Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
56



Chris menerima banyak laporan dari Arjun dan Jihan tentang banyaknya ucapan penuh hiburan dari rekan bisnis mereka. Semua kerabatnya berebut untuk mengunjungi rumah sakit dan memposting hal itu dimedia sosial. Bahkan beberapa diantara mereka, sengaja memanggil wartawan. Tidak terkecuali bibi yang begitu serakah. Pamannya cukup tenang karena kekuasaan dan anak kebanggaannya masih dipenjara. Dia bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Permisi Tuan, saya membawa informasi yang anda minta."


Bayu berdiri di depan pintu yang terbuka. Arjun dan Jihan keluar dari ruangan tampa diperintah. Karena sejak tadi Chris memang sudah menanyakannya.


"Ini adalah laporan dari rumah sakit."


Bayu menyerahkan sebuah map coklat yang masih disegel. Chris segera membukanya dan membacanya dengan saksama.


"Waktu dan rumah sakit yang sama." gumam Chris.


Lalu dia mengingat masa lalunya ketika dia berusia sebelas tahun. Saat dimana dia dimasukkan kedalam rumah sakit itu dan dikurung disana selama dua tahun.


"Jadi, dia anak perempuan yang selalu menatapku dibalik pohon itu?"


Chris menatap foto seorang anak perempuan yang juga disertakan disana. Dia masih ingat bagaimana anak itu menatapnya dengan wajah anehnya. Saat itu, Chris tidak tahu apa penyebab Adora kecil dimasukkan kedalam tempat yang sama dengannya.


"Dia masuk kembali kesana ketika dia meninggalkan Indonesia. Saat itu dia sedang hamil enam minggu." ujar Bayu menjelaskan.


"Dia keluar rumah sakit tiga bulan kemudian. Bukankah terlalu cepat jika melihat keadaan awalnya? Dengan jaminan?" tanya Chris, matanya masih fokus pada data yang ia baca.


"Ditebus seseorang."


"Orang tuanya?"


"Tidak Tuan, kedua orang tuanya bukanlah orang yang akan melakukan hal itu. Orang itu... Berasal dari MC group."


Chris meletakkan semua kertas yang tadi ditangannya, lalu bersandar ke kursinya. Menatap Bayu dengan sorot penuh perintah.


"Kami masih memastikannya, Kami menemukan ada uang yang ditransfer dari rekening pribadi direktur Jordi kepada seorang perawat yang mengawasi Adora disana sebulan sebelum Adora keluar."


Mendengar nama adik angkatnya, Chris seperti dejavu. Jordi masuk kerumahnya ketika Chris baru saja dinyatakan sembuh oleh dokternya saat itu. Meski masih dalam pengawasan dan beberapa kali kambuh, Chris sembuh sepenuhnya ketika dia lulus SMA. Saat itu, Chris baru menyadari bahwa beberapa kesulitan yang ia dapatkan berasal dari adiknya itu.


"Dia pernah megunjungi Adora disana?" tanya Chris.


"Tidak, sepertinya seseorang menjadi perantara antara mereka. Tapi mereka pernah bertemu di singapura ketika anda menugaskan direktur kesana."


"Anak ini, aku terlalu meremehkannya. Selidiki masa lalu mereka. Apakah mereka pernah memiliki hubungan atau apakah Jordi pernah menyukainya."


Bayu tampak ragu, namun dia tetap memilih menyampaikan pendapatnya.


"Dia sedang dekat dengan anak perempuan kedua dari rekan bisnis MC. Saya melihat dia cukup serius kali ini. Karena itu, saya pikir direktur melakukannya hanya untuk membalaskan sakit hatinya pada anda."


Chris menghembuskan napas dan memijit kepalanya yang mulai berdenyut lagi.


"Dia masih belum berubah, kenapa ibuku mau merawat anak seperti dia?" gerutunya. Tapi dia tertawa kemudian. "Tentu saja, untuk membuat hidupku susah, aku lupa dia dilatih oleh siapa, ibuku pandai membuat orang royal padanya." sambungnya kemudian.


Bayu tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap lembaran-lembaran dimeja dalam diam. Dia menyadari dengan pasti bahwa Chris saat ini juga menyindirnya karena berada dipihak sang ibu.


"Apa ibuku tahu hal ini?"


"Tidak, karena saya juga baru tahu akan hal ini." jawab Bayu.


Chris meliriknya dengan sinis. "Pergilah, awasi terus wanita itu. Awasi juga keluarga dari pihak ibuku. Aset pribadi milik ibuku cukup banyak, sebagian berasal dari kakek dari ibuku. Mereka mungkin akan melakukan sesuatu."


"Baik, Tuan." jawab Bayu.


"Ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?" tanya Chris ketika Bayu belum beranjak dari sana.


