Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
26



Jihan hampir saja tersungkur kedepan kalau saja Chris tidak menahannya. Ini sudah kesekian kalinya Arjun melakukan hal itu dengan berbagai alasan.


"Maafkan saya, tapi sepertinya saya mengenali pria di depan sana. Apalagi kerumunan itu, ya ampun, apa yang dilakukan bocah itu disana? Kenapa dia suka sekali membuat sensasi sekarang?"


Jihan menoleh kearah yang dilihat Arjun, tepat di depan tokonya. Kerumunan pagi itu terjadi karena karyawan toko yang berkumpul di depan pintu masuk. Sepagi ini memang belum ada pengunjung. Mereka biasanya belum buka juga karena harus membereskan dan mengatur barang yang dipajang terlebih dahulu.


"Aku akan masuk, terima kasih telah__"


"Apa maksudmu kamu akan masuk?" potong Chris dengan wajah yang sudah tidak enak dilihat.


"Lalu aku harus apa?" tanya Jihan ikut kesal.


"Usir dia terlebih dahulu. Jangan membuat gosip baru lagi."


Chris membuka pintu dan keluar terlebih dahulu. Jihan dan Arjun menyusulnya dibelakang. Karyawan Jihan yang melihat bos mereka datang segera berlari masuk ke dalam. Termasuk Rini sepupunya, namun wanita itu terang-terangan mengintip lewat dinding kaca.


"Kamu tidak laku lagi sampai punya waktu kesini pagi-pagi?" tanya Chris.


Jouji, si pembuat masalah pagi ini, mengerutkan kening. Di dalam hati mempertanyakan keberadaan Chris yang datang bersama Jihan.


"Kalian datang bersama?" tanyanya.


"Apa itu masalah bagimu?"


"Heh! Tidak juga. Aku cukup terkejut kamu satu mobil dan mengantarkan Jihan. Hal yang sangat langka, wanita-wanitamu yang lain akan cemburu saat tahu hal ini." kata Jouji dengan nada ringan.


Dia beralih pada Jihan yang langsung berubah muram. Jouji tentu saja senang melihat wajah terganggu milik Jihan.


Chris menarik sudut bibirnya, menyeringai dengan sorot mata yang sangat meremehkan sosok Jouji. Dia maju selangkah untuk lebih mengintimidasi.


"Wanita mana yang kamu maksud? Wanita gila itu? Katakan padanya aku dan istriku bahkan sudah tidur bersama. Hal yang tidak pernah aku lakukan padanya."


Ekspresi Jouji berubah menjadi gelap. Dia mengepalkan tinjunya. Jihan yang melihat keadaan semakin buruk, menarik ujung pergelangan jas Chris.


"Hentikan, pergilah bekerja." pinta Jihan dengan nada membujuk.


Chris tidak menjawab, dia malah menggenggam erat pergelangan tangan Jihan dan membawanya masuk kedalam. Menabrak bahu Jouji dengan keras saat melewatinya. Sayangnya, tampa mereka sadari. Ada sebuah kamera yang merekam kejadian itu.


Arjun menatap aneh ekspresi Jouji yang terlihat santai alih-alih marah. Meski menaruh curiga, Arjun memilih mengabaikannya. Dia ikut masuk dan melihat-lihat isi toko.


"Ini ruanganmu?" tanya Chris setelah mereka berada di dalam ruangan Jihan.


"Ya," jawab Jihan singkat.


"Jika dia datang lagi beritahu aku, mengerti? Jangan menghampirinya sendirian."


Jihan mengangguk dengan patuh. Chris mengedarkan pandangannya keseluruh isi ruangan. Seperti kepribadian pemiliknya, ruangan ini terlalu sederhana.


"Aku akan pergi sekarang."


Jihan mengangguk lagi. Bukannya tidak ingin menanggapi, namun dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tuan, anda tidak ingin membuatkan sebuah mall untuk ibu Jihan?" celetuk Arjun saat menyusul Chris yang sudah berjalan keluar.


"Jangan membuatku ingin melemparmu, kamu pikir wanita seperti dia bisa mengelolanya?"


"Wah, Tuan. Anda terlalu meremehkan kemampuan ibu Jihan."


