Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
11



Jihan jelas sendirian. Chris sibuk dengan rekan bisnis. Arjun kembali ke kantor dan para pengawal hanya berdiri di sudut ruangan, mengamati dari jauh.


Jihan ditinggalkan bersama para istri dan anak-anak para pejabat dan pebisnis yang hadir. Berusaha abai, Jihan mengambil minuman yang ia sendiri tidak tahu jenis apa. Saat akan meneguk, seseorang menyelanya.


"Itu mengandung alkohol,"


Jihan segera menurunkan gelasnya dan meletakkannya kembali kemeja.


"Terima kasih,"


Wanita itu tampak seumuran dengannya. Busananya tampak anggun dengan rambut ikal yang cantik. Dia tidak membalas ucapan terima kasih Jihan. Hanya menatapnya tampa minat. Mengambil minuman yang Jihan letakkan tadi lalu meminumnya.


"Bukankah kamu bilang itu beralkohol?" tanya Jihan dengan polos.


"Ya, lalu?" jawabnya acuh.


"Oh my ... dari mana orang gurun ini datang? siapa dia?" tanya salah satu diantara mereka. wanita berambut pendek dan bewarna merah.


"Jangan mengejeknya ... aku tidak tahu dimana ibu Susi, dia cocok dengannya. Sama-sama berfikiran tertutup dengan busana arab yang kuno." sahut yang lain.


Semua wanita disekitar Jihan tertawa kecuali wanita berambut ikal. Dia bahkan tidak tersenyum sedikitpun. Hanya minum sedikit demi sedikit dan tampak sangat tidak minat pada apapun.


"Bagaimana kamu ada disini? pria mana yang kamu rayu?" tanya wanita berambut merah.


Jihan menatapnya datar. Tidak ingin meladeni. Dia memilih menatap kearah lain.


"Jihan?"


Seseorang menyapanya dari belakang. Jihan menoleh dan mendapati ibu Jouji. Jelas menciptakan suasana yang berbeda.


"Caren? kamu disini juga?" sapanya pada wanita berambut ikal.


jadi wanita yang dingin ini bernama Caren?


Caren tidak membalas sapaan ibu Jouji, dia hanya mengangkat gelasnya acuh tampa melihat.


"Anda mengenalnya, senior?" tanya wanita berambut merah.


Jihan tidak tahu kenapa ibu Jouji dipanggil senior. Jihan jarang menonton televisi sehingga dia tidak tahu orang-orang terkenal di Indonesia siapa saja.


"Dia nyonya Mc, istri dari Christoper august mc, kalian tidak tahu?"


Semuanya tampak terkejut beberapa saat sebelum terlihat canggung satu sama lain.


"Jadi ... dia yang selanjutnya akan ke rumah sakit jiwa?" sarkas Caren.


Semua orang tampak menegang. Tidak ada yang berani bicara. Jihan menatap Caren menunggu penjelasan, namun Caren kembali acuh.


"Yah, banyak gosip yang beredar. Tapi ... jelas dia bukan tipe Christoper. Bagaimana kalian bertemu?" tanya si rambut merah.


"Benar, aku dengar ibu pak Chris juga menyukainya. Pelet apa yang kamu pakai?" sahut yang lain.


"Ya ampun ... gadis-gadis kenapa kalian begitu kejam. Jihan mana mungkin menggunakan pelet. Dia ini wanita solehah." kata ibu Jouji.


Siapapun bisa tahu bahwa ibu Jouji tidak sedang membelanya. Nada bicaranya bahkan terdengar penuh sindiran. Sangat berbeda ketika ia memohon dirumahnya dulu.


"Pesta selalu membosankan, dipenuhi parasit menyebalkan dan gerombolan anjing yang suka menggonggong." kata Caren dingin.


Untuk pertam kalinya ia menatap Jihan yang lebih pendek darinya. Meletakkan gelasnya asal dan mendekat selangkah.


"Menjauhlah dari mereka, itu saranku." katanya lalu pergi.


Jihan segera mengikutinya. Mengabaikan pandangan sinis gerombolan tadi. Caren cukup cepat dan dia kesulitan mengejar karena gaunnya. Jihan bahkan tidak menemukan Chris juga.


Jihan menarik nafas dengan gusar. Memilih berjalan ke pinggir dekat dinding kaca. Sayangnya, dia menabrak minuman yang sedang dipegang seseorang dan mengotori bajunya. Seorang pria yang jelas lebih tua darinya.


"Maaf, saya tidak sengaja__"


"Tak apa, ini bisa di atasi." jawab pria itu dan mengelap bajunya dengan sapu tangannya.


