
Jihan tidak masuk kerja pagi ini. Dia mendapatkan kabar kalau ibunya sakit. Chris yang mendapat laporan itu menatap menu sarapan paginya dengan pandangan kosong. Kepalanya sakit dan dia benar-benar tidak ingin melakukan apapun.
Sayangnya dia punya tanggung jawab yang besar pada perusahaannya. Ada pekerjaan menumpuk di ruangannya. Selalu menumpuk dan juga diisi oleh jadwal yang penuh.
"Tuan, apa sebaiknya anda tidak pulang kerumah? Anda akan lebih nyaman disana. Adora juga sudah keluar seperti yang anda rencanakan." kata Arjun, membantu Chris mengambil pakaian yang akan dipakainya.
"Tidak, aku lebih suka disini." Chris hanya tidak suka ketika rumah itu memberikan banyak tekanan karena kenangan yang menumpuk disana.
"Apakah anda ingin membeli rumah baru? Saya dengar perusahaan NT group baru saja meresmikan tiga rumah mewah dikawasan elit pusat kota. Tiga puluh menit dari sini. Rumahnya yang jauh lebih besar dan lebih luas dari rumah keluarga anda sekarang." kata Arjun menawarkan.
"Kamu sedang membantu mempromosikan usaha orang lain?"
Arjun tertawa pelan. "Mana mungkin, saya hanya kasihan anda tinggal diruangan sempit ini."
Sebenarnya kata sempit tidak pantas disematkan pada kamar super mewah itu. Itu hanya sekedar alasan bodoh yang Arjun lakukan agar Chris menyetujui usulannya. Kabar bahwa dia tinggal di hotel membuat spekulasi semakin melebar. Arjun cukup kerepotan menanganinya dari hari ke hari.
Sayangnya Chris tidak menanggapinya. Setelah rapi dia hanya keluar tampa mengatakan apapun. Tatapannya kosong dan seakan tidak punya semangat untuk hidup. Namun ketika mereka melewati beberapa orang, sikap Chris berubah seperti biasa. Hal itu Chris lakukan untuk menjaga wibawanya semata.
Chris berhenti di meja kerja Jihan. Tidak ada makanan ringan seperti biasa yang dikirimkan Marcell. Sehingga dia membuat kesimpulan bahwa Marcell tahu bahwa hari ini Jihan tidak masuk kerja. Hal itu membuat suasana hatinya menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Biasanya Chris akan menanyakan detail apa yang terjadi dengan Jihan atau orang-orang disekitarnya. Tapi kali ini Chris tidak melakukannya. Dia merasa takut jika mengetahui fakta yang tidak ingin ia dengar.
"Apa jadwalku pagi ini?" tanyanya.
"Pertemuan dengan direktur utama HS. Mereka sedikit melenceng dari rencana awal. Sehingga Marcell mendapatkan ruang untuk proyeknya dan berhasil mengambil alih lahan di area belakang pabrik yang anda rencanakan untuk membangun pembuangan dan penanganan limbah."
"Sebenarnya apa yang diinginkan bajingan itu. Tidak ada gunanya dia mengambilnya." kesal Chris sambil masuk keruangannya.
Melihat tumpukan berkas di atas meja membuat kepalanya langsung sakit. Dia duduk dengan gerakan malas di kursi kebesarannya. Dia merasa bebannya lebih berat berkali-kali lipat setelah hubungannya dengan Jihan kian memburuk. Bahkan saat ini kepalanya tidak bisa fokus, dia merindukannya.
"Sial sial sial!" makinya pada diri sendiri. Memijit keningnya dan menunduk menatap ponselnya dengan ragu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Arjun, namun Chris tidak menjawab. Dia terlihat sedang mengatur emosinya sendiri.
"Bagaimana proses iklan dan promosi produk baru yang diluncurkan kemarin?" tanya Chris, dia sudah kembali fokus.
"Belum ada laporan terkait kendala, iklan masih dikerjakan dan syuting sudah dilakukan. Saya pikir mereka masih dalam proses editing, Tuan."
"Perintahkan Jordi membuat sedikit cerita kecil untuk membuat citra baik dimata publik. Tanaka ingin nama anaknya benar-benar pulih."
"Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan." jawab Arjun. "Mengenai Jouji... pagi ini saya mendapat laporan jika dia ingin menemui anda."
Chris berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. "Izinkan saja, katakan untuk menemuiku ketika makan siang. Siapkan tempatnya."