Bayu tidak menjawab, tapi dia menunjukkan rekaman cctv yang tersimpan diponselnya. Itu adalah rekaman cctv yang menangkap perkelahian di dalam Bar.


"Dimana dia sekarang?"


"Masih belum diketahui, anak buahnya menemui bawahan saya malam itu. Mengatakan bahwa Alex dibawa oleh salah satu pemimpim kelompok geng Marcell."


"Bagaimana dengan polisi itu?"


"Mereka masih mencari gadis itu. Mayatnya disembunyikan oleh orang-orang Alex. Kemungkinan dikubur disuatu tempat. Beberapa dari mereka juga telah diintrogasi, tapi seperti kata anda, seluruh cctv yang menangkap mereka sudah dibersihkan. Tidak ada bukti yang menunjukkan Alex menemuinya ketika dia menghilang. Beberapa saksi hanya mengatakan melihat satu anggota Alex, karena itu mereka diintrogasi. Bukti peminjaman uang juga sudah dilenyapkan oleh Alex. Jadi untuk saat ini, dia masih aman dari polisi."


"Ya, tapi tidak aman dari orang-orang Marcell."


"Apa anda akan menolongnya, Tuan?"


"Tunggu sedikit lagi, hanya pastikan bahwa dia tidak mati." jawab Chris, dia menatap lurus kedepan.


"Bagaimana dengan anggota gengnya sendiri?"


"Seluruhnya telah dihancurkan oleh anggota Marcell. Beberapa dari mereka lari keluar daerah. Beberapa lagi tunduk dan bergabung dengan mereka. Yang setia pada Alex dibuat cacat. Gedung usahanya juga telah dibakar. Secara keseluruhan, Alex tidak memiliki apapun kecuali beberapa tabungan kecik di bank. Karena selama ini dia tidak melibatkan bank manapun dan memilih membuat banker dikediamannya."


"Mereka mengambilnya? Uang dirumah Alex?"


"Ya." jawab Bayu.


"Mata-mata kita mengatakan, bahwa Marcell hanya menyelamatkan satu berkas dari kantor Alex."


"Apa itu?"


"Surat kepemilikan tanah, rumah dan gedung milik Nyonya Jihan yang disita Alex."


Chris terdiam cukup lama. Sedang memikirkan apa rencana Marcell kali ini. Terutama, untuk tujuan apa Marcell melibatkan Jihan. Jika dia hanya ingin melawannya, tidak ada gunanya dia menyelamatkan aset yang disita Alex dari Jihan.


"Anda harus berhati-hati melawannya Tuan, mereka didukung oleh mafia dari luar negeri yang jauh lebih kuat. Seberapapun anda menguasai seluruh pusat perdagangan di Indonesia, anda akan kesulitan jika mereka mulai masuk."


"Kenapa Marcell memiliki keinginan membangun perusahaan? Setelah selama ini dia hidup dari bisnis kotornya?"


"Saya sedang menyelidiki itu juga. Kemungkinan besar ingin masuk ke dunia politik. Jika dia berhasil masuk dan menempati posisi yang bagus, itu akan memudahkan bisnis kotor mereka."


"Dia tidak punya kemampuan itu. Tapi dia cukup licik dan pintar untuk memanipulasi latar belakang pendidikannya. Sial!" Chris cukup dibuat pusing. Tapi yang membuatnya lebih kawatir adalah Jihan. Prioritasnya hanyalah Jihan jika menyangkut masalah Marcell.


Arjun mengetuk pintu dua kali sebelum masuk. Berdiri di depan pintu masuk dan mengimformasikan bahwa ayah Jouji meminta bertemu.


"Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu?" tanya Chris.


Arjun masuk dan menutup pintu. Menghampiri mereka dan berdiri tepat disebelah Bayu.


"Saya mendapat informasi bahwa perusahaan Marcell menawarkan produk yang sama dengan harga lebih murah."


Chris menghela napas. Dia melonggarkan dasinya. Kepalanya entah mengapa terasa akan meledak. Dia butuh air dingin untuk menyejukkannya.


"Dimana Jihan?" tanyanya.


"Ya? Kenapa dengan dia, Tuan?"


Chris melirik Arjun dengan kesal. "Saya akan memanggilnya untuk anda." kata Bayu. Segera keluar dan datang bersama Jihan kembali.


"Anda memanggil saya, Presdir?" tanya Jihan.


Chris tidak menjawab, dia menatap kedua pria lainnya dengan tatapan tajam. Keduanya segera undur diri untuk keluar dari sana.


"Arjun, pesankan aku makanan manis."


"Makanan manis, Tuan?" tanya Arjun, seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Dalam lima menit!" perintah Chris lagi.


"Baik, Tuan. Dalam lima menit!" jawab Arjun sebelum menutup pintu.


