Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
32



Chris menatap berkas diatas meja kerjanya. Sebuah berkas yang berisi identitas seseorang. Bayu baru saja menyerahkannya. Arjun melirik atasannya itu dengan penasaran ketika Chris mulai membacanya.


"Jadi saat ini dia sudah berhasil menjadi kepala bagian bedah rumah sakit A?" Ketika beberapa foto berserak di atas meja, saat itulah Chris merasa kepalanya menjadi panas. "Apa perlunya kamu menyertakan foto-foto sialan ini?" Chris mendongak pada Bayu.


Bayu berdehem pelan dan segera merapikannya. Mengambil dan memasukkannya ke dalam sakunya.


"Potong semua foto itu!" ujar Chris.


"Maaf Tuan?" tanya Bayu yang tidak mengerti. Hal itu mendapat delikan tajam dari Chris yang semakin kesal.


"Berikan padaku, biar aku yang melakukanya." ujar Arjun.


Dengan cepat Arjun mencari gunting dan memotong foto Jihan dan Haris menjadi dua. Dimana foto Haris ia masukkan kedalam tong sampah, sementara foto Jihan ia berikan pada Chris lagi.


Bayu hanya bisa terheran-heran dengan wajah kakunya. Dia menatap takut-takut wajah Chris yang kini menatap satu persatu foto masa lalu Jihan. Mulai dari ia masih SMA sampai ia kuliah. Foto-foto itu memperlihatkan Jihan dalam keadaan yang amat berbeda. Jihan dimasa lalu sama sekali berbeda, dia tidak memakai jilbab meski pakaiannya relatif sopan.


"Hapus semua jejak digital istriku dimasa lalu. Termasuk foto yang berada di dalam sosial media teman dan keluarganya. Jangan biarkan fotonya bisa dilihat orang lain."


"Baik Tuan." sahut Bayu dengan cepat. Bayu keluar setelah Chris menyuruhnya dengan isyarat.


"Kenapa dia muncul kembali dalam kehidupan Jihan setelah dia sendiri yang mencampakkannya?" tanya Chris, karena hanya ada Arjun disana, maka sudah pasti dia yang ditanyai.


"Masih cinta? Atau menyesal setelah kecewa dengan selingkuhannya. Apapun itu dia bisa dengan mudah membawa Nyonya, Tuan. Mereka terlihat punya banyak kenangan. Perasaan keduanya pasti cukup dalam satu sama lain. Namun melihat prinsip Nyonya, saya rasa Haris ini perlu sedikit kerja keras. Lagi pula... Saya yakin anda tidak akan membiarkannya, bukan?"


"Aku pasti sudah gila!" sahut Chris. Lalu bersandar dan memijit keningnya pelan. "Kenapa dia bisa membuatku begini?" ujarnya pelan.


"Karena anda jatuh cinta, Tuan. Anda tahu itu dengan baik sekarang. Anda mencintai istri anda. Jadi jangan pernah lepaskan Nyonya jika anda tidak ingin menyesal."


Arjun memperhatikan Chris yang hanya terdiam menatap dinding. Chris bahkan tidak menyangkal apa yang dikatakan Arjun. Dia malah menghela napas. Dalam kepalanya membenarkan perkataan itu, karena sejak lama dia merasakan hal yang berbeda meski berusaha terus menampiknya.


"Dia keras kepala. Dia bilang ingin bercerai. Bahkan masalah perusahaan belum selesai."


"Semua orang bekerja keras menyebarkan aura positif dari perusahaan. Kita hanya butuh waktu sedikit lagi untuk pulih. Masalahnya adalah paman anda, dia akan terus mencari jalan mengusik anda."


"Pak tua itu... Mungkin dia merasa akan hidup selamanya. Biarkan saja, aku tidak bisa begitu saja menyingkirkannya. Kamu hanya harus mencari cara untuk membuat ia menjual sahamnya. Apapun itu, aku harus menguasai saham perusahaan lebih besar lagi sehingga dia tidak bisa berkutik."