"Baik, Tuan. Mengenai Jihan... Saya baru saja mendapatkan kabar bahwa ibunya dilarikan kerumah sakit."
"Aku mengerti." sahut Chris datar.
Setelah Arjun pergi, barulah dia melirik ponselnya. Dia tidak ingin mengetahui tentang Jihan lagi, Chris ingin menata dirinya sejenak sebelum memikirkan keputusan. Tentu saja dia tidak ingin melepas Jihan begitu saja, namun jika dia tidak berhasil, dia tidak punya pilihan kecuali melepasnya. Chris sadar, sudah cukup banyak hal-hal jahat yang ia lakukan pada Jihan. Dia merasa pantas mendapatkan kebencian darinya.
Pikiran Chris menjadi terbuka sejak dia menyaksikan Jihan yang tidak ragu berlari pada Marcell di depannya. Lebih dari kemarahan, Chris merasa dia sudah salah melangkah dan selama ini hanya melakukan hal-hal bodoh. Dia yang tidak pernah jatuh cinta, tidak mengerti bagaimana memahami perasaan orang lain, seakan tertampar kenyataan. Bahwa sebuah hubungan antar manusia tidak bisa hanya berdasarkan keinginan satu pihak saja. Harus ada timbal balik dari kedua pihak, karena jika salah satu memaksakan diri sepertinya, pihak lain akan terluka.
.
Jihan duduk di samping ayahnya yang terlihat lusuh dan lemah. Sejak mereka kehilangan rumah dan beberapa aset lain karena hutang, ayahnya seperti mayat hidup. Jihan tahu bagaimana ayahnya sangat menggilai uang. Dia selalu kesulitan akan cara pandang ayahnya. Meski berulang kali Jihan bicara bahwa harta bukan sebuah sumber kehormatan, ayahnya tidak pernah mendengarkan. Setelah kehilangan semua harta, ayahnya bahkan tidak keluar rumah. Mengurung diri di rumah adiknya dan setiap hari melamun. Hal itulah yang menjadikan ibunya ikut bersedih. Sehingga kesehatan mereka terganggu.
Jihan juga tidak bisa banyak membantu, dia hanya bisa mengirim sebagian gajinya. Memberikan penghiburan kecil yang sebenarnya tidak bearti, karena ayahnya tidak mendengarkan. Ibunya hanya menyesali diri karena menyebabkan anak satu-satunya juga kesulitan.
"Kak, jangan berpikir terlalu banyak. Fokus untuk kebahagiaan kakak juga." ujar sepupunya.
"Terima kasih," ucap Jihan. "Gosip tentangku pasti juga membuat mereka semakin malu untuk menghadapi orang-orang. Padahal aku hanya bekerja disana. Aku tidak berniat merayu siapapun apalagi Chris. Aku bahkan sangat membencinya saat ini." lanjut Jihan, dia sudah sering mendapat cerita bahwa tetangga pamannya suka menggosipkan mereka.
"Jangan pikirkan manusia-manusia sampah seperti itu! Mereka bahkan tidak berkaca. Tidak tahu apapun tapi merasa paling tahu dan menyimpulkan sesuka hati. Setiap kali mereka bergosip, rasanya aku ingin melempar mereka!" Jihan hanya tersenyum. Dia tentu saja tidak terpengaruh, ada banyak orang yang sama di perusahaan. Masalahnya orang tuanyalah yang terpengaruh.
Dia menunduk menatap ponselnya ketika sebuah pesan masuk. Itu dari Marcell, pria yang akhir-akhir ini selalu membuatnya kerepotan untuk menghindarinya. Jihan sempat berpikir untuk mengikuti syarat Marcell agar ia kembali mendapatkan rumahnya. Jika rumah mereka kembali, setidaknya orang tuanya akan sedikit terhibur. Tapi, ada satu hal yang selalu membuat hatinya berat melakukannya.
.
Marcell baru saja masuk ke dalam ruangan kantornya setelah bertemu pimpinan organisasi dunia bawah. Duduk di sofa dan menaikkan kakinya ke meja. Jam sudah menunjukkan waktuny makan siang. Dia juga tidak terlalu lapar, tapi dia punya keinginan untuk makan setelah mengirim pesan pada Jihan.
"Buat reservasi tempat di restoran biasa. Aku ingin membawa Jihan kesana." katanya pada sekretarisnya.