Chris berhenti tepat ketika mereka akan melewati pintu. Dia menoleh pada tempat dimana Jouji tadi berdiri. Pria itu sudah pergi. Chris bernapas lega. Pria yang nyaris kepala empat itu berbalik pada asistennya yang kini bingung akan tatapan tidak bersahabat atasannya.


Chris meletakkan tangannya di bahu Arjun lalu mencengkramnya dengan kuat. "Tu-tuan?" bingung Arjun dengan raut kawatir. Tidak tahu apa yang salah.


"Sejak kapan kamu memanggil istriku berbeda begitu?" tanya Chris.


"Itu... Ibu Jihan yang memintanya, Ough!" Chris menekannya sebelum menarik tangannya.


"Kalau begitu kenapa kamu tetap memanggilku Tuan?"


Chris berjalan lagi. Dia memang tidak mempermasalahkan panggilan untuk dirinya. Tapi dia merasa sangat terganggu saat panggilan seperti itu diberikan Arjun pada istrinya. Padahal seluruh karyawan Jihan juga melakukan hal yang sama. Tapi kenapa Arjun jadi berbeda?


"Anda ingin saya panggil pak juga?" Chris berhenti sekali lagi, dia merasa sangat bodoh saat ini.


"Cepat buka pintunya!" bentaknya dan kembali jalan.


Arjun yang bingung segera berlari mendahuluinya dan membukakan pintu mobil. Cepat-cepat menyusul masuk dan segera menyalakan mesin mobil.


"Anda terganggu karena Ibu Jihan yang memintanya secara pribadi?" tebak Arjun dengan sukses.


Chris tidak menjawabnya, dia merasa malu sendiri dengan kelakuannya. Dia bukan anak remaja yang harus marah karena istrinya meminta orang lain memanggilnya seperti itu. Namun faktanya Chris memang merasa terganggu. Hal itu karena dia tidak menyukai kesan akrab yang ditimbulkan dari permintaan itu.


"Ibu Jihan terlalu rendah hati Tuan, karena itu dia tidak nyaman dipanggil nyonya oleh saya. Jangan kawatir, saya sama sekali tidak akrab dengannya."


Chris benar-benar terperangah walaupun wajahnya tetap datar. Bagaimana Arjun bisa membaca hatinya dengan mudah? Apa karena hampir satu dekade bekerja dengannya?


Arjun diam-diam tersenyum.


'Dia mulai posesif.' monolog Arjun dalam hati.


.


Chris mengunjungi lagi pabrik baru yang sempat bermasalah dengan penduduk disana. Masalah sudah di selesaikan melalui hukum dan warga yang kemarin berdemo sudah memahami apa yang mereka lakukan. Chris sudah memberikan mereka uang yang sesuai, sayangnya mereka terlalu silau dan malah menggunakan uang mereka untuk hal yang tidak berguna. Mereka kehabisan modal dan karena kurangnya pemahaman dan penyesalan yang datang di akhir, mereka merasa rugi dan ingin tanah mereka dikembalikan. Tentu saja hal itu tidak mungkin dikabulkan. Mereka mengamuk seperti preman dan Chris terpaksa melibatkan hal itu dengan penegak hukum.


"Kapan ini selesai dan bisa diopoerasikan?" tanya Chris ketika berdiri di depan mesin-mesin yang sedang di pasang.


"Beri saya waktu 3 hari untuk percobaan Pak Chris. Saya akan terus melaporkan perkembangannya pada perusahaan pusat."


Chris melirik pria tua yang tidak berani menatapnya itu. "Tiga hari katamu?" Ulang Chris dingin.


"Du-dua hari Pak!" ulangnya.


Dia adalah direktur yang bertanggung jawab pada proyek disana. Direktur yang menggantikan sepupunya Jeremy.


"Ta-tapi P-Pak kita... "


Arjun menepuk pundaknya dan tersenyum masam. Memberi peringatan pada pria tua itu untuk mematuhi dan melaksanakannya saja. Kening Pria itu sudah dibanjiri keringat. Dia semakin gugup dan takut ketika mendapat tatapan seperti itu dari Arjun. Hal itu karena bearti dia telah melakukan kesalahan.


"Sa-saya akan melakukan perintah Pak Chris dengan baik." katanya.


"Kenapa anda sangat canggung, santai saja." hibur Arjun.


