Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
12



Seperti yang dikatakan Chris. Jihan berjalan-jalan sendirian di pulau Jeju. Mengunjungi tempat-tempat menarik bersama Feri yang selalu setia di belakangnya. Jihan yang tidak mengerti bahasa inggris terbantu oleh Feri yang menguasainya. Bahkan ternyata asistennya itu menguasai bahasa korea.


Jihan kembali ke hotel di sore harinya. Memasuki kamarnya dan Chris. Sejak pembicaraan mereka di kafe kemarin, Jihan tidak bertemu lagi dengan suaminya. Dia juga tidak tidur dikamar mereka. Jadi, saat pintu kamar mandi terbuka dia cukup terkejut. Pasalnya Jihan sedang membuka baju dan hanya memakai pakaian dalam. Dengan cepat menyambar handuk dan memakainya.


Hening beberapa detik sampai Chris yang mengambil tindakan duluan. Berjalan kearah lemari melewatinya untuk berpakaian. Jihan meraih baju kotor miliknya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Chris menutup pintu lemari dan menoleh. Menatap pintu kamar mandi yang ditutup dengan cukup keras. Ini pertama kalinya mereka sekamar dan membuatnya cukup canggung.


Jihan keluar dari kamar mandi dan mematung saat melihat suaminya masih di dalam kamar. Duduk bersandar di atas kasur dengan laptop diatas pangkuannya. Baju kaus hitam dengan celana kain hitam. Penampilannya sungguh biasa namun terlihat sangat menawan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang proporsional.


Menguasai diri dengan cepat, Jihan mengambil bajunya dengan cepat dan kembali masuk kedalam kamar mandi. Melihat hal itu Chris menarik sudut bibirnya. Sungguh aneh padahal mereka sudah suami istri.


Jihan keluar sudah dengan pakaian lengkap. Mengambil tas dan ponselnya. Berjalan ke arah pintu keluar.


"Kemana?"


"Menyewa kamar lain. Bukankah kamu akan tidur disini?"


Jihan sudah menarik gagang pintu sebelum suara Chris kembali menghentikannya.


"Tetap disini jika tidak ingin ibuku datang dan menyuruh kita secara live membuat anak. Kamu pikir kenapa aku kembali setelah mendapatkan tempatku sendiri?"


Jihan memasang wajah kesal. Berbalik dan menghempaskan dirinya ke sofa panjang disana. Kamar mereka memang memiliki ruang tamu namun menyatu dengan kamar. Hanya dibatasi meja panjang penuh hiasan meja dan TV.


Jihan lelah, maka dia membaringkan dirinya disana. Memainkan ponsel untuk menghilangkan kecanggungan yang ada. Kadang tertawa sendiri saat ia berkirim pesan dengan sepupunya. Hingga tawanya berubah menjadi kernyitan tipis saat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia kenali milik siapa. Tampa ia sadari, sedari tadi suaminya menatapnya dengan wajah terganggu dan kesal secara bersamaan.


'Bagaimana bulan madumu? Pasti sagat membosankan sendirian, kan?'


Itu adalah pesan dari Jouji. Jihan menghembuskan nafas, bangkit dan bersandar di sofa. Fokus membalas chat.


'Bukan urusanmu! jangan ganggu aku!'


Sementara itu, Jouji yang sedang berbaring diruang tunggu tertawa pelan. Menatap ponselnya dengan penuh semangat.


'Tebak aku ada dimana?' balasnya.


'Aku tidak peduli!' balas Jihan. Menghasilkan senyum lebar baginya.


Jihan meletakkan ponselnya, tidak mau meladeni Jouji lagi. Ia pergi ke dapur untuk membuat kopi. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Berdecak malas saat melihat si penelpon. Melirik sekilas suaminya yang buru-buru bersikap acuh. Tapi kembali fokus saat Jihan mengangkat telepon.


"Kenapa?"


'Aku ada dihotel yang sama denganmu' kata Jouji.