"Maksud anda taktik ganda Tuan?"


"Kamu punya rencana lain?"


"Ide anda terdengar bagus, tapi membuat dia menjual sahamnya sedikit demi sedikit... bagaimana caranya? Anda tahu sendiri wanita cantik tidak berguna untuknya."


"Pak tua itu mungkin, tapi anaknya tidak. Buat anaknya berhutang besar. Perjudian atau apapun, dia menyayangi anaknya, dia akan melakukan apapun untuk dua sampah itu."


"Saya akan melakukannya, Anda hanya perlu fokus pada nama baik anda, Tuan."


"Ya, nama baikku sama pentingnya seperti nama baik brand ambasador perusahaan. Kenapa tidak aku saja yang dibayar untuk itu?" sarkas Chris.


Arjun tertawa dengan wajah tidak enak hati. Siapapun tahu bahwa menjaga nama baik Chris adalah iklan terbaik dari perusahaan. Sejak kepemimpinan ayahnya, ketika orang-orang mengenal Chris, dia adalah wajah perusahaan sebenarnya. Sehingga apabila namanya jelek, itu akan menjadi pengaruh sangat buruk bagi perusahaan mereka. Persaingan produk sangat ketat, pesaing mereka mengeluarkan produk sama baiknya. Sehingga teknik pemasaran sangat penting dalam persaingan.


.


Jihan berdiri di depan apartemen Jouji bersama dengan Meri. Kenapa mereka ada disana, karena Jouji menghubungi Jihan dengan suara lemah dan ringisan pelan. Karena tidak ingin terjadi fitnah apapun, Jihan mengajak Meri untuk ikut bersamanya.


Pintu terbuka, sosok Jouji berdiri dihadapan mereka dengan wajah pucat dan tubuh lemah. Dia beberapa kali terhuyung dan dibantu oleh Meri kembali berbaring.


"Dimana managermu? Kenapa dia membirkanmu sendirian?"


Jouji meraih obat dari tangan Jihan dan meminumnya. Setelah itu dia membuang wajahnya kearah lain. "Aku tidak memanggilnya, dia hanya akan terus menceramahiku. Lagipula dia sedang sibuk mengurus kekacauan yang aku timbulkan." jawabnya.


"Karena itu berhentilah mengacau! Bukan hanya dirimu, Jihan juga kena imbas tahu!" sahut Meri dengan ketus.


"Sudahlah, tapi Jouji... luka dikepalamu itu... kamu tidak menyakiti dirimu sendiri, kan?" tanya Jihan ragu-ragu.


Melihat Jihan yang kawatir, Jouji tersenyum dan menggeleng. "Ini karena lemparan vas dari ayahku." katanya dengan santai, seolah hal itu biasa terjadi dan bukan hal yang aneh.


"Kamu punya hubungan yang buruk dengan ayahmu?"


"Kamu mungkin pernah dengar dari Chris, aku bukan anak yang ia inginkan. Ibuku istri kedua yang awalnya dirahasiakan. Dia sama sekali tidak mengharapkan anak dari ibuku."


Meri dan Jihan bertukar pandang. Mereka berdua tampak terkejut dan juga bersimpati.


"Sejak kecil aku selalu kesepian, Ji. Sampai aku bertemu Nana. Kami mulai berteman sejak sekolah menengah pertama. Saat SMA barulah aku mengenal Jordi, itupun dari Nana." Jihan ingat cerita Jordi saat itu, bahwa Nana mengenal Chris pertama kali saat main kerumahnya.


Mengingat adik angkat Chris itu, Jihan jadi penasaran kemana dia pergi. Beberapa hari terakhir Jihan tidak melihatnya, baik diperusahaan maupun dirumah sebelum pergi.


Malas berpikir berlebihan, Jihan mengabaikan rasa penasarannya.


"Untuk selanjutnya kamu bisa meminta bantuan Jordi, dia sahabatmu juga, kan?"


