Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
7



Jihan sungguh muak. Saat keluar dari rumah sakit ada beberapa wartawan yang mengambil gambar. Meskipun mereka di kawal dan tidak ada wawancara. Tetap saja sikap manis Chris yang sedang berpura-pura membuatnya jengah.


Ketika pintu mobil tertutup, Chris kembali ke sikap biasa. Jihan tidak terlalu peduli. Dia sibuk berkirim pesan dengan sahabatnya. Meri tidak berani ke rumah sakit karena ketidaknyamanan akan beberapa wartawan. Juga sikap Chris yang kurang ramah.


Beberapa kali Chris melirik istrinya saat Jihan terkekeh pelan. Cukup terganggu dengan ekspresi wajah itu. Ini jelas di luar ekspektasinya. Dia mengira Jihan akan terus menjadi wanita lemah yang akan terus bersedih dengan sikapnya selama ini. Nyatanya, saat ini ia malah di abaikan. Jihan menjadi tampak tidak peduli setelah malam itu.


Sesampainya di rumah, Jihan di sambut oleh Catrin, mertuanya dan seluruh pelayan rumah. Jihan hanya menunjukkan senyum kecil sekedar menghargai.


"Wartawan pasti membuatmu tidak nyaman, istirahatlah di kamarmu."


Jihan terdiam sesaat di tempatnya. Ia tersenyum ramah, namun siapapun tahu itu hanya pura-pura.


"Tidak masalah Nyonya. Bukankah anak anda sangat manis tadi? Saya bahkan sampai terharu."


Setelah berkata begitu, Jihan berjalan cepat menuju lantai 3. Catrin mengekorinya dengan ceria. Si kecil ini tidak mengerti pembicaraan orang dewasa. Dia hanya terlalu senang mamanya pulang.


Chris berhenti tepat di hadapan ibunya. Memperhatikan ibunya yang tampak terkejut karena panggilan baru dari menantunya.


"Dia ... apa yang kamu katakan padanya? Kenapa perkataannya seolah-olah ia hanya pekerja di sini?"


"Bukankah itu memang benar? kita membawanya hanya untuk Catrin. Apa ibu lupa? Ibu yang memaksaku menikahinya."


Tidak kalah dingin dengan Jihan, Chris melangkah masuk ke dalam rumah.


"Pada awalnya ... Mama memang berniat begitu"


Chris berhenti, diam di tempatnya tampa berbalik.


"Tapi tidak saat dia sudah mulai tinggal disini. Dia wanita yang berbeda. Meskipun cukup keras, dia tulus. Tentu berbeda dari wanita sebelumnya. Jadi ... Mama tidak akan membiarkanmu melakukan hal seperti yang kamu lakukan dahulu."


Chris terdiam, ingatan masa lalu itu membuatnya terpaku sesaat. Dimana sesuatu terjadi dan merenggut kewarasan seseorang. Bahkan membuat putrinya mengalami trauma dan gangguan mental sementara.


"Memang apa yang aku lakukan? wanita gila itu memang sudah gila sejak awal. Apa salahnya membuatnya begitu?"


Chris melanjutkan jalannya. Ibunya menatap punggung tegap itu dengan sendu. Ada rasa bersalah di hatinya melihat anak semata wayangnya menjadi begitu menakutkan.


Chris menghempaskan punggungnya ke kasur. Matanya menatap kosong langit-langit kamar. Baru menghembuskan nafas, pintu tiba-tiba terbuka, Catrin berlari ke dalam dan menarik tangannya untuk bangun.


"Papa! Ayo bangun ... ada darah. Ada darah dari mama!"


Chris tidak paham. Ia hanya mengikuti langkah anaknya. Masuk ke dalam kamar yang di huni Jihan.


Chris berjongkok, hendak memeriksa tangan Jihan yang ia sembunyikan. Melirik sinis sebelum bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Chris bisa melihat darahnya yang menetes di lantai.


"Papa!"


"Tetap disini Cat,"


Chris mengikuti Jihan. Catrin menunduk dalam dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Kenapa tanganmu?"


