Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
51



Meri memperhatikan Jihan yang sedang bersiap setelah solat magrib. Jihan mengenakan pakaian yang dibawanya dari kantor dan mengatakan itu pemberian kantor untuknya.


Sebagai teman dekatnya tentu saja dia tidak percaya. "Itu pemberian Chris kan?" tanya Meri.


"Arjun bilang itu dari kantor. Aku tidak akan memikirkan siapa yang memerintahkannya. Kamu tahu itu sudah pasti dia." jawab Jihan.


Suara mobil terdengar di halaman kontrakan kecil mereka. Jihan keluar dengan cepat diantar oleh Meri ke depan pintu. Menyaksikan Arjun yang membukakan pintu saja sudah membuat Meri bertanya-tanya, apalagi melihat sekilas siapa yang duduk di sebelah kursi yang akan ditempati Jihan.


"Pakaian itu cocok untukmu." puji Chris.


"Terima kasih." sahut Jihan datar, lalu menoleh ke arah meri sebelum mobil bergerak untuk pergi dari sana. Meri terlihat kawatir padanya.


"Kenapa saya harus ikut ke pelelangan? Saya pikir itu itu acara pribadi anda." tanya Jihan.


Chris tidak langsung menjawab, dia sedang memainkan tablet ditangannya. "Bahkan jika itu pribadi, bukankah kamu sudah belajar dari Arjun."


"Maafkan saya." Jihan seperti merutuki kebodohannya akan tugasnya sendiri.


Chris menoleh padanya, memperhatikan ekspresi Jihan yang terlihat selalu lucu dimatanya. Dia menyimpan tabletnya dan mulai memperhatikan Jihan. Wanita yang menginjak umur 30 tahun namun wajahnya sama sekali tidak mendukung. Jihan terlihat lebih muda dari usianya.


"Kamu berdandan?" tanya Chris tiba-tiba.


"Tidak! Ini hanya... Hanya sedikit karena anda bilang itu sebuah acara."


Chris tersenyum melihat Jihan yang mulai gugup lagi.


"Cantik. Seperti biasa, tapi ini lebih cantik." Tentu saja pernyataan itu akan membuat siapa saja salah tingkah. Bahkan Arjun hampir tersedak karena mendengar pujian manis itu. Hal sangat langka, tentu saja. "Apa aku harus menyuruhmu memakai topeng?" lanjut Chris tampa mengalihkan perhatiannya.


"Ap-apa maksud anda, Presdir?"


"Karena wajah ini bisa menarik banyak pria, aku tidak menyukai hal itu." jawab Chris.


Jihan membuang pandangannya ke arah luar. Jika dia tidak memakai jilbab, Chris akan bisa melihat telinganya yang memerah. Padahal Jihan hanya memakai make up sangat tipis ala kadarnya, tapi Chris tidak hanya sekedar menggoda. Jihan memang terlihat lebih cantik dan segar. Hal itu menimbulkan kecemburuan yang tidak berdasar di hatinya. Seakan tidak rela jika wajah itu dinikmati pria lain.


"Ehem! Apa kita perlu membeli masker, Tuan?" tanya Arjun. Mendukung modus yang dilakukan atasannya.


Chris tersenyum, sangat tampan sebenarnya kalau saja Jihan melihatnya. Namun wanita itu lebih memilih mengalihkan pandangannya untuk mengendalikan dirinya sendiri.


"Ya, suruh mereka melakukannya."


Jihan tertidur setelah sibuk menghindari Chris. Sehingga ketika mereka sampai di dermaga. Chris keluar terlebih dahulu dan memeriksa keadaan.


"Wah... Aku tidak menyangka anda akan hadir, Presdir Christoper."


Chris dan Arjun menoleh ke arah yang sama. Seorang pria yang tingginya hampir menyamai Chris dan lebih muda darinya menghampiri mereka. Terlihat tato ular mengintip dari jas yang ia kenakan. Sebuah kepala ular yang kenyembul di atas pergelangan tangannya.


"Saya Marcell, jika anda tidak mengenali saya. Kita memang belum pernah bekerja sama karena saya masih baru dalam industri ini."


Tentu saja Chris memgenalinya, meski ini adalah pertama kalinya mereka bertemu, tapi kehadiran Marcell disini menandakan ada campur tangan geng mereka dalam acara lelang ini.