"Apa yang kamu lakukan? Duduk!"


Jihan duduk di sofa lain di sebelah kanan Chris. Harap-harap cemas melihat ekspresi Chris yang terlihat tidak baik.


"Bicaralah," suruh Chris.


Jihan mengernyit bingung. "Bicara apa, Presdir?"


"Apapun!"


"Huh?"


Chris meliriknya dengan kesal. Dia hanya ingin berbicara normal. Ingin berkeluh kesah, tapi dia bingung cara memulainya. Apalagi hubungan mereka masih tidak begitu baik secara personal.


"Apa Marcell masih menghubungimu?"


"Itu masalah pribadi, Presdir." jawab Jihan datar.


"Dia masih mengirim hadiah?"


"Itu juga masalah priba...."


Brak!


Chris kesal, tampa sadar dia menendang meja dihadapan mereka hingga menabrak sofa di depannya. Jihan reflek memundurkan kakinya meskipun meja itu tidak mengenainya.


Chris berdiri, lalu mematap wajah Jihan yang terlihat terkejut. "Maafkan aku, Tetaplah disini, Aku akan istirahat sebentar. Bangunkan aku satu jam dari sekarang." ujarnya. Meninggalkan Jihan yang masih mematung, masuk ke dalam kamar disana dan menutup pintu dengan cukup keras.


Pintu terbuka lima menit setelah Chris masuk kekamarnya. Arjun menemukan Jihan yang masih menatap meja yang sudah tidak lagi ditempatnya. Menyadari ada yang tidak beres, dia meletakkan apa yang ia bawa dan mengangkat meja dengan mudah. Meletakkan lagi pada tempatnya.


"Dimana Tuan?" tanya Arjun.


Jihan melihatnya, agaknya baru menyadari kalau Arjun sudah datang lagi. Dia mengedipkan mata dengan bingung sebelum menunjuk pintu kamar Chris dengan matanya.


Arjun menghela napas. "Kalian bertengkar lagi?" tanyanya.


"Tidak! Aku hanya menjawab apa yg ia tanyakan, lalu dia menendang meja dan pergi." jawab Jihan dengan wajah tampa dosa.


"Anda pasti membuatnya marah. Suara mejanya cukup keras hingga sampai keluar."


Bayu muncul di depan pintu, bersandar disana. Dia masih memiliki hal yang harus dibicarakan dengan Chris, namun Chris sudah pada batasnya. Dia butuh menenangkan pikirannya, namun dia tidak mendapatkannya sehingga dia sedikit diluar batas lagi.


"Tuan sudah cukup stres, tolong jaga perasaannya Jihan." kali ini Arjun yang menyudutkannya.


Jihan itu keras kepala dan wanita yang paling kokoh menjaga prinsipnya. Sehingga ia tidak akan mudah dipengaruhi oleh siapapun.


"Memang apa yang aku lakukan? Aku hanya menjawab pertanyaannya secara profesional. Presdirlah yang terus mencampuri urusan pribadiku!"


Bayu menatapnya datar sementara Arjun memijit keningnya dengan putus asa.


"Sebaiknya kita bicara diluar." ujar Bayu.


"Dia menyuruhku tetap disini." jawab Jihan.


"Kalau begitu bangunkan dia dan katakan pesanannya sudah tiba. Aku tidak mau menerima amukan." kesal Arjun.


"Jangan ganggu dia, dia menyuruhku membangunkannya satu jam lagi."


Arjun berdiri dan mengambil es krim di kantung plastik dan menyimpannya di freezer. Meninggalkan kue di atas meja.


"Kamu belum pergi?" tanya Arjun ketika Bayu ikut duduk disana.


"Masih ada yang perlu aku diskusikan. Tuan belum mengatakan perintah selanjutnya." jawab Bayu, lalu matanya beralih pada Jihan yang terus menunduk. "Ini mungkin tidak nyaman bagi anda, ini pertama kalinya juga saya memohon pada anda. Jadi saya minta anda mempertimbangkan perkataan saya ini, Nyonya Jihan. Tuan sedang mengalami masalah yang banyak. Dia mungkin akan gampang marah dan berubah dalam waktu yang cepat. Jadi, tolong lebih sabar dengannya. Setidaknya, jangan membicarakan pria lain dihadapannya."


Jihan mengerutkan keningnya, tidak menerima akan kalimat terakhir yang Bayu ucapkan.


"Kapan aku membicarakan pria lain dengannya? Dialah yang terus bertanya dan ikut campur urusanku!"


"Itu dia, Jihan. Aku yakin kamu tahu seperti apa perasaan tuan padamu. Jadi jangan memberinya jawaban yang membuatnya terpancing." sela Arjun.


