Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
70



Chris membaca ulang hasil pemeriksaan sampel ibunya. Hasil asli dari Amerika. Sampai detik ini, Chris masih masih menugaskan Alex dan orang-orangnya yang menjaga ibunya. Sementara itu, Bayu ditugaskan untuk mengurus keamanan resort dan melatih petugas baru untuk menjauhkannya dari sang ibu.


"Pasti ada satu rahasia yang hanya dia dan ibuku yang tahu. Hal yang membuat dia memiliki keinginan besar untuk membunuh ibuku." kata Chris.


"Anda sudah tahu latar belakangnya, saya juga tidak melihat ada hal yang disembunyikan Bayu selama ini. Kami juga sudah menggeledah ruang kerja dan kamar pribadi ibu anda, tapi tidak ada yang mencurigakan. Anda yakin dokter itu tidak berbohong, Tuan?" tanya Arjun.


"Dokter itu tidak berbohong, aku bisa memastikannya." sela Alex.


"Aku harus mengintrogasinya sendiri."


"Kapan? Bahkan untuk menutup mata kamu terlihat tidak punya waktu." sarkas Alex melihat betapa sibuknya pekerjaan Chris akhir-akhir ini.


"Direktur Jordi, anda tidak menaruh curiga padanya, Tuan?" tanya Arjun.


"Apa kamu menyelidikinya diam-diam? Bagaimana dengan pamanku?"


"Sejujurnya, saya tidak melihat ada keterlibatan paman anda disini. Tapi untuk Jordi, saya tidak yakin. Dia bisa saja punya motif."


"Kalaupun ada, harusnya dia menyerangku seperti yang sudah-sudah. Jordi hanya belum dewasa, tapi dia bukan orang jahat. Ibu dan ayahku memperlakukannya cukup baik dengan kepribadian mereka yang buruk, jika dia sakit hati, orang itu harusnya aku."


Jadi disini Chris ingin mengatakan bahwa kalaupun Jordi ingin mencelakai seseorang, harusnya dialah targetnya. Bukan ibu Chris yag telah memungutnya dan memberinya kehidupan yang baru. Karena sejak dulu, Chris tidak pernah memperlakukannya dengan baik karena alasan dia diangkat anak adalah untuk menghantikan kakaknya yang mati.


Alex menatap Arjun dengan sorot penuh curiga. Hal itu disadari oleh Chris yang memang duduk di hadapan mereka berdua. Mereka sedang berada di ruang rapat dimana Chris baru saja mengadakan rapat dengan beberapa kepala tim perencanaan.


"Perintahkan seseorang menyusup kerumah Bayu. Temukan apapun yang bisa dijdikan petunjuk. Aku ingin dia mengakuinya di hadapanku secara langsung." perintah itu ditujukan Chris pada Arjun.


"Baik, Tuan."


Arjun segera keluar dari sana untuk melakukan panggilan telepon.


"Kamu mempercayai asistenmu itu sepenuhnya?" tanya Alex, matanya masih menatap pintu keluar.


"Kamu mencurigainya karena terkesan membela Bayu?" Alex mengerutkan keningnya.


"Bukankah itu sangat jelas?"


"Mereka berteman, cukup akrab untuk menimbulkan kepercayaan satu sama lain. Percayalah, Arjun adalah orangku yang paling setia. Dia ada dipihakku sejak awal, jadi jangan kawatir. Dibanding Arjun, kamulah yang lebih menghawatirkanku."


"Ck! Jangan menyudutkanku karena aku membongkar hal kecil di depan wanitamu itu. Cepat atau lambat, kalau kamu akan menikahinya kembali, kamu tidak bisa menyembunyikan semua hal darinya."


Chris melemparkan tatapan seolah mengatakan masalah itu bukan urusan Alex. Membuat Alex berdecak sebal.


"Aku akan berusaha, tapi aku tidak janji. Dia cukup menyebalkan dengan kepribadian dan cara pandangnya itu."


"Kalau perkataanmu membuat air matanya jatuh suatu saat nanti, aku bersumpah akan memotong lidahmu."