Kapal pesiar yang mereka tunggu akhirnya terlihat dan segera menepi untuk membiarkan penumpang dari Indonesia masuk ke sana. Mereka akan berlayar kebeberapa negara terdekat dalam rangka sebuah pesta yang di adakan oleh sebuah perusahaan rekanan Chris sendiri. Dan perusahaan itu juga bekerja sama dengan pemilik tempat pelelangan ternama. Karena itu acara itu sesungguhnya adalah acara untuk memperluas relasi bisnis antar pengusaha kalangan atas. Acara lelang hanya bagian dari acara senang-senang.


Chris hanya mengangguk, lalu berbalik untuk membuka pintu mobil. Jihan baru saja terbangun. Terlihat kebingungan, ketika Chris muncul di depan pintu mobil, dia segera sadar bahwa mereka telah sampai.


"Turunlah." perintah Chris dengan wajah serius.


Ketika turun, Chris menghalangi tubuh Jihan dari pandangan, mengulurkan tangannya ke samping dan seorang bawahannya memberikannya sebuah masker.


"Apakah saya benar-benar harus memakainya?" tanya Jihan dengan bingung. Dia pikir Chris tadinya hanya main-main.


"Apa aku tadi terlihat bercanda?" jawab Chris datar.


Mereka masuk ke dalam bersama beberapa orang lainnya. Termasuk Marcell yang tepat berada di belakang mereka. Memperhatikan bagaimana penampilan Jihan dari atas sampai ke bawah. Juga memperhatikan hal kecil tersirat bagaimana cara Chris memperlakukannya. Marcell menyeringai, dia berbisik pada sekretarisnya untuk memberikan sebuah perintah.


.


Chris bertemu banyak orang dari negara lain yang dikenalnya. Lalu dia juga dikenalkan oleh beberapa orang kepada yang lainnya. Tidak sediikit wanita cantik dan kaya yang bersalaman dengannya. Terlihat jelas sangat tertarik dan berusaha membuat kontak mata. Namun Chris hanya menanggapinya secara profesional. Mereka hanyalah beberapa aktris kelas rendah dan beberapa penyanyi pemula yang dibawa oleh pengusaha kaya. Hal yang biasa terjadi di dalam dunia hiburan. Pada masa lalu, Chris sama saja seperti mereka. Akan membawa salah satu dari mereka untuk bersenang-senang, namun tentu saja berbeda untuk saa ini.


Dia bahkan tidak melepaskan perhatiannya dari Jihan yang terlihat kebingungan dan asing dengan sekelilingnya. Arjun yang akan menjelaskan detail kecil padanya jika Jihan tampak bingung akan sesuatu. Dan hal itu justru membuat Chris terganggu.


"Dimana ruanganku?" ujar Chris dengan ekspresi terganggunya. Dia bahkan mengabaikan sapaan beberapa orang ketika menarik tangan Jihan dan pergi ke arah yang ditunjukkan oleh bawahannya yang lain.


"Pesankan makan malam dan sebotol anggur." perintah Chris.


"Anda akan minum, Presdir?" tanya Jihan, selanjutnya dia tampak memegang mulutnya sendiri karena kelepasan bicara.


"Pesankan juga satu set lengkap perlengkapan membuat kopi. Bawa kesini dan aku ingin buah anggur segar. Ada yang kamu inginkan?"


Chris menatap Jihan yang terkejut karena ditanyai tiba-tiba seperti itu. "Tidak, mungkin Arjun ada..." Jihan menoleh pada Arjun yang tersenyum pasrah.


"Saya baik-baik saja, Tuan." lirih Arjun lemah.


"Kamu sakit?" tanya Jihan, sama sekali tidak menyadari bahwa Arjun terlihat ingin lari dari sana secepatnya.


"Aku baik-baik saja, jangan kawatir asisten Jihan."


"Cari informasi kenapa Marcell ada disini."


Keduanya menoleh ketika Chris tampak kesal seraya melonggarkan dasinya. "Jam berapa lelang diadakan?"


"Satu jam dari sekarang, tepat pukul sembilan, Tuan." jawab Arjun.


Tiga orang pelayan masuk membawa semua pesanan Chris. Meletakkan meja dengan alat untuk membuat kopi dan menyusun makan malam di atas meja.


"Periksa semua itu." perintah Chris.


Semua orang, berjalan memeriksa seluruh makanan dan mencobanya sedikit dari bagian makanan untuk memastikan tidak ada racun. Kecuali Jihan dan Arjun yang diperintahkan tetap ditempat.


