Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
76



Ditengah kasus yang mengharuskan Jihan menjadi saksi sekaligus korban, pemberitaan tentang pernikahannya disambut positif oleh semua orang. Rumor tentang dia dengan Marcell tenggelam begitu saja.


Kini, Chris dihadapkan dengan masalah keluarganya sendiri. Dendam yang dilakukan Bayu dan sampai mana ia kecolongan olehnya.


Jihan tetap menjadi asisten pribadi bagi suaminya. Hal itu atas permintaan Chris sendiri. Dia bahkan harus membuat perjanjian tertulis dengan Azam ketika anak itu tidak menyetujui ide itu.


"Berhenti tertawa...." pinta Chris.


Jihan tidak berhenti tertawa setelah mereka keluar dari pintu. Jihan sedang menertawakan ekspresi Chris ketika dipaksa oleh anaknya untuk membuat perjanjian tertulis pagi ini. Setelah libur dua hari, mengunjungi ibu Chris bertiga, jalan-jalan keberbagai tempat, Chris harus kembali ke perusahaan karena pekerjaan yang menumpuk. Orang tua Jihan juga telah pindah ke rumah lama mereka. Dengan sebuah perjanjian dengan Marcell, Chris akhirnya mendapatkan rumah itu.


"Maafkan aku, tapi kamu sangat lucu tadi. Bagaimana bisa kamu kalah dari anakku."


Jihan kembali tertawa, Chris tersenyum, lalu meraih Jihan ke dalam pelukannya. Arjun tidak lagi menjadi supir Chris karena jarak rumah mereka yang terlalu jauh. Pekerjaan itu kini diserahkan pada adik iparnya, Loli. Gadis itu sengaja pindah ke wilayah yang dekat dari rumah Chris. Ketika Jihan memintanya tinggal bersama, dia menolaknya dengan keras.


"Dia juga anakku sekarang," kata Chris lembut, "Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengatakan tidak padanya. Apa dia punya kekuatan khusus?" candanya.


Mana mungkin, kalau Arjun melihatnya. Dia akan langsung menyadari kalau Chris hanya mencoba mengalah dan bertingkah selayaknya ayah yang baik. Tentunya Jihan yang naif tidak bisa melihat hal itu. Karena dia tidak suka berpikiran negatif sekalipun ada kecurigaan yang datang, dia hanya akan mengabaikannya sampai ada bukti.


.


Wajah cerah Chris membuat semua karyawan takjub. Setelah sekian lama mereka hanya melihat wajah tegas dan dingin itu, kini mereka bisa melihat senyum tampan itu. Bahkan para pegawai wanita sampai tersipu sendiri walaupun senyum itu hanya ditujukan untuk sang istri.


Kedua tangan itu bertaut, Chris benar-benar menunjukkan hubungan mereka secara gamblang.


"Mulai sekarang, jika ada yang membicarakanmu atau bersikap buruk padamu, lakukan apa yang kamu inginkan, jangan menahannya. Karena aku akan menghukum mereka lebih berat jika kamu hanya menahannya." kata Chris ketika mereka ada di dalam lift.


"Jangan begitu, lagipula siapa yang bisa menahan mulut seseorang."


'Aku! Aku orang yang bisa menghentikan mulut mereka dengan tanganku.'


Chris menatapnya sangat dalam. Membuat Jihan bingung dan bertanya-tanya apakah dia salah bicara.


"Tolong, katakan jika ada yang bersikap buruk padamu."


Karena Chris mengatakannya dengan sangat serius, Jihan akhirnya mengangguk. Jihan menduga Chris tahu tentang orang-orang yang menghina Jihan selama ini. Namun karena dia tidak ingin memperpanjang masalah, Jihan tidak ingin melanjutkan pembahasan itu.


"Wah... Wajahmu seperti sinar matahari pagi." sindir Alex ketika mereka tiba.


Pria dengan banyak tato itu duduk di atas meja yang biasa Jihan pakai bekerja. Arjun memberikan sapaan hormat dan tersenyum cerah pada keduanya.


"Masuklah," kata Chris.


Ketika mereka telah berkumpul, saling duduk berhadapan. Atmosfir berubah menjadi lebih serius. Alex juga lebih menjaga sikapnya. Hal yang membuatnya terlihat ragu untuk bicara hanya keberadaan Jihan.


"Kesampingkan yang lain."


Perintah yang tidak dimengerti oleh Jihan namun dipahami oleh Arjun dan Alex. Perintah yang bearti, hanya bahas kasus yang tidak menjadi rahasia.


"Sebaiknya kamu hubungi secara pribadi jendral K. Dia terlalu santai. Ebel membayar banyak penyidik untuk menutupi keterlibatan Marcell. Atau... Kamu memang menginginkan hal itu?"


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia bisa membahayakan bisnisku. Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Selama dia tidak merugikanku."


"Begitu? Tapi aku ingin membalas orang yang telah menghancurkan bisnisku."


