
Chris sedang membaca sebuah buku ketika dia menyadari ada pergerakan seseorang. Dia menoleh ke kanan, tempat dimana sebuah ranjang pasien berada. Dia meletakkan bukunya, lalu bangkit berdiri.
Mata itu terbuka sepenuhnya ketika dia telah berdiri di sisi ranjang dengan tangan bersedekap. Ketika mata mereka bertemu, Jihan, pasien yang sedang dirawat itu segera duduk dengan cepat. Ingatan secepat roller coster menghampirinya.
"Di-dimana aku? Marcell... Maksud saya pak Marcell... Bagaimana?"
"Entahlah, dia dibawa kerumah sakit oleh orang-orangnya." jawab Chris.
Setelah itu, hanya ada kecanggungan yang terlihat dibalik wajah pucat Jihan. Dia menunduk menatap tangannya. Terlihat sangat ragu dan hati-hati.
"Terima kasih... Anda datang menolong." Jihan tidak hanya sekedar berbasa basi, dia sungguh-sungguh bersyukur Chris ada disana. Benar-benar tulus berterima kasih.
"Hanya itu?"
"Huh?" Jihan tampak bingung, "Itu... Jadi... Dari mana anda tahu saya diculik?"
Chris berjalan ke ujung ranjang dan duduk disana. Bersandar pada pembatas. " Aku pernah mengatakan jangan dekat dengan Marcell bukan?" katanya, Jihan tampak terkejut, Chris tahu benar apa yang sedang dipikirkannya, karena itu dia melanjutkan. "Aku tidak melarangmu karena kepentingan pribadi. Jangan salah paham. Alasanku saat itu karena tahu suatu saat kamu akan di manfaatkan oleh musuhnya." tentu saja untuk alasan ini dia sedikit berbohong, alasan utamanya tentu saja kecemburuan. Tapi mulut itu pintar sekali bersilat lidah.
"Musuhnya... Maksud anda orang-orang tadi?"
Chris berjalan ke meja kecil disana dan mengambil remote TV. Lalu menyalakan channel yang menampilkan berita terbaru. Dia memperhatikan raut wajah Jihan yang berubah dari detik ke menit sampai berita beralih ke berita lain.
Reporter memberi penjelasan disana bahwa polisi berhasil menangkap gembong narkoba besar. Tiga orang yang merupakan pemimimpin, salah satunya berprofesi sebagai dosen dan dua lainnya diketahui menjalankan bisnis club malam. Seluruh anggotanya ditangkap. Polisi juga sedang menyelidiki keterlibatan aparatur negara dalam melancarkan bisnis mereka.
"Jadi, kenapa orang-orang itu menculik saya? Mereka mengenal pak Marcell? Lalu kenapa mereka mengaku sebagai orang yang mengirimkan paket...?" Jihan menoleh pada Chris yang kembali duduk di ujung ranjang.
"Anda tahu hal itu Presdir?" tanyanya.
"Bagaimana aku bisa tahu? Kamu melarangku mencampuri kehidupanmu."
Jihan menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya merasa tercubit dan meninggalkan rasa sakit. Dia sendiri yang menciptakan jarak, namun kenapa dia merasa sedih ketika Chris mengatakan hal itu?
"Karena anda biasanya selalu tahu sesuatu, anda punya banyak orang-orang dibelakang anda...."
Chris tidak menaggapinya, karena itu Jihan kembali mengangkat wajahnya dan menatap mata tajam itu. Seperti biasanya, jantungnya kembali berdetak dengan cepat, semakin lama semakin cepat hingga akhirnya dia tidak sanggup menahannya dan berakhir mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Istirahatlah, Aku akan mengunjungi ibuku. Tidak jauh dari kamarmu, jika terjadi sesuatu kamu bisa memanggil perawat."
Jihan mengangguk, lalu satu ingatan terlintas dibenaknya. Dia terkesiap dan reflek turun dari kasurnya. Menyusul Chris yang sudah keluar. Untungnya, Chris masih terlihat. Jihan segera berlari dengan cepat.
"Meri, temanku Meri! Anda tahu dia dimana?"
Chris berbalik, menatap Jihan datar. Lalu matanya turun pada kaki Jihan yang tampa alas. Kaus kakinya sangat kotor dan dia kehilangan sepatunya ketika Chris membawanya.
Chris menghembuskan napas, melirik perawat yang juga berlari menyusul Jihan karena kawatir. "Berikan dia alas kaki." perintah Chris.
"Baik pak, sebentar saya ambilkan." kata perawat itu dan segera berlari ke nurse station.
"Meri... Mereka juga menangkap temanku. Tapi saat sampai Meri tidak ada. Dia... Apa dia tidak ada dirumah itu juga? Dimana mereka membawanya?" tanya Jihan dengan panik. Matanya sudah meneteskan air mata. Dia jadi terlihat lebih kacau dari sebelumnya.
"Kembalilah istirahat."
"Beri aku informasi, kumohon. Dia... satu-satunya sahabatku. Dimana dia? Kumohon... beritahu aku."
"Dia baik-baik saja. Jadi ayo kembali ke kamarmu."
"Ta-tapi..."
Chris mengambil sendal rumah sakit yang disodorkan perawat dan berjongkok dibawah kaki Jihan. Arjun dan Alex baru saja tiba dan terhenti di tempat merek ketika melihat pemandangan itu.
