Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
25



Jihan tidak bisa tidur, dia berulang kali melihat jam dinding. Sudah tengah malam namun Chris belum pulang. Jihan bagun dari kasur dan hendak turun ke dapur ketika pintu kamarnya terbuka. Chris masuk dengan wajah suram.


"Ta-tanganmu kenapa?"


Jihan segera berlari dan memeriksa luka sayatan di tangan Chris. Itu cukup dalam meskipun darahnya sudah beku. Lengan kemejanyanya juga sobek.


"Duduklah, aku akan mengambil kotak obat."


Jihan menarik Chris untuk duduk di sofa dan dia berlari ke luar kamar. Kotak obat berada di lemari dapur. Chris membuka seluruh kancing kemejanya dan melepaskan pakaian atasnya. Dia berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Gerakan itu membuat lukanya kembali mengeluarkan darah. Chris menoleh pada pintu dan melihat wajah kawatir istrinya.


"Kemarilah, lukamu harus dibersihkan dan ditutup."


Chris kembali duduk dalam diam. Dengan telaten Jihan mulai membersihkan darah di sekitar lengan itu. Mengoleskan betadin dan menutupnya dengan kain kasa yang sudah di rekatkan dengan plaster.


Sepanjang waktu itu, Chris tidak melepaskan pandangannya dari Jihan. Matanya memeta wajah itu dengan baik, tangannya bahkan sempat terangkat hendak menyentuh rambut Jihan yang terurai, namun dia mengurungkan niatnya ketika Jihan mengangkat kepalanya.


"Lukanya cukup dalam, apa ini akan baik-baik saja? Bagaimana kalau pergi kerumah sakit?"


"Tidak perlu, aku akan mandi." jawab Chris.


Jihan ikut bangkit, dengan sigap menyerahkan handuk bersih padanya. "Lukamu ... jangan sampai basah."


"Tidurlah." balas Chris lalu masuk ke kamar mandi.


Jihan menghela napas dan masuk ke dalam walk in closet, mencarikan baju tidur untuk Chris dan meletakkannya di atas kasur. Jihan turun kebawah dan membuat segelas susu hangat. Dia juga membawa dua buah roti kalau-kalau Chris lapar.


Sesampainya dia di kamar, Chris sudah selesai berpakaian. "Bukankah aku menyuruhmu tidur?" katanya tampa menoleh. Dia menatap ponselnya.


"Aku membuatkanmu susu dan mem__"


"Aku tidak suka susu." potong Chris singkat.


Jihan menatap susu itu dengan wajah kecewa, dia meletakkan susu itu di meja lalu berjalan ke sisi lain tempat tidur dan menarik selimut. Kasur itu cukup besar sehingga ada cukup ruang yang menjadi batas mereka tidur.


"Kenapa tanganmu bisa terluka? Apa ada hal buruk yang terjadi?" tanya Jihan.


Chris menoleh, menatap Jihan yang memunggunginya. Dia kembali fokus pada ponselnya, mengabaikan pertanyaan itu.


Karena di abaikan, Jihan mendengus dengan kesal. Dia teringat dengan orang yang berdemo tadi sore di depan pintu lobi. Jihan hendak bertanya lagi namun takut Chris hanya akan memgabaikannya kembali. Jadi dia memutuskan untuk menutup matanya saja.


Chris menoleh setelah beberapa saat, dia melirik jam dinding dan memutuskan untuk tidur juga. Ketika berbaring memunggungi Jihan, matanya menangkap susu dan roti di atas meja. Dia kembali duduk kembali. Dengan ragu melangkah mendekati meja dan meraih gelas itu.


Chris menatap gelas itu dengan raut tidak suka. Lalu bulir hitamnya beralih pada Jihan yang masih memunggunginya. Dengan gerakan ragu dia menenggak isi gelas itu sampai habis dan meminum air putih dengan cepat setelahnya.


.


Suara azan subuh seperti biasa membangunkan Jihan dari tidur lelapnya. Dia hendak bangun namun setelah kesadarannya pulih, dia baru menyadari ada tangan yang memeluk pinggangnya. Kepalanya juga berada diatas lengan seseorang. Ketika dia mendongak, matanya membulat karena terkejut.


Chris menatapnya dalam diam. Ternyata dia sudah bangun sejak tadi namun tidak beranjak sedikitpun. Mata kelam itu membuat Jihan langsung memerah dan jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu apa yang harus dikataka. Tubuhnya terasa kaku dan kepalanya kosong seketika.


"Lenganku mati rasa." kata Chris kalem.


"Huh? Ma-maaf!"


Jihan bangun dengan cepat. Dengan tergesa-gesa dia menyingkirkan selimutnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Chris tersenyum dengan sangat tampan. Paginya terasa berbeda sejak dia sekamar dengan Jihan. Tapi pagi ini menjadi momen paling baik menurutnya.


"Kenapa dia bertingkah seperti remaja?" kekehnya sambil ikut bangun.


