
Jihan tiba di bandara suekarno-hatta bersama dengan Feri. Menyembunyikan wajahnya dibalik masker dan ia di jemput oleh ibu mertua dan kedua anaknya.
Jihan memeluk Azam terlebih dahulu. Sungguh dia sangat rindu sekaligus kawatir pada anaknya itu. Dia memperlihatkan wajah kawatir yang kentara. Melihat gelagat aneh ibunya Azam tentu saja bingung. Sayangnya belum sempat pertanyaan terucap Catrin segera memeluk pinggang Jihan mencari perhatian.
"Kenapa mama cuma peluk kak Azam? tidak kangen Catrin,"
Catrin tertawa kecil, ia membungkuk hendak menggendong anak itu namun ia meringis dan limbung kedepan. Terjerembab kelantai sambil memegang sisi kepalanya.
Sakit dan penging ditelinga yang tadi ia rasakan terasa semakin parah, ia bahkan pusing dan bekas operasi kepalanya terasa berdenyut kuat. Jihan mendongak untuk melihat sekelilingnya. Semuanya seperti berkabut. Suara orang-orang menjadi samar sebelum semuanya menjadi gelap.
.
Karyawan rumah sakit terlihat tertekan saat Chris masuk. Apalagi saat pemilik rumah sakit sendiri yang menyambutnya. Chris melewati dokter pemilik rumah sakit begitu saja karena ia panik, atau begitulah kelihatannya.
"Apa yang terjadi? Dokter di Jeju sudah memberinya izin bagaimana ia bisa pingsan?" tanya Chris sambil jalan.
"Masih dalam pemeriksaan, pak Chris. Kemungkinan karena goncangan dan tekanan diatas begitu kuat. Kemungkinan hanya barotrouma tapi bisa jadi cidera kepalanya memburuk."
Chris berhenti mendadak, menatap dokter yang umurnya jauh lebih tua darinya itu dengan dingin.
"Istriku mengalami kelelahan dan barotrouma, hanya itu yang harus kalian sampaikan pada media diluar sana." katanya.
"Saya mengerti," jawab dokter itu sambil menunduk sopan.
Sesampainya diruang inap, hanya ada ibu, dua anaknya, beberapa pengawal dan perawat yang menyiapkan ruangan.
"Daddy...mommy sakit lagi..." kata Catrin, memeluk kaki ayahnya sambil menangis.
Azam terlihat menahan tangis. Anak itu sejak tadi hanya duduk diam menatap kosong kebawah. Ketika Chris datang, barulah ia mengangkat kepalanya. Menatap ayah sambungnya dengan wajah kecewa.
Chris tahu Azam ingin menanyakan banyak hal padanya, namun ia menghindari tatapan anak itu. Ia sadar Azam sudah tahu ia berbohong. Chris memberikan alasan padanya alasan ibunya tidak bisa naik pesawat adalah karena anemia berat dan dokter melarang naik pesawat. Alhasil ketika dia mendengar perkataan dokter pada sang nenek, barulah ia tahu bahwa ibunya mengalami benturan keras dikepalanya. Azam tak langsung menanyakan penyebabnya, karena ia yakin apapun itu yang terjadi adalah hubungan ibunya tidak baik dengan sang ayah tiri. Sebab keduanya mengarang alasan yang tidak kompak. Belum lagi rumor yang pernah sampai ketelinganya meskipun cepat hilang. Sesungguhnya hal itu membuat tekanan sendiri baginya.
Jihan masuk bersama brangkarnya. Beberapa dokter mengawasi dua perawat yang mendorong brangkar. Meletakkan pada tempatnya dan segera memasang alat pernapasan. Impus sudah terpasang sejak ia di UGD. Jihan baru saja melakukan CT-Scan ulang dan pemeriksaan di telinga.
"Siapa dokter yang bertanggung jawab untuk istriku?" tanya Chris.
Dua orang dokter pria maju, membungkuk kecil dan menyebutkan nama mereka. dokter Afdal, seorang dokter bedah dan dokter Feri, seorang dokter THT.
"Ibu Jihan mengalami Barotrouma yang lumayan parah pak Chris. Ada perdarahan ringan ditelinganya namun gendang telinganya baik-baik saja. Dia akan mengalami gangguan pendengaran untuk beberapa saat." kata dokter Feri.
Chris beralih pada dokter Afdal yang menjelaskan mengenai cidera kepalanya. "Saya tidak bisa mengatakan dia baik-baik saja, tapi untuk saat ini bekas cidera kepala ibu Jihan terlihat tidak ada masalah." kata dokter Afdal.
"Aku mengerti, kalian bisa keluar," jawab Chris dingin.