Sayangnya bukannya terhibur pria itu semakin berkeringat dingin. Chris sudah mengabaikannya. Pandangannya mengarah pada ponselnya yang mendapat panggilan dari ibunya.


Chris meninggalkan lokasi yang cukup berisik itu menuju tanah lapang dimana mereka memarkirkan mobilnya.


"Ada apa Mom?"


'Belum tiga jam kamu pergi dari rumah dan sudah ada gosip mengenai kalian.' ujar ibunya dari seberang.


"Mom aku tidak__"


'Bayu tidak memberitahumu? Vidio Jouji, kamu dan Jihan beredar di Internet. Jouji lagi-lagi membuat dia terlibat skandal. Seluruh media sepertinya berlomba-lomba membuat berita saat ini. Penggemarnya dan netizen mempertanyakan sikapmu yang terlihat kasar padanya. Kamu tahu sebelumnya Jouji membuat seolah-olah dia dekat dengan keluarga kita, bukan? Jadi namamu sekali lagi terlihat buruk Chris!'


Chris menghela napas, dia kehabisan kesabarannya. "Aku akan mengatasinya Mom," kata Chris dan mengakhiri panggilan.


"Ada apa Tuan?" tanya Arjun.


Chris tidak menjawab, dia membaca laporan Bayu yang baru dilihatnya. Menggeser layar untuk memeriksa beberapa foto yang beredar beserta Vidio yang akhirnya ia putar. Arjun mendekatkan diri untuk ikut melihat.


"Ini pasti rencananya pagi ini, pantas saja dia sangat aneh tadi. Sudah pasti wartawan yang mengambil rekaman ini sudah dibayar." kata Arjun.


Chris memasukkn ponselnya lalu masuk ke dalam mobil. Dia mengirim pesan pada Jihan dan berharap dia membacanya dengan cepat. Namun tampaknya Chris harus bersabar untuk kesekian kalinya ketika Bayu memberi kabar, Bahwa dalam 1 jam lagi Jouji akan melakukan konfrensi pers di gedung agensinya.


"Kita kembali ke perusahaan." perintahnya.


Pabrik itu berada di luar kota dan mereka membutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk sampai ke gedung perusahaan kembali.


"Lakukan apapun untuk membatalkan konfrensi pers itu." ujar Chris saat menelepon Bayu. "Kemana Lion? Kenapa dia tidak memberi kabar mengenai Jihan saat ini?" tanya Chris.


Matanya melebar ketika mengetahui anak itu malah menyerahkan tugasnya pada orang lain karena ibunya yang masuk rumah sakit.


"Sialan! Apa kalian ingin mati! Kamu tahu keselamatannya harus diprioritaskan dan kamu membiarkan pecundang untuk menjaganya?" kesal Chris.


Arjun meneguk ludahnya dengan berat. Saat Chris marah bercampur kawatir adalah hal yang paling buruk baginya.


"Berikan aku kabar secepatnya!" bentak Chris.


Chris baru saja ingin menelepon Jihan ketika istrinya itu meneleponnya duluan. Hal buruk langsung berada dipikirannya karena tidak mungkin Jihan menghubunginya duluan jika bukan karena hal yang mendesak.


"Halo?"


'Assalamualaikum, Kamu ada di kantor?'


"Aku dalam perjalanan kembali dari luar kota. Apa yang terjadi?"


'Kamu sudah tahu beritanya? Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Wartawan terus mendesak untuk minta keterangan dariku. Aku bahkan bersembunyi karena takut pada mereka. Bagaimana kalau aku salah jawab?'


Chris memijit kepalanya. "Tetap diam dan tetap di tempatmu. Bayu akan mengirim orang untuk mengusir mereka."


'Ba-baik.'


Chris menurunkan ponselnya. "Percepat jalannya, Cari jalan alternatif untuk segera sampai ke toko Jihan." perintah Chris.


.


Satu jam berlalu dan mereka masih dalam perjalanan. Mereka terjebak macet. Chris selalu memeriksa ponselnya. Konfrensi pers berhasil di batalkan namun sayangnya, Jouji sedang melakukan siaran langsung dari media sosial.


"Anak ini!" geram Chris.


Dia tidak bisa menonton live Jouji karena dia tidak menggunakan media sosial yang sama. Kalaupun iya sudah dipastikan dia tidak akan mengikuti Jouji. Karena itu dia harus menunggu Bayu mengirimkan rekamannya setelah live selesai.