Chris memilih mandi di kamar sebelah. Begitu selesai dia mendapati Jihan sedang melakukan solat subuh. Dia ingat ketika Azam membawanya ke masjid. Walaupun dia sama sekali tidak tahu bacaan solat, namun saat itu dia merasa sangat tenang untuk pertama kali dalam hidupnya.


Jihan melihat Chris yang masih memakai baju mandi, duduk dengan tenang dipinggir kasur menatap kearah sejadahnya.


"Kamu mau solat juga?" tanya Jihan.


"Aku tidak tahu caranya." jawab Chris.


Jihan terdiam cukup lama. Ada kebingungan diwajahnya.


"Kamu muslim kan?" tanya Jihan untuk memastikan.


"Kamu sudah tahu jawabannya saat kita menikah." jahut Chris ketus.


"Ya, benar. Tapi...,"


"Kakekku nasrani, ayahku menjadi muslim karena menikahi ibuku. Tapi sejak lahir aku tidak pernah melihat mereka solat sepertimu. Aku juga tidak tahu apapun mengenai islam sampai Azam membawaku masuk dalam masjid saat itu."


Jihan bangkit berdiri, "Syahadat ... coba syahadat!" uji Jihan, kekawatiran jelas terpancar dimatanya.


Chris membacanya dengan kaku. Namun dia tahu artinya sehingga Jihan bisa bernapas lega. Jihan sempat kawatir bahwa dia tadinya menikahi ateis.


"Mau aku ajari? Atau kamu mau dicarikan guru agama secara privat?"


"Aku tidak punya waktu untuk itu." tegasnya, dia pergi memasuki walk in closet.


Jihan benar-benar sedih melihat sikap Chris yang seperti itu. Dia juga teringat akan nasib pendemo kemarin sore, Jihan tidak ingin Chris melakukan hal yang buruk pada mereka hanya karena bisnis.


"Orang yang menuntut tanah mereka kemarin itu ... sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Jihan setelah Chris keluar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Kenapa kamu ingin tahu? Itu sama sekali bukan urusanmu." Chris berdiri di depan kaca.


Merapikan kerah kemeja dan memakai dasinya. Seperti biasa, dia terlihat sempurna. Tampan dengan garis rahang yang tegas, mata tajam dan kulit putih yang kontras dengan rambut coklat gelap miliknya. Secara garis besar Chris mewarisi gen ayahnya kecuali bola matanya. Bola mata Chris seperti sang ibu yang memang keturunan Indonesia asli.


"Kenapa?" tanyanya lagi, kini berbalik menatap Jihan.


Jihan tersentak, baru menyadari sejak tadi dia sedang terpesona pada fisik suaminya. Dia berdehem untuk menjernihkan pikirannya kembali.


"Hanya jangan sampai kamu berbuat tidak adil. Mereka bilang perusahaan mengambil tanah mereka, tanah tempat mereka mencari nafkah."


Chris tertawa sinis, maju dan berdiri tepat di depan Jihan. Mengangkat dagu Jihan sehingga mata mereka bertemu. Chris sengaja mendekatkan wajahnya sehingga Jihan bisa merasakan hembusan napasnya.


"Dengar Jihan, terkadang mata cantik ini bisa menipumu. Orang-orang itu terlalu bodoh dan serakah. Bukan salahku jika mereka pada akhirnya kehilangan tempat mereka. Mereka sudah mendapatkan uang yang banyak tapi terlalu silau akan itu, mereka menjadi buta tampa sadar."


Chris menarik sudut bibirnya, hidung mancungnya menyentuh ujung hidung Jihan. Sorot matanya menciptakan ketakutan sekaligus getar aneh yang membuat Jihan menggigil ditempatnya.


"Manipulasi atau bukan, mereka sudah menandatangani surat pembelian dan menerima uang." Chris menjauhkan wajahnya dan menarik tangannya.


Jihan menarik napas dengan rakus. Mengerjap beberapa kali untuk menetralkan jantungnya. Chris keluar begitu saja setelah apa yang dilakukannya.


Jihan berjalan ke sisi kasur, duduk disana dengan kaki yang masih terasa bergetar. Matanya menatap gelas kosong dan dua buah roti yang masih utuh. Meneleng dengan bingung, dia mengambil gelas kotor itu dan membawanya keluar. Pelayan muncul di depan kamarnya untuk mengbil pakaian kotor, namun karena melihat Jihan yang memegang nampan dia segera memintanya dengan sopan.


"Terima kasih, apa Catrin sudah bangun?" tanya Jihan.


"Sudah nyonya, anak manis itu sedang mandi dengan mbok Ria." mbok Ria adalah pengasuh Catrin sejak lahir.


Jihan mengangguk dan tersenyum pada pelayan itu sebelum turun menuju kamar anak sambungnya itu.


"Wah ... semakin lama anak mama semakin pintar. Sudah selesai? Siap untuk sarapan?"


