Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
63



Jihan dan Meri sudah menutup pintu rapat-rapat. Keduanya sudah membuka kotak itu dan menemukan benda yang sama. Foto Jihan ketika mengenakan seragam olahraga ketika SMP. Rambutnya di ikat seperti ekor kuda. Saat itu, Jihan terlihat sangat imut dan cantik.


"Apa kamu tidak bahagia? Aku menyuruhmu bahagia saat itu." Meri membaca tulisan yang berada di belakang foto. Lalu dia menoleh pada Jihan yang masih terlihat frustasi. "Jangan takut, kalau kamu takut dia akan semakin senang. Orang ini pasti punya tujuan. Besok kita harus lapor polisi!" tegas Meri.


"Dia tidak menuliskan ancaman, apa mungkin polisi akan menerima laporannya?" Jihan sama sekali tidak yakin.


"Benar juga, tapi tetap saja. Ini bisa jadi hal berbahaya untukmu. Dia bahkan masuk kerumah kita diam-diam!"


"Kita harus pasang cctv!"


Setelah kesepakatan di dapatkan, Jihan dan Meri terlihat sedikit lega. Meski begitu, sepanjang malam Jihan tidak bisa tidur. Dia sedang memikirkan siapa pelakunya.


Dia mengingat-ingat siapa teman dari SMP nya yang memiliki kemungkinan melakukan hal ini. Jihan berspekulasi mungkin saja dia adalah teman yang pernah menyukainya. Karena ketika SMP, Jihan memang terkenal karena dia cantik dan salah satu murid berprestasi. Dia pernah menerima beberapa surat cinta, ataupun beberapa pernyataan langsung dari kakak kelasnya.


Lama berpikir, tepat pukul satu dini hari, Jihan terduduk dengan cepat. Dia mengingat satu orang, murid pindahan saat mereka kelas tiga. Berasal dari panti asuhan dan mendapatkan beasiswa. Beberapa anak melakukan perundungan padanya. Saat itu, Jihanlah yang mengajaknya berteman. Murid pintar dengan pakaian sekolah yang lusuh. Dia dijauhi anak lain karena memang tidak bisa bergaul. Bahkan Jihan sendiri saat itu hanya berbicara padanya ketika menolongnya dari anak lain yang nakal padanya. Dia cenderung menutup diri.


Di malam acara perpisahan anak kelas tiga, anak itu menyerahkan sebuah surat secara langsung padanya. Setelah itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan anak itu.


"Surat itu... Apa aku membacanya?" tanyanya pada diri sendiri.


Jihan jadi mengingat-ingat masa lalunya. Dia tidak ingat dimana saja surat-surat pemberian orang-orang yang menyukainya dia simpan. Tapi Jihan ingat dengan jelas, walaupun dia tidak membukanya, dia tidak pernah membuang surat-surat itu.


.


Chris datang ke kantor lebih lambat dari biasanya. Hal itu karena dia harus melihat keadaan ibunya. Keadaan ibunya masih sama. Dia hanya bisa menggerakkan mata dan bibirnya. Belum bisa mengeluarkan suara.


"Kamu belum menemukan bukti bahwa Adora pelaku yang meracuni ibuku?" tanya Chris pada Bayu.


"Belum Tuan, saya juga memeriksa semua pelayan. Tapi tidak ada bukti apapun yang kami temukan."


"Wanita ular itu pasti menyembunyikannya. Bagaimana dengan rumahnya sekarang?"


"Kami sudah menggeledahnya juga. Melakukan introgasi, namun dia mengelak."


Chris kesal, dia ingin segera menjebloskan Adora ke dalam penjara. Namun jika dia tidak memiliki bukti, hal itu hanya akan sia-sia. Polisi juga tidak bisa menahan tampa bukti. Apalagi jika publik tahu, itu akan menjadi bumerang baginya. Publik akan menuduhnya melaporkan Adora hanya berdasarkan kebencian.


"Terus awasi dia dan dapatkan buktinya." perintahnya.


"Baik, Tuan!"


Bayu keluar ketika Jihan baru saja datang. Dia menundukkan kepalanya sebagai sapaan. Namun wajahnya tetaplah datar seperti biasa.


Jihan duduk dengan lemas. Dia baru bisa tidur pukul tiga pagi dan sudah bangun lagi pukul lima subuh. Kepalanya menjadi sakit karena dia tidak biasa bergadang.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Arjun. "Kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya kurang tidur." jawab Jihan.


"Tapi wajahmu pucat."


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." jawab Jihan. Dia melirik susu segar di atas meja. Lalu meminumnya sampai habis.


"Kita akan punya jadwal padat hari ini. Kalau kamu tidak sanggup segera beritahu aku. Mengerti?"


Jihan tersenyum, "Terimakasih." ucapnya.


