
Malam semakin larut dan Jihan belum kembali. Keadaan rumah menjadi tegang kembali. Ibu Chris yang belum tahu apa yang terjadi, berulang kali menghubungi anak dan menantunya. Keduanya tidak ada yang bisa dihubungi. Jihan mematikan ponselnya sementara Chris tidak menerima panggilan siapapun
"Tuan, ponsel anda sejak tadi berdering. Ibu anda menghubungi saya." ujar Bayu yang pada dasarnya juga belum mengetahui permasalahan yang terjadi.
Karena Chris tidak menggubrisnya, Bayu keluar dari mobil untuk mengangkat telepon. Menjawab panggilan ibu Chris.
Chris sedang berpikir keras. Kemungkinan-kemungkinan kecil bahwa bayi itu bukan anaknya. Mereka sedang berada di depan apartemen milik Meri. Tempat dimana Jihan akan berada jika ia memiliki masalah. Chris ingin masuk dan menjelaskan kepada Jihan, namun dia tidak memiliki alasan kuat untuk menyangkal.
Chris belum berani menghampiri Jihan untuk memberikan penjelasan atau permintaan maaf. Dia sendiri masih tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar dari mantan teman berbaginya di ranjang itu. Apalagi ketika melihat mata bayi laki-laki dihadapannya tadi, dia seperti melihat refleksi dirinya sendiri. Mata anak itu sangat mirip dengannya. Begitu juga garis rahangnya. Meski ia masih berusia 5 bulan, kemiripannya dengan Chris tidak bisa terbantahkan.
Arjun datang dan menghampiri Bayu yang juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Satu-satunya sumber informasi mereka sedang fokus pada makanannya di atas motornya, Lion menggeleng sambil mengangkat bahu menjawab tatapan Arjun.
Pintu kaca diketuk beberapa kali sebelum Arjun masuk dan duduk di samping Chris. Arjun mengerutkan dahinya melihat ekspresi tidak biasa pada wajah tuannya itu.
"Bagaimana bisa aku kecolongan? Wanita itu datang disaat hubunganku mulai membaik." ujarnya.
"Wanita.... Anda bicara tentang siapa?" Masalahnya yang mampir dihidup Chris itu bukan hanya satu, tentu saja Arjun jadi bingung.
"Adora, dokter yang merawat Nana saat dia terus melukai dirinya. Setelah malam itu dia bilang akan keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Aku tidak tahu saat itu ternyata dia sedang mengandung anakku." Tentu saja Arjun ingat, dokter bermuka dua yang sangat memuja Chris Diantara seluruh wanita yang berhubungan dengan Chris, Adora adalah yang paling terobsesi padanya setelah Nana.
"Tunggu, tapi saat itu bukankah kamu sudah memastikan bahwa dia memang mendaftar?" Arjun menoleh pada Bayu yang entah kapan sudah duduk dikursi kemudi.
"Seingat saya dia memang terdaftar Tuan. Saya bahkan memeriksa langsung melalui orang dalam. Dia tidak mungkin berbohong."
"Itu tidak penting sekarang, nyatanya dia sengaja mengecohku untuk melahirkan anak itu." geram Chris.
"Apa yang akan anda lakukan? Anda harus menjelaskan pada istri anda, bukan? Setidaknya minta maaf dan pastikan dia menerima masa lalu anda Tuan. Bu Jihan wanita yang baik, dia mungkin akan mengerti." tukas Arjun.
Chris menyandarkan kepalanya dan menutup mata. Bayang-banyang kekecewaan Jihan masih terpeta jelas dalam ingatannya. "Dia baik, tapi dia juga keras kepala dan akan dengan senang hati pergi dariku." gumamnya.
Sementara itu, Jihan hanya duduk diam sejak dia datang. Meri yang tidak mengerti menghela napas untuk kesekian kalinya.
"Aku akan ke kamar kalau kamu tidak mau bicara, Aku serius!" ancam Meri yang sebenarnya main-main.
"Mer, apa yang harus aku lakukan?" tanya Jihan.