Jihan tersentak, ia sedang membasuh luka di tangannya saat Chris masuk. Chris menarik tangannya dan menyeretnya keluar. Memaksanya duduk di kursi hias. Mengambil kotak P3K.


Tidak tahu apa yang ia pikirkan, hanya saat melihat darah di tangan itu, ia tidak menyukainya.


Selesai membalut luka berupa sayatan itu, ia mengangkat wajahnya, menatap netra kelam istrinya tajam.


"Apa yang terjadi?"


Jihan tidak menjawab. Sungguh ia masih terpaku akan apa yang di lakukan Chris. Tidak pernah berpikir ia akan mengobati lukanya. Mengingat saat ia hampir mati kemarin Chris bahkan tidak perduli. Sekelebat kecurigaan menghinggapi kepalanya.


"Itu ... Pa ... Papa ... itu gara - gara Cat. Mama terluka." Catrin mulai terisak.


Jihan bangkit, mengabaikan pecahan gelas di lantai dan membawa Catrin naik ke atas kasur.


"Keluarlah, Anda bisa alergi terus berada di sini. Terima kasih atas kemurahan hati anda. Tapi tidak perlu berakting lagi, disini tidak ada wartawan."


Chris mengeraskan rahangnya. Sungguh ia tidak menyukai cara bicara istrinya yang datar dan dingin. Bahkan menuduhnya, dia bahkan tidak sadar apa yang dilakukannya sebelum mendengar anaknya menjawab pertanyaannya.


Jihan berbalik memunggunginya, memeluk Catrin yang sudah diam. Chris tidak tahu mengapa ia terus merasa terganggu. Memilih abai, ia keluar dari kamar dan menutup pintu.


Jihan memejamkan matanya sesaat. Melepaskan pelukannya, Catrin sudah tertidur. Ia duduk bersandar pada kepala tempat tidur, menatap telapak tangannya yang berbalut kain kasa.


"Harusnya aku tidak jatuh cinta padanya. Ini semakin sulit untuk pergi." bisiknya lirih.


.


Meri sedang frustasi sendiri menatap sahabatnya yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya. Mereka sedang makan mie ayam di sebuah kedai pinggir jalan.


"Kamu bilang rindu makan ini, lalu sekarang apa? ck!"


Jihan menghembuskan nafasnya. Dia juga frustasi.


"Aku mau keluar dari sana."


"Tinggal ajukan gugatan, apa masalahnya?" sahut Meri sewot.


"Itu masalahnya!"


Meri menatapnya galak, dia tidak mengerti omong-omong.


"Aku ... aku rasa aku menyukainya."


Meri menatapnya datar.


"Dia suamimu."


"Apa maksudmu? tentu saja dia suamiku. Kami sudah menikah."


Meri menarik nafas lelah. Sungguh, ia menghadapi ini berkali-kali selama persahabatannya dengan Jihan sejak SMA.


Meskipun dia mengapresiasi langkah sahabatnya untuk hijrah dan mulai belajar agama dengan benar. Nyatanya untuk urusan cinta dia tetap sama.


"Jihan sayang ... dengarkan aku baik-baik!"


Jihan menumpu dagunya, mengangguk sedikit. Meri berdecak malas melihat ekspresi sahabatnya.


"Suamimu terlalu kejam. Ini tidak seperti pengalaman yang sudah-sudah. Dia bahkan hanya diam saat kamu nyaris mati dalam lift. Oke! Anggap dia tidak tahu kamu punya trauma. Tapi sikapnya bahkan lebih parah dari hewan! Jujur saja, sejak awal aku tidak menyukainya. Selain itu ... keluarga itu terlalu toksik. Dari ceritamu ... jelas mereka hanya menganggapmu ... sudahlah!"


Meri meneguk minumannya sampai kandas. Jihan masih menunggu. Ia tahu masih ada yang ingin di sampaikan Meri padanya. Sahabatnya jelas sedang emosi. Meri sudah menganggapnya seperti seorang adik meskipun umur mereka sama.


"Kamu yakin akan melanjutkannya?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa kamu bilang kamu menyukainya."