Menjelang makan siang, Chris memiliki pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya dari Jerman. Dia bukannya tidak sadar ada yang tidak beres dengan Jihan, namun dia masih diam sampai detik ini. Jihan yang sejak pagi banyak melamun dan tidak fokus.


Mereka sampai di sebuah hotel bintang lima dimana rekan bisnisnya menginap. Mereka mengadakan pertemuan di restoran hotel.


Ketika sampai, ternyata mereka sudah ditunggu. Pertemuan berjalan dengan lancar. Nyaris saja Jihan melakukan kesalahan kalau saja Arjun dan Chris tidak mengatasinya dengan cepat. Dia meninggalkan sebuah berkas penting yang ingin dilihat oleh rekan bisnis mereka.


Di dalam mobil, dia terus tertunduk. Suasana hening membuat dia semakin merasa bersalah pada Chris. Meskipun selesai dengan kata maaf, tapi apa yang terjadi tentu saja mempermalukan Chris.


"Anda akan makan siang di luar atau di kantor, Tuan?" tanya Arjun.


"Di kantor." jawab Chris.


Dia juga harus menyelesaikan pekerjaan dengan cepat hari ini. Dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk makan siang diluar.


Sesampainya di ruangannya, pintu diketuk dua kali. Jihan masuk dengan kepala tertunduk dalam. Chris menarik sudut bibirnya. Dia tahu apa yang ingin dilakukan Jihan. Melihat raut wajah bersalah itu membuatnya terhibur. Karna itu Jihsn, tentu saja dia tidak marah sama sekali, tapi sikapnya tadi memang menunjukkan dia marah. Chris memang sengaja melakukannya.


"Ada apa? Aku tidak memanggilmu." katanya tegas.


"Presdir, tentang kesalahan yang saya buat tadi, saya benar-benar minta maaf. Saya akan menerima sangsi apapun." katanya.


"Angkat kepalamu." perintah Chris. Dengan ragu Jihan mengangkat kepalanya dan menatap langsung mata kelam milik Chris. "Kamu menyesal?" tanyanya.


"Ya, maafkan saya."


Chris bangkit dari duduknya. Lalu berjalan ke depan mejanya, bersandar disana dan melipat kedua tangannya di dada.


"Aku sangat membenci orang yang tidak profesional, Jihan. Membuat pekerjaan kacau karena masalah pribadimu, itu sangat buruk. Apa kamu bertengkar dengan pacar barumu itu?" Tentu saja Chris tahu Jihan tidak pacaran, dia hanya menggertaknya saja karena ingin mengetahui sesuatu.


"Saya tidak pacaran, bukan masalah seperti itu..."


"Lalu, kamu sedang patah hati atau bagaimana?"


"Tidak, kenapa saya harus patah hati. Tolong jangan menyimpul..."


Jihan tiba-tiba terdiam ketika Chris tersenyum. Dia baru sadar kalau sejak tadi Chris hanya memancingnya bicara tentang masalah pribadinya. Dia mengalihkan pandangannya dengan segera.


"Aku akan memaafkanmu, tapi beritahu aku apa yang menyebabkan kamu tidak fokus seharian ini. Aku tidak ingin karyawanku melakukan kesalahan terus menerus."


Jihan tentu saja tidak ingin memberitahu Chris. Itu masalah pribadinya. Tapi dia juga tidak suka berbohong.


"Hanya masalah kecil... Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


Chris menatapnya datar, sungguh sulit baginya menembus pertahanan yang Jihan buat. Mau tidak mau dia harus mengalah lagi kali ini.


"Baiklah, tapi aku akan memaksamu mengatakannya ketika kamu melakukan kesalahan lain. Aku tidak menerima maaf untuk kedua kalinya."


"Terima kasih, saya permisi..."


Jihan segera berbalik dan keluar dari ruangan Chris. Setibanya di mejanya, dia menekan dadanya kuat-kuat. Jantungnya berdetak dengan cepat. Seakan ingin melompat keluar. Antara rasa takut dan perasaan lain. Jihan tahu keduanya bercampur dan membut jantungnya bereaksi demikian.


"Dia tidak memarahimu, kan?" tanya Arjun.


"Tidak, aku beruntung. Terima kasih juga untukmu karena kamu mengambil langkah cepat."


"Santai saja, itu bukan masalah besar." jawab Arjun.


"Ayo pesan makan siang." ajak Jihan.


Arjun mengangguk dan memesan sesuatu untuk mereka bertiga.


.


Pertemuan padat setelah makan siang dan pekerjaan yang menumpuk membuat Chris harus bekerja ektra lebih keras. Begitu juga dengan Jihan. Setelah dia mendapatkan paket di atas meja terakhir kali, dia belum menerima paket lagi.


Pagi ini, mereka akan melakukan kunjungan pada proyek pembangunan resort di pulau tampa penghuni yang Chris beli. Pulau yang tidak terlalu luas namun memiliki ekosistem dan tumbuhan yang masih sangat asri. Memiliki pantai yang indah dan tentunya memanjakan mata.


