
Keras kepala sering kali terjadi pada orang yang terlalu percaya diri. Namun, hal itu bisa juga terjadi jika dia adalah orang yang sangat mengutamakan logika. Ketika dia merasa logikanya benar, maka dia tidak akan menerima pendapat yang tidak bisa diterima oleh logikanya.
Pada dasarnya, Chris dan Jihan memiliki kepribadian yang hampir sama. Namun Chris beberapa tingkat diatasnya karena dia dididik dengan keras dan tampa cinta. Sehingga logika dan fakta adalah dasarnya untuk menghadapi masalah. Sementara Jihan, tumbuh dengan kasih sayang ibu dan ayahnya, keputusannya juga dipengaruhi oleh hati dan cinta. Karena itu, dua kepribadian yang mirip namun dengan prinsip dan cara pandang yang amat berbeda, akankah cinta bisa membuat keduanya saling menurunkan ego masing-masing. Jihan, yang sedang berusaha istiqomah dengan hijrahnya, dan Chris yang selalu membuat ia melanggar beberapa syariat yang ia taati. Kedua orang ini saling mencintai, tapi prinsip dan dasar berpikir yang berbeda, membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit.
Ketika banyak masalah dihadapkan pada keduanya, kita bisa melihat, bagaiman Chris bertindak dan bagaimana Jihan menghadapinya dengan sifat naif dan keras. Cara Chris bersikap dan sifat manipulatifnya membuat Jihan terpengaruh sangat banyak. Meski begitu, Jihan tidak semudah itu akan menuruti keinginannya. Meski terbebani hutang budi dan rasa terima kasih yang besar, Setelah dua hari kasus berjalan, Jihan masih belum bisa memberi keputusan untuk terikat dengan Chris kembali. Juga, tidak mudah baginya menyetujui bagaimana cara Chris menjalani hidupnya. Ditambah banyaknya bekas luka dan amarah diantara keduanya. Membuat Jihan memiliki banyak pertimbangan.
"Jihan, Aku rasa, aku sudah bisa kembali bekerja."
Meri yang Jihan temani dua hari ini karena traumanya memang sudah terlihat membaik. Chris bahkan dengan baik hati membayar psikolog untuknya. Jihan juga tidak bisa kembali bekerja sebelum kasus ini selesai. Chris dengan keras melarangnya.
"Tapi kamu masih sakit, tidak boleh!" tolak Jihan. Dua hari ini Jihan memang menjadi lebih protektif.
"Aku sudah baik-baik saja, aku tidak ingin merepotkan Presdir lagi. Aku juga sudah beberapa hari libur. Semua ini, terlalu banyak untuk menjadi beban hutang budi. Aku...." Meri tidak melanjutkan, namun Jihan mengerti dengan baik karena dia juga mendapatkan hal yang sama. Bahkan dia jauh lebih banyak.
"Tidakkah kamu memikirkan kembali tawarannya? Dengan kepribadiannya, melakukan semua ini untukmu... Belum lagi, sejak berita kalian akan kembali bersama, semua penilaian buruk padamu mereda begitu saja." kata Meri.
"Aku tahu, lagi pula aku tidak peduli dengan penilaian orang lain. Tapi untuk kembali, itu perlu pemikiran panjang."
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar yang ditempati Meri diketuk tiga kali. Kepala pelayan masuk dan memberi salam dengan sopan.
"Nyonya Jihan, orang tua anda sudah sampai."
"Apa? Orang tuaku? Tapi kenapa..."
"Tuan mengabari saya satu jam yang lalu untuk menyiapkan kamar untuk mereka. Tuan bilang orang tua anda akan tinggal disini mulai sekarang sampai pengurusan rumah orang tua anda yang lama selesai."
Jihan berdiri dan bertukar pandang dengan Meri. "Ayo turun dulu." usul Meri.
Mereka turun dan langsung menyalami keduanya. Alex datang bersama mereka. Dia terlihat sibuk berbicara dengan dua orang pria yang datang bersama mereka. Lalu setelahnya, dia baru menghampiri Jihan yang baru saja mulai duduk dengan ayah dan ibunya.