'Halo J-lovers! Aku benar-benar minta maaf membuat kalian cemas. Banyak yang terkejut dan bertanya mengenai apa yang terjadi. DM masuk begitu banyak dan aku dengan kawatir membukanya. Kalian sangat baik menghawatirkan aku. Tapi aku baik-baik saja.'


Chris menatap layar ponselnya dengan geram. Namun wajah datarlah yang dilihat Arjun ketika ia mengintip respon dari atasnanya itu. Chris mendengarkan rekaman itu dengan mode loadspeaker sehingga dia bisa mendengarnya juga.


'Jadi J-lovers apa yang terjadi pagi ini adalah kesalahanku karena datang terlalu pagi. Aku hanya ingin mencari pakaian sehari-hari untuk dirumah agar tidak menarik perhatian banyak orang. Tapi sepertinya Chris masih salah paham padaku karena aku berteman dengan Jihan. Aku cukup dekat dengan keluarga mereka jadi wajar bagiku untuk pergi kesana sebagai bentuk dukungan untuk Jihan. Dia baru saja membuka tokonya dan banyak yang mengatakan kalau barang disana berkualitas. Aku juga memiliki selera yang sama degannya, kami sangat senang membahas mengenai karya anak negeri dan aku ingin ikut mempromosikannya.'


Chris ingin membanting ponselnya karena panas mendengar perkataan Jouji, bagaimana Jouji membuat seolah dia dan Jihan terlihat sangat dekat. Namun dia tetap menahannya karena ingin melihat sejauh mana Jouji akan membuat kekacauan.


'Sejujurnya... Aku memang mengagumi sosok Jihan. Kami berteman dengan baik dan dia wanita yang sangat baik. Aku pernah mengatakan bahwa dia adalah tipe idamanku. Itu benar! Karena itu... Aku harus melindungi dan menyelamatkannya. Kalian pasti tahu kasus mantan istri Chris bukan? Dia sahabatku juga. Saat itu aku tidak bisa menyelamatkannya. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan temanku mengalami hal yang sama dengan Nana.'


Chris benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Dia menghentikan vidio yang hanya tersisa satu menit itu. Memijit kepalanya dan mengatur emosinya.


"Kita sampai Tuan. Tapi..."


Chris menoleh pada apa yang dilihat oleh Arjun ketika dia berhenti bicara. Puluhan wartawan memenuhi depan gedung toko Jihan. Bayu terlihat kualahan menahan mereka.


"Mereka tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jouji melempar bom yang membuat mereka senang." kata Arjun.


Bayu yang menyadari kedatangan Chris memerintahkan seluruh anak buahnya membuat ruang. Arjun melaju dengan cukup cepat dan berhenti tepat di depan pintu masuk. Bayu segera menghalangi wartawan yang mendekatinya sehingga Chris masuk dengan aman.


Ketegangan jelas terasa dari pandangan semua karyawan Jihan. Rini yang sedari tadi menggenggam tangan Jihan segera melepasnya ketika Chris datang.


Chris menghela napas dan meraih tangannya. Membawanya pergi tampa mengucapkan sepatah katapun. Ketika mereka melewati pintu, wartawan kembali mendesak.


Chris tidak menjawab satupun pertanyaan mereka. Dia sudah sangat kesal dan marah saat ini sehingga tidak memiliki keinginan untuk berkata dengan sopan. Jadi memilih diam adalah pilihan yang sangat baik saat ini.


Mereka berhasil memecah kerumunan yang menghalangi mobil dan pergi dari sana. Tidak ada pembicaraan apapun sampai mereka tiba di gedung perusahaan. Chris membawa Jihan masuk tampa melepaskan genggamannya. Seluruh karyawan mencuri-curi pandang dari jauh saat mereka lewat. Membuat perasaan Jihan semakin buruk.


Jihan mengintip ekspresi Chris yang terlihat menyeramkan. Chris tentu saja menyadarinya, dia sudah bersiap melakukan perdebatan dengan Jihan. Sangat tahu wanita disisinya itu tak akan diam saja saja tampa bertanya. Dirinya juga memiliki banyak pertanyaan setelah mendengar perkataan Jouji tadi.