
Bayu telah merasa frustasi dan tertekan. Dia hanya bisa menatap dinding kosong. Tidak mendengar apapun kecuali suara yang ia buat sendiri. Apa yang ia lakukan hanya tidur, termenung dan memikirkan rencana selanjutnya.
Bayu ditempatkan di dalam sebuah ruangan tampa jendela. Ruangan yang tidak tidak memiliki akses apapun untuk kabur. Pintunya juga bukan pintu yang bisa di dobrak dengan mudah.
Tidak ada yang bisa ia lakukan selain membuat kesepakatan dengan Chris. Bayu menyadari, Chris tidak akan menemuinya sebelum dia sendiri yang menginginkannya. Tentu dengan sebuah kesepakatan. Seminggu berada disana, Bayu benar-benar merasa akan meledak. Dia merasa gila dengan pikiran-pikiran yang merasukinya. Dia ingin dendamnya segera dituntaskan. Rencananya tidak bisa berakhir begitu saja. Ruangan itu terkadang membuatnya merasa ditekan dari semua sisi. Bayu sadar, semakin lama dia disana, dia hanya akan berakhir dirumah sakit jiwa.
Jadwal makan, Bayu mendengar suara langkah kaki di depan pintu. Ketika pintu terbuka, pistol ditodongkan kepadanya. Setelah salah satu dari pengawal itu meletakkan makanan dan minuman di depan pintu, mereka bergerak mundur seperti biasa untuk mengunci pintu kembali.
"Tunggu!" pinta Bayu.
Pintu tetap terkunci. Namun Bayu tahu mereka masih disana untuk mendengarkan.
"Sampaikan pada Tuan, aku ingin bicara."
"Kami akan sampaikan." jawab salah satu dari mereka, lalu pergi dari sana.
.
Chris baru saja pulang dari rumah sakit bersama Jihan untuk menjenguk ibunya. Ketika dia membukakan pintu untuk Jihan, salah seorang yang bertugas mengawal mereka mendatanginya dan membisikkan sesuatu.
Chris menutup pintu agar Jihan tidak mendengar perkataannya, dia berjalan ke pintu satunya, diikuti sang pengawal.
"Katakan padanya, aku akan menemuinya ketika ada waktu."
"Ada apa? Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Jihan ketika Chris telah masuk.
"Tidak ada, hanya masalah keamanan di perusahaan."
"Oh... Apa Bayu masih di pulau? Kapan dia kembali?"
"Dia cuti sekarang, kamu tidak tahu?"
Jihan mengernyit, dia tidak pernah mendapat laporan apapun tentang cuti karyawan karena bukan ranahnya. Namun dia tetap merasa aneh karena Bayu minta cuti tiba-tiba.
"Apa dia sakit? Atau..." Jihan menarik nafasnya dengan syok, "Apa dia akan menikah!" serunya tiba-tiba.
Chris tertawa, lalu menggenggam tangan Jihan tampa menjawabnya. Entah mengapa berbohong pada istrinya membuat Chris merasa tidak nyaman. Namun dia tidak punya pilihan lain, dia tetap pada keputusan untuk menyimpan rapat masalah terkait Bayu.
"Jawab aku... Apa dia menikah? Atau hanya liburan?" rengek Jihan.
"Kamu jadi sangat menggemaskan akhir-akhir ini, mendekatlah, aku ingin membisikkan jawabannya."
Ketika Jihan mendekatkan dirinya, Chris berbisik pelan di telinganya yang terhalang jilbabnya.
"Aku... Juga tidak tahu, sayang." Setelah itu dia mencium pipi Jihan.
"Kamu benar-benar..." Jihan kesal, namun dia malah tertawa setelahnya.
Di dalam hati, Jihan tahu Chris hanya menyembunyikan jawaban sesungguhnya. Jika dia tidak boleh tahu, Jihan yakin itu bukan hal yang baik. Jihan juga tidak ingin bertanya lebih lanjut jika Chris tidak ingin memberitahunya. Jihan hanya mencoba mempercayai Chris sepenuhnya. Termasuk tingkah aneh Arjun dan Alex ketika Jihan datang bergabung. Mereka seperti sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata.
