
Langit sedikit mendung. Awan-awan gelap mulai terlihat semakin menyebar. Meski matahari masih bersinar dengan baik, namun udara terasa lebih sejuk.
Arjun melirik jam tangannya. Pukul empat sore. Dia sedang duduk di dalam mobilnya ketika mobil yang dikendarai oleh Marcell keluar dari area gedung perusahaannya.
Arjun mengikutinya, mengabaikan ada mobil lain yang juga mengikuti mobil Marcell. Mereka sudah memiliki janji. Jadi dia hanya mengikuti arah mereka pergi.
Sampai ketika mereka berhenti di pinggir jalan yang agak sepi. Arjun keluar, lalu berdiri di sebelah kaca mobil yang terbuka. Dia tidak banyak mengatakan apapun. Hanya memberikan salinan vidio yang diberikan Alex.
"Aku harap anda membuat keputusan yang tepat, Tuan. Presdir kami tidak akan memberikan penawaran dua kali. Jika anda ingin berdiri di kaki anda sendiri, beliau siap mengulurkan tangan. Hanya dengan mematuhi peraturannya, anda bisa lepas dari mereka. Bukankah... itu alasan anda mendirikan perusahaan ini?" kata Arjun.
Marcell menatap flasdist ditangannya. Meskipun dia belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti dia bisa menduga apa isi flasdist itu sehingga Chris menawarkannya kerja sama.
Marcell tidak menjawab, dia menutup kaca mobilnya lalu memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobil. Meninggalkan Arjun yang menatap datar kepergian mereka.
.
Peresmian pulau terlaksana dengan baik. Arjun juga segera melaporkan hal itu pada Chris. Jihan tidak ikut kali ini karena perintah dari Chris sendiri.
Jihan diberi tugas mengawasi jalannya promosi oleh tim marketing perusahan. Hal yang sebenarnya tidak begitu perlu dilakukan karena semuanya berjalan lancar. Hal itu dilakukan Chris karena dia hanya membantu Jihan untuk tidak berkumpul dengan orang-orang yang hanya akan membuatnya canggung. Pesta tidaklah cocok untuknya, dan dia tahu Jiha tidak pernah menyukainya.
Sepulang dari kantor, Jihan pulang seperti biasa. Namun kali ini dia dikejutkan dengan sebuah kotak kecil di sebelah bangku kemudi mobil perusahaan yang ia pakai. Jihan membukanya dengan hati-hati setelah dia mengunci pintu mobil. Tangannya sampai bergetar dengan mata yang waspada melirik kiri dan kanan.
Tidak seperti biasanya, kotak itu tidak berisi bulu yang menutupi fotonya. Kotak kecil itu hanya berisi ponsel dan sebuah kertas bertuliskan sebuah alamat.
Ketika ponsel itu menyala, Jihan buru-buru memeriksanya dengan panik. Dia melihat ada notifikasi pesan pada pesan chat. Dia membukanya dan ada sebuah kiriman vidio dari nomor yang tidak dikenal. Perlahan, Jihan menekan tombol oke untuk membukanya. Betapa terkejutnya dia kalau vidio itu menunjukkan sahabatnya, Meri sedang diikat disebuah bangku dalam ruangan kosong.
Jihan hampir saja menjatuhkan ponselnya ketika ada panggilan masuk dari ponsel itu. Dia berusaha mengatur napas dan suaranya sebelum menerima panggilan itu.
"Halo?"
"Kamu pasti sudah melihat vidio itu bukan? Datanglah ke alamat yang ada di kertas. Aku akan tahu jika kamu membawa orang lain apalagi polisi. Berhati-hatilah jika ingin temanmu tetap hidup."
Jihan menelan salivanya dengan berat. Suaranya hampir bergetar jika dia tidak mengatasi rasa takutnya dengan baik.
"Siapa kamu?"
"Bukankah kamu penasaran siapa pengirim paket-paket itu? Jadi mari bertemu."
Klik.
Sambungan terputus, Jihan segera meletakkan ponsel dan memeriksa alamat di kertas selembar itu. Dia tahu alamat itu, tidak jauh dari rumah lamanya. Jihan berusaha menghubungi nomor yang tadi menelepon, tapi tidak terhubung sama sekali. Panggilannya selalu terhubung dengan operator.
