
Chris menerima pesan setelah Jihan tidur. Sebuah vidio rekaman yang membuat darahnya mendidih. Pesan itu adalah sebuah wawancara secara pribadi antara Adoran dan seorang wartawan.
Dia mendapat pesan lain dari nomor yang sama. Nomor yang jelas dia tahu siapa pemiliknya. Chris mengambil asal jaketnya dan menyambar kunci mobil di atas meja. Dengan tergesa-gesa dia turun dan pergi menuju tempat yang tertulis di pesan tersebut.
Chris berhenti di pinggir jalan. Menurunkan kaca mobilnya ketika seorang wanita yang sudah menunggu di sana menghampirinya.
"Biarkan aku masuk, sayang." ujarnya penuh arogansi.
Chris terpaksa membuka kunci pintu dan Adora, wanita yang ia temui itu masuk kedalam.
"Apa kabar? Aku sangat terkejut dengan pernikahan tiba-tibamu. Aku pikir kamu tidak akan menikah lagi ketika lepas dari Nana." ujarnya.
"Apa tujuanmu?"
"Dingin seperti biasanya. Santai sedikit sayang, apa kamu tidak merindukanku?" Adora mencoba menyentuh tangan Chris, namun dengan cepat Chris menepisnya dengan kasar. "My God... kamu kasar seperti biasa." lalu Adora membuat tawa yang terdengar menyebalkan ditelinga Chris.
"Ini sampel dari anak kita. Kamu bisa melakukan tes jika kamu ragu. Setelah hasilnya keluar, kita akan bicara lebih jauh. Aku ingin anakku mendapatkan pengakuanmu. Bukankah lebih baik mengurus anak dari darah daging sendiri dari pada mengurus anak orang lain?"
Chris menoleh dengan wajah lebih dingin dan aura yang lebih kelam. "Azam anakku juga. Jangan pernah mengatakan hal seperti_" Chris mengerutkan keningnya sesaat ketika Adora malah tertawa dan menggeleng.
"Bukan anak tirimu, Chris. Aku sedang membicarakan anak Nana yang kamu besarkan sejak lahir."
"Apa maksudmu?"
Adora hanya tersenyum penuh arti, dia keluar dari mobil Chris meninggalkan satu sumber feustasi baru lagi. Perkataan Adora membuat tanda tanya besar baginya.
Ketika Chris kembali, dia berpapasan dengan Jihan yang baru kembali dari dapur untuk mengambil air putih. Jihan hanya menatapnya dari atas kebawah tampa bertanya, seolah tahu mengatakan jangan menjelaskan karena dia sudah mengerti. Jihan lalu melanjutkan langkahnya dalam diam setelah memberikan tatapan tajamnya.
Chris semakin merasa buruk. Sejak kedatangan Adora, hubungan mereka kembali seperti awal. Perbedaannya hanyalah, Jihanlah yang mengacuhkan dirinya saat ini.
"Ji... Kamu akan terus diam?" tanya Chris ketika keduanya telah berada di tempat tidur lagi.
"Tidurlah, terlalu larut untuk membahas sesuatu." jawab Jihan.
Akhirnya, malam itu Chris tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dalam kepalanya ada banyak sekali hal-hal yang harus ia selesaikan. Belum selesai masalah paman dan sepupunya yang kembali membuat gaduh dalam perusahaan, ditambah masalah dia dan Jihan dengan kehadiran orang ketiga dari kedua belah pihak. Dia bahkan sampai tidak memasukkan Jouji dalam daftar lagi karena baginya Jouji tidak terlalu berbahaya.
.
Pagi-pagi Jihan sudah tidak ada dirumah. Dia sudah pergi ketika Chris sedang mandi. Ibunya bahkan tidak tahu kapan dia pergi. Catrin adalah satu-satunya yag tahu karena anak itu segera mencarinya ketika baru bangun tidur.
"Mama ada keperluan penting katanya, Daddy." jawab anak itu ketika Chris bertanya padanya ketika mengantarnya kesekolah.
Sementara itu, Jihan sedang duduk di sebuah bangku taman bersama Adora dan bayi wanita itu.
"Dari mana kamu mendapatkan nomorku?" tanya Jihan.