"Kamu terganggu, ya?" tanya Jouji dengan nada tidak enak.


"Bukan begitu, ini hanya agar tidak ada gosip berlebihan lagi." sahut Jihan.


"Tapi kita berteman, kan?"


"Jihan tidak berteman dengan laki-laki." sambar Meri dengan tegas.


"Benarkah? Beruntung sekali jadi sumimu. Sayangnya kamu malah menikah dengan bajingan."


Mendengar hal itu, ada rasa tidak terima dihati Jihan. Namun mengingat kelakuan dan apa yang dia kira telah dilakukan oleh Chris, Jihan hanya diam saja.


"Kamu kelihatan mengantuk, istirahatlah. Aku sudah pesankan makan malam. Setelah tiba akan aku letakkan di atas meja dan segera pulang." ujar Jihan.


Jouji hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Jihan dan Meri saling menganguk dan keluar dari kamar itu. Bertepatan dengan itu, pesanan mereka tiba dan Merilah yang mengambilnya.


Mereka keluar dari lift sambil mengobrol santai. Jihan dan Meri bahkan tidak menyadari ada beberapa orang yang mengambil foto mereka. Setelah sampai di parkiran, Jihan dikejutkan dengan kehadiran Arjun.


"Nyonya, saya datang untuk menjemput anda."


"Bu Jihan, tolong kali ini saja. Ada paparazi yang mengawasi anda dan Jouji." ujar Arjun pelan setelah dia membukakan pintu mobil.


"Ikuti saja dulu, Ji." bisik Meri yang tiba-tiba bersikap waspada.


Mau tidak mau Jihan masuk kedalam mobil yang dibawa Arjun. Meri sendiri menuju mobil Jihan dan keluar terlebih dahulu.


Setelah mobil berjalan, Jihan baru melihat wartawan yang tadi bersembunyi. Wajahnya menunjukkan gurat kawatir.


"Dari mana kamu tahu aku disana dan ada wartawan yang mengikuti? Chris masih menyuruh anak itu mengikutiku?" tanya Jihan.


"Anda sudah tahu jawabannya, Bu Jihan." jawab Arjun dengan sangat formal.


"Dimana dia?"


"Tuan? Dia masih di kantornya. Ada banyak hal yang harus ia selesaikan. Mendengar anda mendapat masalah dia langsung mengutus saya karena anda pasti tidak akan mau ikut jika dia yang datang. Setidaknya dengan ini, wartawan tidak akan mengatakan bahwa anda sedang berselingkuh dan menjadikan teman anda sebagai tameng. Anda tahu, dunia hiburan sangatlah jahat."


Jihan terdiam, dia sama sekali tidak memikirkan efeksnya sejauh itu. Dia hanya ingin menolong orang yang butuh pertolongan. Namun tampaknya dunia mereka tidak bekerja seperti yang ia pikirkan.


Sesampainya di depan gedung apartement Meri, Jihan keluar dan masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih. Arjun hanya mengangguk dan langsung menelepon Chris untuk mengabarinya. Namun belum sempat panggilan diangkat, ia melihat Jihan dihampiri seseorang yang baru saja keluar dari mobil.


"Bukankah itu mantan suaminya? Sepertinya sama dengan yang di foto tadi." gumam Arjun.


"Halo."


"Oh, halo Tuan. Istri anda sudah saya antarkan ke rumah temannya," Arjun berhenti sesaat ketika mobil Jihan yang dikendarai oleh Meri baru saja sampai. Meri keluar dan langsung menghampiri Jihan dan Haris yang sedang berbicara. "Istri anda... didatangi oleh mantan suaminya."


Arjun tidak heran lagi akan respon Chris, ketika sambungan terputus, Arjun menyimpan ponselnya dan memutuskan untuk memperhatikan mereka dari jauh.


Lima menit berlalu dan terlihat bahwa Jihan sudah hampir menangis karena Haris yang terus mengingatkannya akan masa lalu dan anak mereka. Meri bahkan tidak berkutik. Arjun melihat jam tangnnya, Chris kemungkinan akan tiba kurang dari sepuluh menit lagi jika dia menyetir sendiri. Karena itu Arjun memutuskan untuk mengganggu sebentar.


