Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
27



Chris memojokkan Jihan ke dinding. Mereka saling lempar tatapam tajam. Pada akhirnya Jihan tidak tahan. Dia berusaha mendorong dada Chris, hal yang sia-sia tentu saja, karena Chris berlipat-lipat lebih kuat darinya.


"Seberapa dekat kamu dengan bajingan itu?" tanya Chris dengan rendah sarat akan kemarahan.


"Aku tidak dekat dengannya!"


Chris beralih memegang kedua sisi wajah Jihan dan menempelkan kening mereka dan berbisik rendah.


"Jangan berani melihat pria lain saat kamu sudah terikat denganku. Bajingan itu tidak menyukaimu! Dia hanya akan menghancurkanmu demi balas dendamnya."


Jihan ketakutan, Chris terlihat sangat mengerikan saat ini. Tubuhnya bahkan bergetar sekarang.


"Aku... Aku tidak hik! Ti-tidak dekat dengannya."


Jihan mulai terisak, dia bukan hanya syok atas perlakuan Chris tapi juga sakit hati terus dituduh.


Chris menarik diri, menurunkan emosinya. Tangannya turun menuju kedua bahu Jihan dan memeluknya. Air mata Jihan langsung berhenti karena terkejut. Jantungnya tiba-tiba saja memompa sekuat yang ia bisa.


"Jangan pernah dekat dengannya." Suara Chris jauh lebih tenang.


Jihan tidak mengatakan apapun. Chris terpaku pada tempatnya ketika dia merasakan jantung Jihan. Bertanya-tanya dalam hati apakah detak itu karena istrinya takut atau karena Jihan menyukainya. Dari awal, tidak ada cinta diantara mereka. Sehingga saat ini dia ingin tahu apa yang dirasakan Jihan padanya.


Chris mengurai pelukannya dan menatap Jihan yang tertunduk. Meraih dagunya untuk diangangkat. Mau tidak mau Jihan terpaksa menatapnya. Chris bisa melihat, sorot mata Jihan yang penuh ketakutan. Seketika muncul gejolak kuat dalam hatinya. Chris diselimuti kabut yang membuat dia ingin menyentuh istrinya lebih intim. Berperang dengan logika, akhirnya Chris mendekatkan wajahnya.


Jihan melebarkan matanya, merasakan sentuhan lembut dibibirnya, ini adalah sentuhan intim pertama kali sejak ia menikah dengan Chris. Tampa sadar dia mencengkram jas suaminya dengan erat. Semakin lama ciuman Chris semakin dalam. Jihan hanya bisa terdiam.


Chris tidak puas, dia merasa Jihan menolaknya. Dengan sebelah tangan dia mengambil tangan Jihan dan mengalungkannya di lehernya. Tangan lain menahan tengkuknya dengan kuat. Chris juga menarik Pinggang Jihan untuk lebih dekat.


Pada akhirnya, Jihan dengan ragu membalas. Mereka melakukannya cukup lama dan diakhiri sebuah pelukan. Pada akhirnya Chris menyadari apa yang ia rasakan saat ini.


Ketertarikannya semakin lama semakin dalam sehingga dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Kebencian yang ia rasakan pada awalnya kian hari kian musnah. Sampai pada titik ini, Chris hanya merasakan keinginan untuk mengikat Jihan disisinya.


Chris melepaskan pelukannya dan berbalik.


"Istirahatlah di dalam. Aku akan mulai bekerja."


Jihan tidak bergerak, dia merasa akan merosot sebentar lagi ke lantai karena kehabisan tenaga.


Chris sendiri berjalan keluar. Menutup pintu dengan wajah memerah. Dia memijit kepalanya pelan. Dia juga merasakan jantungnya yang menggila dirongga dadanya.


'Sialan! Aku tidak bisa menahannya!' rutuknya dalam hati.


Arjun yang tadi was-was menunggu diluar bingung melihat tingkah atasannya itu. Dia berjalan mendekat dan melihat wajah malu tuannya. Seketika dia menyadari sesuatu yang intim sudah terjadi. Karena itu, dengan usil dia berdehem.


