Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
29



Nana berurai air mata dan langsung menabrakkan diri untuk memeluk Chris. Apakah Chris terkejut? Tentu saja, namun wajah datarnya menutupi hal itu. Pria itu bahkan tidak melakukan apapun untuk beberapa detik sebelum ia menyadari apa yang terjadi. Dia melirik kedua orang tua Nana yang memasang wajah sedih dihadapan puluahan wartawan.


Chris melepaskan Nana dengan pelan. Puluhan kamera wartawan sudah mengambil foto maupun vidio. Dia tidak bisa gegabah dan kasar saat ini.


Chris menoleh pada Jihan yang sejak tadi menatap mereka, Chris bisa melihat sorot mata Jihan yang terkejut dan bingung. Tidak ingin membuat situasi memburuk dengan kehadiran Nana, Chris menarik tangan Nana pergi dari sana. Meninggalkan Jihan yang tampak lebih syok dari sebelumnya.


Sesuatu yang sama sekali tidak disadari oleh Chris, bahwa Jouji masuk begitu saja dan menarik tangan Jihan yang kebingungan disana.


Jihan yang tidak tahu apa yang direncanakan Chris, meneteskan air mata tampa sadar ketika Jouji sudah membawanya pergi. Masuk kedalam mobil dengan belasan kamera mengambil gambar mereka.


Arjun dan Bayu tidak bisa menangani keadaan dengan baik karena diluar perkiraan mereka. Sehingga Bayu dan anggotanya hanya fokus menghalangi wartawan dari tuannya. Arjun yang sendirian tidak bisa mengendalikan situasi, Jouji tidak sendirian. Dia bersama orang tua Nana.


.


Chris masuk kesuatu ruangan kosong dan mendorong Nana dengan kasar agar wanita itu menjauh. Dia menatap marah pada mantan istrinya yang hanya memberikan pandangan memuja padanya.


'Dia masih sakit! Masih sangat gila. Bagaimana mereka bisa merencanakan hal ini?'


Bayu ikut masuk ke dalam, berdiri menghalangi Nana yang akan memeluk Chris kembali. Karena dihalangi, Nana marah. Dia histeris dan berteriak-teriak marah.


Kedua orang tuanya masuk bersama seorang dokter. Dengan angkuh mendorong Bayu yang menahan anaknya. Dokter itu menyuntikkan sesuatu pada Nana. Perlahan, amukannya mereda dan ayahnya mengangkatnya. Membawa Nana yang sudah lemas pergi dari sana. Sementara sang ibu, berdiri angkuh menatap Chris.


"Keluargaku mungkin berada di level berbeda, tapi apa kamu pernah dengar? Saat induk srigala melindungi anaknya yang diserang, dia akan berbuat apapun untuk membela anaknya."


Ibu Nana meninggalkan Chris saat dia tidak menjawab perkataannya. Chris tertunduk sesaat dengan seringaian diwajahnya. Dia berbalik untuk membalas kalimat ibu Nana.


"Bagaimana bisa disebut melindungi? Andalah yang melemparnya pada santapan harimau, Saat ini... dia terlihat lebih menyedihkan."


Chris meninggalkan ibu Nana dengan tidak kalah angkuh. Ibu Nana mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya sendiri. Kemarahan jelas terpancar dari sorot matanya meski wajahnya terlihat tenang.


.


Jouji membawa Jihan menepi setelah mereka cukup lama berkendara. Sepanjang Jalan Jihan hanya diam saja. Jouji juga hanya membiarkannya saja. Seorang aktor tentu sangat tahu bagaimana harus bersikap saat ini bukan?


"Sudah agak tenang?" tanyanya.


Jihan tidak menjawab, dia hanya menatap lurus kedepan. Jouji mengikuti arah pandangan Jihan meski tahu Jihan tidak menatap apapun.


"Dia adalah Nana," lanjut Jouji.


Matanya melirik sesaat ketika menyadari Jihan menoleh padanya. Tahu dia memulai dengan benar, Jouji melanjutkannya dengan tenang.