"Anda terlihat tulus akhir-akhir ini, Ketua. Apa anda tertarik secara pribadi pada Jihan itu?"
"Tertarik?" Marcell tersenyum, "Entahlah, aku hanya berniat main-main seperti biasa. Dia wanita berbeda, aku harus sabar dan berusaha, itu membuatku merasa bersemangat. Kamu tahu kan? Wanita murahan sudah tidak menarik. Dibalik pakaian besar dan jilbab itu... aku masih bisa melihat kecantikan dan keindahan. Bahkan tampa riasan, dia luar biasa cantik."
Sekretarisnya, menunjukkan wajah tidak yakin akan rencana atasannya. Meski begitu dia diam saja. Memancing kemarahan Marcell bukan hal bagus untuknya. Masalahnya adalah, Jihan teman Meri. Dan dia menyukai Meri sejak awal. Itu membuatnya berada dalam situasi yang sulit.
"Dimana morgan?" tanya Marcell.
Morgan adalah bawahan sekaligus teman yang bermasalah dengan Alex.
"Dia ada di bar."
"Ck, katakan padanya untuk menemui petugas beacukai. Teman kita itu sudah lama tidak dijunjungi. Dia sedikit liar akhir-akhir ini." Mata Marcell menatap layar ponselnya dengan sumringah ketika mengucapkannya.
"Kamu bebas siang ini, aku akan pergi sendiri." ujar Marcell sambil bangkit. Meninggalkan sekretarisnya begitu saja.
"Apakah aku mengganggu?" tanyanya dengan sungkan.
"Tidak sama sekali, aku sudah mengatakan pada mereka akan bertemu anda."
"Oh, aku mengerti. Selama siang pak... Saya Marcell, teman baru Jihan," kata Marcell.
Ayah Jihan menatap mobil mewah Marcell sejak tadi, lalu menyambut dengan senyum lebar ketika Marcell memperkenalkan diri. Hal itu tentu saja membuat Jihan tidak nyaman. Dia sangat tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya.
Setelah perkenalan singkat itu bersama ayah dan sepupu Jihan, Marcell mengajak mereka menuju restoran yang sudah dipesan. Sekali lagi ayah Jihan tampak sumringah. Dia bahkan sangat bersemangat menanyakan identitas Marcell. Membuat Jihan merasa sedikit malu.
Setelah makan siang, Marcell mengantarkan mereka kembali ke rumah sakit. Namun Jihan meminya ayah dan sepupunya masuk duluan.
"Mau minum kopi sebentar?" tanya Marcell.
"Tidak, maaf tapi... saya hanya ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan karena ayah saya. Anda mungkin tidak nyaman karena dia terus menanyakan tentang privasi anda." kata Jihan.
"Itu bukan masalah, aku senang akrab dengan keluargamu. Tapi Jihan, sampai kapan kamu akan bersikap formal padaku? Kamu bisa lebih santai."
"Ah itu... Saya hanya belum nyaman melakukannya. Selain itu, mengenai penawaran anda, saya pikir saya tidak bisa melakukannya sekarang."
Marcell menatapnya dengan kecewa. Di dalam hati dia sangat marah, namun dia menampilkan senyum ramah seperti biasa.
"Jangan terburu-buru. Aku tidak memaksamu. Kalau kamu kira waktunya sudah tepat untuk pergi dari sana, ingatlah aku akan menyambut dengan tangan terbuka."
"Ya, terima kasih. Kalau begitu sampai jumpa." kata Jihan dengan canggung. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman jika berlama-lama dengan pria dihadapannya ini.
Setelah Jihan masuk, Marcell merubah raut wajahnya menjadi sangat datar. Lalu pergi dari sana. Tampa sadar, sejak tadi ada mobil yang baru saja terparkir di pinggir jalan. Melihat interaksi singkat itu.
"Apakah anda ingin masuk, Tuan? Sepertinya ibunya dirawat disini." tanya Arjun. Benar, orang yang memperhatikan mereka adalah Chris.
Mereka baru saja selesai makan siang bersama Jouji dan tidak sengaja lewat disana.
"Tidak."
Satu kata itu membuat Arjun langsung mengerti, bahwa Chris sedang tidak baik-baik saja. Mengganti topik pembicaraan adalah pilihan yang baik saat ini.
"Mengenai permintaan Jouji, apa anda tidak memikirkannya lagi, Tuan?" Jouji memang menemui Chris untuk memintanya satu hal. Yaitu menemui dan berbicara pada anaknya.