"Anda tidak apa-apa Tuan? Apakah kita harus pulang? Anda kelihatan sakit."


Chris menatapnya kesal. "Tutup mulutmu!" gertaknya.


Chris menarik napas panjang dan membuka pintu kembali. "Bawakan semua laporan yang aku minta kemarin." ujarnya.


Chris terpaku sesaat ketika melihat Jihan duduk di sofa bukannya istirahat di dalam kamar pribadinya. Ternyata Jihan cukup cepat mengendalikan diri dari keterkejutannya.


"Apa yang kamu lihat!" Kecurigaan jelas terdengar dari nada bicaranya.


Jihan mengerjap dan mengangkat wajahnya. Chris berjalan menuju kursi kebesarannya. Wanita itu tidak berani menatap matanya, dia hanya menatap meja dengan canggung.


"Memeriksa penjualan kemarin."


Chris terus menatap Jihan, ada perasaan lega dihatinya setelah mendengar kawaban itu. Jihan kembali menunduk dan terlihat berusaha fokus pada ponselnya. Pintu terbuka dan Arjun masuk dengan tumpukan berkas ditangannya.


"Tuan, wartawan memenuhi area depan lobi. Mereka berhasil menerobos masuk karena jumlah mereka yang bertambah banyak. Anda lebih terkenal dari pada selebriti sekarang." goda Arjun sambil meletakkan berkas-berkas itu. Menarik kursi dan duduk di hadapan tuannya.


"Anda ingin kopi?" tanya Arjun.


"Panggil Bayu kemari." sahut Arjun, mengabaikan tawaran kopi.


Arjun segera mengetik pesan di ponselnya dan mengirimnya pada Bayu. Lalu matanya beralih pada Jihan yang masih fokus pada ponselnya. Bukan berniat menatapnya dengan maksud tertentu, tapi Arjun sedang berpikir bagaimana cara untuk mendekatkan mereka lagi.


"Mau kucongkel matamu?" tanya Chris dingin.


Arjun berdehem pelan ketika dia meluruskan pandangannya kembali menghadap tuannya. Tersenyum dan mengangkat dua jarinya.


"Jangan salah paham Tuan, saya masih mencintai istri saya." kata Arjun menjelaskan.


"Anda tidak kasihan membiarkan ibu Jihan menunggu disana?" tanya Arjun dengan suara pelan.


"Apa masalahnya?"


"Dia akan bosan."


"Kenapa kamu harus pedulikan hal itu? Selesaikan ini dengan cepat!"


"Saya mengerti Tuan... Saya bahkan rela mengerjakannya sendiri. Anda bisa pergi berkencan dengan ibu Jihan." goda Arjun lagi. Kali ini dia mengatakannya dengan suara yang cukup keras.


Chris melirik Jihan yang sudah terlihat memerah dan salah tingkah. Dia menatap tajam Arjun dan memilih abai.


Pintu diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Bayu masuk dan segera berdiri di samping Arjun.


"Kamu tidak bisa mengusir mereka?"


"Maafkan saya, Tuan."


Arjun mendapatkan pesan dari sekretaris rekan bisnis mereka. Kenepuk jidatnya karena lupa akan mereka.


"Hei, perintahkan orangmu untuk membawa pak Tirta masuk." pinta Arjun.


"Dia diluar? Ck!" Chris berdecak kesal.


"Saya akan menyambut beliau di bawah Tuan." kata Arjun sembari bangkit.


"Pastikan mulut manismu bekerja dengan baik. Jangan biarkan dia terpengaruh oleh rumor."


Arjun terkekeh pelan. "Tentu saja," sahutnya dengan seringai licik diwajahnya.


"Siapakan tempat untuk konfrensi pers sore ini. Mereka tidak akan pergi sebelum membuatku bicara." perintah Chris.


Bayu mengangguk singkat dan segera undur diri. Jihan menatap Chris dengan ragu-ragu. Terlihat ingin menanyakan sesuatu. Chris menoleh padanya, memberi gekstur mendekat.


"Ada apa?"


"Pijit punggungku."


"Huh?" kaget Jihan.