Jihan tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Dia juga dilarang meminta bantuan. Lalu apa yang harus dia lakukan?
Jihan menumpu kepalanya pada stir mobil. Berusaha menemukan solusi agar tidak datang dengan sia-sia kesana. Dia yakin penculik itu tidak akan semudah itu melepaskan Meri meskipun dia sudah datang.
"Berpikirlah... Berpikirlah!" katanya pada diri sendiri. "Ya Allah, tolong saya...." pintanya dengan suara yang lirih.
Dia tidak punya pilihan selain datang sendirian. Jihan ingin memberitahu Chris, dia nyaris menekan tombol hijau ketika nomor Chris sudah ada di layar. Namun ia urungkan karena hubungan mereka yang tidak baik. Meskipun sudah mendengarkan penjelasan Arjun, namun dia tidak yakin apakah Chris masih mau menolongnya.
Ketika dia mengingat Haris, dia juga tidak yakin harus melibatkannya. Jika terjadi sesuatu pada mereka, Jihan memikirkan anaknya. Jihan juga tidak ingin melibatkan orang tuanya yang sudah tua, atau keluarga lain yang sudah baik pada mereka. Jihan tidak ingin menimbulkan masalah lain untuk mereka.
"Datang saja, Aku hanya harus datang sendirian." gumamnya meyakinkan diri.
Dengan keyakinan penuh dalam doa. Jihan pergi ke alamat yang tertulis. Mempertaruhkan dirinya sendiri. Lagi pula, dalam keyakinannya. Penguntit itu hanya ingin bertemu dirinya, dan mungkin saja dia hanyalah teman lama yang punya dendam padanya. Jihan berpikir untuk mengajaknya berbicara. Sesungguhnya, dia hanya sedang berusaha berpikiran naif dan positif meski tahu bahwa pemikirannya bisa saja sangat salah. Jihan hanya tidak bisa membiarkan sahabatnya mengambil bahaya karena dirinya.
.
Ketika sampai disana, Jihan kebingungan. Rumah itu kosong. Tidak ada Meri atau siapapun disana. Pintunya terbuka lebar dan rumah itu penuh debu dan dedaunan kering yang masuk lewat jendela yang pecah.
Rumah itu tidak besar, rumah sederhana dengan dua kamar dan satu dapur. Jenis rumah orang menengah kebawah, mirip seperti rumah yang ia tempati saat ini.
Dengan ragu Jihan membuka kamar terdekat dari pintu utama. Tidak ada siapa-siapa, disana hanya ada kasur usang kotor penuh debu. Cukup rapi saat ditinggalkan.
Jihan menutup pintu, saat itulah, sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya dari belakang dengan sebuah sapu tangan. Jihan berusaha memberontak. Namun selang beberapa menit perlawanan, tubuhnya melemah dan dia tidak sadarkan diri.
Jihan jatuh kelantai penuh debu itu, tepat dibawah kaki seorang pria berpakaian hitam dan menggunakan masker. Pria itu menggendong tubuh tak berdaya Jihan dan membawanya masuk ke dalam mobil yang terparkir diluar.
"Aku mendapatkannya," katanya pada seseorang melalui telepon.
Matanya menoleh kebelakang, dimana tubuh Jihan terbaring tidak sadarkan diri. "Ya, aku mengerti." jawabnya setelah mendapatkan perintah.
Sementara ditempat lain, Chris sedang memeriksa email yang dikirimkan beberapa direktur. Dia menghentikan pekerjaannya ketika ponselnya berbunyi. Itu adalah dari orang yang ia tugaskan mengawasi Jihan.
"Ada apa?" katanya datar.
"Begitu? Awasi terus. Pastikan dia tidak terluka. Kumpulkan beberapa orang dan pastikan keadaan terkendali."
Chris langsung menyudahi pekerjaannya. Dia mengganti pakaian rumahnya menjadi lebih formal dan turun ke lantai satu.
"Anda akan pulang Tuan?" tanya penjaga villa yang buru-buru menghampirinya.
Chris segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jarak dari villa ke tempat yang disebutkan anak buahnya cukup jauh. Dia harus menempuh waktu dua jam dengan kecepatan penuh.