Chris menyentuh kaki Jihan yang tentu saja terlindung pakaian panjangnya, lalu mengarahkan sendal itu pada masing-masing telapak kakinya. Setelah itu dia berdiri dan menarik kain pada pergelangan tangan Jihan.
Chris tidak membawa Jihan kembali ke kamarnya, dia malah membawa Jihan menuju ruang rawat ibunya. Bayu tadi mengabarinya lewat pesan bahwa keadaan ibunya mengalami penurunan. Kondisinya kembali memburuk. Arjun dan Alex mengikuti mereka dari belakang, namun mereka cukup mengerti untuk menciptakan jarak.
Sesampainya disana, Jihan duduk di salah satu kursi dan Chris berdiri di sisi ranjang.
"Bagaimana keadaan ibuku?" tanya Chris pada dua dokter disana.
"Begitu? Kalian bisa keluar." ujar Chris datar dan tenang. Meski begitu, Chris yakin ada sesuatu yang berjalan diluar kendalinya saat ini.
"Bayu."
"Ya, Tuan."
"Kamu pasti lelah, istirahatlah. Alex akan menggantikanmu."
"Baik, Tuan." jawab Bayu.
Setelah Bayu keluar, Chris menatap Arjun dan Alex bergantian. "Selidiki ulang rekam medis ibuku. Juga terkait laporan hasil kedua pemeriksaan sampel ibuku. Laporan kedua telah dikirim padaku, tapi aku tidak yakin akan keasliannya, aku ingin kalian meminta salinan asli dari Amerika langsung."
"Anda mencurigai dokter atau Bayu Tuan? Kenapa anda... Tapi Bayu tidak mungkin...."
"Aku harap begitu, ini hanya kecurigaan tak berdasarku. Tapi aku tidak bisa mengabaikan ekspresi diwajah kedua dokter itu. Interaksi mereka berdua mencurigakan."
"Baik, saya akan melakukannya."
Jihan berdiri, dia juga ingin melihat keadaan mantan mertuanya itu dari dekat. Terakhir kali dia kesana, Jihan hanya melihatnya dari kaca.
"Ayo kembali ke kamarmu, Jihan." ajak Chris setelah beberapa menit kemudian.
Mereka semua keluar dari ruang rawat inap. Namun tepat pintu tertutup dibelakang mereka, Jihan berhenti melangkah.
"Aku ingin pulang. Aku harus mencari Meri. Orang tuaku, aku belum memberi mereka kabar."
"Pulang kemana? Kamu tidak bisa pulang kerumah itu. Wartawan akan memburumu. Banyak isu yang sedang berkembang, terutama kenapa kamu terlibat dalam kasus ini." kata Arjun.
"Dia mana tahu, hanya tahu melibatkan diri dalam masalah." sarkas Alex. Menatap Jihan dengan sinis.
"Tuan, anda ingin saya memotong lidahnya?" tanya Arjun dengan ketus, melirik Alex dengan kesal.
"Aku berkata benar, dia bahkan tidak tahu kerepotan apa yang aku dapatkan setelah ayahnya dengan bodoh mengakui iedekatan anaknya dengan bajingan Marcell itu!"
"Orang tuaku! Apa yang kamu lakukan pada orang tuaku!" sambar Jihan, maju ke hadapan Alex dan menatapnya berang.
"Aku mengurung mereka, mau apa kamu, hah? Mau marah padaku?" tantang Alex dengan berani.
Plak!
"Ouh!"
Alex mengelus kepalanya ketika Chris baru saja melayangkan pukulan main-main ke kepalanya. Dia segera berdecak dan pergi dari sana. Meninggalkan Jihan yang masih melayangkan tatapan marah pada punggungnya.
"Jangan kawatir, dia tidak akan berani kasar pada orang tuamu. Aku juga sudah menjelaskan kejadian ini pada orang tuamu." Itu benar, Chris melakukannya lewat telepon disaat Jihan masih pingsan.
Wartawan memang cepat sekali memburu berita, bahkan sampai pada orang tua Jihan dalam satu waktu. Ayah Jihan hanya menjawab dengan polos pertanyaan wartawan tentang hubungan Jihan dan Marcell. Mengatakan bahwa mereka berteman dekat, tentu saja timbul banyak spekulasi di masyarakat.
"Aku... Aku harus apa sekarang?" Jihan merasa sangat bersalah saat ini.
Dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Banyak kebingungan di dalam kepalanya. Chris yang memang memprediksi ini sejak awal, tentu saja senang mendapatkan pertanyaan itu.
"Katakan pada mereka kita akan kembali bersama, Marcell adalah teman lamamu dan selebihnya biar aku yang menyelesaikannya."
Chris bisa melihat keterkejutan Jihan, "Apa maksud anda dengan kembali bersama..."
"Wartawan masih diluar, mereka akan memburumu. Aku akan melindunginmu tapi bisa saja satu atau dua lolos. Jadi itulah yang harus kamu katakan pada keadaan saat ini."
"Tapi itu, aku tidak bisa berbohong!"
"Memang siapa yang menyuruhmu bohong. Aku memang berniat menikahimu kembali."
"Apa?"
Disaat seperti ini, Chris hanya mengatakannya dengan ringan seolah mereka memang tidak memiliki masalah sebelumnya. Arjun bahkan ikut tercengang. Begitu juga beberapa pengawal yang mendengar percakapan mereka.