Chris mendongak menatap Jihan yang berdiri di sampingnya. Jihan segera bergerak dan berdiri di belakang punggungnya. Dengan hati-hati dia mulai memijit pundak Chris. Dia benar-benar bingung saat ini. Chris terlihat berbeda dan itu membuatnya sangat canggung dan juga malu.


"Nanti sore kita akan menghadapi wartawan itu. Kamu bisa bekerja sama denganku?"


"Ap-apa yang harus aku katakan?"


"Katakan apa yang ingin kamu katakan."


Jihan berhenti memijit, dia cukup terkejut Chris tidak memaksanya bersandiwara lagi.


"Baiklah." sahutnya dan melanjutkan apa yang dilakukannya tadi.


.


Jihan tertidur menjelang zhuhur. Dia mengantuk karena kini tidak melakukan apapun. Chris juga sedang menemui rekan bisnisnya. Ketika azan berkumandang, Jihan juga belum terbangun. Dia masih pulas tertidur disana. Pintu sengaja ia tutup karena dia membuka jilbabnya.


Chris masuk dengan wajah kurang puas. Hal itu karena pertemuan berjalan tidak lancar akibat rumor. Dia tidak tahu kalau anak dari rekan bisnisnya adalah penggemar berat Jouji. Sehingga dia ikut serta dengan ayahnya dan menyerang masalah pribadinya.


"Tuan Tirta selalu tidak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan, sayang sekali." ujar Arjun.


"Kita butuh kerja sama ini, cari tahu sedekat apa anaknya dengan Jouji. Dari yang terlihat, sepertinya dia bukan penggemar biasa." suruh Chris.


"Baik Tuan."


Arjun mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan berhenti pada pintu yang tertutup.


"Anda ingin makan siang disini atau diluar Tuan?"


Chris ikut melirik pintu kamarnya. Dia lelah dan butuh berbaring juga. "Disini saja, aku akan istirahat sebentar." katanya sembari bangkit.


Chris menutup pintu kembali ketika melihat Jihan tampa hijabnya. Dia berjalan mendekat dan duduk di sisi kasur. Merapikan anak rambut Jihan dan menatapnya dalam diam.


Dia menarik selimut dan ikut berbaring. Kepalanya terasa akan pecah karena banyaknya masalah hari ini. Dia juga harus melemaskan otot-ototnya yang tegang sebelum menghadapi wartawan nanti.


Chris memiringkan tubuhnya. Menatap wajah tidur istrinya yang terlihat semakin cantik dimatanya. Tampa sadar tangannya terangkat dan mengelus pipi itu dengan jarinya. Hal itu membuat Jihan terganggu dan membuka matanya.


Matanya membulat ketika dia menoleh dan mendapati Chris disampingnya. Jihan segera duduk. Dia memeriksa jam dan bergerak untuk turun. Gerakannya terhenti saat Chris menahan tangannya.


"Ke-kenapa?"


"Kenapa kamu masih gugup?" goda Chris.


"Aku ti-tidak!"


"Aku lelah dan butuh menenangkan pikiran."


Jihan berbalik dan menatap Chris dengan bingung. Chris ikut duduk dan mendekatkan wajahnya.


"Aku ingin menciummu lagi." katanya tampa basa-basi.


Belum sempat merespon Chris lebih dulu menciumnya. Jihan hanya bisa diam. Ciuman Chris terasa lebih tenang dan lembut. Tidak menggebu-gebu seperti awal tadi. Tidak lama, hanya beberapa detik. Chris menarik dirinya dan kembali berbaring.


"Ak-aku mau ke mushola." kata Jihan.


Dengan cepat dia memakai jilbabnya dan keluar. Chris tersenyum, kepalanya terasa ringan. Seolah beban dipundaknya terangkat. Rasa marah dan frustasinya berganti dengan perasaan menyenangkan yang belum pernah ia rasakan.


.


Jihan meminta izin untuk menjemput Catrin setelah ia sholat Zuhur. Namun Chris malah memerintahkan Arjun yang melakukannya. Jihan tetap disana menemaninya makan siang.


