Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
86



Gadis yang berdiri dengan bahu membungkuk dan kepala tertunduk itu diberi kursi oleh Tsuzu. Duduk berhadapan dengan Chris dan dua polisi di hadapannya. Sementara Tsuzu sendiri berdiri dibelakang gadis itu, memegang pundaknya sebagai bentuk dukungan. Arjun dan Alex berdiri di belakang Chris.


"Tidak apa-apa, ceritakan yang kamu ketahui." ujar Jendral dengan lembut. Menyadari kegelisahan gadis dihadapannya, dia mencoba tersenyum dengan ramah.


"Saya adalah seorang perawat. Ja-jadi... Saya sedang bertugas di klinik dokter jalan xxx. Ada mobil berhenti di depan klinik kami. Seorang laki-laki turun dab meminta kami memeriksa seorang wanita. Dokter meminta pasien dibawa masuk, tapi mereka bilang dia tidak boleh dibawa masuk. Jadi dokter setuju untuk memeriksa sendirian ke dalam. Dokter menyuruh saya memasang impus kemudian. Katanya pasiennya kurang cairan karena terlalu banyak muntah. Saat itu... Wanita itu sedang pingsan. Awalnya saya tidak tahu kalau dia istri Anda, pak Chris. Karena jilbabnya dilepas. Saya pikir karena basah oleh muntahan, jadi mereka membuangnya. Karena saat itu, bajunya juga kotor oleh muntahan. Ketika saya melihat berita yang ditayangkan di tv, saya langsung sadar bahwa pasien adalah istri Anda, tapi ketika saya berlari keluar, mereka sudah pergi."


Chris mengepalkan tangannya. "Kamu yakin dia istriku?" tanya Chris. Amarah bergemuruh di dalam dadanya ketika mendengar bahwa jilbab Jihan dilepas.


"Sa-saya yakin. Wajahnya sangat mirip dengan yang di TV, dia juga memakai cincin. Ketika saya mencari tahu cincin pernikahan kalian di internet, saya tahu itu benda yang sama yang dipakai pasien di jari yang tangannya saya pasangkan impus."


"Ada cctv yang menangkap mobil itu dan pria yang sempat masuk ke klinik." ujar Tsuzu.


Dia memberikan sebuah flasdist. Penyidik tadi langsung mengambil laptop dari ruang sebelah dan membawanya ke hadapan mereka.


"Apa Anda mengenalnya, pak Chris?" tanya penyidik.


"Tugas kalian mencari identitasnya." sahutnya. Menandakan bahwa dia juga tidak mengenalinya. "Alex, hubungi bocah itu. Dia akan sangat cepat memeriksanya. Kirimkan vidio ini."


"Oke." sahut Alex.


Dia memindahkan vidio ke ponselnya dengan cepat dan keluar dari sana.


"Ada berapa orang di dalam mobil itu?" tanya Jendral.


"Saya tidak tahu pasti, yang berbicara dengan kami hanya satu orang. Sepertinya ada dua orang di kursi depan menggunakan masker. Ada pembatas antara kursi depan dan belakang, jadi saya..."


"Ada hal lain yang kamu ingat? Isi mobilnya atau apapun?" potong Arjun.


Gadis itu terlihat berpikir, dia diam untuk beberapa detik untuk mengingat.


"Mobilnya sangat mewah, ada botol minuman yang juga terlihat mewah. Yang paling menakutkan adalag mereka tidak memberikan identitas pasien tapi malah memberikan peringatan pada kami. Mereka membayar kami dengan mahal lalu pergi begitu saja. Dokter kami juga takut bertanya lebih jauh."


"Bawa dia keluar." ujar Chris tiba-tiba.


Tsuzu membawa gadis itu keluar. Memesankan taksi untuknya dan dia kembali masuk ke dalam. Duduk di hadapan Chris dan dua polisi lain.


"Dokter itu temanku. Tapi... Dia terlalu apatis untuk suka rela melapor pada polisi. Tapi, keterangannya nyaris sama seperti gadis tadi saat aku bertanya padanya." terang Tsuzu.


"Ada pihak lain yang ikut terlibat, mereka bukan jenis orang yang akan bekerja pada Bayu." ujar Arjun.


Chris merasakan setitik harapan yang lebih besar. Mengetahui Jihan masih hidup membuatnya sangat bersyukur. Tapi dia juga diliputi masalah baru karena Jihan berada pada pihak lain yang tidak ia ketahui.