"Ada masalah bu Jihan? Apakah orang ini mengganggu anda? Anda terlihat sangat tidak nyaman." ujar Arjun. Dia berdiri tepat di samping Haris.


"Siapa kamu? Orangnya Chris?"


Arjun menoleh kesamping, menelengkan kepalanya sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Wow! Anda mengenal atasan saya, tidak heran karena tuan Chris sangat terkenal. Benar kan, dokter Haris?"


Haris terlihat terkejut sepersekian detik. Dia memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Arjun.


"Kamu pasti tangan kanannya yang sama jahatnya dengan dia, bukan?" Haris mengedarkan pamdangannya, seolah mencari orang lain sebelum kembali menatap Arjun. "Iblis itu tidak ikut? Aku pikir kamu akan selalu menjadi ekornya."


Arjun tersenyum, dengan santai dia melayangkan satu pukulan yang mengenai rahang Haris. Jihan dan Meri menahan napas tatkala Arjun dengan tenang menekan dada Haris dengan lututnya.


Dengan cepat Meri menarik Arjun dan Jihan menolong Haris untuk bangun. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukulnya!" tanya Jihan dengan nada marah.


"Bukankah seharusnya anda juga marah? Dia mengatai suami anda, Nyonya." jawab Arjun, dia sengaja menekankan kaya nyonya untuk menyadarkan Jihan. Terbukti Jihan menarik tangannya dan menjaga jarak dari Haris.


"Ini kasus yang berbeda, Arjun. Kami akan bercerai. Kamu tahu pernikahan ini sejak awal."


"Ya, tentu saja. Saya juga sangat tahu bagaimana Tuan sangat menjaga anda meski pada awalnya dia bersikap dingin. Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan dan keputusan. Saat kebenaran terungkap, anda akan menyesalinya, Nyonya."


Jihan tertegun, bukan karena ketegasan Arjun padanya namun karena kalimatnya tetang Chris. Jihan menjadi ragu sesaat. Namun perkataan Haris membuat ia kembali berkeras hati.


"Kebenaran yang mana? Kebenaran akan kejahatannya? Lingkaran uang dan kekuasaan mungkin membuat apa yang ia lakukan bisa ditutupi, tapi aku seorang dokter, hasil visum dari semua bukti kekerasan yang diterima mantan istrinya tercatat dengan rapi. Saksi seorang psikolog dan catatan konsultasinya adalah bukti nyata. Bagaimana bisa kamu menyuruh Jihan percaya pada kriminal seperti dia."


Haris meraih pergelangan tangan Jihan dan menariknya untuk menjauh dari Arjun. Namun Meri dengan cepat menarik Jihan dan melepaskan tangan Haris.


"Mer!"


"Jihan sudah lelah! Katakan lain kali apapun yang ingin kamu katakan. Ayo, Ji. Kita masuk!"


Bertepatan dengan itu, Chris baru saja tiba disana. Dengan karisma dan aura yang luar biasa Chris melewati Haris dan Arjun. Meraih kedua bahu Jihan dan memaksanya menghadap padanya.


"Ikut aku pulang, sejak pagi Catrin sakit karena merindukanmu. Aku mohon, hanya karena Catrin." kata Chris dengan nada rendah.


Jihan mendongak, menatap mata tajam yang juga sedang menatapnya. Lagi, jantungnya akan selalu bereaksi seperti itu. Jantungnya berdetak lebih kencang seolah sedang berpesta pora didalam sana.


"Aku akan keluar dari rumah jika kamu terganggu dengan kehadiranku. Hanya... demi Catrin." bujuk Chris lagi.


"Ji..." Jihan menoleh pada Meri yang menyebut namanya. Sahabatnya itu mengangguk untuk memberikan dorongan padanya.