Catrin berlari ke arah pintu dan segera memeluk Jihan dengan penuh semangat. "Good morning mama!" sapanya ceria.


"Morning baby, tadi sudah dipraktekkan solat subuhnya?" tanya Jihan.


Beberapa hari terakhir Catrin memang sedang belajar bacaan solat dan juga mulai mengaji dengannya atau pengasuhnya jika Jihan tidak dirumah.


"Tentu saja," sahut Catrin.


Jihan meraih tangan mungil itu dan menggandengnya turun kebawah. Ibu mertuanya sudah duduk di kursi meja makan, sedang membaca portal berita pagi di tablet miliknya. Chris sendiri juga sibuk dengan ponselnya.


"Selamat pagi Grandma, pagi Daddy!"


"Pagi sayang, pagi Jihan." sapa balik neneknya.


"Pagi ma."


Chris menoleh sesaat dan mengelus puncak kepala Catrin sebelum beralih pada Jihan yang bingung karena ditatap olehnya.


"Mulai sekarang kamu pulang dan pergi denganku."


"Huh? Tapi kita tidak searah." Jihan pada akhirnya mengangguk karena raut wajah Chris berubah kesal karena penolakannya.


"Ji, mulai sekarang tidak perlu mengurus yayasan lagi. Mama sudah alihkan pada keponakan mama. Fokus saja pada tokomu dan keluargamu." kata mertuanya.


"Kenapa tiba-tiba? Jihan belum menyelesaikan beberapa program__"


"Tak apa, sudah di urus oleh yang lain. Kamu tenang saja."


"Oh, baiklah ma." jawab Jihan.


Ibu Chris melirik anaknya sambil meminum air putih. Chris sangat tahu ibunya menatapnya dengan penasaran. Sebelum Jihan turun, Chris yang meminta ibunya untuk melepaskan Jabatan Jihan di yayasan.


"Ibu dengar ada kekacauan tadi malam di pabrik baru itu. Apa yang terjadi?" tanya ibunya.


Jihan menoleh dengan cepat, dia juga sangat penasaran karena tadi malam Chris tidak mau menjawabnya.


"Hanya masalah kecil."


"Kalau kecil bagaimana kamu bisa terluka?" sahut Jihan dengan nada kawatir.


"Kamu terluka?" tanya ibunya.


"Lengannya terkena sayatan benda tajam. Dia pulang dengan darah dilengan dan bajunya." celetuk Jihan.


"Terkena sayatan? Kamu?"


Ibunya terlihat sangsi sehingga Jihan bingung sendiri. Biasanya seorang ibu akan kawatir saat anaknya terluka, namun ibu Chris malah tidak mempercayai berita itu seolah hal itu sangat mustahil terjadi.


" Apa kamu dikeroyok oleh puluhan orang? Memangnya dimana Bayu dan timnya? Lalu kenapa Arjun tidak membawamu kerumah sakit dan membiarkan lukamu begitu saja?"


Chris tersedak makanannya sendiri setelah ibunya selesai bicara. Dia meminum air putih dengan rakus. Menatap ibunya yang tampak acuh dengan raut kesal. Sangat tahu apa maksud ibunya berkata demikian. Telinganya bahkan memerah tampa ia sadari.


"Aku akan duluan ke mobil." kata Chris datar.


"Hmm, mama kami juga harus berangkat." kata Jihan. Menyandang tas Catrin dan memegang tasnya di tangan lain.


"Ayo sayang, nanti telat."


"Yes mama! Grandma sampai jumpa. Assalmualikum."


Jihan tersenyum, "Assalamualaikum ma." tambahnya dengan senyum tulus.


"Waalaikumsalam, hati-hati." jawab mertuanya.


'Kehdiran Jihan membuat suasana rumah ini menjadi lebih cerah. Aku bahkan lupa kapan terakhir keluarga ini saling mengucapkan salam. Sepertinya tidak pernah.'


.


"Pagi bu Jihan, pagi Catrin." sapa Arjun begitu mereka masuk kedalam mobil.


"Kamu yang akan membawa mobil?" tanya Jihan heran.


"Anda tidak tahu? Saya memang menjadi asisten sekaligus supir pribadi Tuan. Rumah saya hanya beberapa ratus meter dari kawasan ini." jawab Arjun.


Tidak memakan waktu lama, mereka sampai di sekolah Catrin. Jihan mengantar Catrin masuk ke dalam kelasnya sementara Chris tetap di dalam mobil.


Arjun menerima pesan selagi menunggu Jihan. Dia tersenyum senang dan membalas pesan itu dengan cepat.


'Sungguh menyenangkan nyonya besar memberiku izin untuk mengusili mereka.'


Arjun tertawa dalam hati. Ibu Chris hanya meminta Arjun untuk menggunakan trik pada anak dan menantunya. Namun di dalam otak liciknya dia malah memikirkan kajahilan yang membuatnya bersemangat.