
Seorang wanita, sedang berdiri menghadap dinding kaca transparan rumahnya. Dia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Wanita yang memiliki tubuh proporsional, dengan kulit sawo matang dan rambut ikal yang panjang. Sesekali dia melirik keranjang bayi di samping tempat tidurnya. Wanita cantik ini bernama Adora.
"Kapan kamu akan kembali?" tanyanya pada lawan bicaranya.
"Kamu benar, tampaknya Chris jauh berubah. Aku sangat penasaran dengan istrinya yang sekarang. Apakah dia akan berakhir seperti temanmu." jawabnya.
"Bagaimanapun Harry adalah putranya. Harry berhak mendapatkan fasilitas dari Chris. Aku akan senang kamu kembali. Percepat pekerjanmu dan perbaiki citramu, dengan begitu ibu angkatmu akan segera memanggilmu kembali."
Adora meletakkan ponselnya dan tersenyum kemudian. Dia mengambil minuman anggur yang ia letakkan di atas meja dan meminumnya dengan santai.
.
Chris baru saja meninjau beberapa proyek yang sedang berjalan. Tadinya ia ingin menyerahkan semuanya pada Arjun, pihak rekanan mereka menjadwalkan peninjauan pada hari yang sama agar bisa membicarakannya langsung dengannya. Akhirnya antara pasrah dan tak ikhlas, dia meninggalkan Jihan ditemani Azam dan mertuanya.
Kini dia sudah dalam perjalanan kembali ke kantor untuk rapat lain. "Bayu mengirimkan informasi ke email anda, Tuan." ujar Arjun yang duduk di bangku depan samping kemudi. Kali ini mereka memakai jasa supir.
"Dia juga mengirim padamu."
Kalimat itu adalah sebuah perintah, karena itu Arjun segera memeriksa emailnya. "Menurut kabar yang beredar dirumah sakit, istri Haris meninggal karena penyakit kelainan jantung bawaannya. Dari perawat senior disana, kabarnya Haris menikahi anak pemilik rumah sakit karena anaknya yang menyukai Haris saat itu. Setelah menikah, Haris mendapatkan kedudukan penting dan posisi yang kokoh sampai saat ini."
Chris tersenyum sinis, "Jadi dia mengorbankan pernikahannya karena wanita yang sakit itu?"
"Hal yang paling penting adalah, Haris tercatat sebagai salah satu pemegang saham rumah sakit itu. Dia memiliki 20% saham disana, saham ayah mertuanya berkurang dari yang awalnya 60% menjadi 40% setelah pernikahan. Informasi yang beredar, itu adalah hadiah pernikahan dari ayah untuk sang putri dan menantunya."
Chris diam saja. Membuat Arjun sedikit ragu untuk melanjutkan. Namun setelah bebepa detik, tidak ada sanggahan Arjun membacakan informasi terakhir.
"Saya pikir informsi ini berasal dari beberapa teman lama Haris yang ditemui bawahan Bayu. Mereka mengatakan Haris tidak mungkin bisa mencintai wanita lain. Sejak SMA mereka adalah pasangan yang sangat kuat dalam menjaga hati. Mereka semua yakin Haris hanya mengincar kekayaan dan kekuasaan saat itu dan berencana membawa Jihan. Tapi sepertinya Jihan menolak...." suara Arjun mengecil dibagian terakhir. "Yang terakhir ini saya ragu ibu Jihan tahu alasan sebenarnya. Kalaupun tahu saya yakin dia akan menolaknya juga." tutur Arjun.
Dia memutar tubuhnya kebelakang, bersiap mendengarkan perintah dari tuannya. Selang beberap menit berlalu, Chris masih diam saja. Dia masih berpikir dan Arjun dengan pengertian kembali memperbaiki posisi duduknya.
Setelah sampai di depan pintu lobi kantor, mereka turun dan masuk. Chris masih sama diamnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Atmosfir setiap tempat yang ia lewati menuju ruang rapat juga menjadi mencekam. Semua karyawannya bahkan takut hanya untuk mengangkat kepala saat berpapasan dengannya.
.
Jihan sedang memeriksa ponselnya ketika orang tuanya pamit untuk pulang. Jihan juga sudah bisa pulang dan beristirahat dirumah untuk selanjutnya. Ada Meri dan sepupunya juga disana.
Ibu dan ayahnya menatap Jihan dengan kawatir. Sepertinya sangat berat meninggalkan anak mereka saat ini.
"Aku sudah meminta seseorang untuk mengantarkan ibu dan ayah. Dia akan menunggu di depan pintu keluar rumah sakit. Namanya Yudo." ujar Jihan.