Chris mengirim pesan pada Alex, menyuruhnya mengatur segala sesuatu dan menghubungi polisi yang berada dibawah kendalinya.
"Ini akan menjadi kasus yang besar bukan?" Chris tersenyum lebar.
.
Marcell sedang berhadapan langsung dengan tiga orang pria paruh baya yang mengajaknya bertemu. Dengan tiba-tiba, dia menerima pesan bahwa Jihan ada di tangan mereka setelah dia menonton vidio yang diberikan Arjun.
Karena itu, sebelum datang, Marcell membuat perjanjian dengan Chris. Mengatakan bahwa dia akan mematuhi perjanjian mereka asal namanya tidak dibawa dalam kasus yang akan dibuka olehnya.
Maka, disinilah dia setelah satu jam lebih mengatur rencana dengan Chris melalui Alex yang memang mengendalikan situasi sejak awal bersama orang-orang Chris yang lain.
"Kalian sudah membuat kesalahan besar dengan melakukan hal kecil ini. Apa kalian sadar siapa yang sedang kalian culik itu?"
Ketiga pria itu tertawa sinis. Seolah sedang mendengar lelucon yang tak berguna.
"Hanya karena kamu dipercaya oleh Ebel, bukan bearti kamu bisa merasa paling berkuasa. Jangan menentang kami! Ikuti aturan yang kami buat dan jangan membuat jalurmu sendiri. Dengan begitu wanita yang kamu cintai sejak kecil itu akan selamat."
Marcell menggebrak meja dengan keras. Dia sama sekali tidak ingin membahayakan Jihan. Tapi dia tahu langkahnya telah salah selama ini. Dia terlalu naif dengan tidak mempertimbangkan bahaya dari ketiga orang dihadapannya ini.
"Dengar, kita mungkin seorang mafia dari dunia yang kejam. Tapi apa kalian tahu, bahwa ada yang lebih kejam dari orang-orang serakah seperti kita?"
Marcell telah menyadari kelemahannya. Menyadari kemampuan mereka yang mengambil langkah kotor untuk mendapatkan banyak uang dalam waktu singkat. Kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkuasa dijalan yang lurus dengan hukum. Dimana mereka memiliki kemampuan bukan hanya finansial yang stabil, namun kemampuan untuk mengendalikan orang-orang dengan kecerdasan dasar mereka. Kemampuan mengatasi masalah apapun dengan tenang, mampu masuk kecelah manapun dengan halus dan tak terlihat. Lebih licik dari pada mereka, lebih kejam dan jahat dari pada seorang kriminal seperti mereka.
"Kalian sudah membuat langkah bodoh. Jihan tidak hanya terhubung denganku." lanjut Marcell.
Melihat ekspresi dan reaksi yang diberikan oleh Marcell, tampaknya membuat ketiga orang itu terpengaruh. Kekawatiran mulai muncul di wajah mereka. Tentu saja mereka tahu siapa Jihan, namun mereka tidak menganggap itu hal penting.
"Hanya karena dia mantan istri seorang presdir MC? Itu bukan apa-apa. Mereka tidak punya hubungan apapun lagi bukan. Presdir dingin itu tidak akan peduli padanya. Lagi pula, bukankah dia tidak ditempatnya saat ini?" seringaian muncul lada wajah pria yang menjawabnya. Marcell baru menyadari bahwa mereka semua sama cerobohnya.
"Jangan banyak bicara, kalau mau dia selamat. Serahkan perusahaanmu dan kembalilah ketempatmu semula. Aku akan mengatakan pada Ebel bahwa kamu tidak sanggup mengelolanya dengan baik karena kamu tidak berpendidikan." kata salah satu yang lain.
Ketiganya saling tersenyum lebar satu sama lain. Melihat wajah frustasi Marcell, mereka malah menduga Marcell ketakutan dan melupakan kekawatiran yang sempat muncul pada mereka tadi.
"Jangan terus mengulur waktu, kami bukan orang yang sabar. Wanita itu bisa saja celaka sebentar lagi."
Marcell menghela napas, dia berusaha tenang. Dia melirik sekretarisnya yang baru saja muncul setelah menghilang sejak beberapa jam yang lalu. Orang yang membocorkan informasi tentang Jihan dan rahasia kecilnya pada mereka.