Semula, Jihan menduga bahwa mereka seperti itu karena statusnya yang kini menjadi istri Chris lagi. Namun semakin kesini, Jihan ragu dengan alasan itu.
.
Meri berjalan dengan gugup ketika pagi ini dia melewati lobi utama gedung MC group. Dia belum pernah kesana sebelumnya, namun tiba-tiba perusahaan pusat menariknya untuk di tempatkan di tempat baru.
Meri baru di beritahu pagi itu, begitu tiba dia langsung mendapatkan perintah dari direkturnya. Karena itulah dia kini berada di depan resepsionis.
"Sebentar, saya akan..."
"Bukankah dia teman Jihan?"
Mendengar nama Jihan, Meri berbalik. Ada Alex dan Arjun yang ternyata juga baru datang. Mereka berdua menghampirinya. Dengan sigap, Meri langsung memberi sapaan dengan sopan.
"Santai saja denganku, Aku dengar kamu dipindahkan kesini pagi ini."
"Ya, saya juga baru tahu pagi ini." jawab Meri.
"Apa itu atas permintaan Jihan? Bukankah itu tidak profesional?" Alex dengan mulut berbisanya memang sangat mengganggu.
Arjun berdecak, "Jangan asal bicara! Bahkan Jihan dan Presdir belum tahu hal ini. Meri dipindahkan kesini karena prestasinya. Dia sangat dibutuhkan untuk tim perencanaan tiga. Kepala tim sendiri yang memintanya."
"Kepala tim?"
"Ya, kamu langsung saja ke bagian HRD dan ambil id card barumu. Selamat bergabung!" Arjun tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
"Selamat bergabung." cibir Alex mengejek cara bicara Arjun, dia melirik Meri dengan sinis sebelum ikut pergi.
"Dia menakutkan bukan? Jangan buat masalah dengannya, oke! Tapi... Apa kamu benar-benar teman istri Presdir?" tanya resepsionis itu, dia terlihat sangat tertarik akan fakta itu.
"Kami teman satu SMA," jawab Meri.
"Oh... Aku kira teman dekat. Tapi apa kalian masih berkomunikasi?" Sejenak wanita itu tampak kecewa.
"Jarang." bohong Meri.
Dia melirik name tag resepsionis itu, lalu tersenyum seadanya untuk menghargainya. Meri sangat hapal dengan orang-orang sepertinya.
"Hmm... Begitu ya. Tapi pesanku tentang pak Alex tadi sungguh-sungguh untukmu. Sudah rahasia umum bahwa dia mantan gengster. Karena dia teman sekolah Presdir dan bekerja sebagai pihak keamanan disini, dia sedikit ditakuti karyawan lain. Dengar-dengar dia itu mata-mata Presdir!"
"Aku akan hati-hati, sampai jumpa. Aku akan ke HRD." pamit Meri.
Tidak lama setelah Meri masuk ke dalam lift, Chris dan Jihan tiba. Seperti biasa, Chris menggenggam tangan Jihan, melewati para karyawan yang berhenti ketika mereka lewat untuk memberi sapaan. Hanya Jihan yang menjawab dengan ramah, Chris hanya memberikan anggukan singkat.
.
"Aku dengar Bayu ingin bertemu Tuan," tanya Arjun.
"Ya, Chris sengaja membuat psikologi Bayu terganggu. Aku yakin, dia akan menemui Bayu setelah dia setengah gila."
Mereka berdua menoleh ke arah pintu masuk ketika suara langkah kaki terdengar.
"Selamat pagi, Tuan. Jihan!" sapa Arjun ramah.
"Pagi juga untuk kalian." jawab Jihan.
"Temanmu pindah kesini, apa kamu tidak tahu?" tanya Alex.
"Teman? Siapa?" Chris langsung menunjukkan wajah tidak suka.
"Santailah, dia wanita yang pernah tinggal dengannya."
"Meri? Disini!" seru Jihan.
"Hmm, dia dipindahkan ke tim perencanaan 3." sahut Arjun.
"Huh? Benarkah?" Jihan terlihat senang.