"Apa Catrin pernah dijemput Arjun sebelumnya? Bagaimana kalau dia menangis?" tanya Jihan.


"Jangan kawatirkan anak manja itu. Dia hanya berlebihan jika denganmu." jawab Chris santai.


Ketika mereka selesai makan, Jihan terus saja fokus pada ponselnya. Sejak tadi dia memeriksa sosial media. Akun-akun gosip yang mengirim ulang siaran lansung yang dilakukan Jouji. Jihan menggigit bibirnya setelah membaca komentar-komentar netizen.


Chris menghela napas dan merebut ponsel Jihan. Membaca beberapa komentar buruk mengenai dirinya sebentar lalu menatap Jihan. Dia meletakkan ponsel Jihan di atas meja dan menepuk pahanya.


"A-apa?" tanya Jihan curiga.


"Komentar mereka membuatku merasa buruk, kemari." perintahnya.


Seakan bisa menebak apa yang akan dilakukan Chris, Jihan beringsut mundur.


"Aku baru saja makan... "


Chris mengernyit, bersikap seolah-olah tidak mengerti. "Aku memintamu memijit kakiku, apa yang kamu pikirkan?" tanya Chris.


"Pijit? Oh! Baik!" bingung Jihan.


Jihan merasa bodoh sendiri. Chris tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah Jihan. Dia menaikkan kakinya di atas paha Jihan setelah istrinya itu mendekat.


Chris yang gantian sibuk dengan ponselnya. Beberapa laporan masuk dari Bayu, melaporkan beberapa kejanggalan dan tindakan penghianatan yang dilakukan salah satu direktur anak perusahaannya.


Dia mengernyit dan menghubungi Bayu untuk memberinya perintah. Dia tahu dua sepupunya itu tidak akan diam saja. Mereka akan membuat kekacauan untuk membalas perlakuannya.


"Apa ibuku sudah tahu?"


Jihan menoleh, dia yang sejak tadi tertunduk menatap Chris penasaran. Chris balik menatapnya, tahu bahwa istrinya ingin tahu apa yang terjadi.


"Bawa dia ketempat biasa. Kita akan bertemu disana setelah konfrensi pers." tutup Chris.


"Ada masalah?"


"Bukan apa-apa." jawab Chris.


Dia menurunkan kakinya dan berjalan menuju meja kerjanya. Chris mulai menciptakan penghalang lagi, sikapnya jelas tidak ingin diganggu. Dia membuka laptopnya dan menghubungkannya ke jaringan internet. Jari-jarinya lincah mengetik sesuatu. Dia bahkan tidak sadar ketika anaknya masuk bersama Arjun.


Catrin ingin memeluknya namun terhenti ketika menyadari raut serius sang ayah. Catrin akhirnya berlari pada Jihan dan mulai berceloteh.


.


Jihan dan Chris masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh wartawan. Catrin dijemput oleh neneknya dan pulang duluan.


Pertanyaan demi pertanyaan mereka jawab dengan lancar. Semua wartawan lebih fokus memberikan pertanyaan pada Chris dan berusaha mengorek banyak hal. Mereka bahkan sampai membawa-bawa kasus lama yang terjadi pada perusahaannya. Sebagai pengusaha tentu saja Chris tahu beberapa wartawan dibayar oleh pesaingnya. Memanfaatkan momen yang diciptakan oleh Jouji.


"Pak Chris, apa benar anda sering memukul mantan istri anda?"


Akhirnya pertanyaan ini muncul.


"Tidak pernah." jawab Chris tenang.


"Tapi ada beberapa catatan medis yang menunjukkan bahwa Ibu Nana mengalami beberapa bekas penyiksaan."


"Benarkah? Aku tidak tahu hal itu. Kalau dia memiliki bukti kuat, aku menunggu pihak mereka di pengadilan."


Semua wartawan saling bertukar pandang. Mereka sepertinya ragu untuk terus menanyakan tentang hal itu mengingat latar belakang Chris.


"Chris!"


Semua orang menoleh pada suara yang memanggil nama Chris. Disana, tepat di depan pintu masuk, Nana berdiri bersama orang tuanya.