Adora tersenyum lalu meletakkan bayinya di atas kereta bayi di sampingnya. "Itu bukan hal yang sulit. Aku ingin memberikan ini padamu."
Adora menyidirkan map coklat pada Jihan yang langsung dibuka dan di baca olehnya. "Itu bukti test DNA, Anakku... membutuhkan ayahnya." Jihan menyimpan bukti itu di dalam tasnya sebelum menjawab pernyataan itu.
"Lalu, apa maumu? Menikahi suamiku?" sarkas Jihan.
"Menurutmu?" tanya Adora balik dengan gaya menantang.
"Aku tidak tahu, bukankah kamu yang datang padaku?" sahut Jihan datar, "Apa kamu sudah memintanya pada Chris? Jika dia mau maka aku akan setuju. Nah," Jihan bangun dari duduknya, menatap Adora dingin. "Selamat berusaha." lanjutnya.
Dia sudah berjalan beberapa langkah ketika dia teringat sesuatu. Dia berbalik lagi dan mengatakan perkataan yang membuat Adora menahan emosinya dengan susah payah.
"Dalam syariat islam, anak diluar nikah nasabnya pada ibunya. Tidak ada tanggung jawab Chris untuk menafkahinya."
Jihan merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan perasaan marahnya. Dia tahu apa yang ia katakan adalah kebenaran, namun hatinya tetap merasa iba mengingat anak Adora yang tidak bersalah. Tindakannya bahkan bertolak belakang dengan perkataannya pada Chris untuk bertanggung jawab.
"Itu hanya masa lalu. Kamu harus realistis Jihan. Jangan dibutakan oleh amarah." gumamnya pada diri sendiri.
Adora sendiri masih duduk di taman itu. Dia tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan. Dia menduga Jihan adalah wanita lemah yang hanya bisa pasrah.
Dia mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi seseorang. Namun beberapa kali di telepon, orang tersebut tidak mengangkatnya. Pada panggilan kelima, barulah tersambung.
"Kamu bilang akan mudah menyingkirkannya karena dia wanita lemah. Kamu menipuku?" ujarnya marah.
Pria diseberang telepon tersenyum lebar, "Kapan aku mengatakan dia lemah? Kamulah yang menyimpulkannya sendiri. Tapi... Bukankah ini menjadi lebih menarik?"
"Jordi!"
Terdengar kekehan Jordi lalu panggilan terputus begitu saja. "Sialan!" makinya pelan. Dia berjongkok di depan kereta bayi anaknya lalu tersenyum.
.
Chris mendapatkan hasil test DNA disore harinya. Meski dia sudah yakin tentang hasilnya, namun dia benar-benar butuh bukti.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?" tanya Arjun ketika mereka sudah melihat hasilnya.
"Pertanyaannya adalah, apa yang akan dilakukan Jihan." Chris mengambil kunci mobil dan segera pulang sendirian.
Sesampainya dirumah, ibunya sedang duduk manis di sofa ruang tamu. Memperhatikan Catrin yang sedang bermain. Melihat anak itu, perkataan Adora kembali terngiang dikepalanya. Dia menghampiri Catrin lalu mengelus kepalanya. Dengan Jarinya, dia memutuskan sedikit rambut Catrin dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.
"Daddy tidak pulang bersama Mama?" tanya Catrin.
"Mama belum pulang?" Catrin menggeleng sebelum kembali memperhatikan mainannya.
Chris bangkit dari sana, lalu menghampiri ibunya. "Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu?" tanya ibunya. Chris tidak heran ibunya segera tahu, Bayu sudah pasti memberitahunya ketika sang ibu menyadari ada salah dari hubungan anaknya.
"Aku tidak tahu, Mom. Ini diluar dugaan." keluhnya. "Dia juga bilang kalau Catrin..." Chris tidak melanjutkankan perkataannya ketika melirik Catrin yang ternyata mendengar saat namanya disebut. Anak itu menoleh dengan bingung.
"Dia kenapa?" tanya sang ibu.
"Aku akan mengatakannya ketika hasil pemeriksaan keluar."
"Pemeriksaan apa?"
"DNA, aku dan Catrin."