Alex terdiam sesaat ketika mendengar ancaman itu. Chris mengatakannya dengan wajah tampa ekspresi, Alex tahu itu bukan hanya sebuah gertakan. Chris sungguh-sungguh memberinya peringatan kali ini.


"Aku akan mengingatnya." kata Alex. Menyerah akan kekuasaan teman sekaligus bosnya itu.


'Seberapa besar cinta yang dimiliki olehnya pada wanita itu? Aku tidak tahu kalau dia bisa mengancamku hanya karena seorang wanita. Tiran kejam dan dingin ini, sejak aku mengenalnya, dia tidak pernah tertarik pada gadis manapun. Jadi, kelemahannya adalah wanita itu?' monolog Alex. Masih menatap Chris yang kini sibuk dengan ponselnya.


"Bagaimana keadaan Marcell? Apa polisi terlihat menyulitkannya?" Tiba-tiba Chris membahas hal lain. Bersamaan dengan itu, Arjun masuk untuk bergabung kembali.


"Masih dirumah sakit. Walau sebetulnya dia bisa pulang, tapi jendral itu mengaturnya dengan baik. Selama investigasi kasus ini belum selesai, dia sebaiknya masih berperan sebagai pasien yang perlu istirahat."


"Jangan memandang mudah padanya,"


"Siapa yang anda maksud?" tanya Arjun.


"Marcell, dia cukup manipulatif." jawab Chris.


"Tidak lebih buruk darimu, tentu saja." komentar Alex.


Chris terkekeh pelan, dia masih fokus membaca beberapa judul berita di media sosial. Hingga matanya sedikit melotot pada satu judul artikel. Lalu, dia menatap Arjun dengan sangat tajam.


"Kamu cukup baik mengatur media-media ini, tapi kenapa masih ada berita yang membahas Jihan dan Marcell? Dari mana mereka tahu nama aslinya? Cari siapa penulis dan sumbernya, juga siapa yang memberi mereka bocoran informasi ini."


Chris geram melihat ada judul berita yang menyinggung Jihan. Setelah berita bahwa mereka akan kembali rujuk. Kenapa ada berita yang membahas kisah mereka dimasa lalu? Chris benar-benar kesal membacanya.


"Saya akan menyuruh seseorang mengurus ini. Kita harus ketempat pertemuan anda dengan direktur utama Kertamina, Tuan."


"Aku akan pergi sendiri. Urus ini secepatnya. Aku ingin artikel ini dihapus sekarang juga!"


Chris berdiri dan segera keluar dari sana dengan aura kelamnya. Seolah bersiap melemparkan bom pada setiap orang yang dilewatinya.


"Haaah, sial! Siapa sih yang berani melanggar, apa uang dan peringatannya kurang!" kesal Arjun.


Alex yang sejak tadi memperhatikan perubahan Chris, semakin heran dengan sikap Chris yang menurutnya berlebihan hanya karena pemberitaan masa lalu Jihan dan pria lain.


"Bagaimana bisa dia berubah menjadi menggelikan seperti itu?" herannya.


"Apa maksudmu?" malah Arjun yang heran mendengar pertanyaan itu.


"Itu tadi, bukankah responnya sangat berlebihan? Artikel berita yang bahkan tidak jelas sumbernya, tidak semua orang akan mau membacanya."


Arjun harus segera pergi, namun melihat Alex yang selama ini meremehkan dan terlihat membenci Jihan membuat mulutnya gatal untuk menjelaskan.


"Apa kamu tidak tahu seberapa tertariknya orang-orang pada kisah percintaan Tuan? Segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuan tentu akan jadi topik hangat. Pengusaha yang sukses diusia muda, penerus satu-satunya dari pendiri dan pemilik saham terbesar MC group, tampan, punya aset pribadi yang banyak. Siapa yang tidak akan tertarik? Lalu Jihan, dia wanita yang penting baginya. Sangat penting bahkan sampai Tuan melakukan semua hal gila ini!" kata Arjun, dia memeriksa jam ditangannya sebelum melanjutkan. "Seperti yang kamu tahu, dia bahkan berhenti menjadi player berhati dingin, dengan segudang skandalnya juga, orang-orang akan terus menyorotinya." lanjutnya.