"Sahabatku Nana, adalah orang yang baik pada awalnya, sampai dia bertemu kakak dari sahabat kami kala itu. Pria dingin yang tidak punya belas kasih. Aku tidak tahu bagaimana Nana menyukainya." Jihan masih tidak merespon, tapi Jouji tahu dia menyimak dengan baik.


"Pada akhir pendekatan mereka akhirnya menikah karena perjodohan. Tapi, itu adalah awal mimpi buruk Nana. Dia... Nana... "


Jouji menyandarkan kepalanya pada stir mobil. Pikirannya tiba-tiba dipenuhi wajah Nana yang datang ketika malam pertamanya dengan Chris. Malam dimana Nana menangis dan mengadu padanya.


"Apa yang Chris lakukan padanya?"


Mendengar pertanyaan itu, Jouji membuka matanya yang tadi terpejam. Dia kembali dari memori masa lalunya. Menyadari dia berhasil, dia mengangkat wajahnya dan memasang wajah tersiksa.


"Dia memperlakukan Nana selayaknya sampah. Dia memperlakukan Nana dengan kejam, menyiksanya secara fisik dan mental hanya karena pernikahan. Pada awal pernikahan, dia bersikap dingin. Namun sedikit membaik ketika mereka ditempat tidur. Nana bilang padaku, Chris hanya baik saat dia menyentuhnya. Setelah itu dia akan kembali menyiksanya. Tapi Nana yang polos, hanya terus mencintainya."


Jihan menunduk, entah mengapa apa yang disampaikan Jouji terasa nyata pada dirinya. Ketakutan-ketakutan merasukinya seperti parasit yang mengganggu.


"Aku... Aku tidak ingin pulang." lirihnya.


Jouji menyeringai, dia sungguh pantas mendapatkan piala oskar jika mempertahankan perannya.


"Tapi... kamu akan kemana?"


"Kemanapun! Kemanapun selain rumah itu."


"Baiklah." jawab Jouji dengan senyum penuh arti.


Sementara itu, Chris menendang satu persatu anggota Bayu yang mengawasi sampai terjatuh. Setelah itu dia beralih pada Leon dan menamparnya dengan kuat. Barulah sampai lada Bayu, Chris terlihat tenang. Namun siapa yang menyangka, bahwa itu adalah awal dari yang lebih buruk. Chris mengambil pistol didalam laci kerjanya dan menodongkannya pada kepala Bayu.


"Apakah ini hasil kerja mantan komandan satuan khusus? Membiarkan kekacauan datang bahkan istriku dibawa lari!" bentaknya dengan penuh penekanan.


Bayu hanya diam saja. Arjun juga tidak berani mengangkat wajahnya ketika atasannya marah besar.


Bayu merasakan ponselnya berbunyi. Namun dia tidak berani mengangkatnya tampa perintah.


"Angkat itu!"


Buru-buru Bayu menerima telepon. Setelah menjawab singkat, Bayu menatap Chris dengan wajah serius.


"Mereka memasuki sebuah kawasan xxx, anda pernah kesan Tuan."


"Itu... tempat tinggal temannya."


Chris bergegas keluar dari ruangan tempat dia sedari tadi berdiam diri. Mengabaikan beberapa wartawan yang berhasil mengetahui dia melewati jalan belakang.


"Arjun... Saat istrimu marah, apa yang kau lakukan untuk membujuknya?"


Arjun yang duduk di sampingnya menoleh. Chris tidak menatapnya, pandangan pria ini mengarah keluar jendela. Namun, baik Arjun dan Bayu menyadari kekawatiran atasan mereka. Keduanya sempat bertukar pandang lewat kaca spion karena bingung sendiri. Bagaimanapun mereka bukan akan memberi saran pada pasangan muda yang baru saja menikah. Chris bahkan lebih tua darinya. Arjun memutar otak agar tidak salah jawab.


"Tuan, bagaimanapun juga Ibu Jihan memiliki watak dan prinsip hidup yang berbeda. Saya tidak yakin tapi... Saya pikir anda hanya perlu minta maaf dan menjelaskan kebenarannya."