Sang ibu tampak lebih bingung. Dia tidak mengerti kenapa Catrin dibawa-bawa dalam hal ini. Namun ibunya hanya mengangguk. Dia tahu bukan saatnya membahas hal itu lebih jauh.
"Bujuk Jihan, bagaimanapun anak itu anakmu. Jika kamu tidak ingin membawanya, kamu bisa menyingkirkan wanita itu diam-diam."
"No, Mom. Jika Jihan tahu dia akan semakin membenciku." sahut Chris.
Sang ibu yang terbiasa dengan kekejaman Chris mengangkat alisnya. Dia menarik senyum sudut lalu melirik kearah pintu utama yang terbuka. Jihan baru saja pulang dengan wajah lelahnya.
"Kamu tampak lelah, Ji. Sudah makan?" tanya mertuanya.
Jihan hanya menganggu setelah menyalaminya. Lalu dia pamit untuk mandi setelah mencium kilat kening Catrin. Masih mengabaikan Chris yang menatap kepergiannya.
"Susul dan bicaralah padanya." kata ibunya.
Chris menunggu Jihan yang masih berada di kamar mandi. Saat melihat tas Jihan yang ia letakkan di meja rias, Chris melihat amplop besar yang keluar beberapa senti dari tasnya yang terbuka.
Chris yang kawatir itu adalah surat gugatan, segera memeriksa dan membacanya. Namun perkiraannya salah. Ketika ia selesai membacanya, pintu kamar mandi terbuka dan Jihan keluar dengan baju handuknya.
"Kamu sudah membacanya?" ujar Jihan dengan tenang.
"Ji, wanita itu masa lalu. Aku tidak memiliki hubungan apapun bahkan sebelum menikah denganmu."
"Aku mengerti, aku juga sedikit banyak sudah tahu bagaimana kehidupan lamamu. Tapi, bagaimanapun kamu memiliki anak dari wanita lain. Apa yang akan kamu lakukan?"
Chris merasa mulutnya begitu berat digerakkan saat ini. Dia tidak memiliki jawaban yang bagus untuk membuat hal ini tampak masuk akal. Dikepalanya hanya ada kata menyingkirkan wanita gila lain yang mengusik hidupnya setelah Nana.
"Aku... akan menyelesaikan urusan ini tampa merugikanmu."
"Tampa merugikan? Kamu tidak sadar sudah merugikanku? Keberadaan anak dan wanita itu saja sudah merugikan pernikahan ini. Aku merasa sangat tertekan, Chris. Bagaimana mungkin, kamu akan mengabaikan anak itu. Aku wanita, dia juga wanita. Kami seorang ibu. Dia ingin anaknya punya ayah. Keadaan ini membuatku sangat marah ketika aku menyadari bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menolaknya. Kamu tidak bisa menolak anakmu sendiri, bukan? Kamu tidak boleh melakukannya. Dan Aku! Aku harus bersiap untuk menerima anakmu itu. Tapi aku tidak siap, Chris. Karena wanita itu juga pasti menginginkanmu."
"Tapi aku tidak menginginkannya...." jawab Chris dengan lembut.
Dia menarik tangan Jihan dan membuat Jihan duduk di atas pangkuannya. Memeluk istrinya dan meletakkan dagunya di pundak Jihan. Tangannya menepuk-nepuk dan mengelus punggung Jihan untuk menenangkan emosinya.
"Aku bingung sekali. Aku tidak ingin mereka masuk kerumah ini."
"Mereka tidak akan masuk kerumah ini, kamu jangan pikirkan hal buruk seperti itu."
Jihan ingin sekali percaya, namun dia memikirkan kemungkinan lain mengingat betapa ambisiusnya Adora saat berbicara dengannya.
Malam itu, Chris dan Jihan tidur dalam keadaan penuh kekawatiran. Meski Chris berjanji akan menyelesaikannya, tampaknya Jihan masih menyangsikan hal itu.
Chris juga sadar bahwa jelas tidak akan mudah menghadapi Adora yang licik itu. Belum lagi mengingat vidio yang dikirimkan Adora padanya. Jika media tahu, maka Chris akan berada pada pihak yang disalahkan. Hal itu bisa membuat perusahaannya rugi besar jika dia tidak mengambil keputusan yang membuat publik setuju.
..............