Chris bisa melihat, Jihan dengan berat hati mengambil keputusan. Jihan mengangguk sekali dan berjalan duluan menuju mobil Chris. Mengabaikan panggilan Haris padanya. Karena sama halnya dengan Jouji, Catrin sedang sakit dan membutuhkannya. Itulah alasan yang membuat Jihan sulit untuk menolak.


.


Kedatangan Jihan membuat seisi rumah menjadi heboh. Para pelayan dan kepala pelayan menyambutnya dengan senang hati. Ibu Chris juga memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Ketika Catrin mendengar nama Jihan dari mulut pelayan yang cukup keras, dia berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat. Pengasuhnya sampai kualahan menjaganya agar tidak terjatuh.


"Mama! Mama!" teriak Catrin dengan wajah pucatnya.


Ketika Jihan berhasil memeluknya, dia meneteskan air mata, badan Catrin terasa sangat panas dan dia berkeringat dingin. Anak itu terus menggumamkan kata mama didalam pelukanya. Membuat Jihan merasa amat buruk sebagai seorang ibu.


Chris berdiri saja disana, memilih tidak mengusik mereka. Dia juga sudah berjanji akan pergi untuk seentara dari rumah agar Jihan merasa nyaman. Karena itu, ia melangkah naik kelantai 3. Hal itu tidak luput dari perhatian sang ibu. Meski begitu, ibunya bersikap bijaksana dengan cara hanya menjadi penonton saja. Sepertinya dia telah belajar bagaimana menjadi ibu yang baik dengan membiarkan Chris membuat keputusan sendiri.


Jihan menggendong Catrin kembali kekamar anak itu. Pengasuh Catrin memberikan obat yang belum sempat diminum olehnya. Usai menemani Catrin, mengobrol dengannya dan membuat alasan kenapa dia pergi, Catrin akhirnya tertidur karena efek obatnya.


Jihan yang merasa lelah, keluar menuju kamarnya dulu. Dia ingin mengganti baju dan beristirahat juga. Namun ketika dia sampai di depan pintu, dia berhenti tiba-tiba. Ragu apakah dia akan masuk atau tidak. Dia tidak nyaman lagi berada satu ruangan dengan Chris. Jihan yang menginginkan perpisahan dan dia tidak ingin perasaannya membuat keputusannya goyah.


Jihan mundur selangkah ketika pintu kamar itu terbuka. Chris keluar dengan sebuah koper ditangannya. Melihat itu Jihan mengingat perkataan Chris sebelumnya.


Chris menatapnya lurus, ingin meraih istrinya itu namun sekuat hati menahan keinginannya. Entah bagaimana dorongan hatinya semakin hari semakin besar. Chris tersenyum tampa sadar, menyadari betapa bodohnya perasaan orang yang sedang jatuh cinta, namun dia tidak membencinya. Malah Chris menikmati setiap letupan yang selalu hadir dihatinya ketika melihat Jihan.


"Aku akan tidur hotel. Kamu bisa masuk. Katakan pada Catrin aku harus lembur jika dia mencariku."


Chris melewati Jihan dengan langkah panjang, dia dengan cepat turun untuk menghindari kecanggungan yang ada.


Sementara itu, Jihan tampa sadar meneteskan air matanya. Dia baru sadar menangis ketika air matanya jatuh. Dengan cepat ia masuk kedalam. Saat itulah dia akhirnya terisak dan terduduk di lantai. Bagaimana tidak, perasaannya menjadi campur aduk dan dia tidak sanggup menahannya ketika mencium aroma parfum Chris dimana-mana. Dia jadi merindukan suaminya. Namun kenyataan yang ada menamparnya dengan kuat. Fakta yang membuat dia memilih pergi dari pada bertahan dengan pria yang menurutnya sudah melakukan kejahatan. Trauma dimasa lalu membuat Jihan tidak mudah memberi kesempatan dan menerima dengan mudah, dia menjadi terlalu paranoid karena takut akan rasa sakit yang akan terulang padanya.