah. Dia tidak tahu akan ada banyak hal yang membuat mereka berakhir seperti ini.
Meri menghela napas lagi ketika Jihan mulai larut dalam pikirannya sendiri. Meri tahu Jihan dan Chris akhirnya saling jatuh cinta. Tapi tetap saja, melihat dan mendengar apa yang terjadi. Meri sangat kawatir akan sahabatnya ini. Jihan sudah seperti adik baginya meskipun usia mereka sama.
"Lalu apa rencanamu?"
"Itu... Aku... "
"Bu Jihan! Ada yang mencari anda."
Keduanya menoleh ke arah pintu yang memang tidak ditutup. Karyawan Jihan muncul disana dengan seorang pria yang sangat Jihan kenal. Jihan berdiri dan berjalan ke arah pintu. Setelah karyawan itu pergi, Jihan menyuruh pria itu masuk.
"Ada apa?" tanya Jihan. Pria itu, Bayu. Memberikan satu map bewarna kuning dan meminta Jihan menandatanganinya.
Jihan membacanya, lalu menggigit bibirnya untuk menahan tangis. Meri yang gusar mengambil alih surat ditangan Jihan dan membacanya.
"Oh, Sial! Dia ingin bercerai dengan cara ini?" kesal Meri.
"Anda bisa menandatanganinya sekarang. Semuanya telah diurus dan anda tidak perlu datang ke pengadilan." ujar Bayu dengan nada dan suara datarnya.
"Aku tahu," sahut Jihan, berusaha mempertahankan ekspresinya
Meri menyodorkan kembali surat itu, melihat dengan perasaan kasihan ketika Jihan menandatangani surat itu di atas meja kerjanya. Bayu segera memasukkan kembali surat itu kedalam map ditangannya, lalu undur diri dari sana.
Meri segera menutup pintu dan menghampiri Jihan yang menunduk dengan kedua tangan menyangga kepalanya. Meri tahu, Jihan hanya menahan diri.
"Sudah selesai, aku benar-benar telah lepas. Kamu salah, Mer! Dia dengan mudah mengurus perceraian. Kata-katanya saat itu hanya kebohongan. Mengatakan tidak akan membiarkanku." Jihan memgangkat kepalanya, tidak ada air mata. Tapi jelas ekspresinya yang berusaha tegar membuat ia terlihat lebih menyedihkan. "Aku hanya harus melanjutkan hidupku. Semua kembali kekeadaan semula. Bukankah itu bagus? Lepas dari lingkungan mengerikan dunia mereka." lanjutnya.
Meri mengangguk sekali, tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia juga cukup terkejut dengan surat perceraian yang datang. Karena awalnya dia berasumsi Chris akan berusaha menarik Jihan kembali. Sama sekali tidak tahu faktanya, bahwa semua ini adalah langkah pribadi ibu Chris.
"Ya, ini bagus juga. Kamu tidak perlu susah payah menghindarinya. Kamu juga ingin pergi darinya, kan?" ujar Meri.
"Ya, aku juga menginginkan perpisahan ini." tegas Jihan.
Meski begitu, dia terdiam cukup lama setelah mengatakan hal itu.
"Aku akan mulai memeriksa barang dan data penjualan disini. Kamu istirahat saja disini. Toko lama aku serahkan pada karyawan dulu, jangan kawatirkan apapun." ujar Meri.
Dia hanya ingin memberi ruang untuk Jihan memangis. Meri tahu Jihan hanya pura-pura tegar saat ini karena dia mengatakan ingin berpisah juga sebelumnya. Tapi di dalam hatinya, dia mencintai Chris. Hatinya sudah jatuh dan itu membuat Meri lebih kasihan padanya.
Sementara itu, ketika Bayu mengirimkan surat cerai yang sudah ditanda tangani lewat foto chat pada Arjun. Kekacauan di dalam kantor Chris dimulai.
Chris yang melihatnya begitu marah sampai dia membalikkan meja kerjanya sendiri. Mengusir dua direktur yang baru saja masuk dan memerintahkan Arjun untuk melarang siapapun masuk.
Chris duduk dan mengusak surainya dengan kesal. Dia tahu ini pekerjaan ibunya. Tapi lebih marah lagi ketika tahu Jihan dengan mudah menandatanganinya. Hatinya diliputi rasa sakit yang tidak bisa ia terima. Chris tidak pernah patah hati. Sejauh ini, dia tidak pernah jatuh cinta selain pada Jihan. Hal itu membuat ketenangannya terusik dan rasa sakit itu ia artikan dengan salah. Didalam kepalanya saat ini, hanya ada perasaan harga diri yang telah jatuh. Chris tidak menyadari, dia hanya sedang patah hati.