"Jika dia bukan orang bayaran Bayu, lalu siapa? Siapa yang memiliki kemungkinan lain? Kalian tidak memberi keterangan pada kami tentang motif Bayu ini. Bagaimana kami bisa menyelesaikannya!" kesal sang Jendral.


Chris memang hanya memerintahkannya tampa memberi keterangan apapun. Membuat para polisi ini kebingungan dan sedikit kehilangan arah.


"Yang aku inginkan hanya istriku, masalah Bayu kalian tidak perlu motif selama ada bukti bukan? Segera mulai sidangnya. Aku ingin dia mendekam di penjara sampai tua."


"Bagaimana aku menyerahkan berkas pada kejaksaan ketika datanya tidak lengkap, Sial Chris. Kenapa kamu membuatku bekerja lebih berat." gerutu Jendral itu.


Alex masuk setelah beberapa menit berlalu. Dia langsung mengambil duduk di samping Tsuzu.


"Mobil itu sewaan. Dan penyewa menggunakan identitas palsu. Showroom mobil itu baru juga mengetahuinya ketika aku mengonfirmasi kesana."


"Kenapa tidak menyiksa orang yang menculik istrimu sampai dia mengaku?" tanya Tsuzu.


"Pulanglah, terima kasih atas bantuanmu." jawab Chris.


Tsuzu berdecak, dia kesal namun memilih keluar. Mematuhi perintah Chris. Arjun mengambil alih tempat duduknya.


"Aku akan memeriksa kemana mobil sekarang." ujar jendral itu, dia keluar bersama rekannya tadi.


"Ini rekaman lima hari yang lalu, itu artinya ketika kita menangkap Bayu di kapal. Dia berniat pergi dan menyerahkan Jihan pada orang lain. Tapi siapa?" Arjun masih memperhatikan vidio ketika ia berbicara.


"Tidak mungkin, dia tidak akan repot-repot menyewa mobil mewah. Orang ini sepertinya sangat menghargai Jihan. Tunggu!" Kesadaran menghampiri kepalanya, Arjun menegakkan tubuhnya dengan benar dan menatap Chris yang sepertinya juga berpikiran sama sepertinya. "Anda juga memikirkan kemungkinan itu, kan? Tuan?" tanyanya.


"Sulit menuduhnya tampa bukti. Apalagi dia sudah tidak menunjukkan ketertarikan lagi sejak mereka rujuk." kata Alex.


"Kamu tidak tahu kapan harimau yang mengintai akan menerkam. Dia bahkan melakukan permainan kekanakan hanya untuk menarik perhatian Jihan." kekeh Arjun lagi.


Chris menutup matanya, perdebatan dua orang yang kini menjadi tangan kanannya itu masih berlanjut. Dia sendiri juga tidak bisa mendatangi Marcell sembarangan. Pria itu semakin kuat dan mengokohkan diri.


Chris memijit kepalanya, dia tiba-tiba merasakan nyeri disana, jantungnya juga bersetak dengan sangat cepat. Mimpi buruk yang dia alami beberapa hari terakhir memenuhi kepalanya. Keringat mulai memenuhi kening dan pelipisnya.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?"


Suara Arjun terasa samar dan terdengar jauh. Chris meringis, dia mencengkram kepalanya dengan kuat. "Sial!" geramnya.


"Air!" desisnya, suaranya begitu rendah dan serak.


Arjun berlari keluar, menyambar botol minumab seorang polisi yang lalu lalang diluar. Lalu memberikannya pada Chris.


Chris mengeluarkan botol obat dari sakunya, lalu meminumnya dengan cepat. Di dalam kepalanya, dia seperti diteriaki banyak orang. Kepalanya terasa penuh dan juga sangat bising. Dia tidak mendengar suara siapapun lagi, sampai dia menjatuhkan kepalanya kemeja. Berusaha mengontrol emosinya yang mulai menyeruak. Dia hampir-hampir akan berteriak dan membalikkan meja dindepannya. Mencengkram meja kayu itu dengan kuat sampai tubuhnya bergetar. Dia berharap suara bising itu pergi secepatnya.


Arjun yang melihat keadaan Chris segera menutup pintu dan menguncinya. Chris tidak boleh terlihat oleh siapapun dalam keadaan lemah.


.