Chris melirik Arjun setelah dua dokter itu keluar. Memberikannya anggukan pelan. Arjun mengangguk dan keluar. Mengejar dua dokter itu. Memberitahu mereka apa yang boleh dan tidak dilakukan mengenai Jihan.
Sementara itu, Jihan mulai membuka matanya. Berusaha menyesuikan cahaya. Ia mendengar suara-suara namun terasa jauh. Melirik ke kiri dan kanannya. Mendapati semua orang menatapnya kawatir. Bahkan Chris yang biasanya datar dan dingin terlihat menunjukkan ekspresinya. Ada raut yang Selama ini tak Jihan lihat diwajah suaminya.
"Azam..." lirih Clara.
Azam segera mengambil alih posisi neneknya dan menggenggam tangan ibunya. Ia tersenyum pada Jihan seolah mengatakan semua baik-baik saja.
"Ibu jangan pikirin apapun, Azam Alhamdulillah baik, ayah dan nenek baik. Apa lagi adik manis ini, semua baik pada Azam." kata Azam. Tentu saja perkataannya membuat ayah dan nenek tirinya mengernyit. Sedikit banyak mereka tersinggung akan apa yang mungkin dikawatirkan Jihan.
Jihan tahu Azam tidak berbohong. Mungkin keluarga barunya memperlakukan dia dengan baik, namun Zahira tahu anaknya menyimpan banyak pertanyaan dan juga kecurigaan. Azam adalah anak pintar dan bijak. Dia bisa berfikir jauh lebih dewasa dari umurnya. Tidak akan sulit banginya membaca situasi yang terjadi.
"Apa maksudmu, Azam?" tanya Chris. Menatap anaknya tajam.
Azam mengangkat kepalanya, menatap ayahnya datar. Wajah dan ekspresi marahnya persis ibunya. Sehingga Chris tahu apa yang mungkin akan dikatakannya.
"Mom, sebaiknya bawa Catrin pulang." katanya pelan.
"Cat mau temanin mommy! Cat tidak mau pulang, daddy!" kesal sang anak. Namun Catrin langsung menunduk saat mendapatkan tatapan tajam ayahnya.
"Hentikan Chris!" tegur Jihan.
Chris memejamkan matanya dan menatap ibunya memohon. Sang ibu hanya menghela nafas. Menarik tangan gadis kecil itu untuk keluar.
Kini, Chris menatap mata Azam. Sorot matanya membuat Chris merasakan sedikit penyesalan. Selama seminggu ini, Azam seperti teman yang nyaman baginya. Berbeda dengan Catrin yang manja, Azam sangat dewasa dan bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan. Bahkan didepan anak tirinya itu, Chris seolah menjadi orang lain. Pembawaan Azam itu tenang dan lembut, selalu mengingatkan Chris pada ibadah yang tidak pernah ia kerjakan, bahkan Azam dengan berani mengajaknya subuh-subuh solat dimasjid. Membuat sosok Azam seperti guru juga baginya. Sehingga saat melihat raut marah dan kecewa anak itu membuatnya tak nyaman.
"Ayah minta maaf," kata Chris lembut.
Jihan tentu saja tercengang, hal yang ia kawatirkan nyatanya malah terbalik. Jihan melihat sosok lain saat ini. Bukan seperti Chris yang bengis dan kejam. Dia hanya seperti sosok ayah yang telah membuat anaknya kecewa. Sosok ayah baik yang sedang menyesal. Jihan mengerjap, bahkan saat ini meyakinkan dirinya bahwa mungkin saja Chris hanya sedang bersandiwara seperti biasanya.
"Hubungan kalian tidak baik, benar kan?" tanya Azam, telak membuat keduanya terdiam.
"Tidak baik berbohong demi menutupi kebohongan lain, ayah. Itu tak akan pernah selesai. Azam tidak tahu seperti apa permasalahan kalian tapi jangan perlakukan ibu dengan buruk. Ibu cukup menderita dulu." Azam meneteskan air mata, ia menunduk lalu melepaskan genggaman tangannya pada sang ibu. Mundur selangkah lalu menatap ibunya juga.
"Ibu juga jangan bersikap seolah semua baik-baik saja saat ibu tidak baik. Azam hanya suka kejujuran, seperti Rasulullah mengajarkan umatnya. Meskipun dimata ibu berbohong demi kebaikan, tapi dimata Allah tak ada kebohongan yang baik." lanjut Azam, lalu ia diam. Tidak mengatakan apapun lagi. Membuat suasana hening dan canggung.
Chris menghela nafas, entah mengapa sikap kerasnya luluh begitu saja. Ia berjalan mengitari tempat tidur dan memeluk Azam.