"Kalian benar-benar, jadi dia boleh marah dan aku tidak? Lagipula sejak dulu dia seperti itu, bukan? Dia orang yang gampang marah dan kejam. Kalian lebih tahu dari pada aku yang hanya mengenalnya setahun ini."


Bayu tidak mengatakan apapun lagi. Dia cukup maklum akan keadaan Jihan yang mungkin sangat membenci Chris. Begitu juga Arjun yang mengenal keduanya dengan baik. Mereka berdua hanya bisa mengasihani Chris di dalam hati.


"Kenapa kalian sangat berisik."


Ketiganya menoleh ke arah yang sama. Membelalakkan mata terkejut ketika Chris sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Lupa jika kamar itu kedap suara hanya dari luar. Dari dalam siapapun bisa mendengar suara orang yang diluar.


Bayu tahu akan hal itu, karena itu sebisa mungkin dia merendahkan nada suaranya, tapi suara Jihan cukup keras ketika dia menjadi lebih marah.


"Maaf, Tuan. Apa kami mengganggu anda?" tanya Arjun.


"Bayu, temui Marcell dan buat kesepakatan dalam dua hari. Bawa dia dalam keadaan hidup dan buat kesepakatan dengannya. Dia harus menjadi anjing untukku." Aura Chris berubah total. Dia seperti kembali pada awal Jihan mengenalnya. Terlihat dingin dan tak tersentuh.


Ketika Chris duduk dan menatap kue yang tersaji di atas meja, dia seakan sangat terganggu.


"Arjun, atur pertemuan dengan Kamura malam ini." Mata Chris beralih pada Jihan, menatapnya dengan sorot tajam penuh ancaman. "Aku perlu mengatur strategi dengannya, memutus mata rantai bagi siapapun yang mencoba menggangguku." lanjutnya.


Chris bisa melihat Jihan yang terlihat sangat tegang dan takut. Dalam sekali tarikan napas, dia merubah raut wajahnya menjadi lebih lunak.


"Hanya ini?" tanyanya pada Arjun.


"Ya? Oh, ada es krim. Anda mau?"


"Berikan padanya, dia butuh menyejukkan pikirannya." jawab Chris dengan nada penuh sindiran.


Dia bangkit dan kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan apa yang tadi ia tunda. Bayu segera undur diri, sementara Arjun menatap Jihan yang kini mengepalkan kedua tangannya. Matanya tampak berkaca-kaca.


Arjun menghembuskan napas. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Ini juga salahnya dan Bayu karena tadi memancing pembicaraan itu.


"Ayo, keluar Jihan. Kita juga harus melanjutkan pekerjaan." katanya.


Jihan melirik Chris yang fokus pada berkas ditangannya. Lalu dia bangkit mengikuti Arjun. Berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika sampai diluar, air matanya jatuh begitu saja.


"Maaf, kalau aku tidak menyudutkanmu tadi..."


"Tidak, ini bukan karena hal itu. Aku... Aku hanya merasa kesal. Aku akan kekamar mandi untuk mencuci wajah. Maaf!" jawab Jihan. Lalu berlari dari sana.


Arjun masuk kembali kedalam ruangan Chris setelah ia menghubungi sekretaris Tanaka. Menghadap Chris untuk meminta maaf secara pribadi padanya.


"Tuan, saya minta maaf kalau tadi pembicaraan kami mengganggu anda."


"Hubungi tiga rekan bisnis penting kita selain Tanaka, juga semua direktur MC grup dan semua perusahaan dibawah naungan MC. Beri peringatan bagi mereka yang menghindari pertemuan. Umumkan pada semua kepala cabang untuk mematuhi peraturan baru yang aku buat." kata Chris, tidak mengidahkan permintaan maaf Arjun.


"Baik, Tuan. Apakah saya perlu menyiapkan pelayanan khusus bagi mereka?"


"Hotelku, suruh mereka menyiapkan tempat yang terlihat mewah dengan hidangan kelas atas. Suruh Jihan menangani ini segera. Fokuslah memastikan mereka semua datang."


"Baik, Tuan."


"Hubungi orang yang biasa mengawasi Jihan untuk lebih waspada. Siapkan juga supir untuknya. Jangan biarkan dia pergi sendiri."


"Baik, Tuan." jawab Arjun, lalu dia keluar dari sana.


Tersenyum tipis ketika menyadari apa yang coba tuannya lakukan saat ini mengenai Jihan. Tadinya, dia cukup terkejut dan takut jika tuannya akan berubah lagi. Tapi nyatanya perhatiannya tidak hilang meski dia sedang marah dan kecewa. Arjun merasa lebih kasihan padanya sekarang. Ditengah masalah perusahaan, keluarga dan masalah pribadinya, dia masih bisa waras tampa obat penenang seperti dulu. Arjun berkeinginan untuk lebih keras membantu Chris meyakinkan Jihan untuk kembali menerimanya.