"Kalian makanlah, aku akan istirahat sebentar." perintah Chris lagi, lalu ia beranjak ke arah ruangan lain disana yang merupakan sebuah kamar.


"Apa ruangan ini disewa?" tanya Jihan ketika mereka mulai makan bersama.


"Ya, tentu saja." jawab Arjun.


"Tapi apa perlu membawa banyak pengawal untuknya?"


"Soal itu... Ini pertama kalinya, biasanya hanya satu orang tambahan selain aku."


"Benarkah? Apa kali ini ada musuhnya yang hadir? Apa akan ada bahaya?"


"Tapi apa dia benar-benar tidak akan makan? Lalu kenapa dia memesan ini semua?"


"Sebaiknya buatkan dia secangkir kopi. Kamu ahlinya untuk itu kan? Bawa juga minuman anggur dan buah anggurnya."


Jihan mengangguk tampa bertanya. Setelah selesai makan dia segera membuat kopi dan mengambil sepiring anggur untuk diantarkan ke dalam kamar Chris.


"Huh? Dia tidur?"


Chris membuka matanya ketika mencium bau kopi yang diletakkan di meja kecil sebelah kasur. Menatap Jihan yang masih belum melihatnya.


"Apa itu?" tanyanya.


"Oh, maaf Presdir, Arjun meminta saya..."


"Kesini!" potong Chris, menyuruhnya duduk di sisi ranjang.


"Maaf?"


"Hanya sebentar," pinta Chris.


Jihan dengan tidak rela duduk disana. Chris tidak beranjak dari posisinya, hanya menatap Jihan dengan serius.


"Dimana maskermu?"


"Di dalam tas."


"Pakai itu ketika keluar dari ruangan ini, jangan terpisah dariku dan jangan menanggapi siapapun orang asing yang mengajakmu bicara. Tetap dalam jarak aman denganku dan beritahu aku atau Arjun jika kamu butuh sesuatu, mengerti?"


Jihan tampak waspada, meski begitu dia mengangguk dengan patuh.


Setelah melewati satu jam. Chris juga akhirnya menghabiskan kopi buatan Jihan dan sama sekali tidak menyentuh minuman anggur pesanannya. Tampaknya dia mendengarkan keinginan tersirat dari pertanyaan Jihan sebelumnya. Arjun bahkan sangat yakin jika saat ini atasannya itu sudah melupakan rencana awalnya dan mulai berubah menjadi budak cinta dari mantan istrinya itu.


.


Chris menatap barang yang di tunjukkan dari awal sampai pertengahan acara dengan wajah datar, dia sangat bosan dan sama sekali tidak ada yang menarik minatnya.


Dia melirik ke kiri dimana Jihan duduk di sebelahnya. Dari wajah yang tertutup masker, Chris bisa melihat kalau Jihan lelah dan mengantuk. Berbeda dengan banyak wanita disana, Jihan tampak sama bosannya dengan dirinya.


"Tidak ada yang menarik minatmu?" tanya Chris.


"Tidak," jawab Jihan menahan kantuk.


"Tuan, saya pikir ini saatnya barang yang anda inginkan." kata Arjun pelan dari sisi kanannya.


"Presdir, saya akan ke kamar mandi." bisik Jihan pelan.


"Tunggu, lihat yang satu ini." cegah Chris.


Jihan tidak tahan, dia butuh mencuci wajahnya karena mengantuk. Dia juga ingin buang air kecil. Tapi, ketika benda selanjutnya yang di pamerkan disana. Jihan tampak tertarik. Bukan karena spesifikasi dan harga yang dibuka, namun cara Chris melihat benda itu yang membuatnya ikut tertarik.


"Itu asli?" tanya Jihan pada entah siapa.


"Kita akan tahu ketika menyentuhnya, tapi untuk itu... aku harus mendapatkannya terlebih dahulu." jawab Chris.


Maka mulailah perang harga antara penawar satu dengan yang lain. Chris yang akan menjadi penawar terakhir dengan harga yang lebih tinggi. Hingga hanya dia dan Marcell yang saling lawan.


"Bukankah harganya terlalu tinggi hanya untuk benda kuno seperti itu?" gumam Jihan.