Jihan mengernyit. Sempat berfikiran buruk sebelum Jouji melanjutkan.


'Aku syuting film disini.'


"Aku tidak peduli, aku akan tutup teleponmu!"


'Kenapa buru-buru? aku dengar suamimu memesan kamar terpisah. Apa kamu senang?'


Sayangnya Jihan tidak bisa mendengar dan menjawab pertanyaan Jouji itu karena Chris sudah merebut ponselnya. Dialah yang mendengarkan. Berdiri didepan Jihan, menatapnya dengan wajah tidak senang.


"Sayangnya aku sedang bersama istriku dalam ruangan yang sama dan kasur yang sama. Jika kamu ingin menonton, aku akan mengundangmu dengan hormat." balas Chris.


Nadanya tenang, namun ekspresinya sungguh mengerikan. Jihan bahkan tidak berani bergerak dari tempatnya.


Jouji terdiam beberapa saat.


'Benarkah? aku akan datang nanti. Melihatmu begitu peduli aku jadi berfikir bahwa kamu akhirnya menyukai istrimu.'


"Jangan berfikiran terlalu polos, aku tidak pernah menyukai siapapun. Bahkan jika dia melepaskan seluruh pakaiannya. Aku tidak akan berminat. Aku hanya mengingatkanmu untuk jangan mengganggu apa yang sudah berjalan dengan baik."


Jihan meremas pakaiannya mendengar penuturan Chris yang sangat tidak menghargainya. Apa dia hanya hiasan untuk memperindah citranya?


Sementara itu senyum diwajah Jouji hilang. Seketika rahangnya mengeras.


'Bajingan sepertimu tidak pantas untuknya.'


"Lalu kamu ingin merebutnya? Jangan bercanda, aku tidak akan peduli akan hubungan kalian. Tapi jika kamu mencoba menciptakan badai untuk rumahku. Bersiaplah untuk kehilangan segalanya."


Chris memutuskan sambungan begitu saja. Melempar ponsel keatas meja. Masih menatap Jihan yang wajahnya datar. Chris menarik senyum sinis saat melihat sorot mata istrinya yang terlihat sedih.


"Berharap dia menjadi pahlawanmu? selamanya kamu akan ada dalam genggamanku. Melenyapkan dia tidak sulit untukku."


Jihan mengangkat wajahnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Namun tidak ada lagi sorot sedih, melainkan kemarahan.


"Lakukan apapun yang kamu sukai, bonekamu ini hanya akan menurut. Jangan sungkan, tuan!"


Setetes air matanya jatuh. Jihan beranjak dengan cepat. Keluar dari kamar. Berjalan entah kemana yang pasti tidak ingin melihat suaminya. Rasanya oksigen menipis saat berada diruangan yang sama untuk saat ini. Sesak luar biasa. Dia tidak bisa menahannya lagi.


Sementara itu Chris masih berdiri ditempatnya. Tertegun akan respon Jihan yang lagi-lagi diluar dugaannya. Apa lagi saat melihat air mata itu, entah mengapa membuatnya merasa terganggu.


Jihan tidak kembali sampai tengah malam. Bahkan melewatkan makan malam. Feri mengawasi dibelakang. Tidak mengerti apa yang terjadi saat Jihan keluar dengan air mata dipipinya.


Jouji yang baru selesai syuting tepat pukul 12 malam waktu setempat mengernyit saat matanya menangkap Jihan yang duduk sendirian jauh di sebuah taman. Tidak sulit mengenalinya karena Jihan memakai pakaian syar'i. Hal langka ditempat itu. Berfikir sesaat apakah akan menghampirinya atau tidak. Keberadaan pengawal disekitarnya yang membuat ia ragu.


"Butuh aku pesankan satu kamar dihotel lain untukmu?"