"Tidak ada gunanya, aku tidak ingin melihat anak itu lagi." jawab Chris.
"Dia hanya anak kecil, Tuan. Dia pasti terguncang ketika tahu bahwa anda bukan ayahnya."
Chris memikirkan perkataan itu, walau begitu dia tidak ingin terlibat lagi dengan hal yang tidak ada kaitannya dengannya. Dia merasa tertipu dan hanya ada kemarahan ketika dia melihat Catrin saat itu. Baginya tidak ada bedanya sekarang, dia membenci anak itu sebesar dia membenci ibunya, Nana.
.
Jihan baru saja selesai mengunjungi anaknya sore ini usai dari rumah sakit. Ibunya bisa dibawa pulang besok dan itu membutnya sedikit lega. Masalah utamanya sekarang hanyalah ayahnya yang terus menanyainya tentang hubungannya dengan Marcell. Sangat menyebalkan baginya ketika dia tidak bisa berkata tegas. Jihan takut membuatnya murung lagi. Jadi dia hanya mengangguk atau menjawab seadanya.
Ketika kembali ke rumah, baru saja dia sampai di depan pintu. Dia dikejutkan oleh seorang kurir pengantar paket. Jihan tidak tahu siapa yang mengirimnya karena tidak ada nama dan alamat pengirim.
Jihan masuk dan duduk di ruang tamu. Membuka paket berbentuk kotak seukuran buku tulis. Dia membukanya dengan hati-hati. Kotak itu terlihat mencurigakan. Seolah kotak kosong saking ringannya.
Jihan mengernyit bingung ketika dia tidak melihat apapun kecuali hanya bulu-bulu buatan bewarna putih. Dia memasukkan tangannya ke dalam dan meraba-raba dasar kotak. Tangannya menemukan sebuah sapu tangan bewarna biru dan sebuah foto usang. Itu fotonya ketika SMP. Jihan masih sangat muda saat itu dan dia belum memakai jilbab.
...Aku mengikuti saranmu, Ji'an....
Itu adalah kalimat yang tertulis dibelakang foto. Ji'an adalah nama panggilan akrab teman-temannya ketika SMP.
Pintu terbuka, Meri masuk dengan membawa dua kantong belanjaan. Dia duduk di depan Jihan dan meletakkan belanjaannya di dekat kakinya.
"Aku tadi melihat ibumu. Ayahmu juga ada disana, dan tebak cerita apa yang aku dengar. Mereka sampai mengintrogasiku." kata Meri, lalu matanya menangkap benda di tangan Jihan. "Apa itu?" tanyanya.
"Ini paket yang baru saja datang. Aneh sekali, fotoku ketika SMP dan sebuah sapu tangan usang, untuk apa ini dikirimkan padaku?."
Meri mengambil foto itu dan membolak-baliknya. Membaca tulisan dibelakang foto dengan bingung.
"Ji'an?"
"Itu panggilan teman-teman saat aku SMP."
"Kamu terlihat sangat-sangat imut disini." Meri tersenyum sumringah. "Tidak jauh berbeda saat kamu kelas satu SMA, sepertinya ini diambil mendekati kelulusan?" tebaknya.
"Aku tidak ingat, itu seperti diambil diam-diam ketika aku di ruangan OSIS."
"Tapi... Siapa yang melakukan hal aneh ini? Mengirimimu foto dan sapu tangan usang. Jihan, apa kamu punya musuh di sekolah saat itu? Walau aku ragu karena kamu anak teladan." tanya Meri.
"Ah! Entahlah. Aku tidak mau memikirkan hal seperti ini. Aku akan menyimpannya. Mungkin hanya teman iseng yang ingin melakukan prank."
Jihan memasukkan lagi du benda itu di dalam kotak dan membawanya masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Meri yang menatapnya dengan kawatir.
"Aku tidak yakin itu hanya prank," gumamnya. "Kenapa anak itu punya banyak masalah dalam hidupnya? Ini tidak berbahaya, Kan?" lanjutnya, lalu mengambil kantong belanjaannya dan membawanya ke dapur. Masih menimbang-nimbang apakah dia perlu meminta bantuan temannya untuk menyelidiki si pengirim. Atau minta bantuan Chris, walau dimenakutkan dimata Meri, tapi dia yakin Chris tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Jihan.
'Mungkin aku lihat saja dulu, mungkin hanya iseng seperti kata Jihan.' pikirnya kemudian.