"Terimakasih Nak, tapi apa kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya ibunya.
Jihan sudah menyimpan ponselnya dan mengangguk singkat. "Jangan dengarkan Haris, dia hanya akan memperkeruh keadaan." kata Jihan. Dia tahu ibu dan ayahnya baru saja berbicara dengan Haris secara pribadi pagi tadi.
"Walau begitu, kalau benar apa yang dikatakan Haris dan kamu menderita dirumah itu. Lebih baik kamu kembali pulang, Nak. Banyak gosip yang beredar juga tentang Chris, semua teman-teman ayah mengatakan kawatir padamu. Maafkan ibu dan ayah yang saat itu yang kekeh menikahkanmu."
"Ayah, ibu... Jihan baik-baik saja. Jihan akan menyelesaikan masalah apapun dan kalau memang harus mengambil keputusan yang buruk, Jihan akan memberi tahu. Jangan kawatirkan apapun, Jihan akan baik-baik saja." kata Jihan. Dia sendiri juga sangat ragu dengan kelanjutan pernikahannya. Namun dia tidak ingin membuat orang tuanya kawatir.
"Ya sudah, ibu dan ayah pulang dulu. Telepon jika terjadi sesuatu, jangan sampai kami tahu dari orang lain."
Jihan mengngguk pelan. Setelah orang tuanya pulang, Azam mendekati ibunya. Duduk di samping ranjang ibunya dan menatap Jihan dengan tenang.
"Apa ayah Chris jahat lagi pada Ibu?"
"Tidak sayang, Azam fokus saja sekolah. Maaf membuatmu tidak nyaman dengan masalah ibu."
Azam menggeleng, "Azam tidak masalah. Kalau ibu lelah ibu bisa keluar dari sana seperti yang dikatakan kakek dan nenek. Ayah juga sangat kawatir pada ibu. Lebih baik ibu kembali menikah dengan ayah dari pada menderita disana."
Jihan tertegun mendengar penuturan anaknya. Dia bahkan sampai bertukar pandang dengan Meri dan sepupunya. Sudah jelas mereka bertiga memiliki pikiran yang sama.
"Azam, biarkan ibumu istirahat. Tante akan mengantarmu kembali ke pesantren. Kata ustad paling lama sore suda di sana, kan?" sela sepupu Jihan.
"Azam akan diantar ayah. Dia sedang diruang operasi. Katanya akan langsung kesini setelah selesai."
Tidak lama setelah berkata demikian, pintu diketuk dan Haris benar-benar masuk. Azam segera berdiri dan menyambut ayahnya. Haris sudah berganti pakaian namun rambut depannya yang basah oleh keringat menandakan ia benar-benar baru selesai dan langsung menghampiri mereka.
"Maaf ayah lama." katanya pada Azam, lalu ia beralih pada Jihan "Ji, Sudah enakan?" tanyanya ramah.
"Hmm, sudah."
"Itu wajar, kan? Jihan masih berstatus istri Chris." sahut Meri.
"Ya, aku mengerti. Anak buahnya bahkan selalu stand by diluar sana." ujarnya. "Jika aku bukan dokter disini sudah dipastikan nasibku sama dengan artis yang baru saja di usir."
Jihan mengertnyit, satu-satunya artis yang ia kenal hanyalah Jouji. Jadi Lion dan yang lainnya menghalanginya masuk?
"Kami akan keluar sebentar ya, Ji. Hanya di depan pintu kok." ujar Meri.
Azam dan sepupunya ikut keluar. Membiarkan pintu agak terbuka karena Jihan tidak akan setuju terkunci bersama pria yang bukan mahramnya.
"Cepat bicara dan pergilah." suruh Jihan.
"Ji... kamu tahu sejak kita menjalin hubungan aku tidak pernah menghianatimu. Aku tidak pernah tertarik dengan wanita lain. Karena aku sangat membutuhkanmu, aku sangat mencintaimu."
"Nyatanya kamu menikahi wanita lain." sahut Jihan cepat.
"Untuk itulah aku ingin bicara denganmu." Jawab Haris. "Alasanku sebenarnya mengambil keputusan bodoh saat itu." lanjutnya.
Jihan yang tadinya hanya menatap dinding kini menoleh sedikit. "Bukankah sudah jelas? Karena kamu bosan dan ingin wanita yang baru." Setelah pergi Jihan memang tidak mencari tahu alasan Haris saat itu. Dia yang sangat terpukul tidak ingin mendengar apapun mengenai Haris saat itu.