Sementara Chris berusaha melawan tekanan dikepalanya, ditempat lain, disebuah rumah tepi pantai, seorang wanita dengan rambut panjang tergerai sedang menatap kosong keluar jendela kaca di samping tempat tidurnya.


Kulitnya tampak pucat dan bibirnya sedikit kering. Seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi cemilan. Meletakkannya dimeja dan buru-buru keluar dari kamar.


Wanita itu, dia adalah Jihan. Matanya tampak sayu ketika melirik kearah pintu.


Jihan kembali menatap pantai. Hujan gerimis mulai turun, angin diluar terlihat cukup kencang. Meski begitu, kamar itu terasa hangat dan nyaman. Jihan tidak merasakan hawa diluar sedikitpun.


"Chris, apa kamu benar-benar tidak mencariku?" lirihnya.


Jihan meneteskan air matanya. Ingatan tentang bagaimana Bayu meninggalkannya hadir lagi dikepalanya. Mencoba menemukan alasan Bayu menculiknya. Namun sebanyak apapun ia berpikir, Jihan tidak menemukan alasan apapun. Dia tidak tahu masalah apa yang membuat Bayu berbuat demikian.


Flasback_


Setelah Jihan dikurung di dalam kamar. Dia kembali muntah. Meski tidak banyak, namun dia kehilangan banyak tenaga. Jihan berbaring di atas kasur karena tubuhnya yang lemas. Dia nyaris tidak bisa mengangkat tangannya lagi ketika rasa mual kembali terasa. Jihan berusaha menahannya, menutup matanya sampai tampa sadar dia tertidur.


Lalu, suara keras membuat ia tersentak. Jihan tidak tahu berapa lama ia tertidur. Ketika dia berusaha duduk, mualnya kembali lagi. Mata sayunya menatap Bayu yang berdiri di hadapannya.


"Sepertinya Tuhan berpihak padaku, aku tidak perlu repot-repot menyembunyikanmu." ujarnya. Dia menyeret Jihan yang masih lemas.


Namun, karena Jihan tidak memiliki tenaga lagi, dia terjatuh di lantai. Bayu berjongkok, memperhatikan tubuh bergetar itu dengan dingin. Lalu dia mengangkat Jihan dengan kasar ke atas pundaknya. Membawanya seperti karung beras menuju pintu belakang rumah.


Dia berjalan ke jalan setapak dari area belakang rumah itu. Melewati gang sempit yang sebenarnya hanya batas antar dinding rumah warga. Cukup lama ia berjalan, sampai ia keluar dari gang demi gang dan sampai pada satu jalan yang cukup besar. Sebuah mobil mewah sudah menunggu disana.


Bayu meletakkan Jihan yang nyaris kehilangan kesadaran di dalam mobil. Jihan menoleh ke kanan, melihat dua orang yang berbicara dengan Bayu. Lalu seorang pria yang duduk di bangku depan ikut keluar. Jihan tidak tahan lagi, dia kehilangan banyak cairan karena terus muntah. Pada akhirnya sakit kepala yang begitu menyiksa membuat kesadarannya hilang.


Flasback end_


Ketika terbangun, dia sudah berada di dalam kamar ini, bersama seorang wanita paruh baya yang sedang mengelap badannya dan mengganti bajunya. Di tangannya masih terpasang selang impus. Jihan tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah ia pingsan.


Ketika dia bertanya pada ibu yang merawatnya, ibu itu bilang dia menemukan Jihan tidak sadarkan diri di tepi pantai. Dengan bantuan rekannya, dia membawa Jihan ke rumah ini.


Bibi itu juga bercerita rumah itu bukan miliknya. Dia hanya pekerja. Pemiliknya tinggal di negara lain. Yang lebih mengejutkan Jihan adalah, dia tidak lagi berada di negaranya. Dia sudah dibawa dan ditinggalkan dinegara orang.


Jihan menggerakkan kakinya turun untuk makan. Dia di larang keluar dari rumah karena keberadaannya yang tampa identitas. Ibu itu takut terlibat masalah dengan pihak berwajib. Sehingga Jihan hanya bisa terus berada di dalam rumah.


Ibu itu memang berasal dari Indonesia, pemilik rumah juga berasal dari Indonesia. Membuat Jihan sempat berpikir bahwa bibi itu dan pemilik rumah adalah teman Bayu. Namun kecurigaannya memudar seiring berjalannya waktu. Ibu itu tampak baik dan polos. Sehingga Jihan menghilangkan kecurigaannya.