
Chris langsung berdiri dari duduknya ketika mendapat laporan dari pengawal yang mengawasi Bayu. Alex tertembak dan sedang dilarikan kerumah sakit.
"Ada apa Tuan?" Arjun melirik Jihan yang juga menatap suaminya dengan risau.
Chris tidak menjawab, dia segera menghubungi orang yang mengawal rumahnya. Ketika pengawalnya tidak mengangkat telepon, Chris tahu ada sesuatu yang terjadi disana.
"Sayang, tetap disini bersaman Arjun, mengerti!"
"A-Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?"
Chria tidak tidak menjawab, dia haya mengelus puncak kepala Jihan sambil menatap Arjun yang langsung mengangguk. Setelahnya, Chris berlari keluar dari ruangannya.
Jihan memeriksa jam tangannya. Baru pukul sepuluh pagi. Rautnya tampak cemas. "Kemana dia pergi? Kita harus menyusulnya. Bagaimana kalau dia terlibat sesuatu yang membahayakannya?"
"Jihan, dia memerintahkanmu untuk tetap disini. Tuan tidak pernah panik sebelumnya, ini pasti sesuatu yang serius. Jadi tolong tetap disini." pinta Arjun. Dia berusaha tetap tenang.
Arjun keluar dan menutup pintu ruangan itu. Meninggalkan Jihan sendirian. Dia mencoba menghubungi Alex. Tapi bukan Alex yang mengangkatnya, melainkan bawahannya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya. "Kenapa Tuan terlihat sangat kawatir?"
Setelah mendengar jawaban pria diseberang telepon, Arjun memutus sambungan. Dia segera menghampiri Jihan kembali yang seakan meminta penjelasan padanya.
"Tenanglah, ini masalah perusahaan. Aku belum mendapatkan kepastiannya. Tuan langsung pergi karena ini darurat." bohongnya.
"Lalu kenapa kamu tidak ikut membantu?"
"Ini... Sedikit berbahaya. Kamu tahu, sesuatu yang berhubungan dengan pelanggaran aturan. Kamu tidak bisa ikut dan Tuan tidak mempercayai siapapun diperusahaan ini kecuali kita." Meski tidak semuanya bohong, Arjun tahu hanya masalah waktu sampai Jihan mengetahui segalanya. Bahkan sekarang Jihan terlihat meragukan ucapannya.
"Ini bukan tentang mantannya itu? Maksudku... Aku dengar dari media anaknya sakit. Tidak apa jika itu tentang anaknya, kamu tidak perlu merahasiakan hal itu."
Arjun seakan tidak bisa berkata-kata, dia lupa tentang Adora yang akhir-akhir ini membuat sedikit drama. Membuat nama Chris sedikit tercemar. Karena Chris memerintahkan pihak pengacara perusahaan mengatasi masalah itu, jadi mereka hanya fokus pada kasus masa lalu yang melibatkan Bayu.
"Tidak, hal itu sudah diurus pengacara perusahaan. Jangan kawatir, anak itu mendapatkan haknya."
"Lalu kemana Chris pergi?" tanya Jihan lagi.
Arjun memijit kepalanya, karena sesungguhnya dia juga tidak tahu. Chris tidak mengngkat ponselnya ketika Jihan mencoba menghubunginya. Jadi Arjun hanya bisa tertunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan Jihan yang juga secara otomatis menjadi atasannya.
.
Bayu sedang duduk di kurai kayu yang ia tarik dari depan meja rias. Dia duduk tepat di samping ranjang ibu Chris yang hanya bisa menatapnya.
"Nyonya, apa kabar Anda?" mulainya.
Bayu memperhatikan kaki lumpuh yang ditutupi dengan selimut itu. "Sebenarnya... Saya lebih suka melihat anda mati. Itu terasa adil ketika saya mengingat ibu saya yang mati." Dia menggerakkan kepalanya dengan pelan, kembali menghadapkan wajahnya lurus pada pandangan ibu Chris.