"Chris akan tiba beberapa menit lagi." Katanya, lalu melirik Meri. "Seingatku ini pertemuan kedua kita dan kamu belum mengucapkan terima kasih." sindirnya.
"Ma-maaf. Terima kasih telah menolongku saat itu." ujar Meri tampa melihat kearahnya.
"Bagaimana denganmu? Tidak ingin berterima kasih denganku? Aku juga yang harus repot-repot mengurus rumahmu dan orang tuamu lagi, Lho!" sambung Alex pada Jihan.
Berbeda dengan Meri, Jihan meliriknya dengan sinis dan sarat akan permusuhan. "Kamu saja tidak minta maaf!" ketus Jihan.
"Kenapa aku harus minta maaf? Ya ampun! Aku tidak tahu apa yang dilihat Chris pada wanita keras kepala sepertimu!"
Jihan tidak ingin marah. Namun dia kesal melihat wajah Alex yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Dialah orang yang membuat Jihan kehilangan rumah dan tempat usahanya.
'Menolong apanya, dia melakukannya karena perintah orang itu!' gerutu Jihan dalam hati.
"Aku bisa lihat apa yang kamu pikirkan, kamu sedang mengomel di dalam kepala kecil itu, benar kan?" Alex berdecak sebal. Dia duduk di sofa yang agak jauh dari Jihan dan keluarganya. "Sangat luar biasa melihat orang seperti Chris melakukan segala hal untuk wanita sepertimu. Apa yang istimewa darimu?" tanya Alex, nada bicaranya membuat siapapun akan kesal. Dia penasaran, namun juga terdengar menghina.
"Jangan bicara omong kosong!"
Alex tertawa melihat reaksi Jihan. "Mulutmu menyangkal tapi hatimu sedang berdebar bukan?" godanya. Dia membuat orang lain tidak nyaman, sungguh sangat tidak tahu tempat ketika ada orang tua Jihan disana.
Ayah Jihan sepertinya masih takut pada Alex, sikap diam dan gekstur tubuhnya menunjukkan segalanya. Alex memang mantan gengster yang bekerja menjadi rentenir sebelum usahanya dihancurkan oleh Marcell.
Jihan melemparkan tatapan tajamnya. Seakan meminta Alex diam sekarang juga. Sayangnya selain Chris, Alex tidak mematuhi siapapun.
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Marcell itu? Setidaknya, bujuk dia untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Kamu tahu? Chris harus berurusan dengan mafia rusia gara-ga_"
Alex menyeringai, dia tahu Chris sudah datang ketika mendengar pintu utama terbuka dengan klik pelan. Karena itu dia semgaja mengatakan hal itu. Seperti dugaannya, Chris akan menghentikannya.
"Kamu terlalu menjaga segala sesuatu darinya. Biarkan dia tahu, dia harus tahu bahwa dunia ini tidak senaif pikirannya." ujar Alex sambil berdiri.
"Itu bukan urusanmu. Pergilah, bebaskan orang yang ditangkap Bayu."
"Anak itu tertangkap? Kamu bilang dia tikus yang pintar. Jadi dia hanya seekor hamster? Jadi Bayu pasti sudah tahu kamu mencurigainya bukan?"
Alex terkekeh ketika Chris hanya memberikan tatapan datarnya. Jelas Chris sudah bosan dengan sikap tidak patuhnya. Baru saja dia menyuruh Alex pergi agar tidak banyak bicara, dia malah dengan santai membicarakan tentang masalah itu dihadapan orang tua Jihan dan Meri yang harusnya tidak boleh mendengarnya.
Namun karena mereka pada dasarnya teman lama, Chris tidak mempermasalahkannya. Selama Alex setia padanya, dia tidak membutuhkan sikap sopan santun itu.
"Bisakah kita bicara secara pribadi?" pinta Jihan ketika Alex telah pergi.
"Tentu." jawab Chris dengan tenang.