"Maaf, maafkan ayah. Ayah akan berusaha jujur dimasa depan. Sekarang pulanglah dan istirahat. Ibu biar ayah yang jaga. Besok Azam sudah harus kembali ke pesantren, kan?" kata Chris lembut.
Azam melepaskan pelukan ayahnya dan mengangguk. Melirik ibunya lalu berjalan mendekat. Mencium kening dan tangan ibunya.
"Ibu juga minta maaf, Zam." kata Jihan.
Azam tersenyum dan mengangguk. "Jangan pikirkan, bu. Azam tak marah. Ibu oke ditinggal? Bagaimana kalau Azam tidur disini?" usulnya.
"Tidak perlu, pulanglah dan istirahat yang nyaman. Ibu sudah merasa baik, hanya sedikit terasa tuli..."
"Tak apa, dokter bilang itu hanya sementara." sahut Chris.
"Hmm, benar bu. Kalau gitu Azam pulang dulu." tambah Azam.
Setelah benar-benar berpamitan Azam pulang bersama Arjun dan seorang pengawal. Tinggallah Chris dan Jihan yang berada dalam hening. Suasana seperti kembali dingin dan kosong seperti biasa. Chris hanya baik saat bersama anaknya. Nyatanya saat ini pria itu duduk di ranjang satu lagi, bersandar dan memainkan tabletnya. Entah apa yang ia kerjakan, Jihan hanya menduga ia sedang menerima banyak laporan.
Jihan memejamkan matanya. Ia juga merasa lelah dan mengantuk. Maka dalam keheningan ia terlelap.
Chris menoleh setelah beberapa lama. Meletakkan tabletnya dan membenarkan selimut Jihan yang merosot. Ia menatap wajah pucat istrinya dalam diam. Sekali lagi, dorongan untuk menyentuh wajah itu begitu kuat. Ia merapikan anak rambut yang terlihat keluar dari kerudungnya. Mengelus pipi Jihan dengan punggung tangannya sebelum kembali tersadar dan meluruskan diri. Ia kembali keatas kasurnya sendiri dan ikut memejamkan mata. Mencoba tidur dengan pikiran yang penuh.
.
Jihan kembali ke rumah di sore hari setelah perdebatan panjang dengan Chris. Jihan tak suka dirumah sakit saat ia merasa baik-baik saja sementara Chris mengikuti saran dokter.
Perdebatan terjadi tepat setelah Azam pergi setelah mengunjunginya. Chris sampai mati - matian menahan emosi karena mereka berdebat di hadapan dokter Afdal.
Sesampainya dirumah, Jihan dikejutkan dengan sambutan orang baru yang tampak akrab dengan seluruh penghuni rumah kecuali dirinya. Seorang laki-laki muda yang sangat ramah padanya.
"Kak Jihan kan? Aku Jordi, adik angkat kak Chris."
Jihan mengangguk dan membalas uluran tangan itu dengan menyatukan telapak tangannya didepan dada. Jordi yang mengerti tersenyum lebar dan menarik lagi tangnnya.
"Kenapa aku baru lihat?" tanya Jihan. Ia berjalan beriringan dengan Chris yang membawa tasnya menuju lantai dua.
"Selama ini dia di luar negeri, kuliah. Sekarang sudah selesai dan akan membantu Chris di perusahaan." jawab ibu mertuanya.
Jihan hanya mengangguk. Catrin menggandeng tangannya dengan ceria. Senang ibunya pulang. Chris keluar begitu saja tampa bicara, masuk ke kamarnya yang berada di sebelah. Jordi seperti tidak heran. Ia hanya mengabaikan kakaknya itu dan duduk di sisi kasur Jihan saat kakak iparnya sudah berbaring.
"Aku hanya akan membantu kakak sampai sembuh sebelum pergi ke perusahaan. Mama akan terbang ke Paris besok menghadiri undangan. Mungkin beberapa hari karena ada peragaan busana juga."
Jihan beralih pada ibu mertuanya, "Maaf tidak bisa menemani mama," kata Jihan. Karena memang jauh sebelum perjalanan mereka ke Jeju, ibunya sudah membicarakan acara ini.
"Jangan kawatirkan apapun, kebetulan Jordi sudah kembali. Dia akan dirumah sampai kamu sembuh."
"Seharusnya tak perlu, saya baik-baik saja sekarang. Ada Feri juga dan pelayan."
Ibunya menggeleng, "Feri akan kembali keperusahaan, pelayan tidak selamanya bisa dipercaya." jawab ibunya.
Jihan ingin menolak, sungguh dia merasa tak nyaman. Namun mertuanya cukup tegas dan wajah ramah dan ceria Jordi membuatnya tak berkutik.