"Akhirnya kamu buka mulut juga, ayo cerita! Ada apa sih?"
Belum sepatah katapun keluar dari Jihan, bel pintu berbunyi. Dengan perasaan was-was Meri berdiri. Rasanya seperti dejavu saat dia tidak menunggu siapapun. Meri sudah yakin dan bisa menebak siapa yang saat ini berdiri di depan pintu.
Benar saja dugaannya. Di depan pintu Chris berdiri dengan Arjun dan Bayu menunggu beberapa langkah darinya. Meri menyingkir dari pintu. Dia memilih keluar dan menutup pintu setelah Chris masuk.
"Sebenarnya ada masalah apa lagi, sih?" tanya Meri pada salah satu diantara mereka.
"Bukan kewenangan kami bercerita." jawab Bayu ketika Arjun hanya mengangkat bahu.
Merasa percuma bertanya pada mereka, Meri menyandarkan bahunya pada dinding sebelah pintu. Menunggu pintu itu terbuka untuk bisa segera istirahat. Dia cukup lelah sebenarnya, namun karena Jihan adalah sahabat sekaligus bosnya, tentu saja dia dengan suka rela memberikan waktunya.
"Ji, ayo pulang. Kita bicarakan ini dirumah. Masih sangat dini untuk menganbil kesimpulan. Aku sedang mencaritahu kebenarannya."
Jihan mendongak, menatap Chris yang berdiri di hadapannya. "Berapa persen?" tanya Jihan.
"Apanya?"
"Anakmu, berapa persen kemungkinan bayi itu adalah anakmu?"
Chris terdiam, bukan tidak tahu jawabannya. Dia takut akan reaksi Jihan. "Sepertinya 100%. Aku lihat wajahnya mirip sekali denganmu." Chris mengikuti gerakan Jihan yang berdiri. Menatap lekat-lekat wajah istrinya yang jelas menahan amarah.
"Apa yang akan kamu lakukan? Menikahinya?"
"Itu tidak akan terjadi." sambar Chris cepat.
"Senang mendengarnya."
Chris menarik napas lalu merengkuh Jihan kedalam pelukannya. "Maafkan aku, masalaluku membuatmu kecewa. Aku tidak tahu apapun soal anak itu. Aku tidak tahu mengenai keberadaannya."
"Tapi dia anakmu, kan?" lirih Jihan.
Chris merasakan sesuatu seolah menusuk-nusuk dadanya. Dia ikut merasakan sakit ketika mendengar suara lemah istrinya itu.
"Mungkin...."
"Kalau begitu nikahi dia. Kasihan anak itu jika harus hidup tampa ayahnya. Dia harus mendapatkan pengakuanmu." tegas Jihan.
"Tidak akan pernah!" Chris bahkan menekan suaranya pada setiap kata. "Jangan membuat alasan untuk pergi dariku." tambahnya.
Jihan menatap marah pada Chris atas jawabannya. Tampa berkata apa-apa lagi, Jihan pergi. Chris mencoba menahan tangannya namun Jihan menepisnya dengan kuat. Chris mengejar Jihan yang berlari keluar. Melewati tiga orang yang tampak bingung.
Jihan cukup cepat, dia berhasil masuk lift dan menutupnya secepat mungkin. Chris mengejarnya lewat tangga. Sayangnya ketika sampai diluar gedung, Jihan sudah berlari jauh ke jalan raya. Menghentikan sebuah taxi yang lewat dan pergi entah kemana.
Meri dan yang lain berhasil menyusul dengan napas tersengal-sengal. "Tuan!" seru Arjun, membuka pintu mobil untuk mengejar taxi yang ditumpangi Jihan.
"Biarkan dia sendiri." seru Meri lebih kepada Chris. "Dia orang yang tegas. Apapun yang menjadi keputusannya, dia akan melakukannya sampai akhir. Aku tidak tahu apa masalah kali ini, tapi Jika Jihan memilih pergi seperti itu." Meri menjeda, menatap Chris dengan sedikit gusar. "Dia mungkin akan mengambil keputusan untuk pergi. Seperti saat bersama Haris. Jihan pergi dan tidak pernah kembali meski dia sangat mencintai bajingan itu."