Maka, disinilah mereka berada. Berdiri di tepi sungai buatan yang airnya sangat jernih. Jihan selalu takjub ketika melihatnya beberapa hari ini. Sejak pertama kali Chris mengantarnya kesini, Chris tidak pernah datang lagi. Dia tetap tidur di hotel seperti biasanya. Dia benar-benar sangat menunjukkan bahwa dia ingin Jihan merasa nyaman dan aman. Chris juga selalu bicara dengan lembut, tidak menghubungi Jihan kecuali karena suatu alasan penting. Hal itu benar-benar menimbulkan efek yang luar biasa bagi penilaian Jihan sendiri. Meski begitu, wanita ini masih belum bisa menerimanya.
"Kenapa membawa orang tuaku kesini? Kamu membawaku, sahabatku dan sekarang orangtuaku. Lalu kamu sendiri tidur di hotel...."
"Aku ingin kalian nyaman. Kamu selalu terlihat tidak nyaman jika ada aku. Jadi aku tetap tidur di hotel. Tempat itu juga lebih dekat dari kantor dan rumah sakit." sahut Chris.
"Bu-bukan begitu. Aku tidak merasa tidak nyaman. Hanya saja... pokoknya kami bisa tinggal dimana saja. Kamu tidak harus menginap di hotel. Maksudku... Ini rumahmu, kamilah yang harus pergi. Jadi... Maksudku... Hmm...."
Bahasanya sangat berantakan dan Jihan terlihat benar-benar frustasi, dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Chris dengan kalimat yang tidak menyakitinya.
"Kamu merasa berhutang budi?" tanya Chris lembut, Jihan bahkan sampai canggung dengan perubahan sikap Chris ini. Terasa sangat aneh baginya karena biasanya mereka lebih banyak berdebat.
"Ya, aku juga merasa bersalah merepotkanmu lebih banyak."
"Aku senang melakukannya. Sampai rumahmu dan rumah orang tuamu kembali pada kalian, tetaplah disini. Lagipula, semua itu kesalahan ibuku. Aku pantas memperbaiki semuanya."
Lagi-lagi Jihan terperangah, Chris terasa aneh baginya. Sangat lembut dan tidak seperti dirinya.
"Ayahku juga punya andil dalam masalah itu."
"Tidak, ibukulah yang memanfaatkan sikap dan kepribadian ayahmu. Jangan menyalahkannya. Ibukulah yang membayar seseorang untuk memanipulasi ayahmu. Aku juga bersalah bekerja sama dengan Alex saat itu. Aku melakukan hal bodoh untuk membuatmu kembali, tapi aku ternyata membuat kesalahan besar."
Chris sedang memasang dua wajah saat ini. Meski apa yang dikatakannya benar, namun rasa penyesalan sama sekali tidak ada dihatinya. Dia tidak pernah tahu perasaan seperti itu. Dia dididik untuk menjadi tiran kejam yang manipulatif. Apapun yang dia inginkan, harus berada di tangannya. Bahkan jika dia harus merendahkan diri. Meski pada Jihan sedikit berbeda, karena Chris sadar dia telah jatuh pada wanita dihadapannya ini.
"Mari mulai pelan-pelan, memperbaiki semuanya. Aku... Aku benar-benar berharap kamu kembali padaku, Jihan. Aku sungguh-sungguh minta maaf." kata Chris.
Ekspresinya benar-benar menunjukkan kesedihan dan penyesalan. Membuat Jihan tertegun cukup lama. Terkejut akan perkataan Chris, seperti tidak percaya kata maaf keluar dari mulutnya.
"Aku... Aku akan memikirkannya."
Chris menarik senyum lebar. "Terima kasih, ayo kembali. Aku ingin minta maaf secara langsung pada orang tuamu juga."
"Huh?"
"Kenapa? Tidak bisa ya?"
"Tidak! Tidak! Tentu saja bisa. Aku hanya terkejut. Kalau begitu ayo masuk." ajak Jihan, buru-buru berbalik dan kembali masuk ke dalam dengan langkah yang cepat.
Chris tersenyum dengan banyak makna yang terkandung di dalamnya. Meski masih banyak yang harus ia selesaikan, meski jalan untuk membawa Jihan ke dalam pelukannya masih sedikit panjang. Dia senang karena Jihan telah berada dalam genggamannya. Sesuatu yang selama ini diluar jalur keinginannya, perlahan sedikit-demi sedikit kembali pada posisinya. Chris hanya harus bersabar lebih lama lagi.