Chris tidak menjawab, dia tidak yakin apakah harus menjelaskan. Mereka belum sedekat itu untuk saling mempercayai satu sama lain. Dia masih membuat jarak begitupun Jihan.


'Dia masih disini.' monolognya.


Kakinya melangkah dengan aura intimidasi yang kuat. Kemarahan tiba-tiba merasukinya. Arjun yang menyadari kalau dia sedang dilanda api cemburu menghembuskan napas dengan gusar. Bersiap menghadapi sesuatu yang lebih buruk.


.


Di dalam apartemen sederhana milik Meri, ada tiga orang yang duduk di ruang tamu. Meri kebingungan akan kedatangan Jihan yang terlihat jauh lebih buruk dari sebelumnya. Kedatangan Jouji bersamanya tidak kalah membuat ia bingung dan syok. Bagaimanapun juga, Meri tahu kebersamaan mereka saja sudah tidak benar.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sejak tadi kalian tidak menjawabku dengan benar."


"Tidak ada apa-apa. Untuk sementara mohon jaga Jihan disini." jawab Jouji.


"Tidak ada apa-apa bagaimana? Gosip kalian pagi ini. Lalu tiba-tiba wajah Jihan muram begini. Sebenarnya ada apa sih? Aku dengar gosip bahwa kamu dan suamimu melakukan konfrensi pers, Ji apa yang terjadi setelahnya?" tanya Meri, meraih kedua bahu Jihan yang hanya menatap sendu dirinya.


"Aku pikir, aku menyerah. Aku tidak mau bersama orang seperti dia. Aku tidak ingin bernasib sama dengan mantan istrinya." Suara Jihan terdengar putus asa.


"Apa mak__"


Meri menoleh pada pintu karena suara ketukan nyaring dari luar. Dia hendak bangkit namun Jouji bangun lebih dulu.


"Biar aku saja, Jika kamu tidak menunggu seseorang aku pikir aku tahu siapa yang datang." kata Jouji.


Meri panik, dia takut kalau itu adalah Chris. Dia melepaskan Jihan dan menyusul Jouji. Segera langkahnya terhenti ketik melihat Jouji sudah membuka pintu dan wajah yang mereka kenal ada disana. Dugaannya benar, Chris berdiri dengan wajah mengerikan dan aura yang siap membunuh kala matanya menangkap keberadaan Jouji dihadapannya.


'Ya Tuhan... Aku masih ingin hidup nyaman.'


Meri berdiri mematung disana. Jantungnya berdetak kencang karena takut. Dua orang itu tampak saling mengintimidasi satu sama lain.


"Aku benar-benar kagum kamu rela kehilangan karirmu untuk melakukan ini semua."


"Kenapa tidak?" balas Jouji.


"Menyingkir dari hadapanku!" tekan Chris dengan wajah yang kian mengeras.


Jouji menarik senyum sinis sebelum berbalik dan masuk kembali. Melewati Meri yang menyingkir dengan cepat untuk membiarkan mereka lewat.


Jihan ternyata sudah berdiri dari duduknya ketika ia mendengar suara Chris. Meri segera berlari ke sisi sahabatnya itu. Jouji sendiri berdiri beberapa jarak dari mereka, tepat antara Jihan dan Chris yang saling berhadapan.


"Ayo pulang."


"Aku tidak mau!" sahut Jihan tegas.


Chris bisa melihat pancaran mata Jihan yang penuh dengan amarah dan kekecewaan. Itu mengganggunya, dia menghela napas dan melembutkan ekspresinya.


"Aku akan menjelaskan semuanya dirumah, jadi ayo pulang." bujuknya.


"Menjelaskan apa? Apa kamu akan mengakui kejahatanmu?" Sambar Jouji, lalu dia beralih pada Jihan. "Lihat bagaimana dia menghancurkan Nana. Kamu lihat sendiri tadi bagaimana keadaan Nana yang gila. Dia akan membuatmu mencintainya Ji, sama seperti Nana. Lalu setelah kamu jatuh, dia akan mulai menyiksamu perlahan sampai kamu gila. Nana, bahkan tidak bisa melupakan cintanya meskipun dia tidak waras lagi." Jouji beralih pada Chris lagi. "Iblis ini tidak pernah mencintai seseorang, baginya manusia hanyalah pion dalam hidupnya. Bahkan kepada orang tuanya sendiri." lanjut Jouji.