Meri berjalan masuk kembali menuju gedung apartemennya. Meninggalkan Chris yang terihat bingung dan kalut.
"Lion mengikutinya, kan? Hubungi anak itu!" perintah Chris.
Bayu melakukannya, setelah mendengar penjelasan Lion, Bayu menggeleng pada Chris. "Lion kehilangan jejak nyonya, Tuan."
Chris menutup matanya. Rasanya kepalanya menjadi kosong. Dia biasa menghadapi berbagai masalah perusahaan. Sayangnya ketika menghadapi cinta otaknya susah sekali bekerja.
.
Hampir tengah malam, Jihan kembali dengan baju kotor dan jilbab yang sedikit robek di bagian depannya. Chris yang masih duduk di ruanh tamu segera menghampirinya. Menatap pria yang membawa Jihan kembali dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Chris. Berusaha menahan rasa cemburunya.
"Terima kasih sudah menolong dan mengantarku. Kamu bisa kembali." kata Jihan pelan, mengabaikan Chris dan berlalu begitu saja. Jihan bahkan mengabaikan ibu mertuanya.
"Jouji, apa yang terjadi?" tanya ibu Chris. Melihat keadaan Jouji yang juga terluka, sudah pasti ada yang terjadi.
"Kasihan sekali Jihan memiliki suami seperti ini." cemooh Jouji. "Kamu membiarkan wanita lemah sendirian diluar sehingga ia hampir mati ditangan begal. Apa kamu tahu betapa ketakutannya Jihan tadi?" Jouji merapikan kemejanya lalu berlalu dari sana. Meninggalkan ibu dan anak itu.
Chris segera mengirim pesan pada Bayu untuk menyelidiki siapa yang menyerang Jihan. Sementara dia bergegas menuju kamarnya sendiri.
"Ji?"
Chris tidak melihat istrinya dimanapun, diapun mendekati kamar mandi dan mengetuknya. Seuluh menit berlalu, Jihan keluar dengan wajah pucat. Air matanya jatuh begitu saja begitu mata mereka bertemu. Chris memeluknya dan membawanya keatas kasur. Bergegas mencarikan baju tidur dan memakaikannya dengan telaten.
Dia membawa Jihan kedalam pelukannya lagi dalam posisi berbaring. Jihan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus menangis. Chris sungguh menyesali apa yang terjadi. Dia sadar Jihan pasti sangat terpukul. Dengan masalah mereka ditambah baru saja mengalami penyerangan.
.
Paginya Jihan tidak terbangun seperti biasanya. Chris yang merasakan tubuh Jihan yang terus beringsut kedalam pelukannya menjadi terbangun. Dia langsung melebarkan matanya ketika merasakan suhu tubuh Jihan yang sangat panas.
Chris melarikan Jihan kerumah sakit secepat mungkin pagi hari itu. Bersamaan dengan itu, setelah satu jam Jihan dirumah sakit dan berada di ruang rawat inap. Seluruh media televisi maupun online memberitakan keadaannya dan apa yang menimpanya. Hal yang paling utama karena ia bersama Jouji. Bahkan nama Jouji dan istri presdir MC group trending.
Jihan yang sudah stabil ditemani oleh mertuanya, hanya diam saja mendengar berita yang terdengar dari televisi. Mertuanya sedang sibuk dengan ponselnya, tentunya mengurus pemberitaan agar tidak membesar dan dipelintir.
"Banyak wartawan menunggu didepan gedung rumah sakit, Tuan Chris sedang bersama polisi saat ini di ruangan lain Nyonya." ujar Bayu.
"Aku akan menemui mereka." Ibu Chris berdiri dan menoleh pada Jihan yang masih diam saja. "Ji, ibu akan keluar sebentar. Akan ada Lion diluar yang menjagamu. Ibu dan ayahmu sedang dalam perjalanan."
Jihan mengangguk singkat. Dia masih fokus pada layar televisi. Ibu Chris keluar bersama Bayu untuk menghadapi wartawan. Bersamaan dengan itu, Haris masuk kedalam ruang rawat inap bersama Azam.