"Jadi orang yang diminta kepala tim yang baru itu Meri?" Chris tahu ada orang yang diminta kepala tim itu, namun dia tidak tahu kalau orang itu adalah teman istrinya.
"Kepala tim baru?" tanya Jihan.
"Dia bergabung dengan kita dua hari yang lalu. Dia baru saja mengundurkan diri dari perusahaan besar di Jerman. Pihak kita langsung menariknya menggantikan kepala tim yang akhir-akhir ini bermasalah." jawab Arjun.
"Bolehkah aku menemui Meri sebentar?" Jihan menatap Chris dengan wajah memohon.
"Tentu, tapi jangan terlalu lama." Chris mengelus puncak kepala Jihan saat mengatakannya.
"Kalian tinggal satu atap tapi kamu masih sangat protektif, bukankah itu akan memberatkannya?" komentar Alex setelah Jihan pergi.
"Sejak kapan kamu peduli?" Chris langsung melayangkan tatapan curiga.
"Dia benar-benar tidak tertolong. Budak cinta sejati." gerutu Alex, memutar tubuhnya untuk masuk duluan ke dalam ruang kerja Chris.
"Dia selalu kurang ajar!" gerutu Arjun kemudian. Mengikuti Chris yang juga ikut masuk.
"Jadi, sampai kapan kamu akan mengurungnya disana?" tanya Alex.
"Mungkin... beberapa hari lagi."
"Petugas yang berjaga mengatakan kalau tingkahnya mulai aneh. Dia yang biasanya tenang mulai suka berteriak sejak mengajukan permintaan bertemu denganmu."
"Itu bagus, biarkan dia sedikit lagi." jawab Chris tenang.
Disini, Alex yang memang belum memahami Chris sebaik Arjun memahaminya memandang Chris dengan ekspresi seperti memahami sesuatu. Bagaimana sikap Chris yang dikiranya suka berubah-ubah. Nyatanya, bukan seperti itu yang terjadi.
Pintu di ketuk dua kali, Jordi masuk ke sana bersama seorang wanita yang sungguh tidak ingin dilihat oleh Chris.
"Kenapa kamu seenaknya membawa dia masuk?" tanya Chris dingin.
"Maaf kak, Itu karena dia memohon padaku. Selain itu, dia mengatakan bahwa anaknya masuk rumah sakit. Jadi... "
"Tolong jenguk dia. Tolong lihat dia sekali saja." pinta Adora, wajahnya berlinang air mata.
"Arjun, urus biaya rumah sakitnya dan Jordi, bawa dia kembali.bersamamu."
"Kumohon... datang bersamaku kerumah sakit. Pihak rumah sakit meremehkan anak kita! Dia memperlakukan anak kita dengan buruk! Tolong tunjukkan perhatianmu, dengan begitu anak kita akan ditangani dengan baik!" pinta Adora lagi.
"Jadi ini karena sebuah harga diri dan gengsi? Apa mereka meremehkanmu setelah keluar dari rumah keluarga August?"
Bukan Chris atau simulut berbisa Alex yang bicara, melainkan Arjun. Sepertinya sikap kejamnya yang dulu tiba-tiba muncul lagi.
Adora terdiam dengan wajah memohon. Dia tidak ingin beranjak dari sana dan kembali tampa hasil. Tampaknya tebakan Arjun benar, karena Adora menurunkan pandangannya. Menatap lantai dengan ekspresi wajah tidak terima.
"Yah, bagaimanapun dia anakmu, Chris. Jangan biarkan darah dagingmu diremehkan orang." kat Alex, dia menyeringai ketika Adora memperlihatkan wajah penuh harap.
"Akan aku pikirkan, sekarang keluar."
Jordi menarik tangan Adora pergi, sedikit menyeretnya karena dia geram. Dia kesal karena masuk dalam kelicikannya.
"Kamu menyedihkan mengemis perhatian dengan cara kotor seperti itu."
"Aku tidak peduli, asal Chris menunjukkan sedikit perhatiannya pada kami."
Jordi keluar dari lift ketika berada di lantai tiga. Meninggalkan Adora yang mulai memperbaiki penampilannya kembali agar lebih rapi.