Chris terkekeh pelan, hal itu membuat Jihan maupun Meri menatapnya dengan bingung. Chris duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


"Kamu benar-benar sangat mencintai wanita gila itu." kata Chris pada Jouji.


"Dia sahabatku! Kamu sudah menghancurkan hidupnya sialan!" Jouji menerikkan kata terakhir dengan penuh emosi.


Arjun dan Bayu masuk ke dalam ketika mendengar teriakan itu, berdiri di samping Chris dalam jarak dua langkah.


"Itu salahnya sendiri, aku tidak pernah memintanya mencintaiku. Bagaimana bisa kamu menyalahkanku?"


Jouji tampak murka, dia sudah maju dan akan melayangkan pukulan sebelum bayu menghalangi dan mendorongnya. Jouji tersungkur menabrak meja.


"Jouji!"


Jihan segera bergerak ingin menolongnya, dia bahkan sudah akan memegang lengan Jouji ketika sebuah tangan menariknya terlebih dahulu.


Jihan tersentak dan di paksa berdiri hingga dia menabrak dada bidang milik suaminya. Chris menatapnya dengan tajam. Kedua tangannya menahan Jihan dengan erat.


"Jangan pernah meletakkan tanganmu padanya atau pria lain. Aku sudah cukup mentolerir kamu pergi dengannya." ucap Chris dingin.


"Lepas! Aku tidak akan kembali! Sejak awal kamu hanya memanfaatkanku untuk anakmu, bukan? Aku tidak akan sebodoh itu untuk terus berada di sisimu dan menjadi gila suatu hari nanti!" ujar Jihan.


Jihan meronta-ronta namun Chris tetap mendekapnya dengan erat. Jouji yang sudah bangun dihalangi oleh Bayu sehingga dia hanya bisa berdiri diam. Meri meremas tangannya sendiri karena kawatir.


"Kamu akan menyesalinya jika kamu tidak mempercayaiku saat ini, Jihan." Chris melepaskan Jihan dan wanita itu segera menjauh.


"Aku akan memberimu waktu. Pikirkan baik-baik, orang tuamu dan Azam. Kamu bisa mempercayainya mentah-mentah, jika kamu tidak sebodoh wanita itu, kamu pasti akan datang padaku." kata Chris, ia segera berbalik hendak pergi. Namun langkahnya tertahan ketika dia ingin menyampaikan satu kalimat terakhir. "Aku akan menunggu dan melihat wanita seperti apa dirimu."


Setelah mengatakan itu, Chris pergi. Arjun menatap Jihan sesaat sebelum mengikuti Chris dan Bayu yang sudah pergi duluan.


"Ji... kamu baik-baik saja? Istirahat di kamar saja ya?" ajak Meri.


Jihan tidak menjawab, dia hanya mengikuti langkah Meri saat sahabatnya itu menariknya masuk ke dalam.


Lalu, bagaimana dengan Jouji. Pria itu menatap punggung Jihan dengan wajah sendu. Ada rasa bersalah dihatinya namun dendamnya lebih besar dari itu. Dia melangkah pergi, ikut keluar dan meninggalkan tempat itu.


Disisi lain, Chris tidak membuka mulutnya setelah pergi dari sana. Arjun dan Bayu yang bertanya padanya diabaikan begitu saja. Kepalanya dipenuhi rasa kecewa dan marah. Dia juga merasakan nyeri dihatinya. Didalam kepalanya, dia memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana sikapnya yang perlahan berubah pada istrinya. Chris juga gelisah, ada rasa takut dan rasa tidak percaya diri setelah dia memberikan pilihan pada Jihan.


'Apa seharusnya tadi aku memaksanya saja?'