"Ji, bagaimana keadaanmu?" tanya Haris. "Kami sedang bersiap ketika mendengar kabar dari televisi." lanjutnya.
"Ibu...."
Ketika mendengar suara Azam, barulah Jihan menoleh. Dia duduk dan tersenyum lemah pada Azam.
"Maaf ibu tidak bisa hadir," kata Jihan saat memeluk Azam, lalu dia beralih pada Haris yang mengelus puncak kepala anak mereka. "Sampaikan maafku pada adikmu."
"Jangan dipikirkan, hanya saja... banyak media yang membuat cerita seolah kamu pergi bersama aktor itu lalu diserang begal ketika diperjalanan, apa itu benar?" tanya Haris.
"Tidak, Aku sendirian saat itu. Jouji hanya kebetulan lewat disana dan menolongku." jawab Jihan.
"Kebetulan? Ji_ terlalu aneh kalau kamu bilang itu kebetulan."
"Apa yang aneh dari itu?" ujar Jihan.
"Ayah, jangan buat ibu stres. Bahasnya nanti saja." sela Azam.
Baik Jihan dan Haris menoleh padanya. Memilih menuruti, pada akhirnya Azam yang banyak bercerita. Lalu, tidak lama kudian, orang tua Jihan sampai.
Haris sedikit mundur dan memberi ruang untuk mereka. Banyak pertanyaan yang membuat Jihan sakit kepala dari ayahnya. Jika ibunya tidak menghentikannya, mungkin Jihan akan sakit kepala.
"Dia kenapa ada disini?" tanya ayah Jihan ketika melihat Haris diantara mereka. "Mana menantuku?" lanjutnya lagi.
"Oh, kalian sudah sampai? Aku kawatir kalau..." ibu Chris muncul dan terdiam heran ketika matanya menangkap orang asing yang ada di antara mereka. "Aku tidak tahu kalau Jihan punya saudara laki-laki." ujarnya.
"Dia bukan saudara Jihan, besan... Dia ayah kandung Azam." jawab ayah Jihan dengan nada sungkan.
Ibu Chris mengangkat sebelah alisnya sebelum tersenyum ramah. Mengangguk sekali pada Haris dengan perasaan was-was. Dia melirik Bayu yang juga terlihat tegang ditempatnya.
Haris yang melihat ekspresi ibu Chris hanya tertawa dalam hati. Jelas saja dia tahu mengapa mereka memasang ekspresi seperti itu meskipun dia bisa menutupinya dengan baik dari orang lain. Tapi Haris seorang dokter dan sedikit banyak dia mempelajari ekspresi pasiennya selama ini.
"Ji, Aku membawakanmu masakan ibu. Dia sengaja memasak cepat pagi ini begitu tahu kami mengunjungimu." ujar Haris, mengabaikan kecanggungan semua orang.
"Benar, tadi nenek cepat-cepat masak untuk ibu padahal sudah pakai make up." tambah Azam dengan penuh semangat.
"Biar ibu yang siapkan." ujar ibu Jihan dan mengambil alih ketika Haris membuka bungkusan yang ia bawa di atas meja. "Tak apa bu, Ibu baru datang, kan? Ibu pasti lelah perjalanan jauh. Apa kaki ibu sudah membaik? Apa asam urat ibu sudah diperiksa rutin?"
"Sudah tidak apa-apa. Terima kasih pada ibumu. Jihan memang suka sekali makan ayam ini."
Chris masuk ketika Haris membawa piring menuju ranjang Jihan. Mata tajamnya menatap Haris penuh ketidak sukaan. Chris melirik Bayu yang sudah berkeeringat dingin ditempatnya sebelum mendekati Jihan dan berdiri di sisi lain.
"Aku lupa kamu bekerja disini. Tapi sepertinya kamu sedang cuti, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Chris dengan sangat dingin.
"Tentu saja menjenguk ibu dari anakku. Azam sangat kawatir pada ibunya." jawab Haris dengan santai.