Alex menunjukkan wajah tampa minat. Membuat Arjun ingin melayangkan sebuah pukulan pada wajahnya.


"Aku tahu seberapa besarnya namanya, yang aku tidak mengerti adalah sikap berlebihannya. Sialan, apa sih yang membuat wanita itu istimewa? Dia terlihat sama saja dengan yang lain."


"Apa hubungannya denganku, bodoh!" balas Alex. Pria ini memang pria kepala batu yang suka sekali mengatakan apapun yang terlintas dikepalanya.


"Sepertinya belum, kamu pasti hanya menjalin hubungan dengan wanita murah yang dibayar beberapa malam. Membahas ini denganmu hanya membuang-buang waktuku, sial!" umpatnya di akhir sebelum berjalan cepat kekuar dari ruang rapat itu.


Meninggalkan Alex yang melihatnya dengan ekspresi tak peduli.


.


Jihan sedang bersama beberapa petugas dari kepolisian ketika Meri berlari kearahnya dengan terburu-buru. Karena Chris tidak mengizinkannya keluar, polisi-polisi itulah yang datang kesana untuk meminta keterangan dan kesaksiannya.


"Maaf, apa sudah selesai?" tanya Jihan ketika melihat Meri berdiri tidak jauh dari mereka. Menunjuk-nunjuk ponselnya.


"Ada dua pertanyaan lagi, tapi kami bisa menundanya jika anda sedang terburu-buru. Kami akan kembali lain waktu. Karena kemungkinan akan perkembangan kasus ini, akan ada pertanyaan lain untuk anda." jawab salah satu dari dua polisi itu.


"Saya mengerti, kalau begitu saya pamit, permisi." ujar Jihan dengan sopan.


Setelah kepergiannya, rekannya menoleh dan menatapnya dengan sinis. "Pertanyaannya masih banyak dan kamu bilang tinggal dua?"


"Kamu tidak lihat dia sudah tidak nyaman?"


"Lalu kenapa?"


Rekannya ini menghela napas panjang, selayaknya orang yang sedang pasrah akan keadaan."Aku masih ingin terus berkarir dibidang ini. Jadi membuat masalah dengan pemilik MC tidaklah baik. Ayo pergi!" ajaknya seraya berdiri.


Sementara itu, Meri menunjukkan artikel yang belum berhasil di urus oleh Arjun. Begitu Jihan selesai membacanya, dia diam dalam jangka waktu yang cukup lama. Keningnya berkerut karena sedang mengumpulkan ingatan dimasa lalunya.


"Kamu tidak mengingatnya? Apa sumber berita ini salah?" tanya Meri, dia sangat mengenal Jihan dan sangat hapal kalau tannya ini tidak akan semudah itu melupakan teman yang pernah dekat dengannya.


"Aku tidak ingat, mungkin kalau ada fotonya saat itu aku akan ingat. Tapi... Kenapa pak Marcell tidak pernah mengatakannya kalau dia teman sekolahku dulu?"


Jihan memang tidak mengingatnya karena mereka hanya kenal dalam jangka waktu yang singkat. Artikel itu juga tidak menyertakan foto Rafi saat itu karena tidak ada satupun fotonya tertinggal disekolahnya saat itu.


"Aku akan cari fotonya, mungkin saja benar kalau dia yang mengirim paket, karena itu kamu ikut terlibat dalam urusannya dengan kelompok itu. Ini bisa jadi alibimu ditengah serangan tiga bajingan yang menjebakmu dalam kasus mereka."


Tiga bajingan disini adalah tiga pria paruh baya itu. Mafia yang menyeret nama Jihan dalam cerita mereka karena ingin menghancurkan Marcell. Mereka lupa bahwa ada Chris dibelakang Jihan. Yang mereka tahu hanya balas dendam karena mereka beranggapan Marcell yang mengatur polisi-polisi ini.