Arjun yang masih bisa mendengarnya tidak sengaja tertawa. Chris hanya menarik senyum simpul. Lalu dengan tawaran tertinggi dari pihak Marcell, Chris berhenti menawar. Dengan begitu barang itu menjadi milik Marcell.


"Anda tidak menawar lagi?" tanya Arjun bingung.


"Tidak, bukankah harganya terlalu mahal hanya untuk barang kuno? Ayo pergi. Tidak ada lagi yang menarik disini." jawab Chris.


Meski sedikit bingung, tapi Arjun tidak akan bertanya alasan tuannya melepaskan barang yang ia inginkan. Arjun yakin bukan masalah harga atau soal harga diri alasan yang menjadikan Chris berubah pikiran. Andaikan dia mendengar perkataan Jihan sebelumnya, tentu saja dia akan langsung tahu apa penyebabnya.


Mereka pergi diikuti berpasang-pasang mata yang memperhatikan. Marcell tersenyum sinis untuk menunjukkan kemenangannya. Arogansi seorang anak muda yang merasa harga dirinya setinggi langit.


Chris ingat informasi yang disampaikan Alex tentang Marcell. Bagaimana pemuda itu masih sangat labil dan mudah terprofokasi. Cukup pintar namun sikap tidak sabarannya adalah kelemahannya. Hal itu yang membuat Chris berhenti mengawatirkannya.


"Dia tampak tidak kawatir membeli barang itu dengan harga terlalu tinggi." kata Arjun ketika mereka berhenti di depan toilet wanita.


Menunggu Jihan yang tidak ingin ditinggalkan oleh Chris. Sampai ia rela menunggu disana hanya agar mereka tidak terpisah. Chris bahkan dengan santai menyalakan rokok.


"Dia mungkin didukung oleh organisasi besar, tapi sifat dasarnya sangat mudah dibaca. Dia pintar tapi tidak sabaran. Dia akan hancur dengan cepat jika dia tidak memperbaiki kepribadian dan cara berpikirnya."


Pintu toilet terbuka dan Jihan keluar dengan baju setengah basah kuyup. Chris mematikan rokoknya dan menghampirinya.


"Ada apa dengan pakaianmu? Kamu habis main air atau apa?"


"Bi-bisakah kita segera pulang?" pinta Jihan dengan menahan malu.


Arjun yang penasaran membuka pintu toilet selebar mungkin dan melihat apa yang terjadi di dalam. Begitu dia melihat ada kran yang rusak bahkan kepalanya tergeletak di lantai, dia tertawa pelan. Chris yang bisa melihat apa yang terjadi juga tidak bisa menyembunyikan ekspresi gelinya.


"Kalian masih ingin menertawaiku? ini dingin!" kesal Jihan, tampa sadar bersikap tidak formal.


Chris melepas masker basar Jihan dan membuangnya ke tong sampah. Melepas jasnya dan memasangkannya pada bahu Jihan, dimana area paling basah karena pancuran air yang deras mengarah kebadannya.


Mereka belum terlalu jauh, karena itu hanya butuh satu jam lebih untuk sampai ke dermaga dengan kecepatan lebih tinggi dengan kapal yang lebih kecil. Jihan mengigil ketika mengembalikan jas Chris sebelum turun dari mobil.


Dia berlari masuk ke dalam rumah ketika udara malam terasa jauh lebih menusuk. Chris tidak mengatakan apapun, dia hanya diam melihat pintu rumah Jihan yang telah tertutup. Sehingga Arjun harus bertanya padanya.


"Anda ingin pulang ke hotel langsung, Tuan?" tanya Arjun.


"Arjun?"


"Ya, Tuan?"


"Bagaimana cara cepat agar dia mau menjadi milikku lagi?"


"Huh? Bukankah Tuan ingin membuatnya yang merangkak pada anda?"


"Jangan mengejekku... Aku sudah tidak tahan, sialan! Demi dia aku menolak semua ****** yang menawarkan diri. Tapi dia terlihat tidak terpengaruh bahkan ketika aku membuat hidupnya sulit."


Arjun tidak bisa menyembunyikan tawanya. Antara kasihan dan geli. Dia benar-benar terhibur melihat sosok Chris yang dingin dan tak tersentuh selama ini berubah karena cinta.


"Tenanglah, Tuan. Saya sedang bekerja keras untuk anda. Hanya fokus memikirkan cara mengubah pikiran ibu anda dan mengusir ular yang kini masuk ke rumah anda." jawab Arjun dengan tenang.