Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
46



Dua minggu berlalu, Chris tidak datang ke kafe Jihan lagi. Hal itu karena dia berada di luar negeri. Arjun ikut bersamanya. Meski begitu, orang-oranya masih melaporkan apa yang terjadi pada Jihan setiap hari.


Seperti halnya sore ini, dimana Alex masih setia mampir dan menagih 50 jutanya. Jihan bahkan sudah menjual mobilnya. Dia juga memikirkan nasib keryawannya untuk gaji mereka bulan ini. Sangat sulit karena keuntungan tokonya kini menurun. 50 juta setiap hari bukan hal yang mudah baginya.


"Ini sudah tiga minggu, aku sudah bosan datang kesini. Hutangmu masih banyak... bagaimana kalau setiap hari aku naikkan menjadi seratus juta?"


"Jangan keterlaluan, aku bahkan sudah kesulitan untuk lima puluh juta!" tolak Jihan. Mereka sedang bicara di area luar kafe.


"Jihan?"


Keduanya menoleh, Haris berdiri disana. Menuntut jawaban dari Jihan dan menatap sengit pada Alex. Melihat tindik dan sebuah tato yang mengintip dari balik kemeja yang lengannya digulung, Haris tentu saja langsung mencurigainya.


"Apa dia memalakmu?" tanya Haris.


Alex hanya menyeringai, dia bersandar pada pohon dimana mereka bicara dengan kedua tangan dilipat di dada. Tidak terlihat terkejut atau takut, dia sangat santai.


"Tolong pergilah, ini bukan urusanmu." pinta Jihan dengan tegas.


"Bagaimana tidak jadi urusanku kalau kamu dalam kesulitan!"


"Pfff!"


Haris menoleh, menatap kesal pada Alex yang menahan tawa seolah sedang mengejeknya. Alex merubah posisinya menjadi berdiri tegak, mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya tampa memperdulikan delikan tajam Haris.


"Kalian dekat?" tanyanya, menghembuskan asap rokok yang membuat Jihan menghalaunya dengan tangan.


"Bukan urusanmu!" jawab Haris kasar.


"Haris! pergilah!" usir Jihan setengah kesal. Haris menatapnya dengan bingung dan curiga.


"Kalau kamu kawatir, kamu bisa membayarkan hutangnya." sela Alex.


"Hutang?" ulang Haris. Menatap Jihan dan Alex bergantian.


"Aku sudah membayarmu hari ini, jadi pergilah!" usir Jihan pada Alex, lalu dia berbalik untuk pergi dan masuk ke dalam kafe. Mengabaikan Haris yang meminta penjelasan.


Alex hanya tersenyum senang, dia masih berdiri disana menikmati rokoknya. Menatap bangunan kafe dan menilai-nilai berapa harganya jika itu dijual.


"Ji, kita harus bicara."


Jihan kembali mengabaikannya. Dia memilih bersiap untuk pulang karena kafe akan ditutup. Mereka memang tidak buka di malam hari. Sudah hampir magrib dan semua orang juga sudah pulang.


"Jawab aku! Aku sudah tahu kamu menjual mobilmu, karena itu aku datang sekarang. Tapi aku malah mendengar tentang hutang? Kenapa kamu tidak bicarakan hal itu padaku?"


Jihan berhenti, menatap Haris sinis. "Dengan alasan apa aku harus memberitahumu? Kita bahkan bukan siapa-siapa." Membuat wajah Haris seperti tertampar sepertinya menurunkan rasa kesalnya. Jihan mendengus lalu melanjutkan langkahnya.


Jihan berjalan menuju jalan raya untuk memesan taksi atau ojek karena halte untuk angkutan umum cukup jauh dari sana. Tapi Haris menarik tangannya paksa dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


"Aku akan mengantarmu." ujarnya dengan tegas.


Jihan lelah, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Dengan pandangan kosong, dia menatap bangunan tokonya yang terdiri dari bagunan ruko tiga pintu dengan tinggi tiga lantai. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orang yang bekerja disana jika dia tidak bisa membayar. Tapi dia juga tidak punya cara lain saat ini.


"Berapa hutangmu?" tanya Haris.


"70 puluh milyar dan aku bahkan belum membayar separuhnya." jawab Jihan, memilih menjawab dari pada berakhir berdebat.