Letaknya beberapa kilometer dari lepas pantai di salah satu provinsi di Indonesia. Setelah mendarat di bandar. Mereka segera ke dermaga untuk naik kapal menuju pulau. Chris mengunjungi tempat itu guna menemani investor yang ikut bekerja sama dalam pengembangan pulau.


Setelah mengajak mereka berkeliling dan menjelaskan bagian-bagian penting. Para investor itu dibawa menempati salah satu kamar super mewah. Mereka akan ada disana untuk satu malam. Hal itu atas permintaan sang investor yang ingin sekalian liburan.


Sore hari, setelah menyelesaikan pekerjaan yang dia bawa dari kantor. Jihan duduk di tepi pantai yang sudah di sulap sedemikian rupa menjadi pemandangan yang sangat memanjakan mata. Dia ingin menikmati senja dan matahati tenggelam. Jihan sangat bersyukur dia bisa pergi ke tempat indah seperti ini.


"Tempat ini akan diresmikan minggu depan. Apakah ada yang menurutmu perlu aku tambahkan?"


Jihan segera berdiri begitu Chris tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Pasir pantai pantai berjatuhan dari pakaiannya ketiks ia berbalik.


"Sa-saya tidak yakin. Ini sudah sangat indah dan sempurna menurut orang awam seperti kami."


"Kamu akan menikah dengan Marcell?" tanya Chris.


Jihan mengernyit, merasa bingung kenapa tiba-tiba Chris menanyakan hal seperti itu.


"Aku dengar dia sudah beberapa kali bertemu orang tuamu."


Mendengar hal itu, Jihan tahu dari mana asal pemikiran itu.


"Saya tidak pernah mengajaknya. Itu hanya pertemuan tidak sengaja, setelah itu dia menemui orang tua saya sendirian."


"Begitu?"


Jihan merasa tidak nyaman. Tidak ada siapapun disana kecuali mereka. "Saya akan kembali ke kamar, permisi Presdir."


"Kenapa kamu terus menemuinya? Menerima hadiah kecilnya? Bukankah itu seperti memberinya harapan? Lagi, dia bukan pria yang boleh kamu temui dengan bebas bukan? Meskipun kamu bersama orang lain."


Jihan merasa tertohok, juga merasa bersalah entah karena apa. Namun pertemuan dengan Marcell memiliki tujuan. Itulah yang alasan yang ia buat untuk membenarkan tindakannya, meski dia tahu harusnya dia tidak meladeni hal lainnya. Jihan seperti tertampar, dia berdiri diam ditempatnya. Membuat Chris menoleh dari tempatnya berdiri. Memberikan pandangan dingin.


"Apa batasan itu hanya berlaku padaku?" tanyanya lagi.


"Justru... Justru bersama andalah saya melanggar banyak aturan." sahut Jihan. Tampa sadar air matanya jatuh begitu saja.


"Ma-maaf, saya harus pergi!"


Chris berdiri kaku disana. Melihat mantan istrinya itu lari menjauhi menuju penginapan.


"Apa aku salah bicara? Kenapa dia yang menangis?" tanyanya pada entah siapa.


Akhirnya dia seorang diri duduk disana. Memikirkan penyebab Jihan menangis. Namun setelah matahari tenggelam, dia tidak mengerti alasannya.


.


Paginya mereka terbang kembali. Jihan langsung pulang kerumah dan izin untuk mengganti pakaian. Chris sendiri langsung ke kantor bersama Arjun.


Setibanya disana, mereka dikejutkan dengan sebuah kotak di atas meja kerja Jihan. Paket tampa nama, Arjun merasa dejavu. Bentuk dan besar yang sama, warna kotak yang sama, Arjun ingat paket itu sama seperti yang diterima Jihan tempo lalu.


"Periksa cctv dan lihat siapa yang berani masuk kesini tampa izin. Aku sudah memberi intruksi baru, hanya petugas kebersihan yang bisa ke lantai itu."


Chris mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke dalam ruangannya. Dia menatap kotak itu dalam diam. Bertanya-tanya siapa yang mengirimkan paket mencurigakan seperti ini pada Jihan. Orang itu bahkan tidak segan-segan mengirimnya ke gedung perusahaannya. Chris merasa dirinya saat ini direndahkan.


Arjun masuk, melaporkan apa yang dikatakan pihak keamanan perusahaan tersebut. "cctv hanya menangkap petugas kebersihan yang masuk ke sini. Tapi di cctv, dia tidak terlihat membawa sebuah paket." kata Arjun.


"Panggil petugas itu kemari." perintahnya tegas.


Chris yakin, pelaku ini juga mengenalnya. Bukan tidak mungkin maksud dia mengirim ke gedung perusahaan adalah sebuah tantangan untuk dirinya melalui Jihan.