"Itu benar! lagi pula ... tidak mudah lepas dari keluarga itu. Terutama ibunya, dia bersikap baik. Tapi tidak tulus. Sesuatu selalu terencana. Lalu anak itu ... aku hanya tidak tega, ck!"


Meri menatapnya prihatin.


"Tidak menjemput anak tirimu? bukankah dia harusnya sudah pulang?"


Jihan memeriksa jam tangannya.


"Benar, tapi aku sudah mengatakan aku sibuk. Biar dia saja yang jemput anaknya."


"Sibuk apanya? bukankah suamimu jauh lebih sibuk. Kamu hanya bersantai disini dan meratapi nasibmu." sindir Meri.


Jihan menekuk wajahnya. Jelas tidak terima.


"Cih! dasar tidak bertanggung__"


Jihan mengernyit heran. Pasalnya ia melihat sahabatnya seperti baru saja melihat keajaiban dunia.


"Bagaimana bisa ada bidadara surga turun ke bumi?"


Jihan menatap sahabatnya horor. Saat ia mendengar kehebohan pengunjung lain barulah Jihan menoleh ke arah pintu. Ia mengernyit heran. Bagaimana bisa Jouji berdiri di sana dengan seorang pria lebih tua. Mungkin managernya. Jihan tidak peduli. Masalahnya Jouji menatapnya, lalu dengan santai berjalan ke arahnya di ikuti banyak kamera pengunjung.


"Boleh gabung?"


"Boleh!" sahut Meri semangat.


Jihan melirik horor pada sahabatnya. Dua orang itu duduk masing-masing di samping mereka. Jouji di sampingnya dan satu lagi di samping Meri.


"Kami sudah selesai. Kalian bisa pesan dan pakai mejanya."


Jihan tidak mempedulikan wajah Meri yang merengut kesal. Dia bangkit dari duduknya. Sayangnya, Jouji dengan tidak tahu malunya menahan dan menarik lengannya untuk kembali duduk.


Sekali lagi, Jihan benci orang ini. Dia selalu saja sesuka hati menyentuhnya. Hal yang amat dia hindari.


Meskipun Jihan segera menepis, sayangnya banyak kamera yang sudah merekam mereka. Jihan berusaha mengatur ekspresinya. Ia hanya harus tenang. Meri yang bahkan tadi terlihat sangat antusias tiba-tiba terlihat heran. Jihan memang belum menceritakan soal Jouji padanya.


"Kalian ... saling kenal?"


"Cukup dekat," sahut Jouji santai.


Kali ini bukan hanya Jihan yang melihatnya horor, pria yang bersamanya juga Meri jauh lebih terkejut mendengar jawaban entengnya.


"Woi! Apa yang kamu katakan? Hati-hati dengan bicaramu." bisik pria di samping Meri.


Pria itu bahkan sudah menatapnya dengan tajam penuh ancaman. Nyatanya, Jouji hanya memgabaikannya. Dia malah menopang dagu dan menatap Jihan intens.


"Apa kamu sengaja?" gumam Jihan. Cukup kuat untuk bisa di dengar mereka berempat.


Jouji tersenyum, ia hanya mengangguk untuk membenarkan. Kini Jihan benar-benar frustasi. Dia jelas sangat kesal. Maka dengan ekspresi yang dibuat seramah dan seformal mungkin. Ia sedikit mengeraskan suaranya.


"Oh, Mer ... ini waktunya aku ke toko. Ayo pergi, Maaf ya teman-teman. Aku duluan..." serunya sambil berdiri.


Meri yang paham ikut berdiri. Mengikuti Jihan yang sudah keluar duluan. Jouji hanya tersenyum kecil. Merasa lucu melihat ekspresi kesal di wajah Jihan.


"Lagi-lagi berbuat seenaknya. Kamu mau dikenal dengan sensasi bukan prestasi?"


Jouji hanya mengangkat bahu acuh.


"Aku bisa mati muda jika terus menjadi managermu!" rutuk pria itu.


"Bang Juna cukup makan dengan baik." sahut Jouji dengan senyum palsunya. Nada bicaranya bahkan terdengar seperti ejekan. Membuat pria bernama Juna itu mengutuknya dalam hati.