"Apa itu karena ayahmu lagi?" tebak Haris,


Dia tahu karena tidak sekali itu ayah Jihan membuat masalah. Dulu Haris sering membayarkan hutang ayah Jihan, namun saat itu hanya dalam jumlah kecil.


"Ayahku... Dia mengenal seseorang yang mengajaknya berinfestasi, tapi orang itu menipunya dan ayah terjebak dengan rentenir tempat mereka meminjam uang."


"Rentenir? Jadi laki-laki tadi... Tunggu! biasanya ayahmu berhutang pada bank atau temannya. Kenapa bisa pada rentenir?"


Jihan memijit kepalanya, dia merasa pusing. Lalu menghela napas sebelum menutup matanya.


"Teman barunya itu... Dia yang menyarankan ayah kesana." Jihan tidak menyebutkan nama Chris yang ia curigai sebagai dalang dari banyaknya bunga pinjaman yang dibuat Alex pada ayahnya atau bagaimana ini terencana dengan baik. Karena Jihan sendiri masih berharap bahwa perkiraannya tidak benar. Dia masih mengingat jawaban Chris yang tidak membenarkan tapi juga tidak membantahnya. Chris membuatnya abu-abu sehingga Jihan harus mencari kebenarannya sendiri.


Haris melirik Jihan yang tampak lelah. Karena jarak rumah Jihan tidak jauh dari tokonya, mereka sampai dengan cepat. Begitu Jihan hendak membuka pintu mobil, Haris menahannya lagi. Tampaknya dia masih ingin membahasnya.


"Aku akan membantumu." ujarnya.


"Tidak perlu."


"Ji... Biarkan aku..."


"Aku tidak ingin terlibat denganmu lagi, oke! Jangan membantuku ataupun peduli padaku! Aku tidak akan pernah bisa membalasnya."


Haris menatapnya dengan wajah kecewa. Jihan membuatnya begitu jelas. Menunjukkan bahwa dia tidak akan kembali padanya. Tapi dia tidak peduli, dia hanya ingin orang yang dicintainya baik-baik saja.


Pertahanan Jihan akhirnya runtuh juga. Dia menangis, tapi tidak sampai terisak. Dengan cepat dia menghapus air matanya lalu menatap Haris setengah minta maaf.


"Tidak, terima kasih. Selama aku masih bisa, aku akan mengatasi ini sendiri."


Jihan membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Haris yang menatap punggungnya dengan penuh kekecewaan.


.


Chris tiba pada pagi hari di bandara. Disambut oleh Bayu dan diantar langsung menuju perusahaan. Chris akan menghadiri rapat pemegang saham pagi ini. Arjun sudah mempersiapkan segala hal. Bahkan Bayu berusaha tidak membuat kesalahan. Suasana hati Chris jelas tidak baik dan dia terlihat lebih gelap dari biasanya.


"Hubungi Alex untuk menemuiku." ujarnya ketika mereka sampai ke perusahaan. Dimana Bayu tidak lagi mengikuti mereka.


"Baik, Tuan." jawab Arjun dengan cepat.


Seluruh peserta rapat, merasakan aura gelap yang dikeluarkan Chris. Jauh lebih dingin dan membuat semua orang merasa tercekik. Bahkan Jordi dan Arjun yang mengenalnya dengan baik, merasakan ketidak nyamanan yang cukup besar.


Setelah rapat selesai dengan semua orang puas akan perkembangan perusahaan, dengan sedikit kemarahan Chris pada beberapa direkturnya, rapat ditutup dengan cukup baik. Chris kembali kedalam ruangannya, dimana Alex telah menunggunya disana. Pria itu datang dengan cepat ketika dia mendapat pesan dari Arjun.


"Sepertinya suasana hatimu sedang buruk." tebak Alex tampa takut sama sekali, dia sudah duduk dengan santai di sofa ketika Chris dan Arjun masuk. "Lain kali beritahu pengawal sialanmu kalau kamu memanggilku, aku tidak suka dianggap pencuri." lanjutnya ketika Chris sudah duduk.


"Kamu belum bisa membuat rumah sakit itu kacau dan belum melakukan apapun pada ****** itu. Masih berani protes padaku?"