"Anda hanya perlu menandatangani surat ini, lalu semua selesai." ujarnya dingin. Meletakkan beberapa surat pengalihan dan surat penyerahan kekuasaan dari perusahaan yang baru saja ia rintis.
"Apa yang kalian inginkan dari perusahaan kecil ini? Kalian sudah punya kekuasaan di semua wilayah untuk pengedaran narkoba. Ini hanya bisnis kecil, tak akan menguntungkan kalian sama sekali." Lalu Marcell menoleh dan menatap sekretarisnya dengan tenang. "Kamu ingin menjadi direktur, mengambil alih kursiku. Jadi ini alasanmu menghianatiku?" tanyanya.
"Kenapa anda terus mengulur waktu? Tidak ada gunanya kalaupun anda tahu motif saya. Jihan semakin lemah, dia sudah bangun satu jam yang lalu. Tepat ketika anda tahu kabar ini."
Marcell mengepalkan tangannya. Berpikir bagaimana caranya dia harus mengulur waktu lebih lama.
"Kamu marah karena aku kasar padamu? Kamu bahkan memanfaatkan pacarmu." kata Marcell lagi.
Ya, dia dan Meri telah menjalin hubungan. Sayangnya, itu hanya hubungan yang dibuat olehnya untuk memanfaatkan Meri.
Melihat tidak ada respon dari sekretarisnya, Marcell langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tertawa keras setelahnya.
"Tentu saja, orang-orang seperti kita tidak pernah menghargai wanita." kekehnya.
"Jangan banyak bicara, sialan! Atau aku perlu menyeret wanita itu kehadapanmu?"
"Tidak, jangan lakukan itu." ujar Marcell.
Dia melirik jam tangannya, memastikan waktunya tepat untuk langkah selanjutnya. Dia mengambil pena dan berkas-berkas itu. Lalu segera menandatanganinya.
Begitu berkas itu berpindah tangan. Teman Marcell yang juga bawahannya, masuk dan mendekati mereka.
"Serahkan wanita itu," katanya.
"Tentu saja, dia ada di dalam kamar rumah ini. Tapi sebelum itu, kalian harus diberi pelajaran dulu." ujar salah satu diantara mereka.
Jihan dibawa keluar dalam keadaan terikat. Wajahnya sembab karena menangis. Pipinya merah dibagian sebelah kanan akibat tamparan. Hal itu membuat Marcell merasa amat marah. Dia berjalan mendekatinya, namun orang-orang dari pihak lawan menghentikannya dan mulai memukulinya.
Dia tidak bisa melawan, dia hanya datang bersama satu teman, dia tidak bisa melibatkan orang-orangnya karena ini adalah rencana Chris untuk menyelamatkan Jihan, juga ini dia lakukan agar dirinya terhindar dari jerat hukum. Dia tidak tahu, apakah Chris akan datang setelah dia sekarat atau mati. Dia hanya memiliki satu harapan agar Jihan tidak membencinya. Dia tahu dia bodoh, perasaan bodohnya sejak kecil yang membuat dia masuk ke dalam dunia gelap ini. Mengambil langkah yang salah sementara dia tahu bahwa wanita yang dia inginkan tak mungkin meliriknya. Lalu apa yang mendasari dia melakukan semua ini?
Seseorang bisa melakukan hal bodoh karena keinginan besar akan cinta. Meski dia hanya bisa melihat dan memperhatikannya dalam diam. Terkadang itu sudah membuatnya bahagia. Tapi ketika keinginan itu meningkat sedikit saja, itu bisa merusak segalanya. Obsesi yang berlebihan tidaklah baik, mengambil langkah kotor demi sebuah obsesi, adalah pilihan yang buruk. Bahkan obsesi itu sendiri, adalah sesuatu yang salah.
....................................................................
Nex chapter, kita akan tahu dari mana asal obsesi Marcell dan kenapa Jihan berharga baginya. dia hanya peran figuran sebenernya, tapi entah kenapa malah jadi panjang untuk dia. Hahahahaha.
Semoga kalian masih mau baca dan nungguin novel ini. Baca juga karya aku Cuek itu normal dan karya terbaru lainnya Who Am I. Makasih banyak Cingu yaaaaaa 😁 Saranghae.... 😘