"Jihan, bisa kita bicara?"


Keduanya menoleh, Chris berdiri disana dengan Arjun yang menenteng banyak barang.


.


Sepertinya Jihan menyukai sungainya. Sehingga dia melangkah ke arah tepi sungai ketika Chris ingin bicara.


"Kamu suka sungai ini?"


"Ya, memangnya presdir tidak? Ini indah. Lebih indah lagi kalau ada banyak bunga di sekitar sini. Lalu ada rumpit hijau yang bisa dijadikan tempat berbaring santai."


Chris bisa melihat binar dimata itu ketika Jihan seolah membayangkan apa yang dipikirkannya.


"Tolong lebih santai seperti kemarin. Jangan panggil Presdir kalau diluar perusahaan."


Jihan meliriknya sedikit, "Baik," sahutnya dengan nada tidak nyaman. "Tapi... Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya.


Mereka berdiri berdampingan dengan jarak sekitar satu meter. Menatap air sungai yang jernih dan menikmati suara riak air yang mengalir.


"Sesuatu menggangguku, ini tentang sebuah artikel yang diterbitkan siang ini. Apa kamu sudah membacanya?"


"Oh, itu. Baru saja, Meri yang menunjukkannya padaku. Tapi apa yang salah dari itu?"


"Dia benar-benar temanmu?" tanya Chris.


Meskipun sudah lama tahu sejak Chris menyelidiki soal paket lagi, saat itu Chris melakukannya lebih serius lagi setelah menerima vidio dari Alex. Saat itu, dia mengira orang-orang inilah yang mengirim paket itu pada Jihan untuk mempermainkannya. Tapi nyatanya, dia malah menemukan fakta lain. Sehingga dia memutuskan untuk bekerja sama dengan Marcell walaupun dia sangat enggan.


"Itu... Aku benar-benar tidak ingat. Mungkin kalau ada fotonya... Aku akan ingat yang mana Rafi ini. Apakah dia benar-benar Marcell atau tidak. Lagi pula, kenapa kamu tidak menanyakannya langsung padanya?"


"Kamu tidak penasaran karena tidak ingat?" wajah tidak senang Chris sedikit berubah sekarang. Seolah ada secercah sinar yang meneranginya.


"Kalaupun ingat apa gunanya? Itu hanya masa lalu. Dia akan tetap jadi teman sekolahku dan rekan bisnis perusahaanmu."


"Dia bukan rekan bisnisku!" tolak Chris.


"Ya, saingan kalau begitu. Bagaimanapun dia berhutang karena kamu secara tidak langsung menyelamatkannya. Apa dia sudah berterima kasih?" Jihan hanya tidak tahu fakta sebenarnya.


"Tidak ada! Lagi pula aku tidak berniat menolongnya. Aku datang untukmu."


Chris melihat Jihan menggaruk pelipisnya dengan canggung. "Apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan? Kalau tidak ada lagi, aku akan izin bergabung dengan yang lain." Chris tahu Jihan hanya menghindari pembicaraan yang mengarah ke hubungan mereka.


"Ya, pergilah. Tolong panggilkan Arjun ketika kamu bertemu dengannya." pinta Chris.


Chris mengingat laporan Arjun ketika sore ini mereka kembali bertemu di dalam kantor. Bahwa orang yang menerbitkan artikel tidak dikenal. Alias surat kabar online itu telah disusupi. Seorang Hacker meletakkannya disana. Artikel itu sudah berusaha dihapus namun muncul lagi dan lagi. Sampai Arjun menurunkan ahli IT mereka sebelum dia kembali dan menyerahkan hal itu pada mereka.


"Tuan?"


Chris meliriknya sedikit, "Sudah dihapus?" tanya Chris.


"Sudah, baru saja saya mendapatkan laporannya, tapi kabar itu sudah menyebar ke media sosial lain."


Tangan Chris mengepal erat. "Tutupi dengan berita lain." suruhnya.