"Aku memakai baju gelap jadi tidak kelihatan, santai saja." lanjutnya saat melihat wajah bersalah Jihan.


Tampa mereka sadari, Chris berjalan mendekat saat ia melihat Jihan berbicara dengan pria itu. Ada kilat tak suka di matanya.


"Aku Rama, anak mentri pertahanan. Siapa namamu?"


Jihan mengerjap, tidak ingin menjawab tapi senyum ramah pria dihadapannya membuatnya tidak enak.


"Dia Jihan, istriku."


Keduanya menoleh saat Chris sudah berdiri di sampingnya. Rama menyembunyikan keterkejutannya dengan mengangkat sebelah alisnya. Banyak orang mengalihkan atensi mereka untuk melihat dua pria yang selalu jadi topik hangat.


"Ah ... benarkah? sepertinya aku terlalu sibuk di hutan sampai tidak tahu kamu sudah menikah lagi ... teman lama."


Chris tidak menanggapi. Dia menatap Jihan dan menggenggam tangannya.


"Ayo pulang, kamu tampak lelah." ucap Chris lembut.


Tentu saja semua orang disana tampak terkejut. Seorang Chris tidak pernah bicara dengan nada seperti itu. Chris juga dikenal dengan kepribadian dingin dan penuh misteri. Sehingga saat ini suatu hal yang langka bagi mereka.


"Sepertinya gosip itu salah, kalian tampak harmonis." kata Rama.


"Gosip apa maksudmu?" tanya Chris pura-pura tidak tahu.


Jelas Rama tahu dia hanya berpura-pura. Rama tersenyum, mengikuti alur yang Chris buat.


"Lupakan, lagi pula rumor selalu dibumbui. Nah, aku permisi dulu dan hati-hati untuk kalian."


Rama meninggalkan mereka. Jihan hendak menarik tangannya namun Chris semakin mengeratkan genggamannya. Menariknya menuju jalan keluar sambil membalas sapaan orang-orang yang mereka lewati.


Dimobil Chris kembali acuh dan dingin. Tidak ada kesan lembut dan ramah seperti tadi. Jihan tidak peduli, mereka hanya saling mengabaikan satu sama lain. Terlalu lelah untuk membuat perdebatan.


.


Pagi ini begitu Jihan selesai solat subuh, dia mengeryit bingung saat semua orang tampak telah sibuk. Bahkan Bayu sudah ada di rumah. Catrin berlari kecil ke arahnya dan langsung memeluk pinggangnya.


"Kamu lupa? ini hari keberangkatan kalian."


Jihan semakin bingung, dia benar-tidak ingat. Lalu saat Chris turun dengan kopernya barulah ia ingat pembicaraan tiga hari yang lalu.


"Ma, saya lupa. Jadi belum siapkan baju dan_"


"Tidak perlu, ibu dan Catrin sudah menyiapkannya kemarin. Itu kopermu dan segeralah berangkat setelah sarapan."


"Tapi ..."


"Jam berapa pesawatnya?" sela Chris.


"Pukul 07.15," jawab ibunya.


Chris membiarkan supir kekuarga mereka mengambil kopernya dan dia menuju meja makan. Tidak bicara apapun lagi.


"Mama! ayo makan. Nanti Cat akan ikut mengantar ke bandara!"


Jihan tersenyum terpaksa, Catrin tampak sangat bersemangat. Bukan apa-apa. Berada berdua saja dalam satu tempat dengan Chris hanya akan membuatnya menderita. Hal-hal yang terjadi tidak pernah baik, itulah yang ada di fikirannya saat ini.


Dalam perjalanan, Catrin bercerita mengenai sekolahnya. Chris tidak banyak menanggapi meski anaknya duduk di pangkuannya. Jihan juga hanya menjawab seperlunya. Suasana canggung dan dingin jelas tercipta dari pasangan baru itu. Hanya celotehan sikecil yang mencairkan suasana.


.


Singkatnya, keduanya sampai disebuah hotel mewah. Ibu Chris sudah menyiapkannya sedemikian rupa. Bahkan menyiapkan pengawal yang akan melapor kepadanya.


Mereka pergi diikuti dua asisten dan 4 bodyguard. Jauh lebih sedikit dari pada saat Chris melakukan perjalanan bisnis.


"Mandilah lalu segera turun ke restoran dibawah. Feri akan menuntunmu begitu kamu diluar."


Setelahnya Chris berlalu. Feri adalah asisten pribadinya disini. Satu hal yang perlu diketahui, Jihan adalah satu-satunya wanita. Entah mengapa Chris tidak merekrut asisten dan pengawal wanita di perusahaannya.