"Tapi... Sepertinya membiarkan Anda Mati begitu saja tidak akan memuaskan. Mengingat kebaikan anda selama ini yang memperkerjakan anak suami anda dirumahnya sendiri, saya merasa harus membalas jasa Anda itu." Bayu tersenyum tipis. "Bagaimana... Dengan membuat anak anda kehilangan jiwanya? Seperti saat dia membunuh kakaknya sendiri... Anda pasti merindukan saat-saat dia menjadi anjing gila, kan?"
Ibu Chris tidak bisa melakukan apapun, dia hanya mengerutkan keningnya dan menggeleng halus. Air mata jatuh dari sudut matanya. Entah itu sebuah ketakutan, atau sebuah kemarahan. Tapi yang jelas, ancaman itu bekerja dengan sangat baik. Bayu tampak puas atas reaksi ibu Chris.
.
Chris berlari ketika sampai di depan pintu rumahnya. Pintu ia buka dengan keras. Pelayan yang terkejut segera menghampirinya.
"Tu-tuan sudah pulang? Apakah...."
"Dimana anakku?" Nafas Chris berat. Wajahnya tidak tenang, membuat pelayannya juga ketakutan.
"Tuan Azam ada dikamarnya."
"Apakah Bayu datang kesini?"
"Bayu? Kepala keamanan perusahaan? Dia tadi sedang berbicara dengan pengawal yang bertugas disini. Tadi ada di depan... " Pelayan itu heran ketika ia mengedarkan pandangannya dari ambang pintu.
Ketika hendak membukanya, pintu itu terkunci. Chris mundur sedikit, lalu menendang pintu itu dua kali. Pintu itu terbuka dengan keras, Chris masuk dengan wajah merah padam. Sayangnya, hanya ibunya yang ada disana. Dalam keadaan seperti sebelumnya. Menatap Chris dengan genangan air mata.
Chris berlari keluar balkon, melihat ke arah bawah. Bayu, sudah berjalan menjauh menuju area belakang rumahnya. Tidak ada satupun pengawal yang mengejar, bahkan Chris tidak melihat keberadaan mereka satupun.
Chris berlari keluar, mengabaikan Azam yang memanggilnya karena bingung dengan keadaan di depan matanya. Dia mengikuti Chris menuruni tangga dan berlari ke area belakang rumah. Bayu sudah pergi, pria itu memanjant dinding tembok menggunakan tali yang ia siapkan sebagai pegangan untuk memanjat. Tali itu masih tersangkut dengan kuat dia pagar tembok paling atas yang memang dibuat seperti tiang-tiang pendek yang runcing.
"Ayah... Ada apa?"
Napas Azam tidak beraturan karena menyusulnya. Chris berbalik, pelayannya juga sudah ada disana.
"Periksa semua ruangan. Para penjaga pasti ditawan disuatu tempat." perintahnya pada kepala pelayan. Lalu, dia melangkah mendekati Azam dan mengelus kepalanya. "Tidak ada apa-apa, kamu lanjutkan saja berkemasnya, bukankah sore ini kamu harus berangkat lagi?"
Azam hanya mengangguk, lalu memgikuti Chris menuju area depan rumah. "Naiklah," perintahnya.
Azam tampak ragu, dia tahu ada yang tidak beres sedang terjadi. Namun karena dia tidak ingin ayah sambungnya itu marah, Azam menurutinya tampa protes.
Beberapa detik menunggu, para pengawal yang tadi tidak terlihat, berlari padanya dari arah samping rumah. Terlihat lemas dan penuh kotoran tanah. Chris menduga mereka berempat terlibat perkelahian dengan Bayu sebelum berhasil dilumpuhkan.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak tahu kalau Tuan Bayu akan melumpuhkan kami. Ketika saya sadar dia datang dengan alasan yang jahat, saya berusaha melawan. Tapi tiga dari kami sudah berhasil dilumpuhkan terlebih dahulu sebelum kami menyadarinya."