"Tidak, sama sekali tidak." tegas Haris. "Saat itu aku ditawarkan sesuatu. Anak pemilik rumah sakit ini... sedang sekarat. Profesor adalah pembimbingku, dia orang yang banyak berjasa dalam karirku pada awalnya. Aku tidak sanggup menolak permintaannya. Anaknya saat itu sedang berjuang dengan kelainan jantungnya. Aku...hanya menemaninya disaat-saat dia berjuang menghadapi penyakitnya. Tapi hatiku... hatiku tetap milikmu bahkan sampai sekarang."
Jihan benar-benar menatap kedalam bola mata Haris yang terlihat sungguh-sungguh. Jihan sedikit lagi akan goyah, namun logikanya bekerja dengan sangat cepat.
"Apapun alasanmu saat itu, semua sudah berakhir. Rasa kasihanmu itu menghancurkan pernikahan kita. Kamu kasihan padanya tapi kamu tidak kasihan pada aku dan Azam. Bukankah itu sangat ironis?" jawab Jihan.
"Benar, Itulah kenapa aku mengatakan itu kebodohanku saat itu. Aku terlalu merasa berhutang budi. Aku terlalu takut jika tidak menerima permintaan itu karirku akan hancur. Maafkan aku, Ji."
Jihan tidak menjawab. Keheningan melanda beberapa detik sebelum pintu terbuka. Lion berdiri didepan pintu untuk memberi peringatan. Mengabaikan Azam yang hendak menghalanginya.
"Maaf mengganggu, tapi tuan Chris dalam perjalanan menjemput anda Nyonya. Saran saya akhiri pembicaraan pribadi ini." kata Lion sambil menghisap lolipop.
"Aku juga tidak suka lama-lama. Kamu bisa menyuruhnya keluar." sahut Jihan, lalu memunggungi mereka berdua.
"Ji... kita belum selesai. Kamu harus mengambil keputusan."
"Keputusan apa? Aku tidak akan mengmbil keputusan apapun terkait kamu." ketus Jihan.
Haris memutari ranjang agar berhadapan dengan wajah Jihan. Mendapati sikap Haris yang seperti itu Jihan dengan kesal duduk.
"Jihan... jangan sampai kamu salah langkah. Kamu harus mengambil keputusan cepat. Bersamanya hanya akan membuatmu lebih menderita. Aku tidak akan mengganggumu jika itu yang kamu mau, tapi setidaknya pergi dari laki-laki jahat itu. Dia tidak mencintaimu seperti aku mencintaimu. Dia adalah pria hidung belang dengan segudang wanita dimana-mana!"
"Rumah tanggaku bukan urusanmu."
Tanggapan dingin Jihan membuat Harus seperti tertampar. Dia menunduk dengan raut penuh penyesalan. Lalu melirik Lion yang masih setia berdiri di antara pintu masuk.
"Itu karena aku peduli padamu. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai menderita." kata Haris sebelum keluar.
Haris mengenggam tangan Azam untuk pergi dari sana. Tepat saat itu, Chris keluar dari lift. Mereka berpapasan ditengah lorong. Azam melepas genggaman ayahnya dan menyalami Chris.
"Ayah Chris akan membawa ibu pulang? Tolong jaga ibu dengan baik." pinta Azam sopan.
"Tentu saja, kamu akan kemana?" tanya Chris.
"Kembali ke pesantren, sampai jumpa ayah Chris. Assalamualaikum."
Azam menarik Haris untuk kembali jalan. Chris juga tidak menoleh sama sekali. Dia juga melanjutkan langkahnya. Mengangguk pada Lion yang berdiri di samping pintu sebagai kode untuk melakukan sesuatu. Meri dan sepupu Jihan sudah kembali masuk kedalam ketika Haris keluar dari pintu ruang rawatan.
"Kamu sudah siap untuk pulang?" tanya Chris lembut.
Jihan sedikit takjub bahwa Chris tidak membahas kedatangan Haris. Bagaimanapun pasti Lion memberitahu kalau mereka berbicara secara pribadi.
"Ya, aku pikir begitu." jawabnya.
Chris mengelus sebelah pipinya sebelum memberikan ciuman di kening Jihan. Hal itu tentu saja membuat Jihan canggung. Meri dan sepupunya masih disana.
"Ji, kami pulang duluan ya. Semua barang kamu sudah dalam tas." ujar Meri.
Mereka berdua buru-buru keluar sebelum Jihan bisa menjawab. Melihat respon mereka, Chris menatap Jihan dalam diam. Mengambil kesimpulan bahwa Jihan tidak membahas mengenai Adora selama dirumah sakit. Hal itu membuat ia bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Jihan saat ini. Apakah dia menunggu konfirmasi hingga jelas baru mrngambil keputusan?