Jihan menoleh dengan cepat. Terkejut Jouji sudah berdiri di belakangnya. Ya, Jouji memutuskan menghampiri untuk menolongnya. Karena udara semakin dingin dan Jihan bahkan tidak memakai pakaian hangat. Bibir dan wajahnya bahkan sudah pucat karena kedinginan.


"Kamu tidak lihat pengawalmu? mereka akan pingsan sebentar lagi."


Jouji tersenyum, tahu bahwa Jihan adalah wanita yang baik. Dia tidak akan mau membuat orang lain menderita karena dirinya.


"Kalian bisa kembali ke kamar kalian," suruh Jihan pelan.


"Tugas kami adalah melindungi anda Nyonya."


jawab Feri.


Jihan menghembuskan nafasnya pelan. Memesan kamar baru hanya akan menciptakan masalah baru. Maka ia bangkit berdiri. Sedikit sempoyongan karena perut yang lapar dan kedinginan parah.


"Mau aku bantu?" tanya Jouji.


"Aku bisa sendiri, jangan menyentuhku." jawab Jihan pelan. Suaranya nyaris habis karena lemas.


Jouji membuat jarak terdekat dengannya. Merasakan kasihan dan marah sekaligus. Awalnya, ia memang ingin mengganggu rumah tangga mereka dengan cara memanipulasi Jihan. Namun sekarang, perasaannya berubah. Dia seperti sangat tidak rela Jihan menderita. Bahwa dia ingin selalu melihatnya, meskipum Jihan selalu ketus dan galak padanya.


'Meskipun dulu aku berbuat bodoh karena cinta, saat ini aku rasa aku melakukan hal yang benar. Aku harus menyelamatkanmu dari iblis itu. Kamu orang yang baik Jihan ... benar-benar berbeda.'


Jouji tersenyum miris untuk dirinya sendiri. Menyadari entah sejak kapan dia mulai tulus pada wanita dihadapannya. Jelas-jelas Jihan tidak akan meliriknya, tapi tetap saja dia memutuskan untuk menceburkan diri sekali lagi.


Tepat dikoridor lantai dimana kamar Jihan dan Chris berada, Jihan jatuh tersungkur.


"Jangan menyentuhku, aku bisa sendiri." katanya. Berusaha bangun dan berdiri.


Sayangnya, baru selangkah dia sudah limbung dan Jouji menyambutnya dengan baik. Matanya membola saat kulitnya bersentuhan dengan punggung tangan Jihan.


"Jihan pingsan, tubuhnya sangat panas! siapkan mobilmu!"


"Tunggu!" Feri menghentikan langkah Jouji yang sudah menggendong Jihan menuju lift kembali. "Anda tidak bisa membawanya, tolong bawa kedalam kamar saja tuan. Ini demi kebaikan anda juga. Kami akan panggilkan dokter untuk nyonya."


Feri benar, meskipun dia tidak peduli dengan reputasi dan karirnya, tapi dia tidak ingin Jihan mengalami hal buruk lagi. Maka dengan cepat dia mengikuti Feri yang menunjukkan kamar Jihan.


Setelah bel dibunyikan beberapa kali, Chris muncul dengan sorot dingin. Menatap Jihan dan Jouji bergantian. Ada kemarahan besar dalam dirinya. Ingin memotong tangan pria dihadapannya yang menggendong istrinya. Dia sadar Jihan pingsan, tapi kemarahan yang tiba-tiba datang menyingkirkan rasionalitasnya.


"Menyingkir jika tidak mau Jihan kubawa pergi!" Jouji tidak kalah dingin. Ia melangkah kasar, tidak peduli dengan Chris yang masih berdiri disana meski sudah memberikan sedikit ruang untuk lewat.


Jouji meletakkan Jihan di atas kasur. Menarik selimut untuknya dan menarik nafas kasar sebelum menatap Chris yang berdiri menyender di pintu masuk kamar dengan tangan terlipat. Ingin sekali melayangkan tinju namun ia masih harus menjaga wajahnya. Dia masih harus bekerja besok.