"Jaga ibuku dengan baik. Satu orang tetap berada disekitar anakku. Jangan bukakan pintu untuk siapapun kecuali aku dan Jihan."
"Baik, Tuan!"
Chris pergi menemui ibunya kembali, melihat Azam yang menemaninya, dia sedikit lega. Perasaan yang selama ini mengeras, tanpaknya mulai mencair. Dia berjalan mendekati ibunya dan duduk di samping Azam.
Namun gelengan dengan raut ketakutan ia dapatkan dari wajah ibunya. Membuat Chris mengira ibunya kini takut padanya. Namun begitu mengingat bahwa itu tidak mungkin, Chris mencoba membuat tebakan lain.
"Nenek terua seperti itu saat Azam masuk. Nenek kenapa?" tanya Azam, anak itu menggenggam tangan neneknya dengan erat.
Chris menatap mata ibunya dengan saksama, dia baru menyadari bahwa mata itu tampak berusaha menyampai sesuatu. Namun Chris tidak bisa memahaminya dengan baik.
"Apa ada yang sakit? Apa Bayu tadi kesini?" tanya Chris.
Ibunya menggeleng dan menganggu setelahnya. Chris mengerti, sesuatu yang coba ibunya sampaikan adalah tentang Bayu.
"Kalian semua keluar dulu." pintanya.
Seorang pelayan yang meunggui ibunya sejak tadi, Azam dan seorang pengawal meninggalkan tempat itu. Mereka menunggu diluar. Menutup pintu yang kuncinya telah rusak.
"Sekarang katakan padaku, Ma. Apakah benar Bayu anak ayah? Apakah benar Mama membunuh ibunya? Itukah alasannya meracunimu? Meski aku sudah tahu, aku ingin mendengarnya langsung darimu. Maka... Cobalah untuk menggerakkan bibirmu, Mama."
Meski terdengar kejam karena bertanya saat keadaan ibunya seperti sekarang, Chris tidak punya pilihan. Dia memang sudah mendengar kesaksian Bayu, tapi dia butuh memastikan kebenarannya dari sang Ibu. Tidak peduli apakah ia akan berbohong atau tidak.
Sayangnya gelengan pelan yang ia dapat. Ibunya tampak sangat frustasi dan juga kawatir.
"Apa Mama akan menjawab tidak?" Chris salah mengartikan gelengan itu. "Mama berusaha mengelak setelah semua data yang aku dapatkan?"
Sekali lagi ibunya menggeleng, kali ini ia bisa menggerakan kepalanya lebih cepat. Bibir ibunya bergetar, tampaknya ia sangat berusaha untuk bicara.
"Dia sudah mengakuinya, membunuh kakek dan Ayah. Bagaimana tanggapan Mama tentang ini? Apa Mama tahu mengenai hal ini?" tanyanya. Kedua tangan Chris mengepal erat ketika reaksi ibunya hanya gelengan lagi.
"Ya, terus saja menggeleng! Mama akan terus berbohong padaku, benar? Kakek dan Ayah mati karena sebuah dendam dari anak yang ibunya Mama bunuh. Bukankah semua kematian itu karenamu juga pada akhirnya?"
Chris bangkit, lalu berbalik hendak pergi ketika langkahnya terhenti. Suara lirih ibunya terdengar.
"Ji... "
Chris berbalik, memastikan dia tidak salah dengar. "Ji..." Ibunya kembali mengucapkannya dengan suara nyaris habis, namun Chris bisa melihat lanjutan kata itu dari gerakan bibirnya. Ibunya berusaha mengucapkan nama sang istri, Jihan.
Chris mengernyit, dia tidak mengerti kenapa nama Jihan disebutkan ibunya. Apa yang sedang ia coba sampaikan?