"Kamu tahu? Ibumu cukup ketat dengannya. Dia juga lebih banyak dirumah dari pada ketempat prakteknya. Mengenai rumah sakit... Aku sedang menunggu bom yang meledak. Cukup tenang dan tunggu, oke?"


"Apa yang kamu rencanakan disana?"


"Sedikit ledakan besar yang akan membuat citra mereka buruk dan harus berurusan dengan pengadilan." jawab Alex santai.


"Buat pak tua itu melemparkan Haris keluar jika dia ingin rumah sakitnya tetap mendapatkan izin usaha."


Alex tersenyum, dia mengingat pertemuan langsungnya dengan Haris meskipun Haris tidak mengenalnya.


"Jadi target utamamu bukanlah rumah sakit tapi dokter itu? Dia mengganggu wanitamu, karena itukah kamu ingin dia hancur?" kekeh Alex. "Tapi tampaknya wanitamu tidak menyukainya, apa yang kamu takutkan? Mereka terlihat akrab, tapi jelas ada jarak terbuka yang diciptakan wanitamu." lanjutnya.


"Tikus itu berusaha mencuri makanan dirumahku, aku hanya ingin mengusirnya pergi."


Alex tertawa, "Bahkan tikus itu tidak bisa membuka toplesnya, apa yang kamu takutkan. Aku benar-benar penasaran apa yang membuatnya istimewa."


"Hutangnya, berapa yang tersisa?" tanya Chris, mengabaikan perkataan Alex.


"Kenapa? Berniat membayarnya?"


"Bukankah kamu membuat bunganya terlalu tinggi? Berapa yang ibuku berikan padamu?"


Senyum santai Alex perlahan memudar. Dari sekian pertanyaan tidak ada yang dijawab oleh Chris. Dia cukup kesal tapi Alex juga sadar Chris tidak lagi membuat suasana lebih santai seperti sebelumnya.


"Tidak heran bagaimana kamu tahu. Tapi ibumu tidak membayarku. Dia hanya melempar umpan dan aku mengambilnya."


"Berhenti menemuinya setiap hari, sita seluruh asetnya dan biarkan dia berakhir menjadi gelandangan dijalan."


Alex tidak langsung menjawab, dia menatap Chris dengan serius. Seolah sedang menebak apa yang sedang direncanakan oleh teman lamanya itu.


"Kamu ingin membuatnya merangkak padamu?" tanya Alex. "Kalaupun dia bangkrut dan kehilangan segalanya, dia punya satu paman dari pihak ibunya. Dia tidak akan langsung lari padamu. Dia juga punya teman."


"Teman?"


"Kamu tidak tahu? Barista yang bekerja padanya."


Chris menoleh pada Arjun yang menggeleng pelan. "Siapa dia?" tanya Chris, kembali mengalihkan pandangannya pada Alex.


"Ayahnya pemilik beberapa pusat perbelanjaan disini, kakak laki-lakinya seorang hakim dan ibunya memiliki beberapa rumah mode. Dia anak bungsu yang hanya suka bermain-main."


"Dia bukan masalah besar." jawab Chris. "Lakukan saja perintahku." lanjutnya.


Alex tersenyum, "Tentu saja, aku juga lelah bermain lembut hanya karena dia wanitamu." jawab Alex, lalu bangkit berdiri dan pergi dari sana dengan ekslresi senang.


"Anda serius menyuruh dia melakukan kekejaman itu, Tuan? Bagaimana kalau Nyonya terluka?"


Chris mengumpat dalam hati, dia baru ingat betapa kejamnya Alex pada mangsanya. Dia merogoh ponselnya dan mengirim pesan peringatan pada Alex. Bagaimanapun, dia tidak ingin Jihan terluka seujung rambutpun.


"Tentang preman bayaran itu... Apa yang akan anda lakukan dengan mereka, Tuan?"


Chris mengangkat alisnya, dia baru ingat dia belum memerintahlan apapun tentang preman dan Adora.


"Benar, bagaimana aku lupa. Dapatkan pengakuan mereka dan sebarkan di internet. Itu akan jadi tamparan besar bagi ibuku." perintah Chris.


"Dengan senang hati, Tuan." jawab Arjun, lalu mengirim pesan pada orang-orang mereka.