Selesai berganti baju Jihan keluar dan di sambut oleh Feri di depan pintu.


"Silahkan nyonya,"


"Panggil kakak saja. Kamu lebih muda kan?"


Feri tersenyum.


"Saya bisa mendapatkan hukuman memanggil anda seperti itu. Mohon maafkan saya, nyonya."


Jihan menghela nafas dengan malas.


"Kenapa kita harus ke pulau ini? aku bahkan tidak bisa bahasa mereka. Bahasa inggrisku juga tidak baik." keluh Jihan.


Mereka ada di pulau Jeju. Salah satu destinasi wisata negara Korea selatan yang terkenal. Tentu saja ini pilihan ibu Chris.


"Tuan Chris berinfestasi pada hotel ini. Selain urusan pribadi, sebenarnya ini juga masuk ke perjalanan bisnis nyonya. kita akan belok kanan."


Jihan berbelok sesuai arahan ketika keluar dari lift. Feri membawanya memasuki restoran hotel di meja VIP. Disana sudah ada Chris duduk menikmati secangkir kopi.


Jihan duduk disana. Saling berhadapan namun memilih menikmati menatap pemandangan diluar melalui dinding kaca. Cukup hening karena meja mereka jauh dari meja lainnya. Pengunjung juga tidak begitu ramai.


"Bagaimana kamarnya?"


Jihan tersentak, dia menoleh sedikit tampa melihat. Sebuah susu hangat baru saja tiba untuknya.


"Kenapa dengan kamarnya?"


Chris menatapnya intens meski Jihan tidak menatapnya.


"Katakan jika ingin pindah. Lalu ... pergilah kemanapun dengan Feri. Dia menguasai bahasa Korea dan inggris. Tidak perlu menunggu izinku."


"Lalu kamu akan kemana?"


Chris menarik senyum remeh. Jihan tahu ia salah bicara saat melihat raut wajah itu. Bersiap mendengar kalimat menyakitkan.


"Apa aku terlihat ingin selalu bersamamu? jangan terlalu percaya diri. Ini hanya perjalanan bisnis bagiku. Tidak ada pengaruhnya kehadiranmu. Jadi urus dirimu sendiri. Maka kita akan sama-sama nyaman."


Makanan sudah tiba. Jihan, dengan hati yang kesal dan marah menatap hidangan itu tampa minat. Meskipun tadi sangat lapar karena melewatkan makan siang. Seleranya hilang begitu saja tampa sisa. Maka, dengan wajah datarnya ia bangkit berdiri.


"Makan makananmu sebelum pergi." Datar dan sarat akan cemoohan. Jihan bisa melihat wajah angkuh itu sedang mengolok-olok keadaannya saat ini.


"Bukankah kamu bilang terserah aku mau melakukan apa. Maka aku ingin pergi dimana aku tidak akan melihatmu!" sinis Jihan.


Dengan kesal Jihan meninggalkan Chris yang santai menikmati hidangan. Bahkan pria itu tidak peduli kemana ia akan pergi.


"Pastikan dia tidak mendapat masalah," kata Chris pada salah satu bodyguard di belakangnya.


Pria dengan kumis tipis itu mengngguk dan segera pergi mengejar Jihan yang diikuti oleh Feri. Menjaga istri atasannya sesuai perintah.


.


Jihan tidak kembali ke kamar. Ia hanya berjalan tampa arah. Sesekali pengunjung lain akan melihatnya dengan aneh karena pakaiannya. Namun melihat dua pria mengawalnya membut mereka tidak berani mengganggu.


Sesampainya di tepi pantai. Jihan duduk di atas pasir yang kering. Menekuk kedua lututnya keatas. Kedua tangannya memeluk lututnya.


Mata itu menatap hampa lautan luas. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri saat mengingat perkataan Chris tadi.


Apa yang aku harapkan? pantas saja dia pergi tampa beban. Karena ini yang akan ia lakukan.


Jihan bergelut dengan pikirannya. Tampa menyadari tetes demi tetes air matanya jatuh. Dia bahkan baru tersentak saat Feri mengulurkan sapu tangan padanya.


Jihan mentap sapu tangan itu dengan miris. Terkekeh setelahnya. Ia mendongak dengan mata dan hidung yang merah.


"Apa aku terlihat menyedihkan?" lirihnya.


Feri tertegun, cukup bingung harus menjawab apa. Jihan mengabaikan sapu tangan itu. Bangkit berdiri dan berbalik.


"Tunjukkan jalan kembali. Aku ingin tidur." kata Jihan sambil berjalan.


Maka dengan cepat Feri menyusul dan berjalan di sisi kanannya.