"Pergilah jika urusamu sudah selesai."


Mendengar nada acuh tak acuh Chris, dengan lancang Jouji duduk di sofa kamar dengan kaki menyilang. Feri sedang memanggil dokter, jadi hanya ada mereka didalam.


"Kamu tahu aku bisa melenyapkanmu dengan mudah tapi masih berani menantangku. Sungguh cinta yang mengharukan." sinisnya.


"Tenang saja, aku tidak begitu peduli dengan hidupku. Aku pikir kamu tahu itu." balas Jouji.


Keduanya menatap satu lama lain dengan pandangan membunuh. Chris berjalan cepat menuju Jouji. Melayangkan tendangan keras pada dadanya. Menginjak dada itu dengan keras saat Jouji terjengkang kebelakang. Jouji menahan kaki Chris yang kini berpindah diatas lehernya. Menatap mata Chris yang sudah berubah seperti iblis kejam mengerikan.


"Sudah aku katakan padamu untuk jangan mengusikku. Beraninya kamu masuk kedalam kamarku!" desisnya tajam.


Bel pintu berbunyi, namun Chris mengabaikannya. jouji sudah terlalu sesak bahkan nyaris tidak bisa mengeluarkan suara. Namun sorot matanya jelas menunjukkan perlawanan. Membuat Chris semakin marah.


"Beraninya kamu!" desis Chris lagi. Wajahnya semakin gelap.


"Ugh! Ssst!" Erangan Jihan membuat Chris melirik sedikit namun tidak melepaskan Jouji.


Jihan bangun, memegang kepalanya yang terasa berat. Bel terus berbunyi. Jihan berusaha membuka mata, mencoba menemukan kesadarannya.


Begitu matanya menangkap Chris yang nyaris membunuh Jouji, dengan segala tenaga yang tersisa ia turun. Dengan kepala yang berdenyut-denyut menarik tangan Chris sekuat tenaga. Namun itu tidak membuat Chris melepaskan Jouji.


"Tidak! tolong berhenti. Dia bisa mati!" jerit Jihan.


Sayangnya Chris menulikan telinganya. Dia tersenyum sinis saat Melihat Jouji yang kepayahan. Disini tentu saja dia tidak akan membunuhnya. Chris hanya menyiksanya.


Dengan langkah tertatih, Jihan berlari kepintu dan membukanya. Menyuruh semua orang menghentikan Chris.


"Tuan! tolong tenanglah. Anda bisa membunuhnya." kata Feri.


"Itu memang tujuanku!"


Melihat tidak adanya keberanian dari orang-orang itu, Jihan dengan nekat melemparkan dirinya sehingga menabrak tubuh tegap itu. Chris sedikit limbung tapi Jihan jatuh menabrak senderan sofa dengan keras.


Chris membolakan matanya. Jelas terkejut akan tindakan Jihan. Dengan cepat membalikkan tubuh Jihan yang tertelungkup dan hatinya mencelos saat melihat banyak darah dikepalanya. Membasahi jilbabnya dan sebagian mengalir dikeningnya.


"Siapkan mobil dan kosongkan jalan untukku!" perintah Chris.


Jouji bangkit dengan susah payah. Dia ingin menyusul tapi managernya menahannya.


"Jangan mengacau lagi. Tolong pikirkan dirimu sendiri."


Jouji terkekeh pelan "kapan kamu datang?" tanyanya.


"Ayo kembali kekamarmu. Kamu juga harus diperiksa dokter!"


Jouji kali ini menurut. Dadanya sakit dan lehernya sangat merah. Dia bahkan masih kesulitan bernafas. Chris memang iblis gila yang tidak peduli pada siapapun. Namun Jouji bisa melihat, ekspresi wajah Chris yang berbeda untuk pertama kalinya saat melihat Jihan terluka berat karena dirinya.


'Iblis akan tetap jadi iblis meskipun malaikat hidup bersamanya.' katanya dalam hati.