Chris melirik Azam yang mengangguk padanya. Lalu beralih pada tangan Haris yang masih memegang piring.
"Aku akan makan sendiri, berikan padaku." pinta Jihan, dia juga sudah merinding merasakan hawa tidak enak dari suaminya.
"Kamu masih lemah, tangan kananmu kudengar ada lebam jadi akan sakit jika digerakkan." kekeh Haris.
Jihan merasakan hawa disampingnya semakin mengerikan. Chris sudah pasti ingin memukul Haris kalau saja mereka tidak sedang berada di antara orang tua.
"Aku yang akan menyuapi istriku, jadi berikan itu padaku." Jelas sekali siapapun yang peka akan menyadari bahwa Chris menahan makiannya.
Haris tersenyum sangat ramah lalu memberikan piring itu dengan suka rela. Ayah Jihan tampak sangat senang dan mendukung Chris sementara sang ibu terlihat lebih peduli pada mantan menantunya.
"Bu, bagaimana kalau kita mengobrol sambil sarapan. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh." ajak Ibu Chris.
Orang tua Jihan mengangguk setuju. Ibu Chris tentu saja sengaja. Dia bahkan mengajak Azam dan Haris ikut serta. Namun Haris jelas akan menolak dengan berbagai alasan. Karena itu ibu Chris memberi kode pada Bayu untuk melakukan sesuatu.
Setelah kepergian semua orang. Atmosfir ruangan menjadi lebih gelap dan menegangkan dari sebelumnya. Jihan bahkan menahan napas kala suapan Chris terasa begitu mengerikan.
Sementara itu Haris dengan santai menuangkan air untuk Jihan dan memberikannya dengan penuh perhatian. Jihan terpaksa mengucapkan terima kasih setelah gelas itu ada di tangannya. Tidak berani melirik Chris yang kini menatapnya dengan amarah tertahan.
Setelah makanan habis, Chris meletakkan piring dengan sedikit keras. Lalu mengambil gelas kosong ditangan Jihan dan meletakkannya asal di atas meja di samping ranjang.
"Aku rasa sudah cukup sandiwaranya. Silahkan keluar dokter Haris. Aku tidak cukup sabar untuk terus menahan diri akan keinginan mematahkan jari-jarimu."
Keduanya saling melempar tatapan membunuh satu sama lain. "Benarkah? Maka aku akan menyambung jariku kembali. Kamu lupa aku dokter bedah?" balas Haris.
"Kamu semakin berani."
"Kenapa tidak? Hanya karena kekuasaanmu aku harus patuh?"
"Bukankah itu keahlianmu? Kamu adalah anjing setia pemilik rumah sakit ini bukan?"
"Jangan berkata seolah kamu sangat terhormat. Kamu mencoba mempengaruhi mantan mertuaku untuk mengirimku pergi setelah menjatuhkanku. Kamu sangat ceroboh atau orangmu yang dungu?" balas Haris. "Profesor Wandi tidak akan pernah bisa mengusirku dari sini. Jangan terlalu sombong, presdir Christoper." lanjut Haris penuh ejekan.
"Menjatuhkan apa? Ini tentang apa?" sela Jihan.
Haris menurunkan pandangannya. Mengubah mimiknya menjadi lembut kembali. "Aku akan menjelaskannya lain kali. Tapi yang pasti, Suamimu sangat licik untuk membuat namaku buruk. Dia bahkan mengatur rencana untuk membuat rumah sakit ini mendeportasiku ke rumah sakit cabang diluar kota." jawab Haris.
Dia tersenyum penuh kasih sebelum permisi pada Jihan dan keluar dari ruangan itu.
"Apa yang dikatakan Haris itu benar?" tanya Jihan, menatap Chris dengan pandangan kecewanya lagi.
Chris tidak menjawabnya. Hanya menatap Jihan dalam diam. Dia merasa bodoh meremehkan Haris tampa menyelidiki latar belakang dan masa lalunya. Chris baru tahu setelah dia mendapatkam beberapa informasi mengenai rumah sakit pagi ini dari Lion.