Chris memahami kemarahan Alex, namun dia tidak bisa membiarkannya melakukan sesuka hati. Alex cukup sulit dikendalikan, namun dia cerdik dan sangat berguna.


"Bukankah bagus bisnis harammu berhenti, mulailah pekerjaan yang halal." celetuk Jihan, sepertinya dia masih menyimpan sedikit sakit hati karena masa lalu mereka.


Alex mendengus, dia tidak bisa melawannya karena Chris menatapnya dengan tajam. Seolah mengatakan bahwa dia akan memotong lidahnya kalau berani kurang ajar pada sang istri.


"Apa? Anda mau aku bekerja halal apa Nyonya?" Alex menekankan kata 'nyonya' dengan ekspresi pura-pura ramah.


Bukannya marah, Jihan malah tertawa kecil, merasa lucu dengan ekspresi palsu diwajah Alex. Dia bangkit berdiri. "Aku akan membutkan kopi untuk kalian. Berkas dimeja sangat menumpuk." ujarnya.


"Memangnya kenapa? Biasanya juga aku yang membuatkanmu kopi. Bersikaplah profesional Presdir. Sekarang tolong lepaskan." jawab Jihan, mengayunkan tangannya pelan.


"Dasar budak cinta, anda benar-benar menggelikan Tuan," ejek Arjun setelah Jihan keluar.


"Berhenti bercanda, apa kalian menemukan bukti baru tentang kasus kecelakaan itu?" Chris kembali ke mode dirinya yang lama.


"Belum, dia tidak mau bicara. Pak tua itu juga menghilang." desah Arjun.


"Apa? Apa maksudmu menghilang?"


"Masih kami selidiki, Tuan. Kami belum mebemukan keberadaanya. Masih hidup atau sudah mati." Arjun mengangkat bahunya.


"Chris, aku tidak yakin tentang ini. Tapi ada dugaan bahwa... ini ada hubungannya dengan seorang wanita yang baru saja datang kesana sehari sebelum peristiwa itu." Alex mengutak atik ponselnya untuk menemukan sebuah foto.


"Wanita?"


"Ini, aku menemukan foto ini dalam komputer di ruang kerja ibumu. Apakah ruangan itu dulu ruang kerja ayahmu?" Chris mengangguk sebagai jawaban.


Chris mengambil ponsel Alex dan memperhatikan foto itu. Sebuah foto yang terlihat seperti foto keluarga.


"Siapa anak kecil ini?"


"Itu bayi, bukan anak kecil. Aku tidak tahu. Tapi wanita itu adalah wanita yang baru pindah itu."


"Kami menduga bahwa wanita itu... Maafkan saya Tuan, sepertinya dia memiliki hubungan khusus dengan ayah Anda."


"Jadi maksudmu, ayahku punya wanita lain dan ibuku merencanakan peristiwa itu sebagai alibi untuk membunuhnya?"


"Kami belum yakin," jawab Alex.


"Cari keberadaan anak itu sekarang, kapan foto ini di ambil dan pastikan apakah wanita itu adalah salah satu korban meninggal atau tidak. Jika dia masih hidup, temukan dia. Anak ini, jika dia masih hidup, dia mungkin seumuran denganku. Dad terlihat lebih muda beberapa tahu ketika aku berumur enam tahun pada foto keluarga."


"Baik, Tuan."


"Soal dia, apa kita tetap akan mengurungnya? polisi sialan itu terus meminta waktu bertemu denganmu, dia sudah mengganggu kami dua hari ini."


"Ooh... Aku ingat dia. Sepertinya dia sangat bersemangat. Biarkan dia menemuiku nanti malam." Chris melirik pada pintu yang terbuka.


Dia langsung mengubah mimik wajahnya ketika Jihan masuk.


"Laporan itu, ayo mulai menyekesaikannya. Apakah kalian sudah selesai?" tanya Jihan.


"Tidak sekarang Jihan. Tuan ada pertemuan di ruang rapat lima belas menit lagi."


"Benarkah? Dengan siapa?"


"PT. MNS, perusahaan air minum."


"Kalau begitu aku akan mulai tampa kalian." katanya, lalu berlalu begitu saja untuk duduk di kursi kebesaran milik Chris.


"Dia benar-benar pantas jadi Nyonya." celetuk Arjun.


"Anda tidak keberatan kan Tuan, saya memanggilnya dengan nama?" izin Arjun.


Chris tidak menjawab, artinya dia keberatan namun tidak bisa menahan jika Jihan yang menginginkannya.


"Aku akan pergi sekarang." kata Alex ketika merasa sudah tidak ada yang ingin ia bahas.


"Perhatikan langkahmu, jangan lakukan apapun tampa perintah, INI PERINTAH." tekan Chris ketika Alex akan mulai protes. "Urusanmu dengannya bisa kita pikirkan nanti. Untuk saat ini lakukan apa yang aku suruh." lanjut Chris dengan tegas, mutlak dan penuh nada ancaman.


Alex mendengus, meski begitu dia memberikan tanda setuju dengan mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan jari tengan berdiri.